
Ini adalah hari keempat Ibu sakit. Wajahnya masih pucat, badannya lemas. Bahkan ia sudah tidak bergairah untuk berdandan dan membiarkan rambutnya tergerai. Kalaupun, ia sanggul hanya sekedar menggulung rambut asal tanpa disisir.
Keluhan Ibu masih sama, matanya sakit, kepala seperti ditekan sangat kencang, dadanya sesak, dan bahunya berat. Badan Ibu pun sering mengeluarkan keringat dingin sampai bajunya basah. Bahkan hari ini ia terus menerus mengeluh perutnya sakit dan muntah.
Cairan muntah Ibu berupa air yang sangat kuning. Mungkin, perutnya yang sering kosong telah membuat penyakit maagnya kambuh. Ibu selalu menolak untuk makan. Kalaupun makan, hanya sedikit saja yang masuk.
Jika sudah merasakan sakit di perutnya, Ibu hanya meminta agar diri ini memasukkan air panas ke botol bekas sirup. Kemudian, mulut botolnya akan kututup dengan plastik bening menggunakan karet yang terus kulilitkan berkali-kali, sehingga terikat dengan kencang. Lalu, Ibu akan menempelkan botol panas tersebut ke perutnya yang sakit dengan bantuan handuk kecil untuk memegangnya.
Hal itu sering Ibu lakukan pula kepadaku. Kami memang memiliki penyakit yang sama, yaitu maag. Bedanya, Ibu terkena maag karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan rumah, sehingga terlambat makan. Sementara, aku terlambat makan karena sering malas untuk makan.
Aku sudah dua kali membawa Ibu ke dokter. Ibu pun begitu setia mematuhi perkataan dokter. Ia tidak pernah terlambat meminum obatnya dan tidak pernah melanggar larangan dokter. Namun, Ibu belum juga membaik.
Diri ini bahkan terpaksa izin mengajar selama dua hari, karena tidak tega membiarkan Ibu sendiri di rumah. Beruntung, ini adalah hari Minggu dan kuharap A Iwan dan A Wahyu akan pulang. Mungkin mereka akan menjadi salah satu obat Ibu. Aku tahu Ibu sangat merindukan mereka.
"Coba kamu panggil lagi Pak Saman, Ning," saran Nini saat menjenguk Ibu di kamarnya.
"Untuk apa, Ni?" heranku mendengar saran Nini.
"Siapa tahu Ibumu masih ketempelan. Kasihan kalau begini terus," jelas Nini.
Aku pun menurut dan melajukan motor ke rumah Pak Saman. Semoga saja Ibu segera sembuh. Semoga saja segera kutemukan obat untuk Ibu.
"Lah, Bapaknya lagi ke kebon, Teh. Paranin aja ke kebon," ujar istri Pak Saman saat kuketuk pintu rumah laki-laki itu.
"Emang di mana kebonnya, Bu?" balasku bingung mengingat kebun Pak Saman cukup banyak tidak hanya di rumahnya saja.
"Ilok ora tahu? Itu ... di belakang rumah Pak Misda 'kan tanahnya Pak Misda yang belakang dibeli ama Bapak," jelasnya membuatku mulai ada gambaran.
Pak Misda adalah adalah tetangga kami yang sudah tua dan cukup dikenal banyak orang. Pekerjaannya adalah petani, tetapi sudah lama ia berhenti mengolah sawah. Penyakit tuanya telah membuat ia harus beristirahat membajak sawah dan membiarkan sawahnya kini dikelola menantunya.
Kemudian, aku pun segera menghampiri Pak Saman di kebunnya. Laki-laki paruh baya itu sedang asyik dengan paculnya. Tanah merah itu sedang ia gali dan sepertinya, singkong adalah tanaman pilihannya.
"Kenapa, Neng?" tanya Pak Saman sadar kehadiranku.
"Saya mau minta tolong lagi, Pak. Ibu saya masih sakit,"
"Emak lu ya?" balas Pak Saman membuatku sadar mungkin hanya aku di Cisaat yang memanggil orang tua perempuan dengan panggilan Ibu.
Di sini kebanyakan orang memanggil orang tua perempuannya dengan sebutan 'Emak'. Aku memanggil Ibu, karena Ibulah yang meminta. Ia bilang panggilan 'ibu' sangat dalam baginya. Tentu saja diri ini hanya menurut.
Lagi pula kami memang bukan asli Cisaat. Kakek dan nenekku adalah asli orang Tambun. Mereka memutuskan pindah karena ingin hidup menjauh dari hiruk pikuk keramaian kota Tambun yang sudah semakin padat.
Tambun merupakan sebuah daerah di Kabupaten Bekasi yang cukup padat. Letaknya yang strategis, yaitu dekat stasiun dan pasar membuat Tambun berkembang. Tambun telah menjadi tempat persinggahan sekaligus menjadi tempat tinggal para pendatang sejak dulu sebelum era Reformasi, yaitu sekitar masa Orde Baru.
Ibu sendiri lahir dan besar di Tambun. Setelah kakek dan nenekku pindah ke Cisaat, Ibu masih tetap tinggal di Tambun untuk bekerja. Ibu menumpang hidup di rumah saudara, karena rumah kakek dan nenek mereka putuskan untuk dijual.
Sementara Bapak adalah putra asli Kampung Siluman, sebuah daerah yang terletak di Tambun juga. Jadi, bisa dikatakan keluargaku adalah orang Tambun, Bekasi yang kini menetap di Cisaat, Setu, Bekasi. Tambun dan Cisaat masih terletak di daerah Kabupaten Bekasi, tetapi letaknya saling berjauhan dan sangat berbeda.
Bekasi memang sangat luas. Pemerintahannya pun secara administratif dibagi menjadi dua pusat pemerintahan, yaitu Kota dan Kabupaten. Kultur dan budayanya pun sangat beragam dan secara garis besar dipengaruhi tiga budaya, yaitu Betawi, Sunda, dan Jawa.
Cisaat adalah sebuah kota yang masih dibilang menampilkan wajah Bekasi dengan sumber daya alamnya. Di tempat ini masih banyak sawah dan tanah luas yang membentang. Harga tanah juga masih dikatakan lebih murah dibanding harga tanah di daerah Bekasi lainnya. Meskipun, harga tanah di Cisaat terus juga mengalami kenaikan seiring proyek jalan tol yang sedang dibangun di daerah Setu, Bekasi.
Daerah Setu telah mengalami perkembangan sangat pesat. Jalan tol hanya menunggu waktu untuk beroperasi. Perumahan juga semakin banyak didirikan.
Sawah hijau telah berganti menjadi perumahan elit atau cluster. Itu semua, karena Setu dianggap strategis untuk dijadikan tempat tinggal. Diikuti banyaknya para pendatang yang kini menetap di Setu.
Sementara, Cisaat mungkin hanya menunggu waktu untuk bersolek. Semoga saja pertumbuhan pembangunan tidak akan merubah wajah alami Cisaat. Seharusnya, pembangunan membuatnya semakin cantik dan tetap utuh sebagai Cisaat. Namun, siapa yang akan tahu jika materi dianggap lebih berharga dari pola pikir seorang pribumi saja.
"Iya, Pak. Tolong Ibu saya, ya Pak?" pintaku dan membuat Pak Saman menyimpan paculnya.
"Bentar, saya nitip pacul dulu ke Aki Misda," balas Pak Saman sambil membawa paculnya.
Laki-laki itu pun berlalu dan selang beberapa menit kemudian kembali. Tanpa ragu ia pun mengendarai motornya yang kurus. Motor tersebut hanya tinggal jok dan setangnya yang ramping. Knalpotnya pun mirip besi karatan yang hitam.
Sampainya di rumah, Pak Saman meminta Ibu duduk. Kembali laki-laki itu berkomat-kamit sendiri. Entah apa yang sedang ia baca, aku sama sekali tidak mendengar jelas.
Lagi-lagi ia pun memintaku mengambil air di gelas. Kemudian, komat-kamitnya ia pindahkan ke gelas berisi air putih tersebut. Setelah itu, ia meminta Ibu untuk meminum air itu.
"Ada yang gak suka sama Ibu kamu. Masih orang dekat dan Ibu kamu kenal," jelas Pak Saman.
Aku merasa sering sekali mendengar kalimat tersebut. Mungkin di sebuah film atau entahlah. Namun, kata-kata tersebut sangat umum diucapkan oleh seorang yang mengaku orang 'pintar'.
Akan tetapi, keadaan Ibu saat ini membuat pikiranku ikut terarah ke kata-kata Pak Saman. Apakah wanita perebut madu itu yang menyakiti Ibu? Wanita itulah yang terakhir ditemui Ibu sebelum sakit. Ah, entahlah ....
"Siapa dia?" selidikku ke Pak Saman.
Bukankah lebih baik dia berkata jelas, jika sungguh tahu? Jika hanya sebuah pernyataan tanpa penjelasan pasti, itu adalah fitnah. Kutatap tajam mata Pak Saman, ayo katakan saja, Pak!
"Dia seorang wanita yang juga menyukai Bapakmu," balas Pak Saman.
Benarkah sungguh wanita itu? Mengapa ia begitu tega menyakiti Ibu? Belum cukupkah ia menyakiti hati Ibu? Kenapa pula ia mau menyakiti raga Ibu?
__ADS_1
"Jaga ibu kamu baik-baik. Jangan biarkan ia sendiri. Saya permisi dulu ya," pinta Pak Saman membuatku segera memberikan amplop berisi uang kepadanya.
"Terima kasih. Mari, saya pamit ...." Pak Saman pun melangkah ke pintu keluar dan menghilang dengan motornya.
"Ibu sudah tahu, Ning. Siapa yang menyakiti Ibu. Sudah sering dia melakukan ini sebenarnya sama Ibu. Namun, kali inilah yang paling parah," ucap Ibu.
"Apa Bapak tahu?" balasku kesal dan hampir tidak percaya.
"Sepertinya dia tahu. Namun, berpura-pura tidak tahu. Sudahlah, biarkan saja Allah yang akan membalasnya."
Aku merasa sangat kesal sendiri. Bagaimana bisa ada seorang wanita macam Ibu yang hanya diam disakiti jiwa dan raganya seperti ini. Namun, kenyataannya memang ada dan ia adalah ibuku.
***
Bapak akhirnya pulang dan aku pun menceritakan apa yang terjadi dengan Ibu. Reaksi Bapak jelas awalnya ia membela istri mudanya. Namun, setelah aku berdebat dengannya, ia pun berjanji akan menegur dan menceraikan istrinya, jika ia tertangkap basah menyakiti Ibu.
Aku hanya bisa menerima janji Bapak. Namun, diam-diam janji itu telah diri ini catat baik-baik dan tidak akan pernah kulupakan. Lihat saja nanti, jika wanita itu berani menyakiti Ibu, maka yang pertama akan maju adalah seorang Ningsih!
Siang telah bergulir, akhirnya kedua kakakku pulang. Ibu merasa sangat senang dengan kehadiran mereka. Namun, Teh Nia yang masih merasakan mabuk berat karena hamilnya tidak dapat ikut bersama A Iwan.
Ibu sendiri merasa sangat senang kedua anaknya kembali pulang. Namun, ia begitu menyesal tidak dapat memasak masakan kesukaan kedua anak laki-lakinya. Meskipun, Ibu tahu mereka tidak akan marah, bahkan tentu saja akan marah jika Ibu memaksakan diri memasak. Akan tetapi, Ibu tetap saja merasa tidak nyaman mengabaikan kedua putranya.
"Ora ngapa-ngapa, Bu. Yang penting mah, Ibu sehat dulu. Makan mah, gampang tar Wahyu beli di warung, banyak ...," sahut A Wahyu saat Ibu berkali-kali mengatakan penyesalannya.
"Iya, Bu bener kata Wahyu. Udah, ya, Ibu istirahat aja!" setuju A Iwan membuat Ibu akhirnya tersenyum dan memeluk mereka.
"Ning, kamu emang gak masak? Masa perawan gak bisa masak? Tar laki lu mau dikasih makan salak?" celetuk A Wahyu.
Kakak nomor duaku itu memang suka sekali berkata asal. Tubuhnya pun semakin melar saja semenjak kerja enak di Kawasan Industi. Gajinya yang cukup besar tentu saja membuat hidupnya semakin terjamin dan bisa selalu membeli makanan enak yang ia mau.
"Sembarangan Aa mah, kalau ngomong.! Masaklah, tapi cuma goreng telur sama sayur bayam hehehe ...," balasku membuat kedua kakak laki-lakiku menggeleng kepala kompak sambil tertawa ringan.
Suasana seperti ini selalu kurindu. Tawa yang pecah dari rumah dengan candaan ringan yang berujung ledekan dan pukulan atau cubitan hangat. Dulu rumah ini selalu ramai oleh tangis dan teriakanku.
A Wahyu sering sekali menggoda adiknya yang manja ini, lalu aku akan menangis dan minta dibela Bapak atau Ibu. Jika teriakan diri ini diabaikan, maka A Wahyu akan semakin merdeka menggodaku. Kemudian diri ini akan berlari mengejarnya sambil berteriak kesal.
***
Sudah hampir seminggu Haikal tidak ada kabar. Aku bahkan sudah hampir tidak peduli dengannya. Mungkin dia telah mati, entahlah anggap saja begitu. Aku bahkan hampir kehilangan rasa rindu dengannya.
Jarak benar-benar membuat kami menjauh bahkan sangat jauh. Begitu banyak pesan yang kukirim, tidak ada satu pun yang ia balas. Tidak ada pula telepon yang dijawab olehnya. Jadi, bagaimana aku tidak berpikir jika dia sudah mati? Ya, mati rasa!
Aku bukan tidak mencintainya lagi, tetapi rasa kesal membuatku tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang dapat diri ini lakukan, jika hubungan kami hanya bergantung pada alat komunikasi bernama telepon seluler. Lalu, semua usahaku untuk menghubunginya sama sekali tidak berbalas. Ia seperti hilang ditelan bumi!
"Ya, Pak? Ada apa?" balasku.
"Kata Pak Ron, Ibunya Bu Ning sakit? Sakit apa? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Umar membuatku teringat Ibu.
"Alhamdulillah sudah membaik. Kecapean aja," balasku.
Tidak mungkin rasanya jika diri ini menceritakan hal sebenarnya kepada Umar. Tentu akan menghabiskan banyak waktu jika kuceritakan semua. Lagi pula dia siapa? Hanya seorang Umar yang baru kukenal.
"Alhamdulillah, semoga selalu sehat, ya."
"Aamiin ... terima kasih," jawabku.
Tiba-tiba saja ponsel yang belum ku heningkan berbunyi nyaring sekali. Segera kuraih ia dari dalam tas. Nama Haikal muncul dengan jelas di layar ponsel.
Entahlah, bagaimana aku akan menyambutnya. Haruskah senang atau justru memakinya karena baru menghubungi aku kembai? Dengan sedikit ragu aku pun berucap.
"Assalamualaikum. Ada apa?"
"Waalaikum salam. Kamu marah ya, Ning?" balas Haikal.
Halo ... ingin sekali berteriak dengan kencang menyadarkannya 'ya iyalah, Bang ke mana aja?' Namun, menyadari masih ada Umar di dekatku membuat diri ini menahan semua rasa kesalku. Lagi pula, ini di sekolah mana pantas diri ini marah-marah di telepon.
"Aku lagi di sekolah. Nanti kita bahas kalau aku sudah pulang," pintaku menutup telepon.
Biarlah, aku merasa sangat kesal dengan manusia bernama Haikal. Seharusnya, dia orang pertama yang menjadi curahan hati di saat sedih memeluk. Seharusnya, dia orang pertama yang bisa membuat diri ini tersenyum di saat khawatirku akan Ibu memuncak. Namun, itu semua telah hilang karena jarak.
Umar masih di sampingku. Diri ini tidak peduli akan apa yang baru saja ia dengar. Masalah tentang Ibu telah membuat diri ini menjadi sedikit egois dengan makhluk berjenis laki-laki. Sentimenku kian bertambah dengan sikap Haikal yang acuh. Ya Tuhan ... ada apa denganku?
***
Pekerjaanku telah selesai. Diri ini pun bergegas untuk pulang. Namun, ingin sekali menangis ketika mencari kunci motor yang entah raib atau otak ini mendadak lupa meletakkannya. Kenapa selalu saja ada saat perasaanku begitu rapuh!
"Kenapa, Bu?" tanya Umar mendekatiku yang masih kebingungan.
"Lihat kunci motor gak?" tanyaku masih sambil mencari.
"Enggak. Memang simpan di mana?" balasnya membuatku makin kesal.
__ADS_1
"Kalau saya ingat saya gak akan cari saya lupa!"
"Sensi banget si? Lagi dapet?" sahut Umar membuatku malu.
"Udah deh, mau bantuin gak?" tambahku lelah mencari dan duduk di kursi.
"Iya ... seperti apa kuncinya?" balas Umar lembut membuatku merasa bersalah.
Kemudian, diri ini pun menyebutkan ciri-ciri kunci motorku. Lalu, menjelaskan tempat terakhir kali yang diri ini ingat. Seharusnya kunci motor dengan gantungan Candi Borobudur itu ada di jaket hitamku. Seharusnya, kalaupun ia jatuh berada di sekitar kursi tempat diri ini duduk sekarang. Seharusnya ....
"Ya udah saya antar aja ya, pulangnya? Ibu Ning lagi terburu-buru 'kan? Kasihan Ibunya Bu Ning di rumah menunggu. Sekolah juga sudah sepi. Tidak ada lagi yang bisa mengantar selain saya," ujar Umar.
"Sebentar ya, Pak. Saya coba minta tolong antar Pak Ron saja sekalian ngojek," tolakku dan menghubungi Pak Ron.
Sayangnya Pak Ron tidak juga menjawab teleponku. Aku merasa terjebak dengan situasi ini. Situasi ini seakan memaksa aku untuk naik motor trailnya Umar.
"Emang motor ini aman untuk boncengan?" ujarku merasa takut.
"Aman kok, saya pernah bonceng cinta pertama saya, sayangnya dia cuma mau naik sekali dan milih naik motor ayah saya hahahaha ...." Umar tertawa lepas, tetapi hanya kubalas dengan diam. "Insyaa Allah aman, jarak ke rumah Ibu masih dekat." Umar tersenyum sangat manis kepadaku.
Tidak ada pilihan, diri ini memang harus menebeng pulang dengan Umar dan meminta Pak Ganim menjaga si putih yang malang. Motor itu terpaksa kutinggalkan sendiri di bawah pohon jambu. Semoga saja Pak Ganim bisa segera menemukan kunci motorku.
Aku kembali menatap motor trail Umar. Motor itu lebih ramping dan panjang dari si putih. Selain itu badan motornya pun lebih tinggi dibanding motor matic yang sering kugunakan.
Membayangkan untuk mengendarainya saja tidak pernah, lalu sekarang aku harus dibonceng si hijau milik Umar. Rasanya sangat canggung sekali, apalagi diri ini harus menaikinya dengan rok seragam yang membatasi langkahku dan sepatu pantofel dengan hak. Ya ampun, mimpi apa diri ini semalam! Ini semua karena penyakit lupaku yang mendadak kambuh.
"Ayo, naik!" pinta Umar.
Aku pun mengangkat rokku sampai paha. Untungnya, celana panjang bahan selalu kugunakan, sehingga bagian kulit paha diri ini tidak akan dilihat Umar. Dengan sedikit ragu kuinjak pijakan kaki motor dan sedikit berpegangan dengan Umar agar tidak jatuh. Alhasil kini diri ini tepat duduk di belakangnya.
Sejujurnya aku sangat takut. Namun, candaan Umar di sepanjang jalan membuat perjalanan horor ini menjadi menyenangkan. Bahkan diri ini mulai menikmatinya dan mulai merasa nyaman. Perjalanan menuju rumah juga terasa lebih cepat. Ternyata inilah alasan kenapa laki-laki itu menyukai motor dengan suara berisik ini.
"Gimana asyik 'kan naik motor trail?" goda Umar setelah berhenti di depan rumahku.
Aku tersenyum dan mencoba mengelak. Namun, dalam hati mengiyakan pertanyaannya. Ternyata laki-laki ini cukup menyenangkan untuk diajak berteman.
"Ini rumah, Bu Ning?" tanya Umar memperhatikan rumahku dengan seksama.
Laki-laki itu memandang jauh ke kebunku. Salak-salak itu memang selalu menggoda. Namun, terkadang membuat rasa takut. Bayangkan saja jika sendiri di tengah kebun salak yang penuh duri! Aku sendiri jarang bermain ke sana.
"Iya, kenapa horor ya?" balasku memandangnya.
"Keren, Bu kayak motor saya. Hehehe .... "
"Ish, kamu ini! Oiya, panggil Ning saja kalau gak di sekolah mah," pintaku membuatnya mengacungkan jempol.
Umar kemudian izin pamit. Ia tersenyum sebelum benar-benar meninggalkanku. Suara motornya yang berisik, entah mengapa perlahan menjadi merdu di telingaku. Ah, pikiran macam apa ini!
"Ning, Ibu kamu pergi tadi sama Bapak." Nini Aya tiba-tiba saja muncul mengabarkan kepergian Ibu.
"Kemana, Ni? Ibu 'kan baru mendingan" balasku ke arahnya.
"Lah, ora tahu. Udah bagenin, mau diajak seneng kali Ibu lu, ilok sakit lagi."
"Ah, Nini! Janganlah ...," sahutku.
Kemudian, aku pun masuk menggunakan kunci cadangan. Untungnya, dia tidak mendadak hilang. Jika, ia pun merajuk diri ini hanya bisa pasrah menunggu Ibu duduk di luar.
Rumah benar-benar terasa sepi tanpa Ibu. Detak jam dinding pun benar-benar terdengar di telinga. Gelap menyelinap paksa ke dalam penglihatan. Entah mengapa aku seperti diperhatikan. Entah oleh siapa?
Seperti ada bayangan hitam yang terus menatapku dari belakang. Bayangan itu datang dari arah dapur. Namun, setiap kali mata ini memandang hanya kosong yang kutemukan.
Cicak tertawa keras, karena tidak ada saingan. Sementara jam dinding masih bedetak perlahan. Bulu kudukku merinding. Semilir angin membawa aroma melati khas menusuk di hidung.
Diri ini terpenjara dalam sepi. Rasa takut terus menyelinap masuk. Ada apa ini? Langkahku menggiring untuk kembali ke luar. Namun, bayangan itu seperti tidak beranjak menatap diri ini, mengikutiku ....
Aku semakin mempercepat gerakanku. Lalu, berteman sepi kembali di luar. Angin menggoyangkan pohon bambu. Rambutan yang jatuh membuat jantungku kaget.
Kini, aku duduk di luar menunggu Ibu pulang. Sementara bayangan itu seperti masih mengintai dari balik jendela di dalam rumah. Aku kikuk sendiri, takut masih memeluk.
Benarkah bayangan itu ada atau hanya pikiranku yang sedang lelah? Berkali-kali aku mencoba menatap ke dalam rumah. Kosong!
Ibu ... cepatlah kembali! Jantungku kian berdegup, angin terasa dingin. Suara derap langkah kaki yang diseret mendekatiku. Aku mematung ditemani kelabu dari langit yang merayap.
Kebon\= kebun
Paranin\= hampiri/datangi
Ilok\= masa (pernyataan tidak percaya)
Ora\= tidak
__ADS_1
Mendingan\= membaik
Bagenin\= biarkan