
"Kenapa, Ning?" tanya Ibu melihat wajahku sedih.
"Manis mati, Bu. Ning mau ambil pacul untuk gali kuburannya," jelasku.
"Ya Allah Manis, yaudah biar Ibu saja yang gali kuburannya. Kamu tolong ambil kain bekas saja di lemari hijau di kamar Ibu," pinta Ibu dan langsung kusetujui.
Langkah kakiku pun berbelok, semula kaki ini berniat ke dapur mengambil pacul. Namun, urung karena perintah Ibu. Sehingga, kamar Ibulah tempatku berdiri saat ini.
Kamar Ibu selalu rapi dan wangi. Sangat berbeda denganku. Kamarku sangat sulit untuk rapi. Selalu saja ada tumpukan buku berserakan di lantai. Seprai pun sering kali kusut dan lepas dari kasur.
Ibu sudah sering menasehatiku. Dari kuping ini terasa panas sampai menebal dan tidak lagi mendengarkan ucapannya. Aku bukan tidak mau rapi, hanya saja terkadang lelah dengan pekerjaan administrasi sekolah yang menumpuk. Ditambah, diri ini harus selalu belajar dan menyiapkan materi untuk mengajar besok hari.
Jadi, hanya di saat sengganglah kamarku bisa rapi. Namun, untuk wangi ... kamar Ibu tetap yang paling wangi. Entah, parfum apa yang ia gunakan untuk memberi aroma yang sangat harum di kamarnya. Beda sekali dengan kamarku yang paling-paling wangi "lotion" tubuh saja.
Diri ini memang tidak terlalu suka memakai minyak wangi. Hanya "body lotion" dan penghilang bau badan saja yang selalu kugunakan. Kalau bekerja pun, hanya bedak dan lipstik tipis saja yang diri ini gunakan. Itu pun, karena khawatir dibilang pucat lagi oleh Bu Rina, rekan kerjaku yang paling usil menilai.
Sebenarnya Ibu pun sudah sering bawel kepadaku. Ia selalu menasehati agar diri ini pandai dandan dan bisa mengurus rumah. Hampir setiap hari nasehat itu selalu ia ucapkan dan sampai diri ini hafal luar biasa.
Lemari plastik berwarna hijau itu telah menunggu untuk kujamah. Ini kah lemari yang dimaksud Ibu? Di mana lembaran kain tersebut? Dengan sabar aku pun mencari kain tersebut.
Dapat! Selembar kain batik rombeng bekas digigit tikus berhasil kutemukan. Warnanya masih bagus, motif Parang Rusaknya pun masih jelas terlihat. Sayang, anak tikus telah menjadikan kain itu sebagai bahan melatih kekuatan giginya, sehingga menyebabkan ujung kain koyak.
Aku pun segera menarik kain tersebut dengan cepat. Ternyata tarikanku begitu kuat, sehingga membuat benda lain terjatuh dari dalam lemari. Mata ini terbelak, sebuah gulungan kain panjang berwarna putih terlipat jatuh di kaki.
Apa ini? Kain kafan? Mengapa Ibu menyimpan kain kafan? Udara takut tiba-tiba berhembus. Dengan tergesa-gesa, kukembalikan kain itu ke tempatnya.
Setelah selesai, aku pun bergegas menghampiri Ibu yang masih menggali kuburan Manis. Bapak sudah ada di sampingnya. Namun, laki-laki itu sama sekali tidak membantu. Ia hanya ingin memantau apa yang sedang istrinya lakukan di waktu sepagi ini.
"Kemarin, Bapak lihat dia dikejar anjing." Bapak berbicara datar tanpa memandangku.
Laki-laki itu sibuk mengamati si Manis yang telah kaku. Tubuh kucing itu begitu dingin bagai es yang baru saja diambil dari lemari es. Darahnya pun hampir mengering.
Aku memandang Bapak dengan sedikit kesal. Mengapa Bapak tidak menolong Manis? Bukankah Bapak bisa saja melempar anjing liar itu dengan batu atau ranting bambu?
Ingin sekali aku berkata Bapak jahat! Namun, apakah harus diri ini memakinya hanya karena kucing? Bapak tidak pernah berubah, ia masih saja acuh dan tidak pernah mau tahu isi hati anaknya. Beruntung aku memiliki seorang Ibu yang sangat hebat, sehingga bisa menyeimbangkan keegoisan Bapak.
"Ning, mana kainnya? Ibu mau bungkus Manis," pinta Ibu mengalihkan pikiranku tentang Bapak.
"Repot banget, pakai dibungkus segala!" protes Bapak.
"Gak apa-apa, biar dia nanti bisa nolongin Ibu, Pak. Cuma kain biasa saja bukan kain kafan yang harus beli," jelas Ibu membuatku teringat kafan yang tadi kutemukan di lemari.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang kafan itu. Namun, kehadiran Bapak membuatku mengurungkan niat. Malas sekali rasanya, jika harus banyak bicara di depan Bapak.
Bapak akhirnya pergi. Seperti biasa dia akan berdagang di pasar. Pekerjaan itulah yang sudah lama ia geluti. Bahkan di pasarlah Ibu dan Bapak bertemu.
"Ibu dulu kenalan sama Bapak di pasar. Sewaktu Ibu menumpang di rumah Uwa di Tambun. Uwa sering meminta Ibu belanja ikan di pasar kalau Ibu sedang libur kerja atau kalau Ibu sedang pulang cepat. Waktu itu, Bapak sudah jualan ikan dan ibu menjadi langganannya. Ia sering sekali bersikap manis, merayu, dan kalau ibu beli ikan pasti dia pilihkan yang paling bagus, serta ditambahkan bonus." Aku selalu teringat wajah Ibu ketika menceritakan pertemuannya dengan Bapak.
Senyum Ibu selalu terukir dan dari sanalah aku tahu Bapak pasti sangat mencintainya saat itu. Namun, entah apa yang membuat Bapak melupakan cinta kepada Ibu. Bentuk fisik Ibu yang sudah berubahkah? Atau ... memang hati Bapak yang sejatinya tidak pernah puas bercinta dengan satu wanita?
Aku sama sekali tidak tahu. Aku tidak pernah bisa mendalami hati Bapak. Aku hanya tahu dia memang tidak pernah bersyukur memiliki seorang istri macam Ibu.
Bapak memang sering sekali bermain cinta diam-diam di belakang Ibu. Aku bahkan masih ingat ia pernah mengajakku menonton bioskop dengan selingkuhannya.
Saat itu umurku lima tahun dan otak ini sudah bisa menyimpan memori jangka panjang. Sore itu, diri ini senang sekali ketika Bapak mengajak nonton di bioskop, tetapi tanpa Ibu. Ia bilang Ibu sedang lelah jadi biar Bapak saja yang mengajak aku main.
Aku si cuek saja, jalan-jalan sangat menyenangkan, hanya itu yang diri ini pahami. Sesampainya di bioskop, Bapak bertegur sapa dengan seorang wanita berambut lurus dan berwana sedikit kemerahan. Wanita itu begitu ramah menyapa, membelikan berondong jagung rasa manis, dan segelas minuman bersoda untukku.
Tidak lama bioskop pun bersuara nyaring. Seorang wanita mengatakan bahwa pintu bioskop sudah dibuka. Bapak dan wanita itu tersenyum mengajak aku masuk. Bapak mengajak kami duduk di barisan tengah.Tentu saja, diri ini hanya ikut dan duduk manis, menikmati berondong jagung dan sesekali menyeruput minuman bersoda tadi.
Sepanjang film diputar Bapak dan wanita tadi asyik bercengkerama pelan. Bahkan tangan Bapak begitu santainya menggenggam tangan wanita tadi. Aku mulai risih melihatnya. Setahuku hal tersebut tidak boleh.
Namun, rasa takut membuat diri ini diam. Ditambah ancaman Bapak yang memintaku tidak bercerita kepada Ibu masalah nonton di bioskop. Bapak bilang tidak akan mengajak jalan-jalan lagi dan tidak akan membelikan mainan, kalau Ibu sampai tahu. Semenjak itu, diri ini sangat takut dan mengunci mulut rapat-rapat. Namun, dari peristiwa tersebut diam-diam aku mulai memahami sifat Bapak.
__ADS_1
Sayangnya, bangkai tetaplah bangkai. Serapat apa pun menyembunyikan tetap akan tercium juga. Begitu pun dengan cinta terlarang Bapak. Bukan aku yang mengatakan, tetapi suami wanita tadilah yang datang ke rumah dan mengatakan kepada Ibu akan membunuh Bapak jika masih berani jalan dengan istrinya.
Itu adalah peristiwa pertama yang membuat Ibu cukup syok. Belakangan aku tahu, Bapak memang sudah biasa bermain api. Namun, kali ini api yang ia mainkan terlalu besar. Wanita yang ia goda adalah wanita yang sudah bersuami dan suaminya adalah seorang preman yang bisa saja berbuat nekat.
Ibu menjadi sangat takut, ia tidak mau anaknya menjadi yatim. Itulah sebabnya, kami pindah ke tempat ini sampai sekarang. Setelah pindah, Ibu berharap Bapak akan menjadi lebih baik, tetapi sayangnya ia masih tetap sama.
Aku dan Ibu tahu, sebenarnya ia sangat menyayangi kami. Hanya saja rasa cintanya sering kalah dengan ambisinya yang ingin menjadi idola wanita lain. Meskipun, wanita yang menyukainya sudah bersuami.
"Bu, tadi Ning lihat ada kain kafan di lemari. Kain kafan itu buat apa, Bu?" tanyaku setelah Ibu selesai mengubur Manis.
"Oh, itu punya Ibu," balas Ibu membuatku terkejut.
"Maksud Ibu apa?"
"Dulu sewaktu Nini meninggal, Ibu membelikan Nini kain kafan. Ternyata, Nini sudah menyiapkan kafannya sendiri. Entahlah, mungkin Nini sudah punya firasat akan pergi. Jadi, kain kafan yang Ibu belikan tidak terpakai. Lalu, Ibu putuskan menyimpannya saja buat Ibu." Aku terkejut mendengar perkataan Ibu yang terakhir.
"Bu ... jangan ngomong gitu ah,"
"Loh, kenapa? Setiap manusia pasti akan mati 'kan? Hanya tinggal menunggu waktu saja ...." Ibu menatapku sambil tersenyum.
"Iya, tapi ...."
"Sudah, gak usah diributkan. Lebih baik, bantu Ibu masak buat Aa dan Tetehmu," pinta Ibu mengalihkan pembicaraan.
Aku pun menurut dan hendak meninggalkan Manis yang kini terbaring di dalam tanah. Namun, ponselku berdering dan menghentikan langkahku. Nama Haikal muncul di layar ponsel.
"Siapa, Ning?" tanya Ibu.
"Haikal, Bu," balasku melirik Ibu.
"Ya sudah, Ibu ke dalam dulu ya? Mau mandi lagi, badan Ibu kotor." Ibu lagi-lagi tersenyum dan meninggalkanku.
Kini ponsel pintar di tangan kanan inilah yang menjadi perhatianku. Aku tidak menyangka Haikal akan menghubungiku sepagi ini. Biasanya ia akan menelepon di malam hari. Mungkin, karena hari ini hari Minggu, mungkin saja.
"Apaan si, pagi-pagi dah merayu." Aku mencoba menampik perasaanku.
Tentu saja aku merindukannya. Namun, aku tidak mau larut dalam perasaan yang akan menjebak dalam ruang rindu menyebalkan. Hubungan jarak jauh sungguh sangat melelahkan, ya ... itulah yang kurasakan.
"Kamu, memang gak kangen sama aku?" balas Haikal membuatku salah tingkah.
Lelah berdiri, akhirnya membuatku duduk di lantai beranda rumah. Kemudian, dengan santai kembali kujawab pertanyaannya. Ia pun masih membisu di ujung telepon.
"Kangenlah,"
"Ketemuan, yuk? Aku baru sampai di Bekasi."
"Ah, serius? Kamu gak lagi becanda 'kan?" ucapku tidak percaya.
Aku masih ingat ucapannya kemarin sore, ia bilang hari ini ia harus lembur. Itulah sebabnya diri ini tidak percaya ia berada di Bekasi. Apa dia hanya mau mengujiku saja?
"Enggak, aku baru saja sampai. Berangkat tadi masih gelap gulita. Bosku ngebatalin lembur, jadi langsung saja aku pulang. Kasihan kedua orang tuaku sudah ribut kangen."
"Iyalah, sebulan gak ketemu pasti kangen. Untung saja aku gak mati penasaran menahan kangen," balasku keceplosan.
"Iya, maaf. Yaudah nanti siang aku jemput ya? Kita jalan?"
"Setuju," balasku.
Setelah puas bercengkerama dengan Haikal, Ibu kembali menjadi tujuanku. Kini ia sedang sibuk dengan tungkunya. Panci besar berisi air telah berada di atas tungku.
Seandainya boleh, ingin sekali kusingkirkan tungku-tungku tersebut dan menggantinya dengan kompor gas dan penanak nasi listrik. Sehingga, pekerjaan Ibu menjadi lebih ringan. Sayang ia selalu menolak dan selalu sabar melakukan semua.
***
__ADS_1
Siang telah bergulir, Haikal telah menantiku di beranda. Ia masih seperti dulu, manis dan mampu membuatku tersenyum tulus. Hanya saja, ia tampak lebih kurus. Ia pasti tidak menjaga pola makan dengan baik.
Setelah pamit, aku pun meninggalkan Ibu sendiri. Tidak apalah, semua pekerjaannya sudah selesai. Mungkin sebentar lagi A Iwan dan Teh Nia akan segera sampai di rumah.
"Kamu kurusan si?" tanyaku kepada Haikal setelah kami membeli tiket bioskop.
"Iya, nih. Biasa ... anak kos, makannya gak teratur. Mangkanya kita nikah, yuk? Biar aku ada yang ngurusin? Kalau kamu mau, malam ini juga aku datang membawa orang tuaku," balas Haikal membuatku memandangnya.
"Nikah?"
"Iya, emang kamu gak mau nikah sama aku?" Haikal menatapku dalam.
"Tentu saja aku mau. Tapi ... aku masih berat ninggalin Ibu sendiri."
"Ibu 'kan ada Bapak?"
"Tapi, kamu tahu kan Bapakku beristri dua dan dia jarang di rumah," balasku membuat sinar di wajah Haikal meredup.
"Tapi, sudah kodrat wanita jika menikah ikut suami."
"Kamu betul, hanya aku harus bicarakan ini ke ibu dulu. Aku gak bisa mendadak seperti ini," balasku membuatnya perlahan mengerti.
"Oke, aku tunggu ya?" Haikal masih menatapku.
Sungguh, aku tidak tahan dengan tatapannya. Jika saja bayangan Ibu tidak muncul di kepala ini, pasti dengan cepat kusetujui ajakannya. Namun, Ibu begitu berharga, sehingga tidak sanggup aku acuhkan.
Ponselku berbunyi, A Iwan menelepon. Apakah ia sudah sampai di rumah? Ia pasti hendak meledekku.
"Iya A?" jawabku.
"De, bilangin Ibu ya, Aa gak jadi ke rumah. Teh Nia mabuk, Teteh hamil," jelas A Iwan membuatku merasa senang akhirnya kakak iparku hamil juga setelah setahun menunggu.
"Alhamdulillah, Ning senang sekali mendengarnya. Iya, A nanti Ning sampaikan ke Ibu," balasku dan akhirnya sadar dengan nasib masakan Ibu.
Ibu pasti senang mendengar menantunya hamil. Namun, ia pasti sedih gagal bertemu dengan anak dan menantunya. Ditambah masakannya yang akan menjadi sia-sia. Pasti saat ini, Ibu sedang menunggu cemas di depan pintu.
"Haikal, kita bisa pulang sekarang gak?" pintaku membuat Haikal terkejut.
"Kenapa?"
"A Iwan gak jadi datang ke rumah, Teh Nia hamil. Ibu harus tahu, aku gak bisa telepon Ibu. Ibu gak punya HP, tetangga yang dekat gak bisa dihubungi. Kasihan Ibu, dia pasti nungguin Aa sama Teteh," jelasku membuatnya mengerti.
"Hayuk, kita pulang sekarang!"
"Kamu ... gak marah 'kan? Tiketnya bagaimana?" Aku menjadi serba salah.
"Enggak, tiket itu bisa kita beli lagi nanti. Uang yang hilang tidak seberapa jika harus melihat senyum kamu hilang," balasnya membuatku tenang.
Haikal memang sangat mengerti aku. Dia selalu bisa membuatku nyaman dalam kondisi apa pun. Kami akhirnya kembali pulang ke rumahku ditemani gerimis yang tiba-tiba saja turun.
"Aku lupa gak bawa jas hujan, kamu pakai jaket aku saja ya?" ujar Haikal setelah mengecek jok motornya dan memberikan jaket jeansnya ke pundakku.
"Tapi, kamu?"
"Hanya gerimis kecil, gak masalah. Ayuk!" Haikal telah naik di motornya.
Aku pun memakai jaket miliknya yang wangi debu. Kemudian, tanpa ragu duduk di belakangnya. Setelah yakin aku telah duduk dengan benar, Haikal pun melajukan motor maticnya.
***
Angin berdesir perlahan, aspal retak telah menyambutku. Ucapan selamat datang di gerbang desa membuatku lega, karena kami sebentar lagi akan sampai. Sebentar lagi Ibu, tunggu ya,
Namun, tiba-tiba aku merasa tidak nyaman. Di tepi jalan mata ini melihat pengendara motor trail berhenti dan membuka kaca helmnya. Umar! Aku tahu itu dia ... pandangan matanya lurus menatapku.
__ADS_1