BELAHAN JIWAKU

BELAHAN JIWAKU
PERTENGKARAN


__ADS_3

    Hari yang cerah mendukung aktivitas masyarakat Denmark, termasuk Ditya yang sedang memantau para pekerjanya disalah satu butik miliknya, sedangkan anaknya kini berada disekolahan. Ia sangat senang dengan keadaan butiknya yang semakin lancar, ia saja sampai sekarang masih tak menyangka kalau usaha yang awalnya hanya bisnis online sekarang sudah memiliki cabang dimana-mana.


    Waktu terus berjalan sudah waktunya menjemput Vika disekolahan, ia bersiap pergi sampai ada yang memanggilnya, ia memalingkan kepalanya dan melihat Nanda sang sekretarisnya yang ingin mengatakan sesuatu.


    "Ada apa, apakah terjadi sesuatu?"


    "I-ITU bos saya dapat kabar dari sekolah kalau nona muda berkelahi" ucapan Nanda membuat Ditya kaget sebab anaknya itu tak mungkin melakukan sesuatu yang tak bermanfaat, ia langsung bergegas menuju sekolahan anaknya.


    Sesampainya disekolahan ia langsung berlari menuju ruangan kepala sekolah dimana disitu sudah terdapat kepala sekolah anaknya, teman sekelasnya serta ortu anak itu. Kepala sekolah tersebut langsung berdiri menyambut Ditya, kemudian Ditya menghampiri anaknya yang terlihat jelas jejak air mata disitu.


    "Vika kenapa sayang, coba cerita sama bunda apa yang terjadi padamu hemm" ucap Ditya sambil mengusap jejak air mata yang terdapat dipipi sang buah hati. Pada saat Vika ingin menjawab ucapan terpotong dengan ucapan seorang wanita yang berbicara dengan lantang.

__ADS_1


     "ANAK SIALANMU ITU TELAH MENYAKITI PUTRI KECILKU, BERANI SEKALI DIA MENYAKITI PUTRI DARI SEORANG MENTRI APAKAH IA TAK DIAJARI TATA KRAMA OLEHMU HAAHHH!!!!!" sarkas wanita yang diketahui adalah ibu dari anak yang berkelahi dengan Vika yang bernama Brenda.


    "Nyonya saya sedang berbicara dengan putri saya, anda tidak berhak memotong pembicaraan kami dan satu hal yang harus anda tahu bahwa putri saya ini tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir jadi tidak mungkin putri saya melakukan tindakan bodoh seprti yang anda katakan itu" jawab Ditya tak kalah tegas dari nyonya Vione (Ibu Brenda).


    Melihat situasi semakin tidak kondusif kepala sekolah langsung mengajak ibu-ibu itu untuk duduk menjauh dari sana, sedangkan akan dijaga oleh wali kelas mereka.


    "Nonya saya harap anda tidak bertengkar dihadapan anak-anak karena itu akan mempengaruhi mental mereka dan saya harap hal ini dapat diselesaikan dengan kepala dingin" ucap kepala sekolah yang bernama Brian.


    "HEI ITU MEMANG KENYATAAN KALAU MEMANG DIAJARI IA TAK MUNGKIN AKAN MENYAKITI PUTRIKU" ucap Vione.


    HUUFFTT!!! Brian menghela nafasnya karena kelakuan dua ibu yang sedang cekcok itu padahal sudah ia kataka dengan jelas tadi untuk menyelesaikannya dengan kepala dingin.

__ADS_1


    " Baiklah nyonya saya disini akan menjelaskan kronologi kejadian yang terjadi pada anak-anak" ucapan Brian akhirnya membuat 2 ibu itu terdiam. Brian kemudian menjelaskan apa yang terjadi sesuai dengan yang dikatan wali kelas anak-anak.


    "Jadi begini nyonya tadi saya mendengar dari wali kelas mereka karena mereka bertengkar yang dimulai oleh Brenda dkk yang membully Vika kemudian Vika membalas dengan menjambak Brenda dan Brenda ikut menjambak Vika mereka saling jambak sampai wali kelas datang melerai mereka berdua, begitulah cerita yang saya dengar dari wali kelas mereka" Ditya dan Vione yang mendengarnya hanya terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan, keheningan terpecah ketika Ditya berbicara.


    '' Alasan apa yang membuat Brenda harus membully anakku? Apakah Vika berbuat salah sampai harus diperlakukan seperti itu? Lalu apakah ini kejadian yang bukan pertama kali?" ucap Ditya dengan banyak pertanyaan.


    Brian yang mendapat pertanyaan itu seketika menjadi bingung mana yang harus ia jawab dulu, walaupun ini bukan kasus yang pertama kali ia tetap canggung dengan keadaan ini, itu menandakan  tak mampu menumpas kasus pembullyan yang terjadi disekolahnya.


    "Kami mohon maaf nyonya atas apa yang terjadi pada anak anda, saya selaku kepala sekolah memimta maaf sebesar-besarnya, untuk alasan Brenda membully Vika itu kami tidak ketahui karena Vika sedari tadi hanya diam saja ketika kita bertanya begitupun dengan Brenda yang tak ingin mengaku" ucapan Brian membuat Ditya sakit hati, ternyata anak yang ia kasihi dan sayangi sepenuh hati bahkan ia saja tak pernah bermain tangan pada anaknya, tetapi disekolahnya ia malah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari sebayanya. Sungguh miris!! yang seharusnya anak-anak seumuran segitu hany tahu bermain dan belajar tetapi ini!! ia bahkan sudah tahu cara membully temannya sendiri!! Begitulah isi pikiran Vika.


      Mereka ber-3 mulai membicarakan penyelesaiannya itu dengan ulet bahkan haru dibumbui dengan perdebatan antara Ditya dan Vione, sampai akhirnya perbicaraan selesai diakhiri dengan Vione yang meminta maaf pada Ditya dan Brenda yang meminta maaf pada Vika. Setelah itu mereka pulang kerumah masing-masing, nanti Ditya akan berbicara sendiri pada anaknya dan ia akan berencana untuk memindahkan anaknya disekolah lain.

__ADS_1


 Jangan Lupa Like dan Comment


__ADS_2