
Hai Hai Readers, Selamat membaca💜
"Huhu, dompet kau pasti sakit." Thomas masih menangisi dompetnya.
"Jangan terus meratapi. Kau sendiri yang mengajak makan." Alesia berkata.
"Ta tapi tidak dengan anak-anak itu."
"Sudahlah, makasihnya Thomas."
"Ah Al" Thomas terharu.
"Kau pikir aku akan bilang begitu? Hahaha, Thomas bodoh kasihan dompetnya kosong deh." Alesia memang tak bisa berbaik sedikit pada Thomas. Patah hati sudah dia.
"A-Al...." Thomas berderai.
"Lihat anak-anak tidur pulas. Jangan berisik lagi." Alesia berkata.
Kini di jalan, Thomas mengemudi, dan Alesia duduk di sampingnya, sedangkan Ronald dan Emely tidur dengan pulas di belakang.
Setelah acara makan-makan. Semua pulang masing-masing dengan perut kenyang dan senang. Ada pula yang sedih meratapi isi dompetnya.
Thomas mengemudi dengan tenang. Berusaha tak membangunkan calon adik iparnya. Lama menyetir ahirnya mereka sampai di rumah berhalaman karpet hijau. Thomas memarkirkan Mobil di depan rumah. Sedang Ronald dan Emely masih tertidur.
"Mereka masih tidur." Alesia menoleh ke belakang, mendapati dua adiknya tertidur pulas.
"Bangunkan?" Thomas bertanya.
"Iya, tapi kalau kau mau mengendongnya ya gendong saja." Alesia berkata.
"Tidak, akan ku bangunkan saja." Thomas memilih membangungkan.
Kalian tahu, selesai bekerja inginnya santai malah di kuras isi dompetnya dan harus mengendong adik adik Alesia. Pasti rasanya tak larat.
"Bagus, aku masuk ke rumah dulu." Alesia keluar dari mobil dan menuju rumah.
Berahir Thomas membangunkan Ronald dan Emely.
"Hei kalian, bangun! Jangan tidur di sini. Sakit nanti." Thomas berusaha membangunkan.
"Hekk, emm" Ronald dan Emely bergecap.
"Ah kebo. BANGUN WOI!" Thomas berteriak.
"Huaa, ampun jangan makan aku." Ronald mengigau, ya pasti tentang cerita buku fantasinya.
"Emm, apasih kakak ada kecoa ya." Emely mulai tersadar.
"Kalian ngelindur. Bangun cepet sudah sampai rumah." Thomas berkata.
"Hoamm, iya." Ronald dan Emely bangun dari tidur.
Di tempat lain.
"Dasar. Kau pergi ke mana hah! Kau pasti main kan!"
"Ti tidak ."
"Berani menjawab! Ohhh, kau mulai berani ya."
"M m maaf ."
"Hah anak tak di untung. Sudah bagus aku rawat. Sana, aku mau pergi dan kau jaga rumah."
Louis harus mendengarkan amarah pamannya. Dia hanya tinggal berdua dengan pamannya. Keluarganya meninggal saat kecelakaan. Sedangkan pamannya bercerai karena di anggap selingkuh.
Dan sekarang ia sendiri di rumah. Pamannya keluyuran entah ke mana. Louis memang anak yang sabar. Menghadapi sifat pamannya, ia tak pernah mengeluh.
Ia membongkar tasnya dan mengambil kotak makan. Kotak itu di cuci olehnya. Setelahnya ia membersihkan diri. Lalu ia mengulas pelajaran di sekolah tadi dan belajar untuk besok.
Kembali ke rumah Alexander. Rumah yang ramai, ada yang sedang mandi ada yang sedang istirahat, ada pula yang sedang melepas rindu.
"Ibu, aku bawa sesuatu untukmu." Alesia duduk di sofa bersama Maria.
__ADS_1
"Anak ibu, apa yang kamu bawa?" Maria bertanya pada anak sulungnya.
"Hehe, lihat." Alesia memperlihatkan liontin yang sangat cantik.
"Itu untuk ibu? Bukankah ini mahal?"
"Hehe tidak jika untuk ibu."
"Oh sayang, terima kasih."
"Hmm, iya. Nah sekarang ibu pakai."
"Em."
Setelah Alesia memakaikan liontin. Ronald dan Emely datang, begitu pula Thomas.
"Hei, sedang apa? Sepertinya senang begitu." Emely bertanya.
"Ibu di beri hadiah kakakmu." Maria menjawab.
"Ah aku juga mau di kasih." Ronald iri.
"Oh iya kau juga mau. Kalau begitu sini." Alesia memanggil Ronald.
"Wah ada hadiah juga untukku?"
"Ini hadiahnya." Kata Alesia sembari menjewer telinga Ronald.
"A aduh, sakit kak lepas." Ronald mengaduh sakit.
"Alesia, sudah." Matia berkata.
"Huh." Alesia melepas jewerannya.
"Oh iya kak, terima kasih makanannya." Emely berterimakasih pada Thomas.
"Em, sama-sama." Thomas mengangguk sedikit.
Jika dilihat dari luar pasti mereka adalah keluarga sempurna. Sedangkan bila melihat dari dalam, pasti banyak celah dan retak di dalamkeluarga ini. Mau bagaimanapun mereka pintar menutupinya dengan perilaku mereka yang tetlihat bahagia.
Dari Ronald, ia selalu menyibukkan diri dengan membaca cerita. Motifasinya berasal dari sana. Ia merasa kagum pada tokoh utama yang tak pernah terlihat bersedih.
Kemudian Emely, dia yang paling terlihat mengemaskan. Senyumnya sangat manis. Dia suka bermanja pada kakak dan ibunya. Hal kesukaanya adalah menonton drama dan teater.
Untuk anak sulung Alesia, dia tegas dan cermat. Paling bisa di andalkan dalam keluarga. Sosok kakak perempuan yang umum. Menyayangi keluarga dengan caranya sendiri.
Tak lupa Maria, ia merawat dan membesarkan ketiga anaknya dengan baik. Pernah bekerja paruh waktu sampai sakit. Ia adalah ibu yang penyayang. Bagi anak-anaknya sosok Maria adalah ibu sempurna.
Yah yang kita tahu keluarga ini terlihat baik, tapi celah yang ada mungkin masih bisa di perbaiki.
Mari kita lihat bagaimana keluarga ini menutupi celah itu.
Lima hari sejak hari pertama masuk sekolah. Ronald dan teman teman membantu Emely mendatangi para hantu. Dibantu pula oleh Alesia dan Thomas.
Kemarin malam Emely bercerita tentang masalahnya di sekolah. Tentang Emely yang di ganggu oleh hantu. Emely memiliki kekuatan fantasy yang sudah bangkit sedari umurnya tujuh tahun. Kekuatan itu membuat dirinya dapat melihat yang gaib.
Tentang masalah di sekolah, ia bercerita pada semuanya saat makan malam.
"Semuanya." Emely memulai perkacapan.
"Hm, kenapa sayang?" Maria bertanya.
"Emely ingin bilang kalau Emely di ganggu di sekolah." Emely berkata.
"Apa maksudmu di ganggu?" Alesia bertanya.
"Bukannya kamu berteman baik di sekolah." Ronald menambahkan.
"Yah benar, aku bukan di ganggu manusia, melainkan hantu." Emely melanjutkan cerita.
"Ha hantu?" Ronald meminta keyakinan.
"Em, mereka terus menerus berada di sekelilingku. Terkadang mereka menjahiliku." Emely menambahkan.
__ADS_1
"Sepertinya mereka tahu kau bisa melihat mereka. Makanya mereka mengganggumu." Alesia berkata.
"Tapi mereka kelewatan. Sampai-sampai beberapa teman sekelasku menghindariku." cerita berlanjut
"Oh itu sudah kelewatan." Ronald berkata.
"Jadi mau bagaimana?" Maria bertanya.
"Kita datangi mereka." Ronald menyarankan.
"Apa itu ide yang bagus anak-anak." Maria tak yakin.
"Em aku juga libur jadi bisa saja kita datangi. Tak apa ibu, anak-anakmu bisa menjaga diri kok" Alesia meyakinkan.
"Iya." Ronald mengiyakan perkataan Alesia.
"Em, baiklah. Jika kalian pergi bersama ibu sedikit tenang. Tapi tetap hati-hati." Maria mengizinkan.
"Baik bu."
"Semuanya terima kasih." Emely berterima kasih.
"Haha iya kita kan keluarga jadi harus saling menjaga satu sama lain."
"Hehe."
Kembali ke sekolah.
Bel pulang sekolah usai berbunyi. Ronald dan teman-teman berkumpul di taman belakang sekolah.
Disana ada Ronald, Lilia, Alvaro, Emely, Louis, Vivian, Alesia, Thomas dan satu orang yang mengaku ingin mencari sepupunya yang belum pulang sedari kemarin.
Ia bernama Cavelina Angelista, dirinya satu angkatan dengan Alesia dan Thomas. Saat di sekolah mereka seperti rival abadi. Cavelina selalu merasa bersaing dalam segala hal. Entah itu kepintaran maupun kepopuleran. Tapi Cavelina selalu kalah dengan Alesia. Hal itu membuatnya iri dan dendam.
Kembali ke acara mendatangi para hantu. Mereka memulai rencana. Menyusuri titik titik sepi di sekolah. Yang umum menjadi tempat hantu bersingah.
"Jadi kita mau ekspedisi pencarian mahkluk gaib gitu?" Alvaro bertanya.
"Ish diam kamu! Ingat ya kamu masih jadi pesuruh aku." Ronald menyuruh Alvaro diam.
"Iya deh. Hem aku diam." Alvaro ahirnya diam.
"Bagus." senyum seringai terpampang di bibir Ronald.
"Oke semuanya. Terima kasih sudah mau bantu Emely." Emely tersenyum manis dengan tangan yang di satukan di atas dada.
Manis sekali.
"Tentu." semua ikut tersenyum.
"Hehe iya dong. Kita kan teman." Vivian menyikut Emely.
"Em sekali lagi makasih." Emely mengulang ucapan terima kasih.
"Jadi rencananya bagaimana?" Lilia bertanya.
"Kita berpencar." Ronald mengeluarkan telunjuknya.
"Terus kalau sudah ketemu?"Vivian bertanya.
"Ya nanti kita ketemu lagi dulu."
"Hmm, oke." Semua mengangguk.
"Oke kita berpencar Aku sama mereka, Emely dan teman teman, kak Alesia sama kak Thomas. Oh iya kak, kakak Alesia."
"Em"
"Kalo gitu pencarian hantu di mulai." Ronald beraksi. Pasti dia membayangkan jadi tokoh utama dalam novel aksi fantasi.
Bersambung....
Thanks💜
__ADS_1