Believe In Fantasi

Believe In Fantasi
Chapter 7


__ADS_3

hey hey hey, terimakasih sudah menunggu kelanjutan dari BIF❤️


................


Lelaki bersurai hitam lurus dengan netra abu naik ke dalam bus. Ia memakai celana panjang biru dengan atasan kemeja putih dan dasi biru bergaris. Terlihat sepantar dengan Emely. Ia duduk di kursi depan. Wajahnya datar tak berekspresi, mungkin karena tak ada teman bicara.


Bus kembali melaju, tak lama berhenti di halte depan sekolah. Beberapa siswa-siswi turun dari bus. Ronald dan Emely turun dari bus. Memandang sekolah mereka. Gerbangnya tinggi, dari luar sudah terlihat bahwa sekolah ini luas.


School of Heirloom Media, itulah nama sekolah ini. Sekolah favorit di kota. Dulu Alesia juga bersekolah di sini. Alesia dan Thomas selalu sekelas, dan tentu saja itu dianggap keberuntungan bagi Thomas.


Sekolah ini termasuk sekolah berarea luas. Ada banyak spot di sekolah ini. Bahkan ada yang sampai tidak diketahui para warga sekolah. Terlepas dari luasnya sekolah, sekolah itu menjadi tempat para orang berbakat dan berpenampilan baik.


Rumor rumor yang di buat buat juga melekat pada sekolah. Entah dari penampilan para murid yang cantik dan tampan, ataupun tentang angkernya tempat sepi sekolah. Walaupun banyak rumor, entah itu benar atau salah, sudah terbukti bahwa sekolah ini memiliki murid yang unggul dalam prestasi.


Ronald berada di kelas sebelas dan Emely berada di kelas tujuh. Jaraknya cukup jauh antara kelas masing-masing. Maka Emely secara mandiri menuju kelas, begitu pula Ronald. Mereka berpisah di halaman utama sekolah.


Ronald kini berjalan sendiri di keramaian, menuju kelasnya. Tak ada yang menarik, tapi tahun ini pasti menjadi tahun yang spesial.


Dan ditempat lain Emely sedang berjalan berdampingan dengan lelaki bersurai hitam tadi. Walau tak ada percakapan, tapi mereka berjalan bersama. Sampai di kelas tujuan, Emely berhenti menelusuri koridor, ia masuk ke dalam kelas di ikuti lelaki tadi. Dengan kata lain mereka sekelas.


Sungguh kebetulan yang bagus, Emely dan pria itu sebangku. Emely merasa canggung. Ia berniat menghentikan suasana itu. Sesekali melirik ke arah lelaki itu. Lelaki itu peka rupanya, ia mengetahui apa maksud Emely.


"Kau mau berkenalan?" lelaki itu bertanya.


"Ah iya, namaku Emely Alexander." Emely memperkenalkan diri.


"Namaku Louis Meganmore." Louis nama lelaki itu.


"Ah Louis ya, untuk kedepannya semoga kita bisa berteman baik hehe." Emely terlihat memegang roknya, sepertinya dia sedikit senang mendapat teman baru.


"Baiklah." Louis mengiyakan perkataan Emely diakhiri senyum tipis.


"Wah dia tersenyum." Emely membantin.


"Eh Emely?" suara gadis menyebut nama Emely.


"Kau? Vivian." Emely kenal gadis itu.


"Wah kau sekolah di sini? Kita bahkan satu kelas sekarang." Vivian duduk di samping Emely.

__ADS_1


"Iya ya, sungguh kebetulan yang bagus. Kita sekelas deh." Emely tersenyum, pasalnya teman sekolahnya dulu juga sekolah di sekolah yang sama dengannya.


"Eh, siapa dia."Vivian penasaran dengan sosok di samping Emely.


"Ah Vivian kenalkan dia Louis. Louis dia Vivian." Emely memperkenalkan.


" Wah, aku Vivian Madison. Teman lama Emely." Vivian memperkenalkan diri.


"Salam kenal. Namaku Louis Meganmore." Louis menyambut perkenalan.


"Semoga kita akan jadi teman baik." kemudian Emely menengahi.


Kembali ke Ronald, ia kini sampai di kelasnya. Dia dapat jatah bangku di dekat jendela, tempat faforitnya. Pasti dia berteriak gembira di dalam hati. Sebelum ia sampai ke bangkunya, tempat itu sudah didudukki lelaki lain.


"Hei! Itu tempatku, jangan asal duduk." Ronald menggebrak meja di depan lelaki itu.


"Wah maaf ya, aku tak tahu. Kau bisa duduk di samping ku." Anak itu tak mengalah.


"Hah, ini kan tempatku. Kau yang pergi." Ronald meninggikan suara.


"Hei kalian bertiga, kalian bisa duduk di bangku masing-masing. Kalian membuat keributan." gadis itu tiba-tiba menengahi perdebatan.


"Inikan bangkuku, kau minggir. Duduk di tempatmu sendiri." Ronald merebut kursi.


"Ibu, anakmu duduk disamping palu berkarat." Ronald berkata pelan.


"Hei, kau pikir aku tak mendengarnya." lelaki itu marah.


"Hah, ternyata punya telinga. Kupikir gantungan panci." Ronald mencibir.


"Kau ini!..." perkataan lelaki itu dipotong.


"Hei masih mau berkelahi? Cepat baikan." gadis itu ternyata duduk di belakang mereka.


"Ck, maaf." lelaki itu meminta maaf.


"Hah, semudah itu. Wah gadis ini siapa? Lelaki ini jadi penurut." Ronald membatin.


"Hei, aku bilang maaf." lelaki itu mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Baik ku maafkan, tapi traktir aku nanti." Ronald memanfaatkan keadaan.


"Hah?!"


"Tak bisa begitu, Varo sudah minta maaf, kau bisa memaafkannya saja kan." gadis itu membela.


" Em, baiklah. Ku maafkan." Ronald memaafkan.


"Namaku Lilia Frencisca." gadis itu memperkenalkan diri.


"Namaku Ronald Alexander."


"Oh dia Alvaro Leonard, kami pernah sekelas."


"Oh begitunya."


"Kita akan jadi teman sekelas, jadi kalian harus menjaga hubungan baik." Lilia berkata.


"Baiklah, aku akan bersabar menghadapi palu berkarat ini." Ronald masih mencibir.


"Hei anak ayam diam kau." Alvaro membalas cibiran.


"Palu berkarat."


"Anak ayam."


"Palu berkarat."


"Anak ayam."


"Palu berkarat."


"Anak ayam."


"Palu berkarat."


"Anak ayam."


Begitulah mereka sampai guru wali mereka datang. Hari pertama yang menarik. Entah bagaimana kelanjutan mereka bersekolah di School of Heirloom Media.

__ADS_1


Bersambung.....


thanks❤️


__ADS_2