Believe In Fantasi

Believe In Fantasi
Chapter 9


__ADS_3

Haii Readers, selamat membaca💜


"Ro-Ronald, kamu bicara dengan siapa?"


"Ah, ketua kelas. Aku hanya membaca buku." Ronald berdalih.


"Tapi, ah mungkin aku yang salah dengar. Maaf ya."


"Iya, tak apa."


Ketua kelas duduk di bangkunya. Memakan roti yang ia bawa dari luar. Sedangkan Ronald lanjut membaca buku. Bukan sekali dua kali dia kepergok seperti ini. Sudah sering kali dia ketahuan. Banyak pula alasan yang ia berikan. Seperti dulu saat hari pertama masuk sekolah.


"Wah, banyak juga murid tahun ini."


"Iya, ya."


"Ah, mereka bicara." Ronald mendengar itu, ia mendengar suara dari pepohonan di sekolah.


"Hei kau, kau bisa mendengar kami bukan. Siapa namamu?"


"Kalian bisa memanggilku Ronald." Ronald memberi tahu namanya.


"Wah, ia bisa mendengar kita. Baru pertama kali ada manusia yang bisa mendengar kami loh."


"Hei, lihat dia bicara sendiri." beberapa orang berbisik.


"Dia bilang namanya Ronald, apa dia sedang berkhayal berkenalan dengan gadis cantik?"


"Hah, Uhh! Aku lupa." Ronald yang merasa malu, langsung berlari ke tempat lain.


Setelah itu, ia menjaga rahasianya. Walaupun beberapa kali pernah kepergok. Tapi, ia merasa bersyukur. Masih memiliki teman yang bisa di andalkan.


Sebelum bel masuk, kelas Ronald sudah ramai. Ada yang bergosip, ada pula yang sedang makan bawaan dari kantin. Sedangkan Ronald, ia hanya bermain ketapel dengan penghapus dan penggaris.


"Aduh!" Alvaro mengaduh sakit.


"Eh, maaf kena deh." Ronald meminta maaf, walaupun kalian tahu ia tak bersungguh-sungguh.


"Woi anak ayam! Berhenti mainin itu bisa kan. Penghapusnya kena kepalaku nih. Dasar anak ayam."


"Maaf dong. Kan bukan di sengaja juga. Lagian palu berkarat kena penghapus gitu aja sakit."


"Ngatain lagi! Berani hah." Alvaro berteriak, itu menyebabkannya menjadi tontonan kelas.


"Kenapa aku harus takut?" nada Ronald meremehkan.


"Kamu ini, mau berantem hah, ayo berantem!"


"Masih belum selesai berantemnya. Berisik tahu." Lilia berkata.


"Kalian, sudahlah. Jangan bertengkar lagi. Kalian jadi tontonan sekelas. Lebih baik kalian belajar, sekarang sudah bel masuk." Andre menasihati temannya.


"Bagus jadi tontonan sekelas. Ayo buat taruhan siapa yang kalah jadi pesuruh yang menang selama seminggu."


"Mau menang apasih? Adu bakat? Nyanyi atau nari? Jangan-jangan kamu mau merajut?"


Dalam keramaian kelas itu, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Dari muka pintu terlihat guru Sebastian. Guru Sebastian kemudian berjalan ke depan kelas.


"Ini jam kosong, silahkan lakukan apapun terserah kalian. Tapi jangan keluar kelas dan jangan berisik." setelah berkata demikian ia duduk di kursi guru dan menutup mata.


"Ha?"


"Hei kita begini lagi?"


"Dia guru bukan sih? Tampang aja oke, tapi sifatnya kok tidak bertanggung jawab."


"Kelas ini di biarkan begitu saja, lalu di tinggal tidur."

__ADS_1


"Hei Ronald, ayo bertanding."


"Baiklah, siapa yang tidak berbicara paling lama, dia yang menang."


"Hah, kok begitu."


"Harus sesuai apa yang kamu bilang, yang kalah jadi pesuruh, dimulai dari sekarang."


Ronald tahan tak berbicara, sedangkan Alvaro sudah komat kamit, ia memang susah untuk diam. Berbeda dengan Ronald, ia masih diam dengan membolak-balik halaman buku. Bagi Ronald yang sedari kecil dapat mendengar suara tumbuhan, tak susah untuk menahan keinginan berbicara.


Ronald yang selalu menahan bicara dengan tumbuhan saat ada manusia. Hal seperti ini sudah biasa baginya. Cukup lama Ronald bertahan, berbanding terbalik dengan Alvaro sedari tadi melirik Ronald.


"He...." Alvaro kalah.


"Kau kalah, kau akan jadi pesuruhku selama seminggu, sesuai dengan perkataanmu." Ronald berkata.


"Hah, aku tidak bersuara. Kau yang bersuara pertama kali. Jadi kau yang jadi pesuruhku." Alvaro berdalih.


"Hei Varo, aku tahu kau yang bersuara duluan. Jangan mengelak kau lelaki bukan. Lelaki harus menepati janji." Lilia menjadi penengah.


"Aku lelaki, baik aku mengaku." Alvaro berkata, diikuti suara hatinya. "Huh Lilia selalu saja ikut campur." Alvaro mengaku.


"Jadi mulai sekarang kau jadi pesuruh."Ronald berkata.


"Oke."


"Hmm, sekarang diamlah."


Alvaro hanya diam, mau bagaimana lagi. Sang bos sudah berkata. Sedangkan Ronald malah membaca buku fantasinya. Kelas hanya berisi anak yang sibuk masing-masing. Ada yang mencorat coret buku. Ada yang menulis nama orang yang disukanya pada halaman belakang buku. Ada pula yang menyusun penghapus.


Bel pulang sekolah berbunyi, para siswa School of Heirloom Media keluar dari kelas, termasuk kelas Ronald.


"Hoam, bel sudah berbunyi, silahkan berkemas-kemas dan pulang, he'em." guru Sebastian meninggalkan kelas.


"Baik."


"Hei, Emely." Ronald melambai tangan, dam di balas Emely dari kejauhan.


"Kau panggil siapa?" Lilia bertanya.


"Adikku." Ronald berkata.


"Cih." Alvaro berdecih.


"Kakak dapat teman baru nih." Emely berkata.


"Kamu juga kan." Ronald membalas.


"Iya dong. Kenalin ini Louis Meganmore, kalau yang satunya kakak tahu kan." Emely memperkenalkan Louis dan menunjuk Vivian.


"Iya kakak tahu." Ronald mengangguk dan tersenyum.


"Halo, saya Louis Meganmore. Teman Emely." Louis memperkenalkan diri.


"Tak perlu formal begitu. Aku kakaknya Emely, kau bisa panggil kak Ronald." Ronald memegang pundak kiri Louis.


"Iya kak." Louis mengangguk kecil.


"Wah yang satu ini juga, lupa denganku tidak?" Ronald menoleh pada Vivian.


"Tidak lah kakak. Terahir ketemu kakak cemong karena es krim kan."


"Ehh, itu kan gara-gara kak Alesia dan kak Thomas yang bertengkar, malah aku yang kena imbasnya."


"Haha waktu itu lucu juga." Vivian tertawa mengingat masa lalu.


"Hei, kita dilupakan nih." Lilia dibelakang merasa terlupakan.

__ADS_1


"Lilia, kita pergi aja yuk." Alvaro mengajak Lilia pergi.


"Eh, kalian berdua sini. Oh iya pesuruh kan harus nurut. Sini cepet." Ronald bertitah.


"Huh, Oke."


"Kenalin, mereka teman sekelas kakak, yang ini Lilia Frencisca, dan yang ini palu berkarat." Ronald memperkenalkan dengan tidak bersahabat pada Alvaro.


"Hei anak ayam! Namaku bukan palu berkarat." Alvaro tak terima.


"Dan aku bukan anak ayam." Ronald membalas.


"Grrrrrrss." Alvaro bergeratkan giginya.


"Huh, halo panggil saja dia kak Alvaro, dia sedikit galak. Dan aku, kalian bisa panggil kak Lilia." Lilia menengahi.


"Lili...." Louis menguman.


"Apa Louis?" Emely bertanya.


"Ah, bukan apa-apa." Louis menggeleng pelan.


"Ayo pulang. Kalian mau jadi penunggu sekolah?" Ronald sudah berjalan mendahului adik dan teman temannya.


Mereka ahirnya berjalan sampai ke depan gerbang. Di depan gerbang ada mobil hitam terparkir di pinggir jalan. Saat kaca mobil terbuka, terlihat Alesia memanggil adiknya.


"Ronald! Emely!"


"Wah itu kakak, kakak kenapa di sini?" Ronald berkata.


"Selesai kerja langsung bertugas menjemput adik. Ronald sekali kali kau itu perhatikan kakakmu bodoh." Alesia berkata.


"Iya deh iya."


"Kak, Emely kangen." Emely datang menghampiri kakaknya.


"Kakak juga, ayo kita pulang." Alesia membalas.


"Al, katanya selesai kerja kita makan bersama." Thomas merengut.


"Iya kok, aku tak bohong kita kan akan makan. Ronald Emely ajak teman kalian, kita makan bersama. Thomas mau traktir." Alesia berkata.


"Hah! Ru-rugi aku. Ah tidak apa demi Al. Huhu dompet sabarnya, nanti saat dapat gaji kau akan terisi kembali kok." Thomas msratapi nasib.


Kasihan dia, tapi mau bagaimana lagi. Demi cintanya ia rela mengorbankan isi dompet. Sungguh lelaki sejati.


"Hihi, makasih kak. Teman-teman kita makan bareng yuk. Mau ditraktir nih. Teman Emely juga, ayo." Ronald mengajak temannya.


"Wah benarkah?"


"Aku ikut kak!"


"Iya ayo semua ikut."


"Em, anu. Aku tak bisa ikut." Louis gelisah.


"Ah Louis ayolah. Ya ku mohon." Emely memohon.


"Em, tapi...." Louis ragu.


"Sekali saja, kumohon." Emely masih berusaha membujuk.


"Ah, baiklah." Louis ahirnya setuju.


Di sebuah restoran makan, mereka menuju.Ahirnya mereka pergi makan bersama.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2