
..............
"Emm, siapa namanya?"
"Emely, Emely Alexander."
"Wah nama yang bagus. Pasti nanti kalau Emely besar lebih cantik dari kakaknya." Thomas berpendapat.
"Hah! Kau mau berantem ya! Sini." Alesia marah, karena kalimat Thomas secara tidak langsung mengejeknya.
"Tidak. Kenapa aku berantem dengan calon pacarku." Thomas membantah.
"Hih! Amit-amit. Tak sudi diriku, cuih." Alesia marah kemudian keluar kamar.
"Haha, kalian lucu sekali." Maria tertawa di akhir.
"Oh iya tante. Aku membawa bingkisan, silahkan di terima." Thomas memberikan bingkisan yang ia bawa kepada Maria.
"Terima kasih Thomas." Maria menerima bingkisan.
"Sama-sama tante. Kalau begitu aku pamit." Thomas berpamitan.
"Ah, kalau begitu hati-hati."
"Iya tante." Thomas keluar dari kamar.
Baru beberapa langkah, ia melihat Alesia menyenderkan diri pada jendela. Menatap langit yang luas. Matanya tetlihat jernih terkena sinar matahari. Rambutnya terombang oleh angin yang berhembus. Bibirnya merah delima, itu kesukaan Thomas. Thomas melangkah, menuju jendela tempat Alesia memandang langit.
"Al? Kau terlihat lesu. Kenapa?" Thomas yang bodoh ini ternyata bisa khawatir.
"Kau masih di sini? Pulanglah. Kau membuyarkan pemandangan yang indah." Alesia menoleh sebentar. Kemudian kembali memandang langit yang cerah sedikit berawan.
"Al, ayahmu dimana? Kerjakah?" Thomas penasaran, sedari tadi tak melihat calon ayah mertuanya.
"Sedang dalam perjalanan jauh." Alesia menjawab, sepertinya ia lelah bertengkar.
"Emm. Aku pulangya, sampai jumpa lagi." Thomas merasa ada yang aneh dengan Alesia, namun ia memilih pergi.
Di samping rumah, Ronald masih setia bermain dengan pohonnya. Bergaya seperti pahlawan atau berteriak senang. Bahkan ia melupakan masalah ayahnya. Thomas yang keluar rumah melihat Ronald yang sedang bermain. Ia mendatangi Ronald.
__ADS_1
"Ronald." Thomas memanggil anak lelaki Alexander.
"Hai kak Thomas." Ronald menjawab sapaan.
"Kau sedang bermain? Apa kakakmu tak pernah bermain bersamamu?" Thomas bertanya.
"Tidak." Ronald menjawab dengan disingkat padat dan jelas.
"Ah, ternyata, adiknya pun tak pernah apalagi aku." Thomas membatin.
"Emm, kak?"
"Ah, iya Aku harus pulang. Sampai jumpa adik ipar." Thomas berlari, sembari melambaikan tangannya.
"Ha?" Ronald di tinggal dengan keadaan bingung.
Alesia berhenti menatap langit, masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur. Menutup wajahnya dengan lengan. Banyak hal yang tersimpan di dalam otaknya. Alesia tak tahu harus bagaimana menghadapi masalah ayahnya.
"Hah, mari jalani kehidupan yang membingungkan ini Alesia."
............................
"Bu, kau lihat sabuk sekolahku?" Ronald bertanya pada ibunya.
"Tak ada." Ronald berkata.
"Ini kak, jatuh di lantai." gadis kecil menyodorkan sabuk sekolah.
"Wah, terima kasih Emely." Ronald meraih sabuknya.
Tiga belas tahun berlalu. Sekarang Ronald tumbuh menjadi remaja yang aktif. Tak lupa adiknya, Emely yang menjadi gadis kecil nan manis. Alesia bahkan sudah bekerja mengatasi kasus-kasus, bahkan sampai tak pulang beberapa hari.
Rumah yang dahulu masih di tempati, mereka tak pindah, tetapi pernah merenovasi rumah. Suasana rumah tak berubah, masih asri. Halaman karpet hijau dan rumah sederhana. Mereka hanya menambah satu ruangan. Itu kamar Emely, kamar anak bungsu Alexander.
Emely tumbuh menjadi gadis baik hati, ramah, jujur dan dermawan. Terkadang ia bermanja dengan ibu dan kakak-kakaknya. Sedangkan Ronald, ia menjadi remaja humoris dan berani. Kadang ia terlihat menyebalkan, terkadang ia terlihat bodoh.
Pagi ini mereka akan berangkat sekolah. Sekolah tahun ajaran baru yang menyenangkan. Mendapat teman baru dan suasana kelas yang baru. Semua bayangan itu terlintas dalam pikiran Emely. Berbeda dengan Ronald yang hanya peduli dengan buku terbitan terbaru bergenre fantasi aksi kesukaannya.
"Ibu, aku berangkat." Ronald pergi ke dapur hendak berpamitan.
__ADS_1
"Baiklah, ini bekalnya. Jaga adikmu." Maria mengulurkan kotak bekal.
"Iya bu." Ronald meraihnya dan memasukannya ke dalam tas.
"Ibu bekalku sudah siap?" Emely datang, lengkap dengan seragam sekolah.
"Sudah. Hmm, anak ibu sudah besar. Lihat seragam sekolahpun sudah berganti." Maria memberikan bekal.
"Hehe, iya. Aku sudah masuk Sekolah menengah." Emely menjawab.
"Baiklah ibu, kami berangkat." Ronald dan Emely mencium tangan Maria bergantian.
"Emm, hati-hati."
Ronald dan Emely berangkat, berjalan ke halte. Tak terlalu jauh. Sampai di halte mereka duduk di bangku, menunggu bus jurusan mereka. Selang beberapa menit bus jurusan mereka terlihat dari kiri jalan dan berhenti di depan halte. Bus cukup ramai, bahkan beberapa orang berdiri. Dari halte ini naik beberapa orang, diantaranya Emely dan Ronald.
Mereka berdiri di bagian depan, Emely berada di depan Ronald, bagaikan menjaga kekasihnya dari kerumunan. Emely terlihat biasa menatap keluar jendela bus, sedangkan Ronald merasa sesak dikarenakan banyaknya penumpang.
"Duh sempit!" Ronald mengeluh.
"Sabar ya kakakku sayang, hehe." Emely dari depan menyabarkan kakaknya.
"Kamu sih enak, coba liat kakak!" Ronald berkata pada Emely.
"Hehe, kak Alesia masih kerja, jadi tak bisa mengantar deh." Emely berkata.
"Emm, bagaimana kalau kakak bawa mobil aja." Ronald memiliki ide.
"Kan kak Ronald tak di dibolehkan." Emely berkata.
"Hmm, iya sih. Wahh, udah terbit" Ronald sekilas melihat dari jendela, toko buku itu memasang buku terbitan terbaru mereka.
"Hah? Kok terbitan?" Emely bingung.
"Itu, tadi buku yang pengen kakak beli di pasang di depan toko." Ronald menjelaskan.
"Emm."
Bus masih bergerak mengantarkan para penumpang. Semakin lama penumpang semakin sedikit, mereka turun di tempat tujuan masing-masing. Kini Ronald dan Emely bisa duduk. Sebelum sampai sekolah, bus berhenti. Sepertinya ada penumpang. Dan benar saja, penumpang itu mengenakan seragam sekolah Ronald dan Emely.
__ADS_1
Bersambung.....
thanks❤️