
“kalian sudah bisa menggunakan kekuatan kalian?” tanya Luciver.
..................
"Emm, maksudmu kekuatan yang bisa mengerti bahasa tumbuhan?" tanya Ronald memastikan.
"Eh, hanya itu? Lalu kau, bagaimana denganmu?" tanya Luciver dengan menatap Emely.
"Aku pikir itu seperti teleportasi, juga ahir-ahir ini aku pikir itu seperti ada hubungannya dengan waktu juga."Emely menjawab dengan sedikit melihat kebawah memikirkan tentang kekuatannya.
"Kalau waktu apakah itu mempercepat atau menghentikannya?" Luciver menebak nebak.
"Ya, itu hanya hipotesis, tapi sepertinya begitu." kata Emely.
"Wait e minit, bukanya kamu bisanya lihat hantu?" Ronald menyela.
"Apakah maksud dari hantu itu mahkluk gaib? Aku juga bisa jika melihat itu." Luciver menyambung.
"Benarkah?"
"Emm, di sini cukup umum walau tak semua bisa tapi ada banyak."
"Jadi Melihat hantu bukanlah hal yang istimewa?" tanya Ronald sembari melipat tangan.
"Hmm. Itu bukanlah golongan kekuatan fantasi, ya itu cukup umum di tanah ini." Jelas Luciver.
"Haha, baiklah aku paham. Oh iya aku penasaran dengan buku ini." kata Ronald sembari membuka buku yang berada di tangannya.
Setelah buku itu terbuka, hanya berisi halaman kosong.
"a-apa apan ini! Katanya panduan cara menggunakan kekuatan fantasi, tapi ini kan cuma buku kosong. Hah kau menipuku!"
"Kak?"
Emely membuka bukunya, tiba-tiba ruangan itu tersinari cahaya amat terang yang berasal dari buku Emely dan pemiliknya. Kemudian cahaya itu perlahan redup kembali.
"Eh cahaya apa itu? Kak.... " perkataan Emely terhenti.
Ia melihat kakaknya dan Luciver tak bergerak sedikitpun. Bahkan suara hujan di luarpun tak terdengar. Emely membelakkan matanya, ia memutar otaknya untuk berpikir, tentang perkataan orang tua itu, apakah ini maksudnya pemecah waktu?
"Ba-bagaimana cara mengembalikan ini semula? Oh iya buku, benar dibuku ini pasti ada."
Emely mulai membaca tiap kata yang ada, menelusuri isi buku. Tapi nihil, ia tak sepintar kakaknya untuk memikirkan semua kata yang ada dibuku.
"Oh ayolah bagaimana ini? Aku tak ingin mereka seperti ini selamanya. Hiks ku mohon, ayah, ibu, kakak bantu aku."
Emely kini meringkuk di lantai, air matanya menetes diatas buku, kemudian benang emas keluar dari sana, memenuhi seluruh ruangan.
"Apa lagi ini? Ku mohon aku ingin semua ini berjalan baik baik saja!!!" Emely berteriak kencang bahkan mengema di seluruh ruangan.
__ADS_1
Entah seperti muncul sesuatu dalam kepala Emely, ia seperti terbawa oleh sesuatu dalam pikirannya. Seketika semuanya kembali seperti awal.
"Apa Emely? Apa kau tahu kenapa bukuku kosong?" Tanya Ronald.
"Eh, emm aku tak tahu."
"Lalu kenapa?"
"Tidak jadi."
Emely hanya memandangi bukunya, wajahnya nampak risau. Sedangkan Ronald malah mengambil air dan sedikit membasahi bukunya, berharap ada tulisan muncul.
"Hah, buku tak berguna! Tak ada apapun di dalamnya. Bagaimana aku bisa menggunakan buku ini. Hei kau, namamu tadi Luciver kan. Kau yang mengatakan ini buku panduan. Nah, kenapa bukuku kosong?"
"Aku tak tahu, aku hanya menjaga buku ini."
"Hmm, kenapanya? Ah, apa karena aku sudah sangat hebat jadi tak perlu buku panduan." kata Ronald dengan dagu yang ditopang jati telunjuk dan jari tengah.
"Anu Luciver,"
"Ya?"
"Sejak kapan kau tahu tentang kami, dan bagaimana buku ini bisa ada di sini? Bagaimana kau bisa berpikir bahwa menjaga buku ini tugasmu dan kenapa kau bilang ini buku panduan."tanya Emely.
"Kau banyak bertanya ya, baiklah akan ku jawab. Aku tahu tentang kalian karena peristiwa penyerangan pasukan imperalist menjadi cerita dari mulut ke mulut, tentu saja aku akan tahu. Buku ini bisa ada di sini karena dulu aku pergi ke reruntuhan istana, dan secara tak sengaja aku sampai ditempat sembilan pilar. Semua buku ini ada di tiga pilar utama dan, yah mereka beterbangan sampai di hadapanku. Aku kesana karena penasaran pada tempat itu. Dan karena itu ku pikir ini tugasku untuk menjaga buku ini, ayahku juga selalu bilang begitu. Aku tidak berpikir ini buku panduan, tapi aku tahu." kata Luciver menjelaskan panjang lebar,
Tiba tiba Ronald merasakan sesuatu menyentuhnya dari belakang saat hendak duduk.
"Aaaakkkkg, APA ITU!" Ronald berteriak histeris.
"Kakak! Kau kenapa? Eh, apa itu?"
"Eh, sesebentar, aku tadi membayangkan hal ini..... Aduh."
Buku yang di pegang Ronald melayang dan menghantam Ronald, alhasil ia tersungkur. Buku itu terbuka, terlihat tulisan yang bercahaya.
"Eh, wa-wahh. Aku resmi jadi tokoh utama novel fiksi fantasi. Yuhuyy, lihat Emely bukuku ada isinya, sebentar akan ku lihat." kata Ronald menyombongkan buku miliknya.
"I-iya hebat." Emely hanya bisa menganguk kecil.
"Bagaimana?" tanya Luciver memastikan.
"Tu-tulisan apa ini! Aku tak bisa membacanya." Ronald kembali mengamuk, sepertinya ia terlalu bersemangat.
"Apa aku bolehmelihatnya?" Luciver minta izin.
"Nih!"
"Hmm. Ah, tadi yang tumbuh merambat itu, kau membayangkannya kan?"
__ADS_1
"Yah, aku hanya memikirkan kalau ada kursi pasti lebih enak duduk."
"Aku paham, kau bilang kekuatanmu bisa mengerti bahasa tumbuhan kan, tapi sepertinya tidak. Mungkin kau bisa mengendalikan tumbuhan semaumu, menumbuhkan atau membuatnya layu."
"Hah! Kau serius."
"Yah, disini tertulis seperti itu." kata Luciver sembari menunjuk buku.
"Kembalikan bukunya. Waaahh haha hebat. Huhu hebat." Ronald kini memeluk bukunya senang.
"Jadi. Bagaimana selanjutnya?"
"Kita cari kak Alesia, dengan kekuatanku pasti mudah untuk menemukannya."
"Baiklah, oh iya. Karena terlalu banyak hal aku sampai lupa, Bagaimana aku harus memanggil kalian?"
"Aku Ronald dan Adikku Emely."
"Ah, baiklah."
"Kak, apakah kita pergi sekarang?"
"Tentu, sepertinya hujan juga sudah reda. Lebih cepat lebih baik, ayo!"
Kemudian Ronald, Emely, Luciver berencana mencari Alesia yang kemungkinan besar berada di markas para pasukan Imperalist.
Ronald melacak keberadaan Alesia dengan kekuatannya. Dalam perjalanan ia semakin mahir mengendalikan kekuatannya.
Ditempat lain Alesia masih terkurung di penjara bawah tanah.
"Apa yang dilakukan Ronald, kenapa dia lama sekali" Gerutu Alesia
Thomas memandangi Alesia dengan tatapan penuh khawatir, dia menuju ke arah Alesia dan melepaskan kunci borgol di tangan Alesia.
"Buat beberapa Lubang di dinding ini agar Ronald bisa menemukanmu" Ucap Thomas
"Apa maksudmu?" tanya Alesia
"Kita ubah rencana kita, aku akan berusaha membebaskan ayahmu karena itu kamu harus menunggu Ronald di sini" Jelas Thomas
"Kita akan baik-baik saja" Ucap Thomas meyakinkan
"Hishh, aneh melihat wajah seriusmu" Ledek Alesia
Thomas duduk termenung sambil menatap Alesia mereka saling melemparkan senyuman satu sama lain dengan harapan tidak ada yang akan terjadi.
Bersambung.........
Thanks💜
__ADS_1