Believe In Fantasi

Believe In Fantasi
Chapter 17


__ADS_3

Dengan segera salah satu akarnya menarik Emely ke samping Ronald.


" baik-baik saja?" Tanya Ronald


"Iya" Jawab Emely


"Buka portalmu kita melarikan diri" Perintah Ronald


"Aku tidak bisa melakukannya secara instan, dan juga kekuatanku terkuras karena aku melarikan diri dari mereka beberapa kali bersama dengan Luciver" Jelas Emely


Ronald menatap lekat Emely, jelas ia khawatir pada keadaan yang mengerikan ini. Ia dihadapkan pada kekuatan yang siap menyenyapkan mereka dalam sekejap.


Sekarang ia menutup matanya erat, giginya mengerat, wajahnya terlihat memerah, bahkan uratnya terlihat jelas dikepala.


"Kakak?"


"Emely, walau tak instan bisa kan!" katanya pada emely


"Iya aku akan berusaha."


"Baik, aku akan mengulur waktu, dan kau lakukan dengan cepat."


Ronald membalikkan badan membelakangi Emely. Matanya seakan mati, melihat sekeliling. Pada segerombolan manusia berpakaian baja. Kemudian ia melirik seseorang lelaki gagah dengan pakaian perang lengkap disertai jenggot yang panjang di dagunya.


"Ho? Apa ini? Wajahmu menakutiku hehehahahahaha! Haa.... Sekarang kau mau apa PAHLAWAN!" Kata Seorang Phantom dengan penekanan kuat, menatap ronald dengan mata yang membelalak dan senyum lebar menakutkan.


"Kau bajingan!" Ronald mengepalkan tangannya mendongkak menatap seorang Phantom.


"Huh, kau tidak bisa apa apa. Bukan seleraku. Hanya dengan kroco kroco ini saja kau akan kewalahan,"


"Kau ini!"


"Kalian cepat bereskan!" kata Phantom pada pasukannya


Pasukan imperalist bergerak maju, sedangkan ronald sudah siap dengan tanamannya. Terlihat hijau dengan wujud tentakel, menangkap ribuan pasukan imperalist, melilit dan meliuk liuk, meremas dan menghancurkan di ketinggian. Seketika ribuan pasukan tewas. Ini benar benar luar biasa. Darah mrnciprat, memerahkan pandangan. Banyak tubuh yang hancur, bayangkan saja penggiling daging bergerak, ronald benar benar gila.


Tak ada jeda pasukan imperalist terus berdatangan, entah berapa banyaknya. Setelah selesai dengan tentakel duri duri tajam nan panjang keluar dari tanah, tingginya tidak kurang dari tinggi manusia itu sendiri. Menancap pada tubuh tubuh pasukan imperalist.


Walau begitu pasukan imperalist masih saja berdatangan, jika dipikir pikir ini terlalu banyak, walau ronald memang sudah pandai menggunakan kekuatan fantasi, akan tetapi jelas ia kalah jumlah.


Nafas Ronald sedikit berat, dadanya naik turun tak beraturan, wajahnya mulai pucat, keringat dingin juga bercucuran.


Disisi lain, Phantom mengangkat tangannya, mengisyaratkan pasukannya untuk berhenti.


"Oi, oi, oi apa kau kelelahan? Butuh istirahat? Oh kasihan sekali, bagaimana kalau ku beri waktu istirahat." Kata Phantom pada Ronald.


Ronald hanya melirik, sungguh saat ini dia kelelahan. Tangannya jatuh kebawah, kepalanya sedikit menunduk, kemudian ia melihat Emely yang tengah berusaha membuat portal.

__ADS_1


Detik itu pula setitik air jatuh, membasahi tanah.


"Ho? Kau? Kau menangis hah! Dasar kau banci hahaha. Di mana Ronald yang dengan gagah berani ingin membunuhku? Dimana hah!? Kau hanya bocah yang dengan bodohnya ingin menantangku begitu?"


"Kau! Aku! Aku sangat membenci mu Phantom, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu menderita!"


"Huh, berisik!"


Seketika Ronald melayang di udara, tingginya bahkan mencapai tujuh manusia jika disusun secara vertikal. Kemudian ia terhentak ketanah. Kepalanya berdarah. Badannya terasa remuk, ia sudah tak sanggup lagi berdiri.


"Huh, kau akan mati hanya karena menyentuh tanah."


Kemudian Phantom melirik pada Emely, terlihat usahanya membuat portal hampir selesai. Kemudian Phantom memcoba menghentikannya. Ia mengangkat telunjuknya, seketika Emely terangkat, dan portal yang hampir jadi pun menghilang. Emely tertarik ke arah Phantom.


"Hei, kau mau kemana lagi? Kenapa tidak bermain lebih lama denganku? Lihat di bawah sana, kakakmu sudah tak bisa bermain. Maka sekarang kau yang bermain denganku." kata Phantom pada Emely, dengan mencengkeram pipi Emely.


"Kau iblis! Matilah sana!" Teriak Emely menggema di telinga Phantom.


"Hoho, kau berani. Kalau begitu kau juga akan ku banting seperti kakakmu!"


"Phantom, le-lepaskan adikku."


"Hmm? Ho, sungguh hubungan adik kakak yang indah, kau ini sangat pedulinya pada adikmu. Kalau begitu lihat ini!"


Tubuh Emely terangkat sangat tinggi, dan dengan cepat terhempas kebawah. Kemudian salah satu tombak milik pasukan imperalist melayang ke tangan Phantom. Dihadapan Phantom kini terkapar seorang gadis bernama Emely, Adik Ronald. Ia menghunuskan Tombak itu pada tubuh Emely, darah pun merembes. Kesadaran Emely pun hilang.


Seketika kenangan-kenangan manis di masa lalu mendatangi pikiran Ronald. Di saat ayahnya masih bermain dengannya, di saat Alesia memarahinya, disaat ibu mencium keningnya, di saat Thomas membelikannya makan, disaat Emely bermanja padanya, dan yang paling ia rindukan saat saat makan bersama di meja makan. Ronald akan bercerita tentang buku fantasi yang selalu ia baca, lalu ia akan membangkakan seorang pahlawan dalam cerita itu.


Kini ia meneteskan air mata, matanya merah, sesegukan, dirinya pun bergetar. Bahkan ingus pun keluar dari hidungnya.


"Huk, hiks, haha Ayah, ibu, Kak Al, Kak Thomas, Emely dan semuanya, hiks aku, aku tidak mau ini, aku ingin pulang. Ku mohon aku hanya ingin pulang." kata Ronald merintih dengan air mata deras dipipinya.


"Hahahaha, HAHAHAHAHAHHA!!!! Kau, kau ingin pulang hah, kau ingin pulang! Ke neraka sana!"


"Berhenti," suara Emely merintih, dengan posisi terkapar di tanah.


"Hum?" Phantom menoleh pada Emely.


"Kak, ingat! Ayah, ibu, Kak Al, dan Kak Thomas pasti tidak menginginkan ini, kakak juga harus ingat ibu menunggu kita pulang." Emely menatap Ronald lekat lekat, senyum manis terbentuk di bibirnya.


"I, ibu?" kata Ronald yang sudah sangat berantakan.


"Hehe, iya ibu. Jadi kita harus berusaha pergi dari sini. Pulang kerumah, dimana ibu menunggu kita. Apa kau tidak ingin makan sup buatan ibu lagi?"


"Aku ingin!"


"Hah percakapan macam apa ini! Apa kalian bilang? Sup buatan ibu? Akan ku pastikan kalian tidak akan merasakannya lagi!"

__ADS_1


"Phantom!"


Seketika hawa di sana menjadi panas, ronald mengangkat tubuhnya dengan akar menjalar. Kepala Ronald yang menunduk kemudian terangkat. Wajahnya tak berekspresi.


"Hah, apa yang kau laku-" belum selesai berbicara sebuah duri besar tertancap di dadanya.


Darah keluar dari mulut Phantom. Mengucur bagai air terjun. Phantom memegang dadanya. Kemudian menarik duri besar itu keluar dari dadanya.


"Kau ingin bermain denganku! Oke kalau begitu MARI BERMAIN! HAHAHA! Kalian semua maju! " Kata Phantom Senyum lebar yang menyerapkan,


Seketika seluruh pasukan imperalist bergerak ke arah Ronald. Tetapi sayang sekali, baru melangkahkan beberapa kaki, mereka sudah berlumuran darah dengan duri duri yang menancap di tubuh mereka, tidak hanya itu. Jamur jamur beracun juga tersebar di kulit pasukan imperalist. Kulit mereka membiru, bola mata mereka lepas. Gigi mereka keropos, lalu tubuh mereka membusuk. Sangat mengerikan jelas.


Dan di saat seperti itu wajah Ronald tetap mati. Tak tersenyum, tak menangis, tak cemberut, atau pun mengerutkan alis. Semua datar, bagai orang mati.


"Kau! Hahaha."


Saat itu tubuh Phantom diselimuti asap merah kehitaman yang terhubung dengan semua mayat di sana. Entah apa yang terjadi. Luka di dadanya sembuh total. Kemudian ia menatap Ronald, dengan hawa membunuh.


"Ihihihi, terima kasih telah memberikan mayat berdarah yang banyak untukku. Ihihihi. Sekarang matilah kau."


Ronald tetap diam. Kembali akar tumbuh, menyeret kaki Phantom. Akar akar juga membentuk dinding di sekeliling Ronald dan mengeras.


"Hah, kau pikir ini akan menghentikan ku!"


Akar yang mencengkram kaki Phantom putus. Kemudian Phantom mengarahkan telapak tangannya pada dinding akar Ronald. Alhasil dinding itu membusuk. Saat tangan Phantom ingin mencapai Ronald. Tiba tiba Phantom terhenti.


"Hah, hah, hah. Aku berhasil menghentikan waktunya. Sekarang aku akan membawa kak Ronald pulang." kata Emely


Saat Ronald sibuk bertarung, ia juga sibuk membuat portal. Sekarang ia akan membawa Kakaknya pulang.


"Ayo kak kita pu-" omongan Emely terhenti.


Darah keluar dari mulut Ronald. Akar, akar yang menopang tubuhnya lenyap tak tersisa, bahkan duri duri sisa sisa pertarungan lenyap.


"Hah! Oh tidak itu rusak!" aku harus menggendong kakak ke portal.


Emely memgendong Ronald di pundaknya, walau terseret seret. Tubuh Ronald sudah mengalami luka parah. Rasanya semua badannya remuk. Terdapat banyak luka guratan di kulitnya.


Saat ini hanya napas Emely yang terdengar ditelinga Ronald. Sesaat sebelum ia tak sadarkan diri. Kini Emely telah sampai di depan Portal. Akan tetapi. Pengehenti waktunya retak. Dan Phantom kembali bergerak.


"Hah! Kalian ingin pergi! Tidak bisa!" Phantom lalu mengarah pada Emely dan Ronald.


Tetapi Emely segera melangkah ke dalam portal, meninggalkan Phantom yang berusaha menggapai. Portal tertutup. Lega sedikit terasa di hati Emely. Keberadaannya di dunia fantasi sudah tidak ada. Kini rumah menanti mereka pulang.


"Hah, hah, akhirnya, kita pulang." katanya sebelum pingsan


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2