
Dibawah langit malam, mendung menghilang di gantikan kerlipan bintang. Ronald, Emely, dan Luciver bergerak menuju barat daya. Arah pasukan imperalis menuju.
Di pertengahan jalan, mereka mendapati hutan, ukuran pepohonan disana lebih besar dan tinggi dari yang ada di bumi.
“Kalian, dengar aku tidak!” Ronald yang berada di tepi hutan berteriak.
“Dia?”
“Namaku Ronald Alexander. Aku sedang mencari markas pasuka Imperalis. Apa tadi rombongan mereka lawat sini?”
“Anda? Anda anggota kerajaan!”
“Ah gak usah basa basi, cepat jawab saja”
“Mereka jalan, ke arah barat daya melewati hutan”
“baiklah, terimakasih”
Mereka melanjutkan perjalanan, terus ke barat daya menelusuri sungai. Di sana banya kunang-kunang menerangi jalan.
“Kunang-kunangnya banyak sekali” Emely merasa nyaman melihat kunang-kunang.
“Kunang-kunang?, apa maksudnya bintang hidup ini?” tanya Luciver
“Bi? Bintang hidup?, ah iya bintang hidup”
“Ayo bergegas!, ini sudah terlalu lama” Ronald kemudian mempercepat langkah kaki.
Kembali ke penjara bawah tanah. Saat ini Alesia sedang menunggu Thomas menjalankan rencana penyelamatan ayahnya.
“Sekarang” Ucap Alesia
“Sekarang?” Thomas bertanya karena belum terlalu yakin
“iya, sana” Kesal Alesia
Thomas memberanikan diri menuju ke ruangan atas untuk menyelamatkan Arnold Alexander sedangkan Alesia masih tetap menunggu tanda-tanda kemunculan Ronald di dalam selnya.
“Sebenarnya apa yang dilakukan anak itu” Gerutu Alesia
.
“Lariiiiiiii!!!!” Teriak Ronald
“Bisakah kalian pelan sedikit!!!!” teriak Luciver
“Tidak bisa, ular besar itu semakin mendekat” Emely menyahut
Sesaat setelah mereka memasuki hutan tiba-tiba mereka di kejar oleh dua ekor ular besar yang menyeramkan, ular hitam dengan mata menyala yang memiliki kecepatan yang tidak wajar.
“Kak, Ronald lakukan sesuatu!!, gunakan kekuatanmu bodoh!!!” Bentak Emely.
“Emely!!!, kata terakhir itu sungguh tidak sopan!!!!” Timpal Ronald.
“Akhhh, cepatlah, lakukan apa saja!!!!”
“Kakak!!!, cepattt!!!!”
“Akhhhh, apa yang harus ku lakukan, aku tidak bisa memikirkan apapun!!!”
“Ayolahh, Ronald!, pikirkan sesuatu!, aku harus bisaa!”
__ADS_1
Ronald, Emely, dan Luciver masih terus berlari, sesaat kemudian terdengar suara gemuruh dari arah Utara dan terlihat 5 ekor ular besar yang di kendalikan oleh Ronald, ular tersebut berasal dari tanaman rambat.
“Biar tanaman itu yang menahan, kita harus segera keluar dari hutan ini!” teriak Ronald
...............
Dari dalam sel Alesia melihat bayangan orang yang sedang turun dari tangga, bayangan hitam yang membuat Alesia merasa waspada jika itu adalah pasukan imperalis, dan dugaaan Alesia benar itu adalah pasukan Imperalis, dia memakai penutup wajah untuk menutupi wajahnya, orang itu tiba-tiba membuka sel dan melihat ke arah Alesia lalu membuka penutup wajahnya, dan tersenyum ke arah Alesia.
“Gava?” panggil Alesia
“Grwrp”
Gava tiba-tiba memegang kuat pundak Alesia dan menekan sebuah tombol di tangannya, Karena itu......
“Duarrrr”
..................
Hening tidak ada siapapun yang berbicara, mereka semua diam, diam seribu bahasa, air mata hanya menetes satu perstu dari mata mereka, menangis tanpa adanya suara, itu benar-benar menyakitkan. Alesia telah meninggalkan mereka. Malam yang dingin itu membuat mereka....
...Kedinginan...
Setelah ledakan tadi, Thomas segera pergi ke penjara bawah tanah. Mendapati reruntuhan dan asap yang memenuhi tempat itu. Telinga Thomas seakan mendengar denging keras. Terpaku di tempat.
Wajahnya tak memperlihatkan Ekspresi. Dia terus berjalan di atas reruntuhan, menuju sel Alesia yang pasti sudah hancur. Dia hanya melihat kebawah sekilas lalu mendongkak. Matanya masih kosong.
Dari lubang terlihat Ronald yang mengintip. Jelas dibelakangnya ada Emely dan Luciver. Mereka yang berhasil keluar hutan mendengar bunyi ledakan dan segera menuju ke tempat ini.
"Kak Thomas? Kak Al mana?"
"Mati." dengan suara serak Thomas.
Alexander itu seketika memiliki tatapan mata yang kebingungan di sertai rasa takut.
Sekarang ini Luciver sedang membuat api untuk memasak, sedangkan yang lain duduk di dahan pohon yang tertidur. Dengan linang air mata dan kebisuan.
Raut wajah Ronald berubah, alisnya mulai mengkerut, sudut bibirnya naik, giginya mengernyit. Napasnya pun menjadi tak beraturan, ia berdiri, tangannya mengepal dan kemudian.
"Aaa! Apanya yang kakak tertua! Apanya yang menyelamatkan! Kau malah meninggalkan tanggung jawab. Dasar tidak berguna! Bodoh, hiks bodoh, kau kakak yang paling bodoh." Ronald kembali menangis histeris,
"Ha, haha-hahahaha, Dia mati. Ini semua salahku. Aku tak menjaganya dengan benar, haha hei Emely sepertinya aku mulai gila. Ya kan? Haha gila." Thomas mulai berkata aneh, kemudian ia menoleh ke samping dan memegang pundak Emely.
"Maaf, hiks aku minta maaf, semuanya salahku. Andai saja, andai saja aku tak membawa kalian kemari, A-aku yang membawa dalam masalah ini, sekarang, sekarang aku bahkan tidak bisa apa apa. Hiks, aku minta maaf"
Ronald terdiam, ia berbalik lalu berjalan ke arah Emely, dan....
Plakk!
"huh?"
"Semua salahmu!"
"Ya, salahku hmm,"
"Oy Ronald, kau tidak boleh menyalahkan Emely!"
"Hah! Apa-apan kau? Siapa kau berani bicara padaku? Hah! Dari awal kau tak membantu! Minggir!"
Kemudian Ronald berjalan menuju hutan yang lebat, meninggalkan kehangatan api dan yang lainnya.
Dia duduk di bawah pohon, tangannya dilipat dan kakinya ditekuk, dagunya menempel diatasnya.
__ADS_1
"Semua salahnya, dari dia lahir, semua kejadian buruk selalu terjadi! Tapi, kenapa aku merasa khawatir sekarang, apa aku merasa bersalah."
"Permisi?"
"Siapa? "
"Di atas."
"Huh? Oh aku bersandar padamu, maaf." Ronald mendongkak ke atas melihat pohon besar tempatnya bersandar.
"Anda keluarga Alexander bukan?"
"Hmm," Kepalanya kembali menghadap ke depan.
"Saya melihat anda tadi, dengan adik anda."
"Kau mau bilang apa?"
"Saya kira anda menyayanginya, emosi sesaat tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin sebentar lagi anda akan menyesalinya."
"Hmm, bahkan sekarang aku sudah menyesal. Hei kau tahu, sekarang ini aku bingung. Apakah menyelamatkan ayah atau membawa adikku kembali."
"Bagaimana dengan hati anda sendiri, jika kepala anda bimbang maka tanyakan pada hati anda."
"Hm, sepertinya aku ingin keduanya."
"Jadi anda tahu apa yang harus anda lakukan?"
"Em, tapi aku malu."
"Bukanya anda tak tahu malu?"
"Heh! Kurang ajar! " Ronald berdiri dan menunjuk pohon itu.
"Ya sudah, lakukan saja."
"Ahh, baiklah kulakukan."
Ronald kembali menuju tempat Emely. Terlihat disana Luciver sedang memasak, sedangkan Emely menangis di samping Thomas.
Mendengar langkah kaki Ronald, semua yang ada di sana menoleh. Emely mengusap air matanya lalu berdiri.
"Hei, anu. Aku..." Ronald mengaruk tengkuknya.
"Kakak/Emely" secara serempat Emely dan Ronald memanggil satu sama lain.
"Eh/Eh"
"Ah, kakak duluan."
"Anu Emely, aku minta maaf. Kau tahu dengan semua ini, yang kita alami. Aku sedikit, ah tidak itu banyak rasa khawatirku. Untuk kedua saudariku aku rasa, emm ah pokoknya aku minta maaf untuk yang tadi. Ini semua bukan salahmu. Aku hanya yang terlalu banyak pikiran. Kau mau memaafkan kakakmu inikan."
"Kak!" tiba-tiba Emely menerjang Ronald dengan pelukan.
"Eh apa yang kau lakukan?"
"kumohon seperti ini untuk sebentar saja."
"Heh, lama juga boleh." Ronald berahir dengan mengusap kepala Emely lembut.
Thomas dan Luciver hanya tersenyum melihat kehangatan ini. Untuk sementara semua kembali membaik. Tetapi yang pasti, di dalam hati mereka masih tersimpan kegelisahan, akankah semua selalu berjalan dengan baik? Tetapi untuk sekarang biarkanlah seperti ini, kita tinggalkan sedikit kesedihan ini. Duduk bersama dalam kehangatan. Menikmati yang masih ada, dan merelakan yang telah pergi. Malam itu mereka makan bersama dan diahiri ucapan selamat malam.
__ADS_1
Bersambung......
Thanks💜