Believe In Fantasi

Believe In Fantasi
Chapter 8


__ADS_3

hey hey hey, masih menunggu kelanjutan BIF kann?, thanks Readers❤️


..............


Wali kelas datang, postur tubuhnya bagus dan wajahnya juga tampan. Ia berjalan ke depan kelas. Dalam keheningan kelas. Banyak tanggapan untuk pak guru satu ini. Beberapa siswi teriak dalam hati. Sedangkan para siswa hanya bisa kagum dan iri.


"Selamat pagi semuanya. Nama saya Sebastian, mulai hari ini saya akan menjadi wali kelas kalian." guru itu pemperkenalkan diri di depan kelas.


"Selamat pagi pak, kami mohon bimbingannya." semua menjawab.


"Baik, sekarang perkenalan dimulai dari yang paling dekat dengan jendela. Dan jangan berisik." Guru itu duduk di kursi depan dan menutup mata.


"Em"


Semua siswa mulai memperkenalkan diri, dari nama dan asal kelas sebelumnya. Begitu pula Ronald dan dua teman barunya. Setelah kegiatan perkenalan selesai. Murid-murid mencoba memberitahu guru Sebastian.


"Anu, pak perkenalannya sudah selesai."


"Hmm, sekarang atur siapa ketua dan pengurus kelas." guru menunjukkan kegiatan selanjutnya.


"Baiklah pak" semua murid mengiyakan.


Lagi-lagi kelas ini melakukan kegiatan mandiri. Guru yang tak bertanggung jawab. Ia meninggalkan muridnya sendiri dengan kegiatan ini. Guru macam apa itu. Yah walaupun terlihat keren. Tetapi itu tidak berarti ia bisa seenaknya.


Akhirnya semua di kelas yang menentukan pengurus kelas.


"Em, siapa yang mau jadi ketua kelas." seorang gadis bertanya pada teman sekelasnya.


Tentu saja hanya keheningan. Siapa juga yang mau repot-repot menjadi ketua kelas. Lebih baik tidak mencolok agar tak terlalu terbebani dengan tanggung jawab.


"Em, begini saja, kita undi." salah satu siswa memberi usul.


"Undi?" beberapa siswa meminta kejelasan.


"Iya, cap cip cup."


"Baiklah kami setuju." dan mudah saja mereka setuju.


"Baiklah, kalau begitu mulai dari depan."


"Cap cip cup, ketiak kecut,kelas kami kelas curut, siapa yang kena jadi ketua kelas."


"Haha dia yang kena." beberapa siswa menunjuk arah Ronald.


"Hah kok aku sih!" Ronald tak terima.


"Haha, nasib anak ayam itu." Alvaro mencibir.


"Apasih palu berkarat. Tadi itu cap cip cup nya salah. Ulang ah!" Ronald yang tak terima meminta pengulangan.


"Ya, tak bisalah. Itu tadi sudah benar kok. Iya kan teman teman" gadis yang mencapcipcup tadi menyangkal.


"Hei, tadi yang kena dia. Kenapa aku?" Ronald berdalih dan menunjuk Alvaro.


"Hah, kok aku. Tadi kan kamu yang kena."


"Sudahlah, kan kandidatnya ada Ronald dengan Varo. Kalau begitu kita undi keduanya setuju tidak." Lilian memberi usulan.


"Loh, kok aku jadi ke seret seret sih." Alvaro tak terima.

__ADS_1


"Haha, nasib palu berkarat itu." Ronald membalas.


"Sudah, kalian semua setuju tidak." Lilia bertanya pada teman sekelas.


"Oke deh. Kami setuju." semua setuju.


"Dari depan, pilih Ronald Alexander atau Alvaro Leonard"


Voting di mulai. Murid pertama menyebut nama Ronald. Murid kedua menyebut nama Alvaro. Begitulah terkadang suara lebih banyak Ronald tetapi terkadang lebih banyak Alvaro.


Dan nama terahir yang di sebut adalah Ronald.


"Dari voting ini, yang menjadi ketua kelas adalah..." belum selesai Lilia berbicara tiba tiba pintu terbuka.


"Permisi."


"Hah, siapa itu." guru itu membuka matanya.


"Saya murid pindahan, maaf telat. Saya tak tahu kelas saya di mana. Saya dari kantor guru." murid berkacatama itu masuk selangkah kedalam kelas.


"Ah kamu aja yang jadi ketua!" Ronald tiba-tiba menunjuk Lelaki itu.


"Eh?"


"Ah kamu, duduk di kursi kosong." Guru Sebastian berkata dan melanjutkan acara malas-malasannya.


"Em baik pak." setelah menutup pintu, ia menuju kursinya.


"Jadi, kamu mau jadi ketua kan?" Ronald sudah berada di depan lelaki tadi.


"Eh, bukannya sudah ditentukan?" lelaki berkacamata ragu.


"Em, memang tak apa?"


"Iya iya kau boleh."


"Baiklah."


"Cih." Alvaro bwrdecih, padahal tadi Ronald sudah hampir menjadi Ketua kelas, tetapi malah anak baru yang mengantikannya.


"Apa?" Ronald kini merasa menang.


Alvaro hanya memalingkan wajah.


"Sudahlah, karena sudah ada yang mengajukan diri apa boleh buat. Ketua kelas perkenalkan namamu."


"Baiklah, namaku Andre Imanuel. Aku murid pindahan. Aku akan berusaha menjadi ketua kelas yang baik dan bertanggung jawab."


"Baiklah, selamat ketua kelas." Ronald mrngucapkan selamat.


"Hehe, iya terima kasihnya. sebenarnya dari dulu aku ingin menjadi ketua kelas, tapi tak pernah terwujud. Hehe." Andre berterima kasih.


"Haha, iya." ,Ronald berkata."Hu, dia ingin menjadi ketua, tapi aku malah tak mengiginkannya."


"Cih, beruntung juga anak ayam ini."


"Halah, aku tak peduli."


Kegiatan pemilihan pengurus kelas masih berlanjut. Dan untungnya Ronald terbebas dari tanggung jawab itu. Setelah acara pemilihan pengurus kelas selesai. Bel istirahat berbunyi.

__ADS_1


"Baiklah, susah selesaikan. Kalian boleh istirahat. Saya tinggal." Guru Sebastian pergi dan di ikuti beberapa anak didiknya.


Ronald tidak keluar kelas. Ia mengambil bekal yang di siapkan ibunya. Ada sepasang roti isi, dan buah stroberi. Di dalam tasnya, ia mengambil sekotak susu coklat. Awalnya ia menyantap roti isi dengan lahapnya.


Di kelas tujuh, tepatnya kelas Emely, ia dan dua temannya hanya tinggal di kelas. Rupanya mereka sama-sama membawa bekal. Yang menjadi perhatian adalah kotak bekal milik Louis, warnanya merah muda bergambar sebuah keluarga, dihiasi bentuk hati.


"Louis, kotak bekalmu unik ya." Vivian memulai.


"Ini dari keluargaku." Louis menjawab.


"Wah, aku iri." Vivian berasa iri.


"Hmm, aku sangat menyayangi mereka." Louis berkata.


"Ah, mari makan. Lihat aku bawa roti isi dan stroberi." Emely berkata.


"Baiklah, mari makan."


Mereka bertiga saling berbagi bekal mereka. Terlihat rukun, dan menyenangkan. Terdapat canda dan tawa dalam kelas. Sedangkan di kantin Alvaro dan Lilia sedang makan berdua dalam keramaian.


"Hei, kamu berantem lagi." Lilia memulai percakapan.


"Iya bawel." Alvaro mengiyakan.


"Aku bawel karena peduli, kita kan teman lama." Lilia beralasan akan kebawelannya.


"Udahlah lanjut makan, nanti keburu bel."


"Hmm"


Mereka berdua melanjutkan kegiatannya. Sedangkan Ronald kini sudah sibuk menminum susu kotaknya. Cepat juga untuk memakan semua bekalnya. Setelah selesai, ia membuka buku, buku cerita fantasi kesukaannya.


Ronald masih setia mengikuti setiap cerita. Jika sudah tamat, ia akan membaca cerita baru. Jika tak ada cerita baru, ia akan membaca ulang cerita lama. Itulah kebiasaannya.


"Hei Ronald" sesuatu seperti memanggil Ronald.


"Ah? Ada yang berbicara." Ronal mendengar suaranya.


"Ini aku, diluar." Sepertinya itu sebuah pohon yang ada diluar kelas.


"Kau, ah aku jadi ada teman bicara." Ronald menoleh sekilas kemudian kembali membaca bukunya.


"Kau sedang membaca buku?"


"Hmm"


"Cerita?"


"Iya, itu sangat keren. Si tokoh utama adalah keturunan orang hebat. Lalu menyelamatkan keluarganya."


"Wah, sepertinya bagus. Bolehkah aku ikut mendengarkan."


"Tentu."


Sebelum Ronald membacakan cerita. Pintu tiba-tiba terbuka menampakan. Ketua kelas.


"Ro-Ronald, kamu bicara dengan siapa?"


Bersambung.......

__ADS_1


Thanks❤️


__ADS_2