
Mira terus meninggalkan kediaman itu sambil menangis dia tidak menyangka kalau keluarganya telah melakukan sesuatu kepada papah Darwin.
Terus berlari tidak memikirkan bagaimana kondisinya saat ini sedang rapuh apalagi kandungannya lemah.
Di belakang Darwin mengejar dia bodoh tidak menggunakan mobil agar lebih mudah untuk mencari keberadaan Mira.
Kedua bola mata pria itu melihat Mira lari dia kesal wanita itu meninggalkannya sendirian di sana.
''Mira berhenti di sana!" panggil Darwin.
''Tidak, pria itu tidak boleh membawa aku lagi ke rumahnya,'' ucapnya lalu kembali berlari.
''Wanita ini memang merepotkan,' decak Darwin.
Tidak mau melangkah semakin jauh Darwin terus bergegas lari dengan kecepatan yang penuh.
''Aku tidak boleh seperti ini bagaimana nanti kandunganku?" lirihnya.
Mira melihat bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi langsung masuk ke dalam untuk menghindari kejaran Darwin.
Darwin menghentikan langkahnya karena tidak melihat Mira dia meyakini kalau istrinya itu sedang bersembunyi di area sekitar sini.
''Mira, keluarlah kita bicara sebentar!" panggil Darwin sambil melihat sekelilingnya.
''Darwin, aku takut kepadamu setelah ini,'' ucapnya dalam hati.
''Mira keluar tidak? Sepertinya kita memang benar-benar harus bicara tidak bersembunyi seperti ini!" panggil Darwin lagi.
Namun Mira tidak juga keluar dia semakin merengkuk di bawah meja yang terlihat rapuh.
''Ya Tuhan, jangan sampai pria itu menemukan ku,'' ucap ya memohon.
Darwin tidak mau putus asa langsung mengelilingi tempat itu dia tidak mau melepaskan jejak Mira.
''Ayolah Mira keluarlah!" panggil Darwin lagi.
Mira melihat kaki Darwin dekat dengannya tubuhnya gemetar untuk saat ini dia pasti akan ketahuan.
''Pergilah Darwin, aku tidak mau kembali lagi ke sana,'' tangis ya namun suaranya tidak terdengar.
''Mira, aku tahu kau masih berada di sini jangan sampai aku membakar tempat ini,'' ancam Darwin.
Mira melihat sekelilingnya begitu banyak kayu yang mudah terbakar.
''Aku harus menghindari dari tempat ini kalau tidak pria ini benar-benar akan nekat melakukan itu.
Secara perlahan Mira keluar dari persembunyiannya tanpa sepengetahuan Darwin.
''Aduh sakit!" teriaknya tiba-tiba karena kakinya telah menginjak sesuatu hingga mengeluarkan cairan berwarna merah.
''Kau ternyata di sini Mira.'' Darwin terlihat dingin menatap Mira masih kesakitan karena benda itu tidak juga keluar dari kakinya.
''Darwin, aku minta maaf tapi.'' Darwin langsung menggendong Mira membawanya kembali ke rumah.
Di tengah jalan sekretarisnya sudah membawa mobil untuk menjemput mereka berdua.
''Maaf tuan, saya lama,'' ucapnya merasa bersalah.
''Kau bawa mobil ke rumah sakit cepat!" perintah Darwin.
''Baik tuan,'' jawab sekretaris itu dengan cepat.
Mira ketakutan melihat sifat Darwin yang benar-benar dingin sampai membuat jantungnya berdetak begitu kencang.
''Apa yang mau dilakukan pria ini kepadaku?" batinnya.
''Lebih kencang lagi!" bentak Darwin kepada sekretarisnya itu.
''Ya tuan.'' Mira ketakutan dia memegang pakaian yang dikenakan Darwin.
Wajahnya dia tenggelamkan dibalik baju itu sambil memejamkan kedua bola matanya.
''Apa yang kau lakukan?" tanya Darwin penuh dengan penekanan.
''Maaf, aku tidak akan melakukannya,'' balas Mira.
Walaupun ketakutan Mira berusaha untuk tetap kuat agar tidak jatuh karena mobil bergoyang begitu kuat.
Kedua kakinya bahkan terus mengeluarkan cairan yang berwarna merah membuatnya semakin kesakitan.
Tidak lama kemudian mereka prima tiba di rumah sakit, perawat langsung bergegas untuk menemui mereka berdua.
''Kalian rawat kakinya sampai sembuh!" perintahnya dingin.
''Baik Tuan,'' jawab mereka.
''Mbak, boleh aku sebentar ke toilet!" ucap Mira ketika mereka sudah berada dalam ruangan.
''Maaf Nona untuk sementara ini anda sebaiknya jangan keluar sebelum kami melakukan pengobatan,'' tahan perawat itu.
''Tapi aku.'' Dokter masuk tatapannya begitu dingin karena dia mendapatkan ulti dari Darwin.
''Nona mohon kerjasamanya,' ucap wanita itu.
''Baiklah!" Mira begitu pasrah mereka mengobati kakinya.
__ADS_1
Di luar sana Darwin melakukan panggilan bersama dengan sekretaris ya.
''Apa yang kalian lakukan kepada paman?" tanyanya dingin.
''Kami sudah membawanya ke rumah lama tuan bersama dengan anak buahnya,'' jawabnya.
''Bagus, ternyata rencana kita berhasil untuk memancingnya keluar,'' ucap Darwin tenang.
''Ya tuan, maaf saya sudah membuat anda marah,'' lirihnya.
''Lakukan pekerjaan kalian lagi,'' perintah Darwin.
''Baik Tuan,'' jawabnya.
Darwin menghembuskan nafas kuat masalahnya telah usai akhirnya orang yang sudah membuatnya selama ini marah kena tangkap.
''Papah, aku berhasil,'' lirihnya.
Pintu terbuka dokter keluar dengan wajah yang penuh dengan keringat berhasil mengobati kaki Mira.
''Tuan, kami sudah selesai mengobati kaki nona,'' lapornya.
''Bagaimana dengan dia?" tanya Darwin dingin.
''Nona saat ini sedang terbaring karena pengaruh obat, kami memeriksa kandungannya sekaligus semuanya baik tidak ada yang salah.'' Darwin menghela nafas baru bisa tenang mendengar kabar baik ini.
''Apa aku boleh melihat ya?" tanya Darwin.
''Silahkan Tuan.'' Darwin bergegas masuk ke dalam dia melihat wajah damai Mira.
''Kau akan kujadikan ratu dalam kehidupanku Mira, orang-orang yang sudah membuatmu menderita selama ini perlahan makan mendapatkan ganjarannya,'' ucapnya pelan.
Ternyata selama ini diam diam Darwin melakukan penyelidikan terhadap keluarga Mira.
Begitu banyak kejanggalan yang terjadi namun semuanya terbuka dengan terang-terangan.
''Kini tinggal Tika dan ibunya sekarang harus mendapatkan sesuatu dariku,'' tambahnya.
Darwin memutuskan untuk berbaring karena tubuhnya lelah tidak tidur beberapa jam yang lalu. Hingga matahari tinggi pria tampan itu sama sekali tidak membuka kedua bola matanya.
Mira terkejut mendapati dirinya saat ini berada di rumah sakit bersama dengan pria yang seharusnya dia hindari.
''Apa yang terjadi? Kenapa aku kembali ke sini?" gumamnya.
Mira turun karena ingin kembali melarikan diri kebetulan Darwin sedang tidur saat ini.
''Aduh kakiku,'' rintihnya.
Darwin terusik dia juga bangun kedua bola matanya terbuka lebar melihat Mira hampir berhasil keluar.
''Stop! Sekali lagi kau melangkah sesuatu akan terjadi kepadamu!" ancam Darwin.
''Kembali masuk ke dalam Mira, saat ini kau tidak boleh jalan kaki mu masih dalam pengobatan,'' ujar Darwin.
''Aku tidak bisa kembali denganmu Darwin, kau tidak tahu aku adalah seorang anak dari-'' Darwin dengan cepat langsung memotong ucapan Mira.
''Diam! Kau bukanlah wanita yang seperti yang kau pikirkan Mira. Mereka yang melakukannya bukan kau menjadi stop jangan berpikiran seperti itu,'' sentak Darwin.
''Aku tidak bisa Darwin.'' Darwin langsung menangkap tangan Mira supaya wanita ini tidak keluar dari kamar.
''Lepaskan aku Darwin, kau tidak mengerti apa yang ku pikirkan saat ini.'' Mira memberontak agar dilepaskan namun pria arogan itu sama sekali tidak mau mendengarkannya.
''Jangan melawan Mira, saat ini kau harus butuh istirahat banyak karena kandungan mu dalam keadaan yang tidak baik baik.'' Darwin pada akhirnya berbohong harus mengatakan itu demi kebaikan dia dan sebuah hati.
''Apa? Tidak mungkin?!" pekiknya.
''Kau sudah menyakiti baby Mira. Bagaimana mungkin kamu melakukan itu kepadanya?" tanya Darwin berpura-pura jadi di hadapan wanita itu.
Mira menangis ternyata dia memang wanita bodoh sudah menyakiti orang orang di sekitarnya bahkan calon buah hati ya.
''Maaf, aku tidak sengaja melakukan itu,'' lirihnya.
''Ayo, kau harus butuh istirahat Mira ingatkan denganmu saat ini sedang tidak baik.'' Pada akhirnya Mira menuruti semua yang dikatakan Darwin.
Pria itu sedikit lega bisa membuat Mira tenang namun tidak seperti yang dikatakannya.
''Darwin, setelah aku nanti melahirkan lebih baik kita bercerai.'' Pria itu terkejut mendengarkan ucapan Mira.
''Apa yang kau katakan, Mira?" pekiknya.
''Kita tidak cocok melakukan rumah tangga ini Darwin, kau tidak ingat pertama kali kita bertemu hingga sampai akhir ini?" Darwin melihat kedua bola mata Mira terlihat merah dan sembab.
''Mira, jangan berpikiran seperti itu untuk sementara ini lebih baik kau istirahat. Aku harus bekerja karena perusahaan sudah membutuhkanku. Pelayan akan menemanimu di sini untuk sementara waktu.'' Setelah mengatakan itu, Darwin langsung meninggalkan ruangan itu dengan kesal.
''Tuan, udah saatnya kembali.'' Sekretarisnya sudah datang terlebih dahulu di sana untuk menjemput Darwin.
''Ya, kalian penuhi kebutuhannya!" perintah Darwin.
''Baik tuan,'' jawab mereka serempak.
Darwin sengaja memberikan pilihan seperti itu agar Mira tidak banyak bicara. Setelah meninggalkan rumah sakit, Darwin mempelajari perusahaan pamannya yang saat ini sedang mengalami turun saham yang begitu drastis.
''Beli semua saham paman, dia harus mengetahui apa yang saat ini terjadi terhadap perusahaannya!" perintah Darwin.
''Bak tuan,'' jawab sekretaris itu dengan cepat.
__ADS_1
''Paman sudah salah mengusik orang seharusnya jangan kembali kalau tidak ini yang terjadi,'' ucapnya kesal lalu kembali menutup ponselnya.
Mobilnya langsung berhenti tepat di pintu masuk perusahaan di sana begitu banyak petinggi menyambut kedatangannya.
Sama sekali tidak ada yang curiga mengenai kejadian tadi pagi bahkan, media ramai-ramai mengabarkan kalau perusahaan grup Bilar sudah dinyatakan bangkrut.
Kabar itu langsung sampai ke telinga Tika dan ibunya yang saat ini berada di luar negeri untuk menikmati liburan.
''Tidak mungkin?!" pekik Tika.
''Apa Tika? Kenapa wajahmu seperti habis melihat hantu?" tanya ibunya heran.
''Perusahaan papi bangkrut mami.'' Tika menunjukkan kepada ibunya itu.
''Tidak mungkin?! Bagaimana bisa perusahaan papi bangkrut hanya dalam satu malam?" tanya ibu Tika.
''Mami, sebaiknya kita kembali ke tanah air pasti ada sesuatu yang tidak beres kepada papi!" Mereka berdua langsung mengangguk setuju meninggalkan kota yang penuh dunia yang bebas.
Kabar itu langsung sampai ke telinga Darwin dia sangat tertarik mendengar kabar itu.
''Kau fasilitasi kedatangan mereka ke sini! Aku ingin tahu bagaimana mereka menjalani kehidupannya setelah tahu apa yang terjadi dengan perusahaan paman.'' Sekretaris ya itu mengangguk mengerti langsung melaksanakan perintah Darwin.
''Baik Tuan!" jawabnya cepat.
Tika dan ibunya sudah tiba di mana air dengan cepat untuk melihat situasi yang terjadi dengan perusahaan Bilar.
Mereka berdua tidak ada wajah langsung datang ke perusahaan itu dengan percaya diri. Karyawan yang melihat penampilan mereka yang norak langsung menghindar.
''Siapa dua wanita itu?" tanya beberapa karyawan karena belum pernah melihat Tika dan ibunya.
''Aku juga tidak mengetahui siapa wanita itu?" tambah yang lain.
Tika langsung menggebrak meja resepsionis untuk memanggil Bilar turun ke bawah.
''Sekarang suruh papi Bilar untuk menjemput kami di bawah ini!" ucapnya begitu sombong.
''Maaf nona, tuan Bilar sampai sekarang belum datang,'' jawab wanita itu tenang.
''Jangan berbohong kau tidak tahu kami ini siapa?" sentaknya.
''Saya tidak berbohong nona, kalau anda tidak percaya silahkan naik ke atas.'' Tika menjadi kesal dia langsung bergegas naik lift.
''Kalian jangan masuk ke dalam kecuali kami berdua!" tahan Tika.
''Apa? Sombong sekali wanita itu? Apa dia pemilik perusahaan ini sampai mengatakan itu kepada kita?" ujar karyawan itu yang hendak naik ke lantai lima namun tidak jadi karena kelakuan Tika.
''Biarkan saja, sepertinya dia wanita simpanan tuan Bilar.'' Mereka tertawa terbahak-bahak tidak peduli karyawan lain melihat mereka.
Tika dan ibunya tiba di lantai sembilan tidak ada seorang pun membuat mereka heran.
''Ada apa ini? Bahkan sekretaris papi juga tidak ada di sini Mami?" tanya Tika heran.
''Ya sayang, ayo kita masuk ke dalam sepertinya papi dan sekretaris nya berada di dalam.'' Tika mengetuk pintu itu lalu main masuk ke dalam tempat ada sautan.
Mereka berdua langsung tercengang melihat Darwin udah duduk sana dengan gaya yang cool.
''Kau siapa? Beraninya duduk di sana?!" teriak Tika.
''Kalian siapa? Beraninya masuk tanpa ada izin?" tanya balik Darwin.
''Apa? Kau mau mendapatkan masalah dari kami?!" sentak ibu Tika kuat.
''Apa masalah kalian? Sepertinya kalian yang bermasalah datang ke sini tanpa diundang?" tanya balik Darwin.
''Perusahaan ini adalah milik papiku, sebaiknya kamu keluar dari sini!" tambah Tika.
''Perusahaan bangkrut ini ya?" kekeh Darwin.
''Apa?'' pekik ya lagi.
Darwin langsung berdiri dia memukul meja dengan kuat sambil menatap Tika dan ibunya dengan tatapan yang begitu dingin.
''Jangan pernah lagi menginjakkan tempat ini karena pemilik perusahaan sudah mengundurkan diri dengan sukarela.'' Tika dan ibunya terkejut mendengar ucapan Darwin.
''Di mana papi sekarang?" tanya Tika tidak terima.
''Kalian cari sendiri sekarang keluar dan jangan pernah datang ke sini lagi!" usir Darwin.
''Aku tidak akan pernah melupakan wajahmu ini karena sudah membuat kami marah,'' ucap ibu Tika lalu mereka berdua keluar dengan wajah yang terlihat merah.
Mereka berdua semakin terkejut karena di luar sudah banyak karyawan yang berlalu lalang. Padahal waktu ke sini sama sekali tidak ada.
''Mami, sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan papi?" bisik Tika.
''Ada yang tidak beres di sini sayang, sebaiknya kita pergi dulu baru memikirkan rencana.'' Tika mengangguk mengerti lalu mereka berdua turun menggunakan tangga.
''Aku tidak akan pernah melupakan tempat ini mami, ini adalah suatu hal yang tidak pernah ku terima. Beraninya mereka melakukan ini kepada kita berdua?" kesal Tika.
''Ya sayang, mami juga tidak akan pernah mengampuni mereka.'' Ternyata semua ini adalah rencana dari sekretaris Darwin untuk memberikan pelajaran kepada mereka berdua menuruni anak tangga sebanyak sembilan lantai.
''Ini belum seberapa karena apa yang dialami nona muda tidak sebanding,'' tawa sekretaris Darwin.
Darwin menerima panggilan dari pelayan karena Mira berita hari memberontak untuk keluar dari rumah sakit.
''Kalian tahan dia jangan sampai keluar aku akan segera ke sana!" ujar Darwin.
__ADS_1
''Baik Tuan,'' jawab pelayan itu dengan cepat.
Darwin menghembuskan nafas akhirnya dia bisa membalas kan satu perbuatan Tika dan ibunya.