BENIH CEO AROGAN

BENIH CEO AROGAN
Taman Rumah Sakit


__ADS_3

Darwin tertegun melihat wajah Mira yang pucat apalagi kondisinya saat ini lemah.


"Mira," lirihnya.


"Ka-kau?!" ucapnya terbata-bata sambil menundukkan wajahnya.


Darwin mendekati Mira tapi wanitanya itu malah mundur karena ketakutan terus menyelimuti dirinya.


"Jangan mendekat," ucapnya pelan.


"Mira, ada yang ingin aku katakan kepadamu," balas Darwin lagi.


"Pergi, aku tidak mau ada siapapun di sini!" sentaknya.


Darwin diam dia melihat Mira yang benar-benar ketakutan apalagi sorot matanya begitu tajam.


"Baiklah aku akan tunggu di sini, kalau ingin sesuatu panggil saja." Mira sama sekali tidak menjawab sampai Darwin pergi.


Mira menangis sesenggukan bayangkan dirinya sudah tidak ada artinya lagi hidup.


"Anakku," lirihnya sambil mengusap perut itu yang sudah datar.


Mira sangat membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga buah hatinya masih kecil.


Di luar Darwin diam dengan tatapan yang kosong sambil memikirkan Mira.


"Kenapa jadi seperti ini?" batin Darwin.

__ADS_1


Dia juga merasa kehilangan atas buah hati mereka berdua yang sudah lama dinantikan oleh ya.


Pria dewasa itu memejamkan mata menahan sesak dalam dirinya. Begitu banyak masalah datang dalam hidupnya selama ini.


Sama halnya dengan Mira melamun sendirian setelah merasa lebih baik.


Merasa bosan Mira turun walau bekas operasi masih terasa membekas. Namun dia terkejut melihat Darwin tidur sambil melipat kedua tangannya.


Mira mengurungkan niatnya lalu kembali masuk ke dalam tapi tangan kekar itu tiba-tiba hentikan langkah ya masuk ke dalam.


"Aku minta maaf Mira," ucapnya pelan.


Mira sama sekali tidak bergeming pandangannya dingin sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.


Pelan-pelan kaki itu melangkah masuk ke dalam tidak peduli Darwin ikut dengannya.


"Aku lelah ingin istirahat," ucapnya sambil menatap tangan Darwin sana.


"Baiklah, aku tunggu di sini," ujar Darwin lalu duduk bangku panjang itu.


Mir tadinya ingin hirup udara segar malah zonk dalam kamar ini. Oksigen terasa tidak ada apalagi ketika melihat wajah Darwin sana sedih dan murung.


Tidur tidak nyaman justru semakin membuat tubuhnya lelah terlalu banyak tidur.


Darwin dari tadi memperhatikan Mira langsung beranjak berdiri.


"Ada apa? Tempat tidur ini tidak nyaman?" tanya Darwin khawatir.

__ADS_1


"Aku baik," jawabnya singkat namun dingin.


"Kau mau makan? Aku akan beli?" alih Darwin.


"Tidak perlu, aku masih keyang," ucapnya bohong.


"Kau makan apa tadi? Dari kemarin perut ini tidak ada masuk apapun," protes Darwin.


Mira diam benar juga yang dikatakan Darwin tapi dia ingin tidak mau melihat wajah pria ini.


"Terserahmu saja mau beli atau tidak," balas Mira pelan.


Darwin merasa bersalah namun dia secepatnya keluar beli makanan kesukaan Mira.


Mira mengambil kesempatan untuk keluar dari kamar ini karena sudah sesak adanya Darwin.


Taman rumah sakit Mira merasakan angin yang menerpa wajah ya yang sudah tidak terlihat pucat.


Darwin kembali namun pandangannya kosong tidak melihat Mira tidur sana.


"Mira?!" pekiknya lalu keluar sambil memanggil namanya berulang kali.


Seorang perawat hampiri Darwin karena melihat Mira ada taman rumah sakit sedang bermain-main dengan pasien.


"Ternyata kau di sini?" ucapnya panik sambil mengatur pernafasan ya karena terlalu panik mencari keberadaan Mira.


"Kau kembali?" tanya Mira terkejut.

__ADS_1


Padahal Darwin baru saja langsung pulang membawa makanan dan buah-buahan segar.


__ADS_2