BENIH CEO AROGAN

BENIH CEO AROGAN
Fakta


__ADS_3

Darwin benar-benar menyukai apa yang mereka lakukan hari ini yang sudah lama tidak pernah saling bersentuhan.


''Aku lelah Darwin,'' ucap Mira setelah mereka selesai melakukan aktivitas yang cukup panjang itu.


''Tidurlah, nanti aku bangunin!" Mira mengangguk mengerti lalu memejamkan kedua bola matanya.


Darwin sebentar memandangi wajah Mira lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


''Mira, tidak tahu kenapa aku begitu candu kepadamu,'' kekeh Darwin.


Di bawah air shower yang turun mengenai seluruh tubuhnya itu Darwin tiba-tiba memikirkan kematian papah ya dahulu.


''Aku harus bicara lagi kepada paman,'' ucapnya pelan.


Setelah membersihkan tubuh Darwin mengenakan pakaian santai. Sebelumnya dia sudah memberitahukan kepada pelayan untuk memenuhi kebutuhan Mira nanti.


Di ruang bawah tanah yang gelap paman Bilar tidak pernah berhenti terus berteriak untuk dilepaskan.


''Mana Darwin? Suruh dia kemari kalau tidak aku akan terus berteriak?!" sentaknya kepada petugas yang menjaganya di sana.


''Tuan, tolong bekerjasama jangan berisik di tempat seperti ini,'' ujar asisten sekretaris Darwin.

__ADS_1


''Diam kau! Kalian tidak ada yang berhak melakukan ini kepadaku?" ucapnya lagi.


''Sayangnya Darwin berhak paman.'' Bilar tertegun mendengar suara keponakan itu lalu dia menarik pakaian Darwin.


''Jangan coba-coba melakukan ini lagi kepadaku Darwin, aku tidak akan pernah memaafkan mu!" sentak paman Bilar.


''Paman, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu?" ucap Darwin dingin.


''Apa?" balasnya.


''Soal papah, apa benar paman terlibat atau tidak?" tanya Darwin dingin.


''Paman tidak akan pernah menceritakannya,'' jawabnya.


''Kenapa Paman? Apa yang salah selama ini sampai paman tidak menyukai kami?" tanya Darwin lagi.


''Kau mau tahu ceritanya? Sekarang alihkan seluruh aset perusahaan menjadi namaku!" Darwin tidak suka dia bahkan sampai kapan pun tidak akan pernah memberikan warisan ayahnya kepada orang seperti Bilar.


''Paman tidak perlu mengatakannya karena tempat ini cocok untukmu. Menghabiskan masa tua di sini sepertinya menyenangkan.'' Darwin menantang paman Bilar agar pria paruh baya itu mau jujur kepada ya.


''Darwin, jangan keterlaluan kepadaku. Kau tidak akan sanggup mendengar semua cerita mengenai papah mu itu.'' Darwin semakin tertarik dia bahkan mendekati paman Bilar tampak ada rasa takut sedikitpun.

__ADS_1


''Apa paman mengetahui kenapa aku tidak memberikan pelajaran kepadamu? Paman adalah salah satu anggota keluarga ku satu-satunya yang hidup.'' Paman Bilar melihat mata keponakan yaitu yang terlihat sendu.


''Bisa kau berjanji tidak akan pernah memberikan pelajaran kepada Paman?" tanya paman Bilar serius.


''Ya paman,'' lirihnya.


''Papah mu dulu memiliki rekaman sebelum meninggal tapi kami tidak mendapatkan itu sampai sekarang. Karena belum ada bukti mengenai kelakuan kami dahulu sepertinya nasib telah berbalik kepada aku.'' Darwin menangkap kata yang diucapkan paman Bilar.


''Kami? Jadi kalian lebih dari satu melakukan itu kepada papah?" tanya Darwin marah.


''Ya, orang-orang yang bersama denganku dahulu sekarang mereka tinggal di luar negeri,'' lanjutnya.


''Siapa?" tanya Darwin dingin.


''Paman tidak bisa mengatakan kepadamu Darwin, kalau masalah ini bocor ke publik kita berdua pasti tidak akan pernah ada lagi,'' ujarnya.


''Akan kupastikan orang-orang itu lebih dulu pergi paman,'' ucapnya dengan percaya diri.


Pria paruh baya itu tidak percaya atau yang dikatakan keponakannya itu.


''Tika dan ibunya yang melakukan semuanya Darwin. Paman hanya berperan untuk memancing papah mau keluar dari rumah ini.'' Udah tidak tahu lagi bagaimana wajah Darwin saat ini setelah mengetahui fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2