
Mereka berdua saling menatap satu sama lain bahkan sulit untuk membuka percakapan yang sempat terhenti.
"Apa yang ingin kau katakan Darwin?" tanya Mira begitu penasaran.
"Aku bukan pria seperti yang kau pikirkan Mira, memang dulu aku melakukan kesalahan kepadamu namun itu bukan berarti untuk membalas semua yang terjadi dalam hidupku," terang Darwin.
"Darwin," lirihnya.
"Kau mempercayaiku kan Mira," ucap pria itu lagi.
"Berikan aku waktu Darwin, untuk saat ini semuanya sulit memikirkan masalah yang sedang terjadi saat ini," balas Mira.
"Ya, aku mempercayai mu Mira." Darwin mengusap kepala wanitanya itu dengan lembut.
Mereka berdua berbicara seperti pada umumnya tidak ada hal yang membuat ketakutan.
"Boleh aku mengatakan sesuatu Darwin?" tanya Mira pelan.
"Katakan!" balas Darwin.
"Aku boleh mengunjungi makam papah." Darwin terkejut mendengar permintaan Mira.
"Kau serius ingin mengunjungi makam papah?" tanya Darwin lagi.
"Ya, bukankah aku menantunya?" Darwin langsung membawa Mira kembali masuk ke dalam pelukannya tidak menyangka permintaan itu sangat sederhana namun penuh dengan makna.
"Baiklah, besok kita ke sana." Mereka berdua karena memutuskan untuk beristirahat tubuh serta jiwa raga lelah.
Mira pertama kali tidur dengan tenang namun dia sedikit gelisah dengan permintaannya tadi.
"Tenanglah Mira, semuanya akan baik," ucapnya.
Keesokan harinya pertama kali bagi Mira bangun lebih awal ketimbang Darwin terlelap nyenyak dalam tidur.
Dia langsung bergegas menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya. Lalu, turun ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Darwin.
"Hai, selamat pagi Mbak?" sapa Mira.
"Pagi, nona membutuhkan sesuatu?" tanya kepala pelayan.
"Aku mau memasak mbak, Darwin masih tidur," ucapnya.
"Tapi nona, kami tidak boleh membiarkan anda memasak di sini nanti tuan marah," tolak kepala pelayan.
"Tenanglah, aku yang akan bicara nanti dengan Darwin." Mira mengambil udang dalam lemari pendingin langsung membersihkannya.
Pelayan tidak perlu ketakutan melihat aksi Mira kondisinya saat ini sedang berbadan dua tidak baik untuknya.
"Nona, biarkan kami yang melakukannya," ucap kepala pelayan lagi.
"Kalian boleh membantuku membuat sambal mbak," ujar Mira.
"Tapi nona." Mira langsung melotot membuat pelayan ketakutan.
__ADS_1
"Baik Nona." Mereka semuanya akhirnya pasrah melakukan semua yang dikatakan Mira.
Tepat pukul enam pagi, Darwin membuka kedua bola matanya karena tidak merasakan sesuatu di sampingnya.
"Mira, dia di mana?" pekiknya.
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok wanita yang dari tadi membuatnya panik.
"Darwin kau udah bangun?" Bukannya menjawab pria itu langsung menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Aku takut kau akan meninggalkanku," ucapnya.
"Tadi aku mau masak makanan kesukaanmu, aku tidak bisa tidur lagi dengan memilih bergabung dengan pelayan," ucapnya jujur.
"Lain kali, izin dulu dari ku baru turun ke bawah mengerti." Mira mengangguk mengerti selalu dia menuju ke kamar mandi untuk mempersiapkan air hangat untuk Darwin.
Darwin sekali ini membiarkan istrinya itu melakukan yang diinginkannya. Pria matang itu telah sudah kembali dengan berpakaian yang rapi.
"Pakai dasi mu Darwin." Pria itu tersenyum lebar ternyata Mira peka apa yang kurang dalam tubuhnya.
"Terima kasih kalau begitu aku berangkat ya," ucap Darwin lembut.
"Ya," angguknya.
"Jangan melakukan pekerjaan yang berat mengerti!" Mira mengerti lalu mengantar Darwin sampai menuju ke depan.
"Hati-hati," pesan Mira.
"Akan kulakukan seperti yang kau katakan." Darwin tersenyum puas lalu masuk ke dalam mobil.
"Aku akhirnya bebas," ucap Mira setelah melihat mobil pria itu sudah keluar dari gerbang.
Mira senang dia masuk dalam dengan riang tidak menyadari pelayan memperhatikannya.
"Nona sepertinya bahagia ya," bisik pelayan.
"Ya, kalian tidak ingat kalau tuan muda memuji masakannya," kekeh pelayan yang lainnnya.
"Ya kau benar, sepertinya kita harus belajar memasak dari nona." Mereka semuanya tertawa bahagia akhirnya hal yang mereka tunggu selama ini terjadi.
Mira kembali masuk ke dalam kamar untuk membersihkan seluruh isinya. Dia tidak mau para pelayan melakukan itu karena sangat tidak sopan.
Benda tipis jatuh ke lantai membuat pandangannya teralihkan ke sana. Mira mengambilnya lalu menatap dengan tatapan yang sudah tidak bisa diartikan lagi.
Sebuah alat rekaman yang menunjukkan kalau Tika dan ibunya sudah melakukan sebuah kejahatan terhadap ibu dan ayah Darwin.
"Oh My God?! Darwin pasti terpuruk mendengar rekaman ini?" pekik Mira. Bukti alat rekaman itu sudah lama berada dalam ruangan itu hanya saja Darwin tidak menyadarinya.
Mira gelisah tidak tenang satu harian ini karena bukti yang begitu akurat berada dalam tangannya saat ini.
"Apa yang harus ku katakan kepada Darwin?" ucapnya.
"Non, panggilan telpon dari tuan kenapa anda tidak mengangkatnya?" Mira terkejut bukan main mendengar suara pelayan itu.
__ADS_1
"Ya, aku tadi berada di kamar mandi tidak mendengarkan," alasan Mira.
Mira langsung mengangkat panggilan telpon Darwin, dia sedikit mengalami ketakutan.
"Halo Darwin?" ucapnya.
"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanyanya.
"Aku membaca buku, bagaimana denganmu?" tanya Mira.
"Memikirkan kamu." Kedua pipi Mira merona mendengar gombalan Darwin.
"Kau tidak bekerja?" tanya Mira mengalihkan obrolan.
"Sudah selesai, aku tinggal menandatangani berkas setelah itu pulang," ucapnya.
"Boleh aku meminta sesuatu kepadamu Darwin?" ucap Mira pelan.
"Apa itu?" Pria itu begitu antusias mendengar keinginan Mira.
"Aku menginginkan martabak keju," lirihnya.
"Baiklah, tunggu sebentar lagi boleh." Mira bahagia sekali mendengarnya.
"Ya, aku akan menunggumu." Setelah selesai Darwin mematikan teleponnya karena sekretaris sudah membawa beberapa dokumen.
"Tuan, ini berkas grup Bilar," ucapnya.
"Baik, kau boleh kembali." Sekretaris itu kembali dengan wajah yang terlihat lebih baik daripada sebelumnya karena Darwin telah membodohinya untuk mengelabui paman Bilar.
Darwin tersenyum puas melihat seluruh saham grup Bilar akhirnya kembali ke tangannya.
"Paman tidak akan percaya apa yang ku kulakukan saat ini," tawanya.
Tiba-tiba pandangannya beralih kan kepada ponselnya, nomor yang tidak dikenal masuk hingga membuatnya kesal.
"Siapa ini?" tanyanya galak.
"Kau pasti tidak melupakan suara ini tuan." Darwin terkejut mendengar suara wanita yang baru saja dikenalnya itu.
"Tika?" ucapnya pelan.
"Jangan mengira anda sudah menang karena berhasil mengambil seluruh saham papi Bilar, aku dan ibu akan memperjuangkannya kembali." Setelah mengatakan itu obrolan tidak berlanjut karena sudah dimatikan oleh Tika.
Darwin benar-benar kesal pertama kali ada seseorang yang berani membuatnya seperti ini.
"Tidak sopan awas aja kalo bertemu kau akan menjadi seperti paman Bilar," kesalnya.
Darwin tidak mau mengambil pusing mengenai Tika, tetap fokus pada pekerjaan yang sangat ini menumpuk.
Tidak lama kemudian semuanya selesai dengan tempat waktu pria itu langsung keluar karena ingin membeli martabak kesukaan Mira.
"Aku sepertinya sudah telat," ucapnya sambil mengusap wajahnya berulang kali.
__ADS_1