
Wajah tanpa ekspresi membuat siapapun yang melihatnya ketakutan sama seperti dengan Mira.
Wanita itu telah terkejut melihat perubahan Darwin padahal mereka berdua baru saja melakukan hubungan yang begitu serius.
''Apa yang terjadi lagi?" gumamnya.
Darwin tidak menyadari kalau Mira sudah selesai bahkan lebih cantik daripada sebelumnya. Pria itu memilih untuk menuju ke ruangan kerja untuk menenangkan pikiran.
''Papah, kenapa tidak memberiku bukti itu dari dulu sekarang apa yang akan Darwin lakukan?" tanya Darwin sambil memandangi foto dia dan papahnya.
Hal yang paling membuatnya sakit sekarang adalah wujud ibu kandungnya tidak tahu wajahnya saat ini.
Untuk pertama kalinya pria itu menangis setelah sekian lama berjanji tidak akan pernah mengeluarkan air mata.
Mira tidak sengaja melihat dari balik pintu karena tidak terkunci dengan rapat.
''Dia menangis?" batinnya.
Mira merasa ada yang tidak beres setelah melihat Darwin keluar dari tempat yang belum pernah dijalaninya.
''Aku harus ke sana dan mengetahui apa yang sebenarnya di dalam tempat itu.'' Mira tidak ada merasa takut sedikitpun menuju ke tempat kecil yang jarang dikunjungi.
__ADS_1
Petugas keamanan yang melihat kehadiran Mira terkejut mereka langsung memberikan hormat kepada istri majikannya itu.
''Malam Nona, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu mereka.
''Aku disuruh Darwin untuk masuk ke dalam,'' ucapnya berpura-pura tegas.
''Tapi kami tidak mendapatkan perintah itu nona,'' bantahnya.
''Penting aku sudah mendapatkan izin dari Darwin, ada yang ingin kukatakan kepada seseorang di dalam sana.'' Kedua petugas itu merasa yakin yang dikatakan Mira mereka mempersilahkannya masuk ke dalam.
''Oh syukurlah mereka percaya,'' ucapnya dalam hati.
''Nona, Tuan Bilar ada di depan sana!" ujar pengawal itu.
''Bilar? Sepertinya aku tidak akan mendengar nama itu tapi di mana ya?" gumamnya.
''Kalian nyalakan lampunya nona hendak mengunjungi tuan Bilar!" seru petugas itu.
''Baik bos.'' Mira tertegun melihat seorang pria paruh baya yang sudah tidak terurus dalam sana.
''Dia bukankah pria semalam yang hendak ingin membuat Darwin dan aku hampir celaka?" tanya Mira terkejut.
__ADS_1
''Ya Nona, kami diperintahkan oleh tuan menjaganya.'' Mira sedih melihat walaupun pria ini sudah melakukan kesalahan kemarin namun ada membuatnya berat hati.
''Paman, apa yang terjadi?" tanya Mira sedih.
''Jangan merasa sedih seperti itu di hadapanku, kau wanita yang tidak pantas untuk menjenguk ku di sini,'' ucapnya sombong.
''Diamlah Tuan, untuk saat ini anda jangan banyak bicara,'' bentak petugas itu.
''Biarkan kami bicara boleh!" pinta Mira.
''Baik nona, kami akan menunggu di sana.'' Mira mengangguk mengerti dia langsung menatap paman Bilar setelah keadaan tenang.
''Apa mau mu menemaniku di sini? Darwin yang mengatusmu?" tanya Bilar tidak suka.
''Ada yang ingin kukatakan kepadamu paman, mungkin suara ini akan membantumu untuk membuat Darwin bisa menghilangkan traumanya dahulu.'' Mira mengeluarkan alat rekaman yang dia dapat kemarin dan memutar di hadapan paman Bilar.
''Suara ini?!" pekik Bilar.
''Aku menemukan benda ini paman, apapun yang sudah anda lakukan kepada papah Darwin biarlah dia yang memutuskan apa yang akan dilakukan kepadamu.'' Paman Bilar menjadi panik mendengar rekaman itu jelasin lah dia yang melakukan semua rencana itu.
''Jangan berikan buktiin kepada Darwin, kau mau bekerja sama dengan ku akan kupastikan kehidupanmu bahagia untuk selamanya,'' tawar paman Bilar.
__ADS_1