BENIH CEO AROGAN

BENIH CEO AROGAN
Ruang Bawah Tanah


__ADS_3

Sayangnya Mira sudah mau mendengarkan ucapan Paman Bilar karena bukti ini harus diserahkan yang kepada Darwin.


''Maaf, kebenaran harus terungkap tuan karena aku tidak mau Darwin sampai detik ini merasa bersalah tidak bisa mengungkap kepergian papah ya,'' ujarnya.


''Beraninya kau mengatakan itu kepadaku? Kalau sampai Darwin mendapatkan rekaman itu semuanya kita akan hilang dari muka bumi ini.'' Paman Bilar tetapi nakut-nakutin Mira agar bukti rekaman itu segera diberikan kepadanya.


''Aku tidak mau, sekarang aku harus menyerahkan ini kepada Darwin.'' Namun dengan cepat paman Bilar menarik pakai tangan Mira untuk merebut bukti itu.


''Hentikan!" Suara yang mereka hindari dari tadi akhirnya pecah di tempat itu.


''Darwin?!" ucap mereka berdua secara bersamaan.


Darwin mendekati mereka dengan tatapan yang sudah tidak bisa diartikan lagi. Mira perlahan mulai mundur ketakutan melihat wajah Darwin yang sangat menakutkan.


''Darwin, aku bisa menjelaskan ini semuanya?" ucap Mira gugup.


''Berikan benda itu kepadaku?" ucap Darwin dingin.


''Jangan berikan benda itu Mira nanti kau akan menyesalinya!" teriak paman Bilar.


''Berikan benda itu kepadaku Mira?" ucap Darwin tenang.

__ADS_1


''Aku tidak bisa melakukannya tuan, Darwin berhak mengetahui isi rekaman ini.'' Mira langsung memberikannya dan pasrah apa yang akan dilakukan pria di hadapannya ini kepadanya nanti.


''Keterlaluan kau Mira, kalian semuanya tidak akan pernah ku ampun ini,'' teriak paman Bilar.


Darwin pelan-pelan memutar rekaman karena dia sempat tadi mendengar suaranya.


Wajah tampan itu tiba-tiba langsung berubah menjadi dingin serta tatapan yang begitu tajam.


Darwin langsung menarik Mira keluar dari sana tidak peduli wanita itu meringis kesakitan.


''Darwin, apa yang kau lakukan sakit sekali?" pekiknya.


''Diam! Kau harus dihukum Mira.'' Wanita itu terkejut bukan main mendengar ucapan Darwin.


''Darwin, kumohon jangan hukum aku!" mohon nya.


Darwin sama sekali tidak peduli terus menarik Mira sampai keluar dari tempat itu.


''Beraninya kau mengunjungi tempat ini tanpa persetujuanku Mira!" sentaknya.


''Aku tidak tahu kenapa kakiku menuju ke sini Darwin, aku tidak bermaksud melakukannya,'' bela Mira.

__ADS_1


''Naik ke kamar sekarang cepat!" bentaknya.


''Darwin, kumohon jangan lakukan hal yang buruk akan membuatmu kecewa!" pinta Mira.


''Masuk Mira!" ujar Darwin lagi.


Mira dengan berat hati harus ke dalam kamar dia berharap Darwin tidak melakukan hal yang membuatnya akan rugi.


Darwin kembali masuk ke dalam ruangan dengan tatapan yang udah tidak bisa diartikan lagi.


Paman Bilar terkejut melihat kedatangan Darwin pelan-pelan pria paruh baya itu mulai mundur ke belakang.


''Darwin, paman bisa menjelaskan semuanya tidak seperti yang kau dengar itu,'' ucap paman Bilar.


''Apa yang ingin paman katakan semuanya tidak ada di sini!" balas Darwin.


''Papahmu yang dulu menginginkan semuanya ini terjadi Darwin. Paman melakukan itu dahulu,'' ucapnya.


''Paman terlalu banyak alasan sampai Darwin tidak bisa mencerna semuanya.'' Darwin mengambil sesuatu yang membuat pria paruh baya itu ketakutan.


''Darwin, kita masih bisa empat mata kau tidak mau menjadi seorang batang kara kan? Maka jangan lakukan itu kepadaku?" pinta paman Bilar.

__ADS_1


''Aku merasa sampai sekarang tidak pernah memiliki keluarga paman semenjak kepergian papah, untuk sekarang itu akan kubuktikan.'' Paman Bilar membuka kedua bola matanya melebar merasakan sakit pada perutnya.


__ADS_2