
Darwin menuju ke rumah sakit dengan wajah yang terlihat gembira. Merasa tidak ada yang terjadi dalam dirinya terus tersenyum hingga membuat orang-orang yang melihatnya menjadi salah tingkah.
Setibanya di rumah hal yang pertama yang dia lihat adalah Mira sedang marah kepada pelayan pribadi Darwin.
"Aku mau pergi kumohon lepaskanlah aku," pinta Mira.
"Maaf nona kami tidak bisa melakukan itu karena tuan sudah memberikan perintah agar melindungi anda di sini," ucap pelayan itu.
"Sampai kapanpun aku tidak mau," teriaknya.
"Lepaskan dia!" Mira terkejut melihat Darwin sudah berdiri di depan pintu.
"Darwin?!" ucapnya gugup.
"Hari ini kita kembali pulang ke rumah," ucap Darwin lembut.
"Tapi aku." Pria itu langsung membawanya masuk ke dalam pelukan hangat.
"Ikut saja, sudah kubilang jangan membantah Mir," bisiknya.
Mira tertegun dia seketika lemah tidak berdaya apalagi kondisinya saat ini belum stabil.
"Darwin, ada yang ingin kukatakan kepadamu," ucapnya pelan.
"Apa itu?" tanya Darwin.
Mira memperhatikan wajah Darwin yang terlihat begitu serius menatap dia.
"Kau tidak keberatan kalau tinggal bersama sementara aku adalah anak dari, kalau kau keberatan lepaskanlah aku setelah melahirkan Darwin," ucapnya tertekan.
"Siapa yang mau melepaskanmu? Tidak ada kata lepas keluar dari mulut ini mulai dari sekarang, ingat itu." Darwin kembali membawa wanitanya itu masuk ke dalam pelukan.
"Darwin, aku hanya ingin kau." Pria itu kembali melakukan hal yang membuat sekujur tubuh Mira panas dingin.
"Sekali lagi kau bicara aku tidak akan pernah melepaskan penyatuan ini." Wajah Mira langsung merah bahkan melebihi tomat.
"Ya," angguknya.
Walaupun dia sudah berjanji namun belum merasakan ketenangan dalam hidup.
Selamat dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan Darwin memilih memejamkan kedua bola mata. Dia tiba-tiba teringat kepada almarhum papah yang meninggal tidak layak dahulu.
"Pah, apa kau melihatku sekarang?" ucapnya dalam hati.
"Kenapa wajahnya tiba-tiba berubah sedih ya?" batin Mira tidak sengaja melihat wajah Darwin yang sepertinya sedang menangis.
"Tuan, sudah sampai," ucap sekretarisnya.
__ADS_1
"Ayo kita turun." Darwin langsung menggenggam tangan Mira masuk ke dalam tidak memperdulikan penolakan dari wanita itu.
"Darwin, aku bisa jalan sendiri," ucapnya pelan dan penuh hati-hati karena suasana hati dalam pria itu masih belum stabil.
"Jangan menolak karena wanita di luar sana banyak yang menginginkan aku menggenggam tangannya." Mira seketika langsung mati kutu mendengar ucapan Darwin.
"Dasar pria arogan," kesalnya.
"Jangan merutuki ku, nanti anakku yang di dalam sana mengikuti semua yang kau lakukan," tambah Darwin.
"Astaga pria ini kenapa dia tahu apa yang kukatakan?" teriaknya dalam hati.
Mereka berdua akhirnya tiba di kamar kali ini Darwin begitu posisi terhadap Mira.
"Jangan turun dari tempat tidur ini kecuali kau mau ke kamar mandi. Panggil pelayan membantumu ke sana jangan sendirian mengerti!" Mira benar-benar tercengang mendengar pesan pria ini yang begitu membuatnya kesal.
"Ya," angguknya daripada membuatnya semakin kesal." Darwin mengusap kepala Mira sebelum meninggalkannya.
"Aku mau kerja, kau beristirahat dengan memikirkan hal-hal yang lain mengerti." Mira mengangguk mengerti lalu pria itu keluar dengan wajah yang terlihat di lebih baik daripada sebelumnya.
Mira menghembuskan napasnya dia semakin ketakutan melihat kelakuan Darwin.
"Dia kenapa begitu tenang setelah kejadian itu? Apa dia tidak marah setelah mengetahui fakta orang tuanya?" batin Mira.
Namun wanita itu salah besar karena diam diam Darwin sudah melakukan rencana yang begitu matang terhadap paman Bilar dan kawan-kawannya.
Ternyata pria paruh baya itu telah sudah diberikan tempat tinggal bertanya dan di ruang bawah tanah kediaman Darwin saat ini.
"Belum mau mengakui tuan." Darwin langsung bergegas masuk ke dalam untuk melihat kondisi paman.
Hanya beliau salah satu anggota keluarganya yang hidup saat ini bagaimanapun juga, Darwin masih belum mau hidup sebatang kara.
"Paman!" panggil Darwin pelan.
"Kau? Beraninya kamu lakukan ini kepadaku Darwin? Aku hanya meminta hak perusahaan kembali atas namaku tapi kau malah menghancurkan semuanya?" bentaknya.
"Paman kehidupan yang kau jalani saat ini sudah terlalu bebas sudah saatnya kembali ke dulu. Aku sangat bersyukur sekali papah dahulu masih memberiku perintah agar tidak mengikuti cara gaya hidupmu," ucap Darwin pelan.
"Aku membenci kalian semua Darwin, sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan papah mu itu," teriaknya.
"Simpan tenagamu paman, untuk selamanya kau menghabiskan masa sisa hidupmu di sini." Paman Bilar semakin tidak terima dia memberontak untuk dilepaskan hari ini juga.
"Lepaskan aku Darwin kau tidak berhak melakukan ini kepada paman." Darwin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pamannya itu.
"Lalu bagaimana dengan papah? Aku melihatnya semua itu Paman kau dan komplotan yang sudah direncanakan aku mengetahuinya," ucapnya dingin.
"Apa?!" pekik Bilar.
__ADS_1
"Sayangnya aku sudah merencanakan ini semuanya agar engkau masuk dalam jebakan mu sendiri," tambahnya.
"Keterlaluan kau Darwin." Pria itu langsung meninggalkan ruang bawah tanah tidak peduli dengan suara teriakan paman Bilar.
"Darwin aku tidak akan pernah melupakan ini semuanya," teriaknya.
"Aku menang papah," lirih Darwin.
Pria itu kembali ke kamar memastikan keadaan Mira, sama sekali dia tidak mau meninggalkan wanitanya itu sendirian apalagi ini kejadian yang baru saja menimpa mereka berdua.
Pintu terbuka dengan lebar kedua bola matanya menyapu seluruh isi ruangan kosong.
"Apa dia ke kamar mandi?" gumam Darwin.
Pintu kamar mandi terbuka sontak Mira mundur beberapa langkah ke belakang ketakutan melihat wajah Darwin.
"Maaf, tadi aku tidak sempat memanggil pelayan," lirihnya.
"Kemarilah! Kenapa kau malah kembali masuk ke dalam?" ucapnya.
Mira patuh mereka berdua duduk di bangku panjang sambil menikmati makanan ringan yang sengaja disajikan di atas meja.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Darwin halus.
"Sudah lebih baik daripada sebelumnya," jawab Mira pelan.
"Baby?" tanya Darwin lagi.
"Dia juga." Pria itu begitu senang langsung membawa Mira masuk ke dalam pelukannya lagi.
"Kau tahu, selama ini aku tidak pernah menyukai wanita," ucapnya.
"Kenapa?" tanya Mira penasaran.
"Karena aku tidak pernah melihat wujud ibuku." Mira terkejut bukan main mendengar ucapan Darwin itu.
Mira tidak tahu apa yang akan dia katakan kepada pria dewasa itu salah sedikit bicara bisa jadi dia yang menjadi sasarannya.
"Jadi karena itu dia dulu menyakitiku," ucapnya dalam hati.
Darwin merasakan tubuh Mira yang bergetar bahkan keringat mulai dari keningnya.
"Kau kenapa?" tanya Darwin panik.
"Tidak apa-apa Darwin," jawabnya gugup.
Darwin tidak percaya apa yang dikatakan Mira karena dia mengetahui bagaimana perasaan wanita yang sudah pernah disakiti itu.
__ADS_1
"Mira, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu?" ucap Darwin pelan.
"Apa itu?" tanya Mira penasaran.