
Keesokan harinya sepasang suami istri itu terlihat canggung apalagi Mira. Wanita itu terlihat bergetar ketika hendak mengambil pakaian kerja Darwin.
"Ini pakaianmu," ucapnya.
"Terima kasih," balas Darwin sambil tersenyum.
Mira hendak keluar dari ruangan itu dicegah Darwin memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau lakukan, Darwin?!" pekik Mira.
"Tunggu aku berpakaian," bisiknya.
"Aku mau ke dapur," alasan Mira padahal tubuhnya sudah bergetar.
"Maafkan aku, apa semalam sakit." Pertanyaan itu membuat ia keringat dingin.
"Untuk apa dia bahas gituan? Dulu kan sudah pernah melakukan tapi pria ini sekarang bertanya," kesal Mira.
Darwin semakin mempererat memeluk Mira hingga akhir mereka berdua keluar secara bersamaan.
"Nanti kamu boleh tidak datang ke kantor ku?" ucap Darwin sela sarapan pagi.
"Untuk apa?" tanya Mira heran.
"Kamu belum pernah kan ke kantor ku, datang nanti ya supir jemput jam satu siang," tambah Darwin.
"Lain waktu aja," ucapnya.
"Kenapa? Kau tidak mau ya?" tanya Darwin bahkan wajahnya terlihat tidak suka Mira menolaknya.
__ADS_1
"Bukan seperti itu hanya saja aku." Darwin langsung meninggal meja makan meninggalkan Mira yang linglung.
"Dia marah," gumam Mira.
Mira mengejar Darwin hampir masuk ke dalam mobilnya.
"Tunggu!" panggil Mira sambil cegah Darwin.
"Apa?" balas Darwin ketus.
"Baik, aku akan datang." Darwin melihat wajah Mira yang gugup.
Tanpa mengatakan apapun dia masuk ke dalam mobil lalu hilang balik pagar yang menjulang tinggi.
Mira tergelak bingung bahkan pikirannya buntu melihat sikap Darwin tadi.
"Dia marah, aku pergi atau tidak ya?" batin Mira lalu jatuhkan tubuhnya di tempat tidur.
"Tuan, lima menit lagi anda melakukan pertemuan dengan grup Hale," ucap sekretarisnya itu.
"Batalkan!" balas Darwin.
"Tapi Tuan? Baik saya akan lakukan." Sekretaris itu takut hanya melihat sorot mata tajam Darwin.
Pria itu tidak melakukan apapun dari tadi pikirannya terus tertuju kepada Mira.
"Sekarang dia lagi apa?" batin Darwin sambil mengusap wajahnya berulang kali.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu Darwin melewatkan makan siang hanya menunggu Mira.
__ADS_1
Sudah lewat sepuluh Mira tidak menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya, Darwin beranjak dari tempat kebesarannya itu menuju ke mobil.
"Tuan mau ke mana? Grup Reaal sedang menunggu anda?" tahannya.
"Semua ku serahkan kepadamu." Hanya mengatakan itu Darwin langsung meninggalkan perusahaan.
Darwin membawa mobilnya kecepatan yang begitu tinggi karena sudah tidak sabar lagi melihat Mira.
Padahal wanita itu sekarang menangis sendirian dalam kamar karena memikirkan Darwin terus.
"Aku harus melakukan apa?" tangisnya.
Mira tidak menyadari kalau Darwin sudah berdiri tepat di pintu kamar mereka berdua.
"Mira?" Mira terkejut mendengar suara yang dari tadi dipikirkannya.
"Kau pulang?" pekiknya.
Mira dengan cepat langsung mengusap air matanya yang masih keluar. Darwin mendekati dengan tatapan yang begitu dingin.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.
"Darwin aku minta maaf," ucapnya takut.
"Kau harus dihukum Mira." Darwin menekan lengan Mira hingga wanita itu meringis kesakitan.
"Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi Darwin," ucapnya memohon agar tidak dihukum.
Darwin sama sekali tidak mendengar ucapan Mira justru pria itu melakukan sesuatu yang membuat Mira semakin terkejut.
__ADS_1
"Kita harus mengulangi malam kemarin Mira." Mira tertegun mendengar perkataan Darwin dan tidak menyadari tangan pria itu sudah mulai nakal.