
Mereka berdua kembali ke rumah dengan tenang tidak seperti ada masalah. Mira terlebih dahulu masuk ke dalam mendahului Darwin namun pria itu tetap tidak marah kepada Mira.
"Kalian kembali bekerja," ucap Darwin kepada pelayanannya.
"Baik tuan." Darwin menyusul Mira langsung menuju ke kamar.
Mira memperhatikan isi kamar yang terlibat berbeda daripada sebelumnya.
"Siapa yang mengganti ya?" ucapnya.
"Aku," balas Darwin.
"Kau?" tanya Mira tidak percaya karena kamar mereka berdua sangat cantik dan rapi bahkan lebih baik daripada sebelumnya.
"Ya, aku ingin suasana yang berbeda." Darwin langsung duduk di tepi tempat tidur.
Pria itu memandangi wajah Mira yang memerah, dia sangat menikmatinya.
"Aku izin mau ke kamar mandi," alasan Mira padahal dia sangat gugup karena dipandang seperti itu.
"Tunggu! Ada yang ingin kau katakan kepadamu." Mira berbalik dan menatap Darwin datar.
"Apa itu?" tanya Mira penasaran.
Darwin berdiri sejajarkan tingginya dengan Mira yang pendek.
__ADS_1
"Maafkan aku Mira. Aku tidak sengaja melakukan itu kepadamu, kalau kau ingin menghukum ku akan kuterima," ucapnya mantap.
Mira terkejut bukan main mendengar ucapan Darwin dia sekarang perlahan mulai mundur karena masih gugup.
"Aku mau sendiri," pintanya.
"Baiklah, mulai besok aku akan kembali kerja, kalau membutuhkan sesuatu hubungi saja nomer ku ini atau pelayan selalu ada bersamamu," tambahnya.
"Ya," angguk Mira lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Darwin sedikit kecewa namun dia tidak bisa melakukan apapun lalu keluar dari kamar itu.
Mira merasakan jantungnya berdebar kencang bayangkan Darwin menatapnya.
"Apa dia sudah pergi ya?" batinnya.
"Kau bodoh Darwin, terlalu larut dalam masa lalumu," sentaknya kuat.
Pria itu langsung berdiri menuju balkon untuk menghirup udara segar. Kerja sampai menatap layar monitornya membuat kepalanya pusing.
Darwin memilih untuk minum-minum mengurangi rasa sakit karena perbuatannya kemarin bersama dengan paman Bilar.
Tidak sengaja para pelayan melihat Darwin saat ini sedang mengambil sesuatu dari kantungya.
Ternyata pria itu mengambil beberapa obat untuk dilahapnya sabar bisa menenangkan pikiran yang kacau.
__ADS_1
Darwin tidak harus pikir dengan perjalanan ke rumah tangganya yang penuh cobaan.
Cukup lama Darwin menatap dari atas yang begitu indah suasana rumah ya. Berbeda dengan Mira, iya turun ke bawa untuk menemui pelayan.
"Mbak, di mana mas Darwin?" tanya ya pelan takut pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Tuan berada di dalam kamar kerja ya nona," ucap pelayan itu.
"Baik, kalian boleh kembali bekerja." Hanya seorang tidak mengetahui apa yang harus ya lakukan di rumah sebesar ini.
"Aku bosan," keluhnya.
"Sedang apa kau di sini?" Suara yang ingin sekali dijauhinya sudah berada di belakang sekarang.
"Kau?!" ucapnya gugup.
Darwin mengusap wajahnya berulang kali lalu dia mulai mendekati Mira.
"Kau mau tidak menemaniku mengelilingi taman?" tanya Darwin halus.
"Aku mau kembali ke dalam." Mira bergegas berbalik namun tiba-tiba Darwin memeluknya dari belakang.
"Jangan mengabaikanku Mira. Aku udah jujur kepadamu tentang semuanya, saat ini aku berharap kau juga sama dengan ku," lirihnya.
"Darwin aku." Darwin melakukan penyatuan dua buah ceri merah itu hingga Mira terkejut merasakannya begitu lembut.
__ADS_1
Darwin membawanya ke ruang tengah sambil merebahkan Mira di sana.
"Aku mencintaimu sayang," bisik ya pelan lalu kembali melakukan itu.