
Darwin tidak menyadari dari belakang seseorang telah memperhatikan dengan tatapan yang tidak suka. Mobil akhirnya membelah jalan raya yang cukup padat, Darwin bersemangat untuk mencari penjual martabak sampai tidak memperhatikan jalan.
Suara keras membuat seluruh pengunjung di sana terkejut bukan main.
"Astaga seseorang telah terjepit siapapun tolong dia?!" teriak pengunjung.
"Apa?" Semuanya berbondong-bondong untuk melihat kejadian itu.
"Dia sudah tidak bernapas kita harus membawa rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan yang lebih lanjut." Pengunjung dengan ramai membantu korban.
"Apa yang terjadi pak." Orang-orang disana terkejut melihat kehadiran seorang pria yang begitu tampan.
"Maaf, sepertinya saya salah sangka mengenai kejadian tadi. Memang benar itu adalah mobil yang saya parkir sengaja di sana," ucapnya.
Pria itu langsung mengemudikan kembali mobilnya dengan wajahnya terlihat bahagia sambil membawa sesuatu di tangan.
"Mira pasti menyukai martabak ini," ucapnya bahagia.
Di tempat kejadian tadi sekretaris Darwin baru menyelesaikan pekerjaannya mengurus orang yang mengikuti majikannya.
"Tuan Darwin harus lebih hati-hati mulai dari sekarang untung saja aku mengikutinya dari belakang," ucapnya sambil mengusap keningnya.
Tidak lama kemudian Darwin telah tiba di rumah namun kedua bola mata itu sama sekali kosong menyapu seluruh ruangan.
__ADS_1
"Mira? Kau di mana?" panggil Darwin.
"Pergilah Tika, Darwin sudah pulang," ucap Mira panik.
"Kau harus ingat yang kukatakan tadi Mira, pergi dari kehidupan Darwin. Pria itu sudah membuat papiku pergi jauh untuk selamanya," sentak Tika.
"Ya, akan aku lakukan seperti yang kamu katakan dan sekarang pergi jangan sampai Darwin melihat wajah mu!" Tika mengangguk ia lalu keluar dari pintu belakang.
"Mira, kau mana?" panggil Darwin lagi.
"Ya, tunggu sebentar," sahut Mira tergesa-gesa menuju ke dapur karena Darwin sudah duduk di sana.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Darwin sambil melihat wajah panik isterinya itu.
"Ayo duduklah, aku sudah membawa martabak keju." Mira menerima dengan senang hati namun selera untuk memakannya sama sekali tidak ada.
Darwin dari tadi melihat wajah Mira yang pikirannya tidak tahu kemana padahal dia sudah berada di depannya.
"Mira? Apa yang kau pikirkan?" Lamunan Mira buyar benar-benar terkejut.
"Maaf, martabak ini terlalu enak sampai aku bisa terlena dibuatnya," kekeh Mira.
"Kalau kau suka kapanpun ingin makan katakan saja kepadaku." Mira mengangguk mengerti ternyata Darwin sama sekali tidak menaruh curiga Kepadanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf Darwin," lirihnya sambil menahan kedua kakinya gemetaran.
Mereka berdua kembali ke kamar namun tiba-tiba tangan Darwin menahan langkah Mira hendak menuju kamar mandi.
"Mira," ucapnya pelan.
"Ada apa?" tanya Mira gugup.
"Aku merindukanmu," lirihnya.
"Darwin?!" pekik Mira tiba-tiba pria itu sudah meminta hak ya kembali.
Sudah lama mereka berdua tidak seperti ini membuatnya merinding dan ketakutan. Darwin berusaha keras untuk membuat Mira melupakan semua kelakuannya dahulu.
"Rileks sayang," bisik Darwin.
"Dia menyebut ku sayang?!" batin Mira.
Darwin kembali melakukan itu dengan lembut tidak mau membuat baby dan Mira kesakitan. Suara indah tiba-tiba memenuhi ruangan itu sampai mereka berdua melupakan waktu terus berputar dengan cepat.
"Darwin, aku sudah tidak kuat," ucap Mira.
Sudah tidak tahu berapa kali Mira melepaskan cairannya yang begitu banyak karena Darwin pintar melakukannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang, tahan ya," ucap Darwin lalu memasukkan benda pusaka ya itu ke tempatnya.