Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster

Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster
#11 Bertemu Dengan Orang Tua Di Dalam Mimpi


__ADS_3

..."Selamat Membaca"...


Kesepakatan yang di inginkan Flora untuk


memberikan pelajaran pada Alex sudah terpenuhi. Dia juga memberikan setengah dari bayarannya pada Perdi dan sisanya akan dibayarkan setelah mendapatkan kabar bagus darinya.


Keesokan harinya...


Seperti biasa, bila tidak ada kegiatan apapun Alex selalu ingin bangun siang. Di kehidupannya yang sekarang, dia tidak perlu memikirkan masalah keuangan ataupun hal mengenai harta kekayaan, karena sudah memiliki banyak perusaan atas namanya sendiri di setiap wilayah negara Indonesia.


Namun hanya satu hal yang selalu dia pikirkan, yakni pesan dari ibunya sebelum meninggal. Dia diharuskan menjadi lulusan terbaik dalam perkuliahannya, dan setelah itu mencari istri sebagai pelengkap hidupnya. Sampai akhirnya diapun bermimpi yang secara tiba-tiba sudah lulus dari kuliahnya.


Semua orang tua murid berkunjung ke akademi elit yang berada di ibukota, beserta anggota keluarga lainnya untuk memberikan selamat atas kelulusannya pada anak-anak mereka. Dari kejauhan, Alex menatap mereka dengan perasaan senang serta rasa iri yang sangat besar. Dia juga melihat banyak sekali orang yang mengabadikan hari kebahagiaan mereka melalui kamera, dan tentunya hal ini membuat dirinya semakin bersedih.


"Ternyata, begitu menyakitkan ketika kehilangan ayah dan ibu dalam hari-hari seperti ini. Jadi inilah rasa kesepian yang harus aku jalani tanpa adanya keluarga. Sungguh hal ini sangat menyakitkan bagiku dalam hidupku." gumam Alex sambil menatap langit dan tidak sengaja mengalirkan air matanya hinga membasahi kedua pipinya.


Tidak lama setelah itu, Salim dan Aqila berjalan ke arahnya sambil menyapa Alex yang tengah berdiam diri di pojok halaman akademi dengan raut wajah sedih.


"Selamat atas kelulusannya tuan muda!" ucap mereka berdua secara bersamaan.


"Emm... Tuan muda, kenapa anda menangis? Bukankah seharusnya anda merasa bahagia atas kelulusannya?" lanjut Aqila dengan bertanya.


Seketika Alex sangat terkejut atas kedatangan mereka berdua, lalu dengan cepat dia mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Hah?! Apa? Ma-mana mungkin aku menangis?" ucap Alex sambil menggosok kedua matanya.


"Jelas-jelas saya melihat kalau anda menangis sambil menatap langit dan raut anda menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam." jawab Aqila sambil menunjuk ke arah wajah Alex.


"Ahh, mataku hanya kemasukan debu yang besar, jadi sudah sewajarnya menangis bukan? Coba saja kalau mata kamu kena debu, pasti akan terjadi hal yang sama denganku?" jawab Alex dengan membuat alasan, lalu dia balik bertanya pada Aqila.


"Bila seperti itu, mungkin saya akan menggunakan obat tetes mata dan tidak akan membiarkannya membasahi kedua pipiku terlalu lama." jawab Aqila dengan begitu mudah.


"Haaaa.... Benar-benar susah untuk mengelak dari dia, padahal aku adalah tuannya tapi tidak pernah menang darinya ketika sedang berdebat." gumam Alex dalam hatinya sambil memegang dahinya menggunakan telapak tangan kanan. "Apakah kau juga berpikiran yang sama salim?" lanjutnya sambil menatap salim dari sela-sela jari tangannya.


"Ahhh, aku berpikir kalau tuan muda itu terharu atas kelulusannya." jawab salim sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya benar, aku itu terharu atas kelulusanku!" ucap Alex dengan sangat senang, dan berpikir kalau salim sangat pengertian untuk menutupi rasa malunya.


"Tapi, tetap saja raut wajah tuan muda tadi, tidak menunjukkan rasa terharu dan bisa dibilang kalau anda telah menangis." ucap Salim dengan melanjutkan perkataan tadi.


"Ughh... Ternyata aku terlalu meninggikannya dan akhirnya sama dengan pemikiran Aqila." gumam Alex sambil mengeluarkan hamster kesukaannya. "Jadi, pikiranmu tetap sama dengan Aqila, bahkan kau sama sekali tidak bisa membelaku meski kita itu sama-sama lelaki." lanjutnya sambil tersenyum lebar, hingga menunjukkan gigi putihnya.


"Glek"


"A-anu... tuan muda! Tu-tunggu dulu, bukan seperti itu maksudku..." pinta Salim dengan sangat memohon dan melihat kalau Alex membalikkan badannya, lalu membuka ransel kecil miliknya.


Setelah itu, Alex mengeluarkan hamster miliknya sambil diperlihatkan pada Salim, tepat di wajahnya. Seketika seluruh tubuhnya mulai merinding, dan raut wajahnya terlihat sangat suram.


"Sepertinya hamster ku ingin bermain denganmu paman Salim! He... He... He...!" ucap Alex sambil mendekatkan hamster miliknya pada Salim, dengan tertawa bengis.


"Arrrggggg!" teriak Salim sambil berlari menjauhi Alex.


"Jangan lari! Cepat berhenti!" pinta Alex sambil mengejar Salim.


"Tidaaaakkk! Jauhkan dulu tikusnya, baru saya akan berhenti tuan muda!" jawab Salim sambil terus berlari memutari halaman akademi.


"Hah? Seharusnya kau yang berhenti, karena aku adalah tuanmu! Cepat berhenti dan terima hukumanmu!" pinta Alex dengan menambah kecepatan larinya.


"Memang benar kalau Aqila yang terlebih dahulu memulainya, tapi pemikiran paman Salim sama seperti Aqila meski kita itu sama-sama lelaki. Jadi cepat berhenti dan terima hukumanmu!" pinta Alex sambil berlari mendekati Salim.


Pada saat Alex hendak menangkap Salim, secara tiba-tiba dia disuruh berhenti berlari dan mengenai suaranya sudah tidak asing lagi bagi dirinya.


"Nak, tidak baik memperlakukan orang yang lebih tua darimu seperti itu!" pinta Ibu Alex yang telat datang berkunjung.


"Hahaha, senang sekali melihat dirimu tumbuh besar seperti ini, bahkan semangat mu untuk berolahraga sangat tinggi." sambung ayahnya dengan raut wajah senang, ketika melihat anaknya.


Setelah mendengar suara tersebut, seketika Alex menghentikan langkah kakinya lalu dia menoleh ke asal suara tersebut. Tanpa terasa, kedua matanya berlinang, dan meneteskan air mata hingga membasahi kedua pipinya.


"A-ayah... I-ibu... Mengapa kalian masih..." ucap Alex dengan nada lemah, dan tidak bisa menghentikan air matanya.


Kemudian kedua orang tuanya mulai berjalan mendekatinya, lalu salah satu tangan mereka menyentuh pundak Alex sambil mengucapkan selamat.

__ADS_1


"Selamat atas kelulusanmu nak!" ucap kedua orang tuanya secara bersamaan.


Mendengar ucapan seperti itu, secara spontan Alex memeluk mereka berdua dan melampiaskan semua kerinduannya.


"Iya... Ayah... Ibu... Terimakasih telah datang dalam acara kelulusanku. Selama ini aku sangat merindukan kalian, dan merasa kesepian di setiap harinya. Namun aku sangat bersyukur, pada akhirnya bisa bertemu dengan ayah dan ibu." ucap Alex dengan nada lemah, lalu dia mengeratkan pelukannya.


"Iya, ibu juga sangat merindukanmu nak. Jagalah dirimu sebaik mungkin dan jauhi hal yang sangat merugikan diri sendiri ataupun orang-orang yang berada di sekitarmu." jawab ibunya sambil mengelus pundaknya.


"Pertumbuhanmu sangat bagus nak, baru kali ini aku memegangnya. Hahaha... Jagalah makananmu dan rajinlah berolahraga supaya daya tahan tubuhmu selalu kuat." sambung ayahnya.


"Iya, aku mengerti dengan apa yang kalian ucapkan. Akan tetapi mengapa ayah dan ibu mengucapkan seolah-olah kita akan berpisah?" tanya Alex.


"Seperti yang kamu tau sebelumnya, kami berdua sudah tidak lagi bersamamu." jawab ayahnya dengan mewakili pembicaraan sebagai seorang kepala keluarga.


Mendengar perkataan seperti itu, seketika Alex membuka matanya dan melihat kedua orang tuanya sudah berubah menjadi butiran cahaya.


"Tidak... Tidak... Padahal baru beberapa detik saja kita bertemu, namun kenapa kalian berdua begitu cepat perginya?" tanya Alex dengan tidak terima, ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.


"Takdir tidak bisa di ubah Nak, jadi ingatlah sebelum bertindak berpikirlah dengan matang, supaya nantinya kamu tidak menyesal." Pinta ibunya sambil memberikan nasihat padanya.


"Jangan lupa, teliti dalam memilih pasangan sebagai pelengkap hidupmu. Tidak harus yang begitu cantik, tidak harus yang begitu kaya, tidak harus seorang bangsawan atau orang yang berpendidikan, namun setidaknya seorang istri memiliki sifat yang baik, sopan santun dan saling pengertian." sambung ayahnya. "Namun keputusan itu hanya berada di tanganmu nak, kami selaku ayah dan ibumu hanya bisa menasihati mu saja." lanjutnya dengan menegaskan.


"Iya, aku mengerti dan aku akan selalu memberikan yang terbaik." jawab Alex sambil mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya.


"Terimakasih nak." jawab kedua orang tuanya secara bersamaan.


Setelah mendengar ucapan terimakasih dari orang tuanya, seketika Alex terbangun dari tidurnya.


"Ternyata ini hanyalah mimpi..." gumam Alex dalam hatinya, sambil menaruh lengan kanan hingga menutupi kedua matanya. "Tapi, meskipun ini hanya mimpi, aku sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan kalian berdua." lanjutnya sambil menangis.


...Bersambung......


...{Pemberitahuan Update}...


...Untuk sementara up eps terbaru akan dilakukan 2 hari 1x. Jangan lupa untuk singgah pada novel Lahirnya Penguasa Kegelapan S2, sudah mulai up lagi lohh!!! 😊...

__ADS_1


...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini serta saran dan bantuannya agar lebih semangat untuk crazy up. Pendapat anda sangat berharga bagi pemula seperti saya....


...Terimakasih 🙏...


__ADS_2