
...*Selamat Membaca*...
Kemunculan kelima gadis kembar di taman bermain, membuat Alex sangat terkejut. Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mengenai alasan mereka berada di tempat yang sama dengannya.
"Mengapa kalian berada disini?" tanya Alex sambil menatap kelima gadis kembar di hadapannya.
"Kebetulan saja kami melewati jalan ini, dan dari kejauhan kami melihat kamu sedang berbicara dengan salah satu pihak kepolisian. Jadi maksud kedatangan kami itu..." jawab Emilia dengan lembut, namun perkataannya disela oleh Alex.
"Maaf, sekarang aku tidak ada waktu untuk membahas masalah yang terjadi di dalam akademi." sela Alex dengan raut wajah yang tidak karuan.
"Ahh... Kami tidak bermaksud untuk membahas masalah yang waktu itu, kami hanya datang karena mendengar kalau salah satu anak dari panti asuhan ini telah hilang." ucap Emilia dengan menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku sangat menghargai bantuan dari kalian, namun hal ini tidak perlu dilakukan karena aku sendiri yang akan turun tangan mencari Olivia." jawab Alex dengan raut wajah serius.
"Benarkan apa yang tadi kubilang, seharusnya kita tidak ikut campur dengan masalah yang dia hadapi. Pada akhirnya dia menolak bantuan dari kita." ucap Flora dengan kesal.
"Mmm... Kak Alex, bila mereka itu adalah temanmu, seharusnya kamu tidak perlu berkata seperti itu. Semua gadis muda ini sangat cantik dan hatinya juga sangat baik, setidaknya kamu harus menerima bantuan dari mereka." ucap salah satu pengurus panti asuhan sembari menenangkan Alex yang dipenuhi dengan kekesalan.
"Hah... Terserah apa yang ingin kalian lakukan." jawab Alex sambil berjalan menjauhi semua orang. Namun ketika dia mendekati Flora, dengan sengaja Alex berbisik kepadanya. "Semoga saja hal ini tidak ada hubungannya denganmu." lanjutnya dengan nada marah, dan sorotan mata yang dipenuhi oleh niat membunuh.
Seketika seluruh tubuh Flora merinding ketakutan, namun dia menahannya dengan sekuat tenaga karena tidak ingin saudarinya bertanya tentang apa yang barusan dibicarakan olehnya.
"Apa-apaan dengan tatapannya itu? Entah mengapa seluruh tubuhku tidak bisa bergerak, seolah-olah ada sesuatu yang mencengkram tubuhku." gumam Flora dalam hatinya sambil menoleh Alex yang berjalan menjauh untu keluar dari taman bermain.
"Ada apa denganmu Flora? Kenapa wajahmu terlihat pucat?" tanya Stela.
"Ahh, tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja kalau dia itu sangat keras kepala. Ahaha" jawab Flora sambil tertawa dan menyembunyikan fakta yang terjadi dengannya. "Ah tunggu, kalau dia berkata seperti itu, berarti dia sudah tahu kalau akulah yang menyuruh mereka untuk memberikan pelajaran padanya." lanjutnya dengan berpikir kalau Alex telah salah faham mengenai anak yang hilang itu sama sekali tidak berhubungan dengannya.
Tidak lama setelah itu, Emilia mencoba menghubungi ayahnya yang sedang berada di markas pusat pertahanan negara, sedangkan saudari yang lainnya menghibur anak-anak supaya tidak bersedih dan yakin kalau temannya bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Sudah ketiga kalinya Emilia menghubungi ayahnya, namun tetap saja panggilannya tidak di jawab. Akan tetapi, ketika Emilia akan menyimpan HP kembali ke dalam tas, ayahnya balik menghubungi dirinya.
"Maaf, Emilia... Tadi ayah tidak menjawab panggilanmu karena sedang rapat bersama para petinggi lainnya." ucap Ayah dari kelima gadis kembar yang bernama Zaenal Alfian dan memiliki jabatan sebagai jendral tertinggi di negara Indonesia.
"Iya ayah, tidak apa-apa. Oh ya ayah, aku ingin meminta bantuan darimu untuk mencari seseorang!" pinta Emilia pada ayahnya.
"Seseorang? Apakah itu berarti Emilia sudah mempunyai pasangan?" tanya ayahnya dengan terkejut.
"Bukan itu ayah." jawab Emilia, lalu dia menceritakan kejadian tersebut secara singkat pada ayahnya.
Emilia mengatakan kalau di taman bermain salah satu anak dari panti asuhan telah hilang, dan kebetulan orang yang menjadi adalah temannya yang bernama Alex. Mendengar nama tersebut, Zaenal terdiam dan berpikir kalau nama tersebut sudah tidak asing lagi baginya.
__ADS_1
Tanpa membuang banyak waktu, Zaenal langsung menanyakan nama lengkapnya pada Emilia. Namun sangat disayangkan kalau dia sama sekali tidak tahu nama lengkapnya, karena di hanya menyebutkan nama depannya saja.
"Bila nama lengkapnya adalah Alex Zenifer, berarti dia adalah orang yang selama ini aku cari." gumam Zaenal dalam hatinya. "Baiklah Emilia, ayah akan membantu namun jangan lupa untuk menanyakan nama lengkapnya." lanjutnya.
"Ehh, kenapa aku harus melakukan hal itu, memangnya apa ada hubungannya dengan ayah?" tanya Emilia dengan sangat terkejut karena diminta untuk menanyakan nama lengkapnya.
"Suatu saat ayah akan memberitahu kalian semua, bila nama lengkapnya sama dengan yang ayah pikirkan. Beritahu temanmu kalau ayah sudah menyuruh kepala Polisi setempat untuk berusaha keras mencari anak yang hilang tersebut, dan jangan lupa untuk menanyakan nama lengkapnya." jawab ayahnya dengan memberi sedikit penjelasan.
"Sepertinya aku harus menunggu dirinya kembali kesini, karena dia bersikeras untuk pergi mencari anak yang hilang itu." jawab Emilia dengan memberitahu kalau Alex tidak berada di tempa yang sama dengannya.
"Dilihat dari tingkah lakunya, tidak salah lagi kalau itu benar-benar dia." gumam Zaenal dalam hatinya dengan merasa yakin. "Baiklah, kalau begitu ayah lanjut kerja kembali dan sampai nanti." lanjutnya sambil menutup HP nya.
"Ayah tunggu..." pinta Emilia, namun komunikasi sudah ditutup. "Aku lupa bilang, kalau uang jajanku sudah hampir habis." lanjutnya dengan mengeluh.
Disisi lain, Zaenal sangat senang setelah mendengar kalau orang yang selama ini dia cari mempunyai hubungan dengan salah satu putrinya. Sesaat dia teringat dalam masa-masa sulitnya sebelum mencapai kedudukan jendral tertinggi negara.
4 tahun sebelumnya...
Pada saat itu, pihak kepolisian mendapatkan beberapa laporan dari masyarakat, mengenai kejahatan yang dilakukan oleh para gangster. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pihak kepolisian untuk mengamankan setiap daerah tersebut dari amukan para gangster.
Namun pihak kepolisian sangat kewalahan karena para gangster dari setiap daerah berkumpul menjadi satu kelompok, dan menyerang secara bersama-sama. Kerugian besar di alami oleh pihak kepolisian dalam bentrokan tersebut, dikarenakan semua gangster membawa senjata tajam.
Tanpa berpikir panjang, pemimpin negara akhirnya memberikan perintah pada para tentara untuk segera pergi membantu pihak kepolisian, dan memperbolehkan mereka menggunakan senjata dengan peluru karet. Pemimpin negara juga berharap, kalau dalang di balik kejadian tersebut bisa ditangkap hidup-hidup, karena motif dari kerusuhan tersebut masih belum diketahui.
Setelah itu, para tentara membagi pasukannya ke dalam beberapa kelompok dengan jumlah 100 orang. Salah satu dari kelompok tentara tersebut di pimpin oleh Zaenal yang baru saja diangkat sebagai kapten dan kelompoknya ditugaskan untuk menangani wilayah jakarta selatan.
Sesampainya disana, suasana di daerah tersebut sangatlah kacau dan terlihat seperti sebuah kota yang ditinggalkan oleh penghuninya. Tanpa berpikir panjang, Zaenal langsung memberi perintah pertama pada pasukannya untuk mengevakuasi masyarakat terlebih dahulu ke tempat yang aman, lalu setelah itu mencari para gangster yang masih berada di tempat tersebut.
Dengan spontan, semua pasukannya langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh Zaenal, akan tetapi mereka semua tidak sadar kalau para gangster tersebut sedang menunggu kedatangannya. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah ke depan, para gangster tersebut langsung melemparkan bom asap pada kelompok Zaenal.
"Whosshh"
Menyadari adanya penyergapan, Zaenal meminta pada pasukannya untuk bersiaga dan menyiapkan senjata yang berisi peluru karet. Namun Zaenal terlambat satu langkah, karena semua para gangster yang berjumlah lebih dari 1000 orang langsung menghajar semua pasukannya hingga tidak sadarkan diri termasuk dirinya.
Zaenal beserta pasukannya dibawa ke tengah-tengah lapangan, lalu mengikat tangan dan kakinya dengan erat. Disana pemimpin dari gangster tersebut muncul sembari membawa bilah pedang panjang, lalu di arahkan pada leher Zaenal.
"Dilihat dari seragam yang dikenakan olehmu, aku sangat yakin kalau kau adalah seorang pemimpin dari kelompok ini." ucap pemimpin gangster tersebut, sambil mengiris leher Zaenal hingga berdarah.
"Iya, itu benar. Bila memang aku yang kau inginkan, maka lepaskan semua bawahanku." jawab Zaenal dengan berani.
"Hahaha, meskipun aku mengiris lehermu hingga berdarah, kau sama sekali tidak takut. Aku salut padamu sebagai seorang pemimpin." jawab pemimpin gangster dengan tertawa serta memuji keberanian Zaenal.
__ADS_1
"Langsung saja ke intinya, apa yang sebenarnya kau inginkan? Dan mengapa kalian semua harus melakukan hal seperti ini?" tanya Zaenal sambil menatap wajah ketua gangster tersebut.
"Haaaa... Berani sekali kau menyuruh ku!" ucap pemimpin gangster tersebut sambil menendang Zaenal.
"Buuukkk"
Seketika Zaenal langsung membungkukkan setengah badannya, karena tendangan dari pemimpin gangster tersebut mengenai perutnya.
"Uuggghhh"
"Hah, baiklah... Baiklah... Bila kau ingin tahu apa tujuanku melakukan hal ini, maka akan ku beritahu semuanya. Aku melakukan semua ini karena ingin menjadi seorang penguasa yang ditakuti oleh semua orang, dan juga ini adalah salah satu hobiku untuk menguasai negara ini. Tapi bila ada orang yang melawan, sudah pasti aku akan membunuhnya tanpa ragu seperti 5 orang tadi sebelum kalian datang." lanjut pemimpin gangster tersebut.
"Siapa 5 orang itu? Apakah mereka dari orang-orang penegak hukum sepertiku atau siapa?" tanya Zaenal dengan sangat penasaran akan siapa yang sudah dibunuh olehnya.
"Banyak sekali pertanyaan yang ingin kau sampaikan, namun aku akan menjawab semuanya dan anggap saja ini pembicaraan terakhir kita sebelum kalian semua mati di tempat ini." ucap pemimpin gangster tersebut sambil menginjak pundak Zaenal. "Orang yang tadi kubunuh bukanlah salah satu dari kalian ataupun pihak kepolisian, melainkan masyarakat yang tinggal disini karena mereka menentang keinginanku. Hahahahaha... Sungguh senangnya mendengar tangisan dan jeritan dari mulut mereka, namun pada akhirnya mereka terdiam karena sudah mati akibat kehabisan darah. Hahahaha..." lanjutnya dengan menjawab pertanyaan Zaenal.
"Dasar biadab, beraninya kalian melakukan hal itu pada orang-orang yang tidak bersalah! Dasar sinting, kau sama sekali tidak punya hati dan tidak berpikir kalau kita semua adalah satu bangsa yang lahir di negara ini!" teriak Zaenal dengan berusaha melepaskan semua ikatannya.
"Ya... Ya... Mengoceh lah selagi bisa, namun maaf saja sudah waktunya kalian semua mati." ucap pemimpin gangster tersebut sambil menyuruh bawahnya untuk membungkam mulut Zaenal.
Sebagian bawahan dari gangster tersebut mulai bersiap-siap untuk mengeksekusi Zaenal beserta pasukannya. Akan tetapi ketika mereka hendak mengeluarkan pedang panjang dari sarungnya, secara tiba-tiba sebuah kelompok yang berjumlah 10x lipat dari mereka mulai mengelilinginya.
"Bila masih sayang dengan nyawa kalian, segera lepaskan mereka." teriak seseorang dengan lantang dan suara tersebut seperti anak yang berusia 16 tahun.
"Siapa kau? Cepat tunjukkan dirimu kalau berani? Jangan hanya berdiam diri di belakang orang-orang ini!" ucap pemimpin gangster, dengan perasaan waspada.
"Syukurlah bala bantuan sudah tiba, jadi aku tidak perlu khawatir lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya." gumam Zaenal dalam hatinya dengan sangat senang.
Secara spontan, kelompok yang berjumlah 10 ribu orang memberikan jalan pada orang yang baru saja berteriak. Tanpa terduga seorang anak yang berusia sekitar 16 tahun mulai berjalan ke depan, lalu berhenti tepat di hadapan pemimpin gangster tersebut.
"Apa jawabanmu mengenai perkataanku tadi? Dan ingatlah satu perkataan yang keluar dari mulutmu itu menentukan semuanya." ucap Alex Zenifer dengan lantang dan sorotan mata yang tajam.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...insyaallah author akan up episode terbaru setiap hari pada pukul 21.00 WIB. Author berharap pada para pembaca semua untuk memfavoritkan novel ini, supaya kelanjutannya tidak ketinggalan....
...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini. Karena hal seperti inilah yang membuat para author sangat bahagia, terutama bagi saya....
...Terimakasih 🙏...
__ADS_1