
...*Selamat Membaca*...
Pengejaran yang dilakukan oleh Alex, masih terus berlanjut. Dan kini dia memiliki sebuah senjata berupa pistol dengan kapasitas 12 peluru, yang dipinjam dari salah satu pihak kepolisian. Salim yang mendengar perkataan darinya secara langsung, seketika dia merinding ketakutan.
Begitu juga dengan Aqila yang berada di sebelahnya, dia juga merasakan hal sama setelah diberitahu Salim kalau Alex memiliki sebuah senjata dalam genggaman tangannya.
Secara spontan Aqila hendak pergi keluar untuk menyusulnya, karena bila dibiarkan kemungkinan besar kejadian terburuk di masa lalu akan terulang kembali, serta kehidupannya bakalan berubah lebih dari waktu itu. Sebelum berangkat, Aqila juga meminta bantuan pada Salim untuk terus menunjukkan posisi Alex lewat video call yang sekarang sedang berlangsung.
"Semoga aku tidak terlambat untuk mencegah hal itu terjadi." gumam Aqila dalam hatinya, sambil menaiki salah satu mobil sport yang berada di kediaman Alex.
Di sisi lain...
Ketiga dari ketua wilayah yang dipanggil oleh Alex, sebentar lagi sampai pada tempat yang sudah ditentukan. Mereka bertiga berpencar sembari membawa bawahannya yang masing-masing berjumlah 10 ribu orang.
Yang pertama sampai ke salah satu tempat itu adalah Rifan. Sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Alex, dia menyuruh 250 orang bawahannya untuk mengecek gudang besar terbengkalai itu, dan segera melapor bila ada sesuatu yang mencurigakan.
Dengan spontan, ke 250 orang itu mengecek semua isi bangunan, baik bagian luar ataupun dalam. Lebih dari 15 menit waktu yang dihabiskan, mereka semua melapor bahwa tidak ada seorangpun yang berada disana, serta sudah dipastikan kalau tempat itu lama ditinggalkan. Mendengar hal itu dari para bawahannya, Rifan dengan segera menelpon Aqila untuk menyampaikan hasil dari pemeriksaaan nya.
"Dred... Dred... Dred..."
"Ya, ada apa Rifan?" jawab Aqila, sambil bertanya mengenai keperluannya.
"Aku sudah berada di gudang besar yang terbengkalai, tapi tidak ada sedikitpun yang mencurigakan." tanggap Rifan dengan memberikan laporan dari hasil penyelidikan nya.
"Baiklah, lalu..." ucap Aqila, namun perkataannya terhenti, karena ada panggilan masuk lain yang berasal dari Fadil. "Sebentar, akan ku sambungkan dengan yang lainnya." lanjutnya dengan menghubungkan kedua panggilan tersebut.
"Aku sudah berada di sebuah Villa tua, dan tapi tidak ada seorangpun yang mencurigakan di tempat ini. Memang ada keluarga yang menempatinya, tapi mereka sama sekali tidak terlihat seperti orang jahat. Bahkan keluarga itu membagikan beberapa makanan padaku, sebagai tanda terimakasih karena telah memperbaiki atap yang rusak." jawab Fadil dengan senang.
"Ini bukannya untuk bersenang-senang dasar kau tukang makan!" tanggap Rifan dengan kesal atas kelakuan Fadil.
"Hah? Ngiri ya aku mendapatkan makanan sedangkan kau tidak!" jawab Fadil
"Berhentilah bersikap seperti anak kecil, jadinya aku tidak fokus dalam berkendara!" pinta Aqila pada mereka berdua. Seketika mereka berdua terkejut setelah mendengar kalau Aqila sedang mengemudi.
"Kemana kau akan pergi Aqila?" tanya mereka berdua secara bersamaan.
Baru saja Aqila meminta mereka untuk berhenti bersikap seperti anak kecil, mereka berdua kembali ribut dalam telpon mengenai perebutan orang pertama yang bertanya pada Aqila.
Hal ini tentu saja membuat Aqila semakin kesal, dan berniat menutup telponnya tanpa berpamitan. Namun ketika dia hendak melakukan hal itu, secara tiba-tiba panggilan lain masuk dan kali ini berasal dari Reza.
"Kalian berdua diamlah!" pinta Aqila, lalu secara langsung menghubungkan nya dengan telpon dari Reza. "Langsung saja ke intinya Reza!" lanjutnya karena mengira kalau pemeriksaan nya bakalan sama dengan yang lainnya.
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi, Reza menceritakan secara singkat mengenai penyelidikan di dermaga yang baru-baru ini ditinggalkan. Dari kejauhan Reza melihat kalau tempat itu dijaga dengan cukup ketat, namun orang-orang itu bukan berasal dari pemerintahan, melainkan dari kelompok penjahat.
Sepintas Aqila bertanya mengenai kesimpulan yang sudah dibuat olehnya, yang menyatakan kalau mereka itu kelompok penjahat. Reza pun langsung menjawab pertanyaannya, hal ini dikarenakan sebuah tato yang berada di lengan kanan dan semuanya sama dengan yang lainnya.
"Yah, bisa dibilang ini masih meragukan. Tapi sesuai dengan perkataan ketua, kita diperbolehkan bertindak apabila menemukan sesuatu yang mencurigakan!" ucap Reza untuk mengakhiri pembicaraan nya.
"Ya, lakukanlah sesukamu, lagian tuan muda juga sudah bilang seperti itu." tanggap Aqila.
Kemudian Reza menutup telponnya tanpa berkata apapun lagi. Dia bersama beberapa bawahannya mencoba untuk berbicara dengan orang-orang itu, dan hanya 5 orang yang diperbolehkan ikut dengannya, lalu sisanya menunggu sambil bersiap untuk bertempur.
"Haih, ngiri banget aku jadinya, kalau si Reza itu bisa beraksi sedangkan aku tidak!" gumam Rifan dengan sangat sedih.
"Hahaha... Itu dirimu yang iri sedangkan aku tidak." tanggap Fadil dengan menertawakannya.
"Hah, kalian berdua benar-benar membuat fokusku jadi hilang dalam berkendara. Sebaiknya tunggu perintah selanjutnya, karena sekarang aku sedang menyusul tuan muda sebelum hal buruk terjadi." ucap Aqila dengan memberitahukan sedikit kondisi yang sedang di alami oleh Alex.
Mendengar perkataan seperti itu, mereka berdua terkejut lalu bertanya dengan beragam pertanyaan yang ditujukan langsung pada Aqila. Hal ini pun membuat dirinya semakin kesal, lalu dia menceritakan kembali dengan lebih jelas.
"Ugghh... Kalian berdua membuatku sangat kesal. Jadi diam dan akan kuceritakan intinya!" pinta Aqila, lalu seketika pun mereka berdua langsung diam. "Saat ini, sebuah senjata api berada di genggaman tangan tuan muda. Apakah kalian melupakan kejadian terbesar pada saat tuan muda memegang senjata hah?" lanjutnya dengan bertanya mengenai kenangan buruk yang disaksikan bersama semua orang.
"Ka-kalau mengenai hal itu, sampai sekarang pun aku tidak pernah melupakan kejadian itu." jawab Rifan.
"Maka dari itulah, sesegera mungkin aku harus mengejar tuan muda, sebelum benar-benar membunuh seseorang." tanggap Aqila mengenai perkataan mereka berdua. "Sampai disini dulu, kalian tunggulah diposisi masing-masing dan nantikan perintah selanjutnya dari tuan misa." lanjutnya dengan memberikan perintah, lalu menutup telponnya. Mereka berdua langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh Aqila dengan posisi sebagai salah satu penasihat gangster White Tiger.
Disisi lain, di sebuah dermaga...
Reza beserta kelima orang yang mengikutinya mencoba untuk masuk ke dalam dermaga itu lewat pintu depan yang dijaga oleh 10 orang. Dalam pandangan nya mereka itu tidak terlihat sedang berjaga, malahan sedang bersantai minum segelas kopi sembari merokok.
"Hoh, jadi mereka melakukan cara seperti ini untuk mengelabui kecurigaan dari semua orang yang melewati daerah ini." gumam Reza, lalu mengubah rencananya dengan berjalan melewati mereka semua.
"Tap... Tap... Tap..."
Seketika, semua penjaga yang berjumlah 10 orang itu terus memperhatikan Reza beserta kelima orang yang mengikutinya. Sesuai dugaannya, mereka itu sama sekali tidak melakukan pergerakan yang mencurigakan karena tugas nya hanyalah untuk memperhatikan situasi dan melaporkan bila ada kejadian buruk.
"Sepertinya, tempat ini ada hubungannya dengan orang yang sedang diincar oleh ketua." gumam Reza dalam hatinya, lalu dia menghentikan langkah lakinya sambil menatap mereka. Respon yang cepat pun langsung diperlihatkan oleh 10 penjaga tersebut. Mereka semua yang tadinya sedang duduk kini berdiri dengan kewaspadaan.
"Hei, kawan!" sapa Reza dengan berjalan mendekati salah satu dari mereka.
"Kawan? Kenapa kau memanggilku dengan sok akrab?" tanya salah satu orang yang menjadi pemimpin dari penjagaan tersebut.
"Ayolah, jangan seperti itu. Aku hanyalah seorang pendatang yang baru tiba disini." jawab Reza sambil berusaha untuk mendekati nya.
__ADS_1
"Pergilah ke tempat lain, disini bukanlah tempat bagi pendatang baru seperti kalian." tanggap orang itu sambil membujuk Reza beserta bawahannya untuk segera pergi. Mendengar perkataan seperti itu, kecurigaan Reza semakin jelas kalau ada sesuatu di tempat ini yang sedang disembunyikan oleh mereka.
"Halah, susahnya di ajak bicara, untung saja aku bukan orang pelit." tanggap Reza sambil mengeluarkan sejumlah uang beberapa juta dari sakunya. "Aku cuma ingin bertanya mengenai sesuatu yang dapat dibeli seperti obat-obatan itu, atau barang-barang berharga dan aku tidak peduli hal itu mengacu pada manusia." lanjutnya dengan niat memancing mereka.
"Tanya pada yang lain saja." jawab orang itu dengan menolak pemberian uang dari Reza.
"Kalau begitu, bagaimana dengan kalian? secara gratis uang ini akan menjadi milik kalian!" tanya Reza pada orang lainnya yang berada di tempat itu.
"Hah, jangan pikir bawahan dari kelompok ku bisa diajak ngobrol. Mereka sudah dilatih olehku secara pribadi untuk tidak menerima uang dalam jumlah..." gumam orang yang menjadi pemimpin dari orang tersebut, namun perkataannya tidak diteruskan karena semua bawahannya berkumpul di sekitar Reza. "Ahh, yang benar saja, kalian ini bukankah sudah ku didik untuk tidak menerima uang dari orang yang tak dikenal!" lanjutnya dengan sangat terkejut.
"Memang benar kami di didik secara pribadi oleh anda boss." ucap salah satu bawahan nya itu.
"Tapi ini uang yang sangat banyak, bahkan jumlahnya jutaan." sambung bawahan lainnya.
Melihat tindakan yang mereka lakukan, membuat pemimpin dari kelompok penjaga itu mulai berpikir. Memang sebelumnya ada beberapa orang yang ingin bertanya pada mereka sambil memberikan sejumlah uang, tapi tidak banyak dibandingkan dengan orang yang berada di hadapannya sekarang.
"Ehemm..." ucap pemimpin tersebut dengan berubah pikiran, lalu berjalan mendekati Reza. "Biarkan aku yang melakukan pembicaraan dengannya." lanjutnya.
"Hoo, jadi kau sudah berubah pikiran ya kawan." tanggap Reza dengan tersenyum lebar, karena rencananya berjalan mulus.
"Kalian tetaplah di sini, aku akan berjalan sebentar ke depan." pinta orang itu pada bawahannya. "Mari kita berjalan sedikit ke depan dan bawa teman-teman mu itu. Soalnya disini ada orang yang sedang mengawasi." lanjutnya sambil mengajak Reza beserta bawahannya untuk menjauh dari jarak pandang kamera pengintai.
"Hahaha... Dengan senang hati kawan." jawab Reza sambil mengikuti nya berjalan.
"Hei, apakah uangmu itu masih banyak? Aku ingin bayarannya sama rata dengan anak buahku!" tanya orang itu dengan berbisik.
"Tentu saja kawan, selain itu juga aku punya uang lebih untukmu. Jadi jangan khawatir, begini juga aku itu orang kaya yang dermawan." jawab Reza dengan balik berbisik sambil mendekatkan dirinya seperti teman yang akrab.
"Haha, kau memang pengertian ya kawan!" tanggap orang tersebut sambil tertawa, dan Reza pun juga tertawa.
"Hah, hanya mengeluarkan sedikit uang, dengan mudahnya bisa mendapatkan informasi penting dari mereka. Dasar orang tolol yang tidak beruntung!" gumam Reza dalam hatinya dengan sangat senang.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...Untuk Update dilakukan pada waktu 19.00 WIB...
...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini. Karena hal seperti inilah yang membuat para author sangat bahagia, terutama bagi saya....
...Terimakasih 🙏...
__ADS_1