Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster

Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster
#08 Sebuah Masalah Besar


__ADS_3

Pertemuan Alex bersama dengan Shintya di lapangan basket membuat nomor urut antriannya terlewat. Hal ini membuat Alex semakin kesal dengan adanya gadis kembar yang mengikutinya sampai mendaftar di akademi elite. Dengan sangat terpaksa Alex harus kembali mengambil nomor antrian pada petugas yang sedang berdiri di luar ruangan.


"Pak tolong beri aku kertas antrian lagi!" pinta Alex dengan raut wajah kesal karena masih tidak terima dengan perlakuan dari Shintya.


Petugas tersebut langsung memberikan kertas antriannya pada Alex dengan tangan bergetar, karena tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengannya.


"Apaaaaa? Kenapa hanya ditinggal sebentar nomor antrianku berada di urutan 500." teriak Alex dengan sangat nyaring sampai telinga dari petugas yang ada di hadapannya hampir tuli dibuatnya.


Kemudian Alex berdiri di dekat petugas tersebut agar nomor urut antriannya tidak terlewat untuk ketiga kalinya. Sedikit demi sedikit nomor yang sudan disebutkan baru mencapai di angka 380. Hal ini membuat Alex sangat bosan karena dia sudah berdiri hampir 1 jam.


"Hah... Berapa lama lagi aku harus menunggu." gumam Alex dengan sedikit emosi dan mulai berbicara sendiri untuk menghilangkan rasa bosannya.


Hal ini tentu saja membuat orang yang berada disekitarnya merasa aneh dan mengira bahwa Alex sudah gila. Tanpa di duga perut Alex mulai bersuara dengan sangat nyaring.


"Kruuukkk"


"Sepertinya aku harus makan terlebih dahulu, untung saja ada bekal di dalam ranselku." gumam Alex sambil berjalan untuk menemukan tempat duduk yang sangat cocok, untuk menikmati roti isi yang telah diberikan uleh nenek may.


Setelah Alex berjalan kesana kemari, dia tidak menemukan tempat duduk yang kosong. Semua tempat duduk yang ada di dalam lingkungan akademi, telah di duduki oleh semua orang yang ingin mendaftar.


"Hah... Tadi pagi sangat sepi, namun kenapa sangat ramai di waktu siang." teriak Alex dengan sangat kesal sambil terus berjalan ke depan untuk mencari tempat duduk.


Sampai akhirnya dia melihat sebuah pohon yang cukup besar yang berada dekat dengan lapangan sepakbola. Karena perutnya sudah tidak bisa diajak berkompromi, dengan terpaksa dia duduk di bawah pohon tersebut untuk segera membuka bekal di dalam tasnya.


"Ahh... Ternyata dibawah pohon ini sangat nyaman sekali." gumam Alex sambil menyandarkan tubuhnya pada pohon tersebut.


Kemudian Alex membuka kotak plastik yang berisi roti isi dari dalam ranselnya, disertai minuman berenergi untuk penambah ion tubuh.


(Gambar roti isi)


"Wahhh... Ternyata nenek May sangat jago memasak, lain kali aku akan berguru padanya." Gumam Alex sambil membawa roti di dalam kotak pelastik dengan tangan kanannya.


Ketika Alex mulai melahap roti isi tersebut, dari balik pohon terdengar suara minta pertolongan dengan nada lemah. Akan tetapi dia berpikir bahwa itu adalah sebuah halusinasi atau salah mendengar apalagi disiang bolong seperti ini.


Semakin-lama suara tersebut semakin mendekat dan terdengar sangat jelas, sehingga membuat bulu kuduk Alex mulai berdiri. Tiba-tiba sebuah tangan muncul dari samping Alex, sehingga membuat dirinya sangat terkejut.


"A-a... Ta-Ta... Se-se..." ucap Alex dengan ucapan terputus-putus karena sangat sulit untuk mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


Seketika rambut putih panjang dengan wajah wanita seperti zombie langsung muncul dari balik pohon tersebut. Hal ini membuat Alex semakin terkejut, sehingga dengan spontan dia langsung melemparkan ransel yang berada di dekatnya pada wajah zombie tersebut.


"Buuukkkk"


Hantaman dari ransel yang dilemparkan kepadanya cukup keras, sehingga zombie tersebut mendadak tidak sadarkan diri.


"Hah... Hah... Hah... Rasakan itu wanita zombie." ucap Alex dengan nafas terengah-engah sambil menatap wajah dari wanita zombiei tersebut.


Namun setelah diperhatikan, ternyata dia adalah stela yang baru saja berkenalan dengannya tadi pagi. Hal ini membuat Alex sangat terkejut dan merasa bersalah karena tiba-tiba melemparkan ransel miliknya pada wajahnya.


"Oi... Oi... Cepat bangun!" ucap Alex sambil menyentuh kedua pipinya.


Akan tetapi beberapa kali dia menyentuhnya, Stela tidak kunjung bangun. Semakin lama Alex semakin panik karena dia tidak ingin ada masalah yang menimpanya pada saat di dalam akademi.


"Gawat, gawat, gawat. Kalau tidak segera bangun aku pasti akan terkena masalah." gumam Alex sambil menggaruk kepalanya, lalu memikirkan apa yang harus dilakukan.


Tanpa sengaja, ada beberapa kakak kelas yang melihat Alex yang bertingkah laku seperti sedang kebingungan. Tanpa membuang banyak waktu lagi mereka berdua langsung menghampirinya.


"Yo, kenapa kamu bertingkah laku seperti itu?" tanya kakak kelas dengan karakter seorang laki-laki.


"Apa yang kalian berdua lakukan disiang bolong seperti ini?" lanjut tanya kakak kelas dengan karakter seorang perempuan.


"I-ini, ka-kami... Mm..." ucap Alex dengan sangat gugup dan bingung harus mengatakan apa pada mereka. "Sial disaat seperti ini kenapa diriku terkena sial terus." lanjut dalam hatinya dengan keringat dingin yang terus bercucuran.


Kedua kakak kelas tersebut melihat bahwa ada sebuah kotak makanan, lalu mereka berdua mereka sedang beristirahat makan siang.


"Ohhh ternyata kalian sedang istirahat makan siang ya." ucap kakak kelas dengan karakter seorang wanita sambil menunjuk kotak makanan yang berada di dekat Alex.


Seketika, pikiran Alex langsung terang karena dia mempunyai alasan yang kuat untuk menghadapi kedua kakak kelas tersebut.


"Ahh... I-iya, kami berdua sedang makan siang disini. Hehe... Karena tempat duduk semuanya sudah penuh jadi kami berdua memilih makan siang disini." ucap Alex sambil sedikit tertawa dan menggaruk belakang kepala menggunakan tangan kirinya.


"Tapi, kenapa dia hanya diam saja?" tanya kakak kelas dengan karakter seorang laki-laki sambil menunjuk Stela yang sedang terbaring di dekatnya.


"Ahhh... Dia kelebihan makan, jadi ketiduran. Oh ya jika berkenan silahkan cicipi roti isi ini." jawab Alex sambil mencoba mengalihkan perhatian mereka berdua, dengan menyodorkan roti isi yang ada di kotak plastik.


Tanpa berpikir panjang kedua kakak kelas tersebut langsung mencicipi roti isi yang diberikan oleh Alex. Hanya dalam satu kali gigitan, pikiran mereka langsung melayang karena roti isi tersebut sangat nikmat dan juga enak.

__ADS_1


"Untung saja pikiran mereka berdua dengan mudah teralihkan, walaupun roti isi ini tersisa 2 lagi. Huhuhuhu..." ucap Alex dalam hatinya sambil menangisi roti isi tersebut.


Setelah beberapa menit kemudian, kedua kakak kelas mengucapkan terimakasih atas makanannya pada Alex, kemudian mereka langsung berpamitan kepadanya.


"Jaga pacarmu baik-baik! Semoga kita bertemu lagi nanti." bisik kakak kelas dengan karakter seorang laki-laki, lalu segera pergi.


"Hah? Kami tidak..." ucap Alex namun perkataannya tidak dilanjutkan karena mereka berdua sudah agak jauh. "Semoga aku tidak bertemu dengan kakak kelas seperti ini lagi, apalagi berprasangka kalau aku berpacaran. Ahhh... Tdak mungkin aku akan melakukannya." lanjutnya dalam hatinya sambil menatap Stela yang masih terbaring.


Karena Stela dari tadi belum juga terbangun, Alex mencoba mendekatkan dirinya padanya. Akan tetapi kaki Alex tidak sengaja tersandung, lalu dia terjatuh mengarah pada tubuh Stela.


"Bruukk"


Dengan cepat Alex menahan bobot tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Hah... Hah... Hah... Hampir saja aku..." ucap Alex dengan bernafas terengah-engah namun perkataannya terhenti, setelah wajahnya sangat dekat dengan Stela. "Apakah ini benar-benar wajah seorang perempuan? Ternyata sangat berbeda sekali dengan yanh aku bayangkan." lanjutnya dalam hatinya.


Namun kejadian yang tidak terduga terjadi, Stela tiba-tiba terbangun pada saat wajah Alex sangat dekat dengannya. Stela membukakan kedua matanya secara perlahan-lahan, sampai akhirnya dia menatap bahwa di depan matanya ada wajah seorang laki-laki.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Stela mulai meneteskan air matanya karena dia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya dengan siapapun. Seketika Alex sangat terkejut, lalu membangunkan dirinya sendiri.


"Tu-tu-tunggu, i-ini tidak sengaja, ta-tadi aku..." ucap Alex dengan sangat gugup namun perkataanya tidak dilanjutkan karena mendengar suara hanphone seseorang.


"Cekrek"


"Hmm... Ini lumayan sangat bagus untuk dilaporkan pada papa dan mama." ucap Aurela sambil menyimpan foto yang baru saja dia dapatkan.


Kedatangan dari Aurela secara tiba-tiba membuat Alex sangat terkejut, apalagi dia menyimpan foto yang baru saja di dapatkan. Hal ini membuat Alex sangat khawatir dengan masalah yang akan dihadapinya, pada saat foto tersebut dikiriman kepapa kedua orang tua dari kelima gadis kembar.


...Bersambung......


...{Pemberitahuan Update}...


...Untuk sementara up eps terbaru akan dilakukan 2 hari 1x. Namun jangan khawatir, author akan berusaha untuk menuntaskan novel kedua ini. 😊...


...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini serta saran dan bantuannya agar lebih semangat untuk crazy up. Pendapat anda sangat berharga bagi pemula seperti saya....

__ADS_1


...Terimakasih 🙏...


__ADS_2