Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster

Berbagi Cinta Pada Mantan Ketua Gangster
#16 Kejadian Yang Tidak Terduga Di Dalam Rumah Hantu


__ADS_3

...*Selamat Membaca*...


Permintaan anak-anak yang ingin memasuki rumah hantu, sedang dipertimbangkan oleh Alex dengan sangat matang. Namun seorang petugas yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menghampiri mereka, lalu membujuk Alex untuk memasuki rumah hantu tersebut.


"Sebelumnya maaf tuan muda, apakah anda beserta anak-anak ingin memasuki rumah hantu ini?" tanya petugas tersebut dengan ramah.


"Iya Pak, kami ingin memasukinya karena penasaran dengan apa yang ada di dalamnya." jawab Olivia dengan penuh semangat.


"Wahh, sungguh anak yang pemberani." puji petugas tersebut dengan rasa senang dalam hatinya. "Kalau begitu tunggu apa lagi, bila semua ingin memasuki rumah hantu ini aku bisa memberikan penjelasan mengenai jalan mana yang harus dipilih nanti di dalam." lanjut petugas tersebut dengan membujuk semua anak-anak.


"Tunggu dulu, aku belum menyetujui mereka untuk memasuki rumah hantu ini, karena di usianya mental mereka belum cukup kuat." ucap Alex dengan menolak ajakan dari petugas tersebut.


"Saya salut dengan pemikiran tuan muda, yang memperhatikan anak-anak ini." jawab petugas tersebut, lalu dia berjalan mendekat dengan niat berbisik pada telinga Alex. "Anggap saja ini sebagai uji nyali anak-anak, dan secara pribadi saya akan menginformasikan pada orang-orang di dalam untuk mengenakan pakaian yang tidak terlalu menakutkan." lanjutnya dengan merayu Alex, supaya rencananya berhasil.


"Hmm, kalau bisa seperti itu maka lakukanlah pak. Namun bila perkataanmu berbeda dengan apa yang terjadi di dalam, aku harap jangan menyesal." jawab Alex dengan menunjukkan raut wajah serius.


"Ughh, pandangan bocah ini cukup menakutkan. Akan tetapi mana mungkin dia bisa melindungi anak yang ku incar, apalagi dalam usianya sekarang. Hahaha" gumam petugas tersebut dalam hatinya. "Tidak usah khawatir tuan muda, semuanya pasti berjalan mulus." lanjutnya dengan tersenyum.


"Hehh... Sebelumnya ada beberapa permainan yang tidak ingin dinaiki oleh anak-anak, tapi petugas itu sama sekali tidak membujuk ataupun memaksa. Tapi dia sangat berbeda dan patut untuk diwaspadai." gumam Alex dalam hatinya sambil berpikir.


"Kakak, ayo kita segera masuk, nanti malah kemalaman pulangnya." ajak Olivia sambil memegang tangan Alex.


"Ahh... Iya, kalau begitu bagi yang mau ikut ayo masuk bersama kakak, bagi yang tidak ikut harap menunggu dengan ibu pendamping." jawab Alex dengan memberikan pilihan pada anak-anak.


Setelah itu, anak-anak yang memasuki rumah hantu berjumlah 15 orang sedangkan sisanya bersama dengan pengurus dari panti asuhan. Tidak lupa, Alex memberikan uang cash pada pengurus tersebut untuk memberikan jajanan pada anak-anak, karena dia takut mereka akan bosan menunggu.


"Kak Alex uang sebanyak ini sangat berlebihan untuk jajan anak-anak." ucap pengurus tersebut dengan mengembalikan uang sebanyak 1 juta.


"Pegang saja uang itu sama ibu, barangkali ada sesuatu yang ingin dibeli oleh anak-anak. Namun saya minta tolong untuk memilih jajanan yang sehat dan aman dikonsumsi bagi anak-anak." pinta Alex dengan membungkukkan badannya, karena dia mengetahui kalau meminta suatu hal pada orang yang lebih tua harus dihormati.


"Baiklah kak Alex, tolong jaga mereka semua, dan kami akan menunggu di tempat yang teduh." jawab pengurus tersebut, sembari menunjuk pada pohon besar yang lokasinya tidak jauh dari rumah hantu.


"Terimakasih ibu pendamping." ucap Alex dengan tersenyum, lalu dia mengajak anak-anak untuk mempersiapkan mentalnya.


Sebelum masuk ke rumah hantu, petugas yang sudah menunggu langsung memberikan arahan pada mereka, serta memberitahu wujud apa saja yang berada di dalam. Dia juga mengatakan, apabila salah satu dari anak-anak melihat seorang badut dia diharuskan untuk mengikutinya, karena ada sebuah hadiah yang akan diberikan padanya berupa jepit rambut permata, kalung ataupun pernak pernik lainnya.


Mendengar penjelasan tersebut, semua anak-anak sangat tidak sabar untuk segera memasuki rumah hantu. Akan tetapi, perkataan dari petugas tersebut membuat Alex semakin curiga dan berpikir ada maksud apa, sehingga dia dengan semangat memberikan informasi tersebut.


Dikarenakan anak-anak mulai mendorong Alex secara bersamaan, dia mengesampingkan pikiran tersebut dan berfokus pada anak-anak yang harus dilindungi olehnya.


"Baik, baik, baik, ayo kita masuk bersama!" pinta Alex sambil masuk terlebih dahulu, lalu di ikuti anak-anak.


Sesampainya di dalam, ada 3 pintu yang harus dipilih oleh orang-orang yang hendak masuk ke rumah hantu. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh petugas tersebut, Alex harus memilih pintu tengah.


Sebelum melanjutkan penjelajahannya, Alex meminta pada anak-anak, untuk saling memegang tangan supaya tidak tertinggal dengan yang lainnya. Dengan spontan, semua anak-anak langsung melakukan apa yang diminta oleh Alex, lalu secara bersamaan mereka masuk ke dalam pintu tengah.


"Ceklek"

__ADS_1


Suasana di dalam ruangan cukup mencekam, gara-gara penerangannya hanya dengan lampu 5 watt dan jaraknya tiap 5 meter. Dikarenakan Alex baru pertama kali masuk ke rumah hantu, dia langsung siaga akan serangan tiba-tiba.


"Ughh... Disaat diriku merasa sedikit ketakutan, anak-anak malah merasa senang dengan ke adaan seperti ini." gumam Alex dalam hatinya dengan kecewa pada dirinya sendiri. "Baiklah, sekarang kita berjalan secara pelan-pelan ke depan." lanjutnya sambil melangkah duluan.


Baru saja Alex melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan, dia dikejutkan oleh boneka yang tiba-tiba keluar dari sampingnya.


"Buuuaaaaa"


"Anjirrrrr..." ucap Alex dengan terkejut, dan dengan cepat dia memukul boneka berbicara tersebut sekuat tenaga.


"Buuuukkkk"


Pukulannya yang cukup kuat, membuat boneka tersebut terlepas dari alat penggeraknya dan terjatuh di atas lantai.


"Hah... Hah... Hah... Ternyata hanya boneka biasa, aku kira beneran hantu." gumam Alex dengan nafas terengah-engah, lalu dia memungut boneka tersebut.


Hal yang dilakukan oleh Alex membuat anak-anak sangat terkejut, akan tetapi Olivia tertawa dengan cukup keras setelah melihat kelakuan Alex yang takut terhadap sebuah boneka.


"Ternyata... Kakak sangat takut terhadap boneka yang bisa bicara." ucap Olivia sambil tertawa, lalu anak-anak lainnya ikut menertawakannya.


"Ah, Ha... Ha... Ha... Barusan itu kakak kaget sekali, seakan-akan boneka ini berniat untuk menyerang kakak." jawab Alex dengan menyembunyikan rasa malunya di depan anak-anak. "Ehem... Mari kita melanjutkan lagi penjelajahan di rumah hantu ini." lanjutnya dengan mengajak anak-anak.


Tidak lama setelah itu, Alex beserta anak-anak melanjutkan kembali penjelajahannya. Akan tetapi setiap ada sesuatu yang membuat Alex terkejut, dia selalu melancarkan pukulan dengan sekuat tenaga.


"Anjirrr Laba-laba sebesar kepala manusia!"


"Buuuukkkk"


"Buuuukkkk"


"Datang lagi yang lainnya, hah... Rasakan pukulanku ini!"


"Buuuukkkk... Buuuukkkk... Buuuukkkk..."


Hampir 1 jam, Alex beserta anak-anak menjelajahi rumah hantu tersebut. Sampai akhirnya dia menemukan ruangan yang cukup luas dan ada tanda untuk beristirahat.


"Hah... Hah... Hah... Akhirnya aku bisa beristirahat juga." ucap Alex dengan nafas terengah-engah, lalu duduk di kursi yang telah disediakan. "Anak-anak, mari kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali penjelajahannya." lanjutnya.


"Baik kakak." jawab anak-anak secara serentak.


Rasa lelah akibat melakukan hal yang belum pernah Alex lakukan, membuat dirinya mengantuk. Tadinya dia berpikir kalau rintangan yang di dalam rumah hantu, akan sangat mudah untuk dilaluinya.


"Kakak akan tidur selama 10 menit disini, kalian jangan pergi kemana-mana ya!?" pinta Alex pada semuanya.


"Baik kak." jawab anak-anak secara serempak.


Hanya dalam beberapa detik, Alex langsung tertidur pulas sedangkan anak-anak yang lain sedang asyik berbincang-bincang. Tanpa terduga seorang badut sengaja menunjukkan dirinya secara diam-diam di balik pintu selanjutnya, karena dari awal dia sudah mengawasi mereka dan menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Secara hati-hati, seorang badut tersebut melemparkan sebuah kertas mengarah tepat pada Olivia.

__ADS_1


"Pukk"


"Ehh, siapa yang melemparkan kertas ini padaku?" gumam Olivia dalam hatinya sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


"Apakah anak itu bodoh? Sudah jelas aku melemparnya dari belakang, kenapa dia malah menengok ke kiri dan ke kanan!?" gumam badut tersebut dengan kesal.


"Mungkin itu hanya perasaanku saja." gumam Olivia, lalu dia kembali mendengarkan pembicaraan temannya dan menghiraukan kertas tersebut.


Hal ini tentu saja membuat badut sangat kesal, lalu dia kembali melemparkan sebuah kertas dengan hati-hati. Namun lagi-lagi rencana untuk mendapatkan perhatiannya gagal. Sampai akhirnya, dia melemparkan sebuah boneka dengan ukuran kepalan tangan dewasa pada Olivia.


"Pukk"


"Aduhh, siapa sih yang iseng?" ucap Olivia sambil menengok ke belakang, lalu dia melihat sebuah boneka yang berisi catatan.


"Selamat anda telah dipilih menjadi pemenang, dan sekarang ikuti seorang badut untuk mengambil hadiahnya. Ingat hanya anda seorang yang terpilih, bila mengajak orang lain pemberian hadiahnya akan dibatalkan!!!"


Pada akhirnya, Olivia menatap badut tersebut dengan perasaan senang, lalu dia perlahan-lahan menghampirinya. Seorang badut yang sudah lama menunggunya berbisik kepadanya untuk segera mengikutinya dan mengambil hadiahnya sesegera mungkin.


Untuk lebih meyakinkan supaya Olivia mengikutinya, dia mengatakan kalau ada 2 hadiah yang bisa diambil. Yang satunya bisa menjadi miliknya dan yang satunya lagi bisa diberikan pada orang lain.


Mendengar penjelasan seperti itu, Olivia berniat memberikan hadiah yang satunya lagi akan diberikan pada Alex, dan memikirkan pujian darinya nanti. Alhasil, Olivia mengikuti badut tersebut tanpa diketahui oleh Alex beserta anak-anak yang lainnya.


"Hahahah, rezeki nomplok... Ternyata sangat mudah melakukan pekerjaan seperti ini." gumam badut tersebut dengan sangat senang, lalu dia menghubungi temannya yang menjadi petugas rumah hantu. "Hei, aku sudah mendapatkannya, segera siapkan mobil sekarang juga." lanjutnya.


"Tenang saja, dari awal aku sudah mempersiapkan semuanya. Kalau begitu cepat keluar dari sana!" pinta petugas rumah hantu.


"Baiklah, segera mungkin aku pergi membawa anak ini." jawab badut tersebut, lalu dia menutup teleponnya.


"Hmm, tuan badut, kapan Olivia bisa mengambil hadiahnya. Aku takut kakak Alex akan segera bangun, jadi..." ucap Olivia sambil memegang lengan baju badut tersebut.


"Hadiah? Hahaha... Sayang sekali nak hadiahnya itu sudah tidak ada, karena akulah yang sudah mendapatkan hadiahnya." jawab badut tersebut dengan tawa jahatnya, sambil tersenyum lebar dan membuat Olivia sangat ketakutan.


"Hii, kakak, kakak, tolong Olivia... Tolong Olivia kakak!" teriak Olivia sambil mencoba berlari menjauh dari badut tersebut.


Namun sangat disayangkan, tangan Olivia langsung dipegang oleh badut tersebut dan membekam hidungnya dengan kain yang sudah diberi cairan khusus, supaya tidak sadarkan diri.


"Ugghh... Ka-kakak... Maafkan Olivia, yang menghiraukan larangan dari kakak..." ucap Olivia dalam hatinya, lalu dia tidak sadarkan diri akibat menghirup cairan dari kain tersebut.


...Bersambung......


...{Pemberitahuan Update}...


...Untuk sementara hari up episode terbaru tidak menentu namun jamnya masih bisa ditentukan, yakni pada pukul 21.00 WIB. Author berharap pada para pembaca semua untuk memfavoritkan novel ini, supaya kelanjutannya tidak ketinggalan....


...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini. Karena hal seperti inilah yang membuat para author sangat bahagia, terutama bagi saya. ...


...Terimakasih 🙏...

__ADS_1


__ADS_2