
...*Selamat Membaca*...
Baru beberapa saat ketika Alex ingin mendekati mobil yang menculik Olivia, sopir itu sudah menyadari keberadaannya. Terlebih lagi dia sengaja berbelok ke beberapa arah, untuk memastikan kalau instingnya itu selalu benar.
Sesuai dengan perkataan dari sopir tersebut, sudah dipastikan kalau Alex sedang mengikutinya. Lalu dia mengatakan pada kedua rekannya untuk berpegangan yang erat, karena sopir itu ingin menunjukkan kemampuannya sebagai mantap pembalap.
Tanpa banyak bicara, sopir itu langsung menancap gasnya, dan serta tidak memperdulikan rambu-rambu lalu lintas. Alex yang menduga hal ini terjadi, dia juga melakukan hal sama supaya tidak kehilangan jejaknya.
Di sela dalam pengejaran nya, Alex meminta Salim untuk tetap fokus pada mobil van berwarna putih itu, dan dia juga menyebutkan plat nomor dari kendaraan tersebut.
Selain itu juga, Alex memberikan ijin untuk melakukan apapun, supaya mobil itu bisa berhenti secepatnya. Dengan sigap, Salim sudah mencatat plat nomor tersebut, lalu menyuruh Aqila untuk menyampaikan nya pada kepala Kepolisian yang sudah dia hubungi.
Setelah kepala Kepolisian mendapatkan data dari mobil tersebut, dia tidak segan-segan untuk mengerahkan semua personil polisi yang berada di wilayah selatan, untuk menutup jalur yang hendak dilewati oleh kendaraan tersebut.
Para personil kepolisian itu bergerak dengan cepat, dan menutup sebagian jalan yang ingin dilewati oleh mobil penculik itu, serta di ijinkan oleh atasan mereka untuk menggunakan jebakan.
Di sisi lain...
Sopir dari mobil van tersebut terus melaju dengan sangat kencang, serta berbelok tajam sampai-sampai menimbulkan asap berwarna putih dari ban belakang.
"Dasar sopir gila!" teriak rekannya di sampingnya dengan perasaan takut.
"Hahahaha... Memang aku gila!" jawab sopir tersebut sambil tertawa terbahak-bahak.
Dengan kecepatan lebih dari 100km/jam mobil itu terus melaju serta menyalip dengan sangat mulus. Namun hal ini tidak membuat Alex merasa ketakutan, dia pun melakukan hal sama dan terlihat seperti seorang pembalap dari MotoGP.
Melihat Alex yang berkendara seperti itu, sopir tersebut semakin bersemangat untuk mengalahkannya dalam berkendara. Akan tetapi, setelah melewati belokan selanjutnya dia melihat jalan yang ingin dilalui nya itu ditutup, serta terdapat beberapa personil polisi yang berjaga.
"Sialan, kenapa mesti ada pengganggu disaat aku sedang merasa senang!" ucap sopir itu dengan mempertahankan kecepatannya dan berniat menerobos penghalang yang dipasang oleh polisi.
"Brumm... Brumm... Brumm..."
Salah satu dari pihak kepolisian memberikan sebuah peringatan lewat pengeras suara, yang ditujukan pada mobil tersangka untuk segera berhenti. Akan tetapi hal itu tidak di dengar olehnya, dan mobil itu langsung menerobos penghalang yang mereka pasang.
"Braaakkk"
Penghalang yang terbuat dari plastik padat itu beterbangan ke atas, lalu jatuh di jalan yang hendak dilalui oleh Alex. Namun dengan keterampilan yang dimiliki nya itu, dia menghindari setiap penghalang yang berjatuhan.
"Sreett... Sreett... Sreett..."
__ADS_1
Setelah semuanya dilalui, Alex kembali mengejar mereka dengan kecepatan yang tinggi, supaya bisa mendekati mobil tersebut. Akan tetapi, rekan yang berada di depan mobil itu mulai bertindak, dan mengeluarkan senjata api yang berada dalam sakunya.
"Mau bagaimana lagi kalau sudah begini, mending aku bunuh saja bocah itu sekarang!" ucap rekan sopir yang berada di depan, sambil membuka kaca dari jendela mobilnya dan mulai menembak ke arah Alex.
"Dorr... Dorr... Dorr..."
Menyadari hal itu, sebisa mungkin Alex menghindari serangan dari orang tersebut, sambil terus terfokus pada arah pistol yang di gunakan olehnya. Lebih dari 10x tembakan dikeluarkan dari senjata api miliknya, namun tidak satupun peluru yang berhasil mengenai Alex.
"Dasar bodoh! Apakah kau bisa memegang senjata yang benar?" tanya sopir tersebut dengan nada kesal.
"Kau fokus saja ke depan, dan jangan mengganggu ku!" jawab rekannya dengan kesal juga, sambil mengisi ulang peluru dari senjatanya.
Setelah pengisian peluru selesai, rekannya itu kembali menembak ke arah kendaraan Alex. Namun lagi-lagi peluru nya itu tidak sampai mengenai nya dan malah kehabisan peluru.
Karena Alex tidak berhasil mendekati mobil tersebut, serta kesabarannya itu hampir habis. Dia langsung meminta Salim untuk menebak kemana tujuan dari mobil van putih itu.
Dengan keahliannya dalam hal itu, Salim langsung mencari lokasi yang sekiranya di curigai olehnya. Ada 3 tempat yang paling dicurigai oleh dirinya, lalu satu persatu diperhatikan dari jarak jauh menggunakan satelit.
"Saya menemukan 3 tempat yang sekiranya tujuan mereka. Yang pertama, sebuah gudang besar terbengkalai, kedua vila tua, dan yang ketiga dermaga." ucap Salim dengan memberitahukan apa yang diminta oleh Alex.
"Itu sudah cukup. Lalu bagaimana dengan orang kepercayaan ku, apakah mereka masih belum sampai di wilayah selatan?" tanggap Alex, lalu menanyakan mengenai ketua dari 3 wilayah berbeda.
"Tidak peduli seberapa banyak uang yang harus ku keluarkan. Sekarang perintahkan mereka menuju ketiga tempat tadi. Bila ada yang mencurigakan langsung saja bertindak, tapi ingatkan juga untuk tidak saling membunuh!" pinta Alex dengan tegas, sambil memperingatkan mereka supaya tidak melanggar perjanjian yang dibuat dulu.
"Baik tuan muda." jawab Salim dan Aqila secara bersamaan.
Tidak lama setelah itu, Aqila langsung menghubungi mereka bertiga dan menyampaikan pesan dari Alex, untuk segera pergi ketiga tempat tersebut dalam waktu bersamaan.
Sesuai dengan perkataannya, mereka diperbolehkan bertindak langsung apabila ada orang-orang yang mencurigakan, dengan syarat tidak saling membunuh satu sama lainnya, terkecuali dalam kondisi darurat.
Tanpa banyak bicara, ketiga ketua dari wilayah yang berbeda melakukan apa yang diperintahkan oleh Alex dengan cepat, dan tentunya masing-masing membawa 10 ribu bawahannya. Selain itu juga mereka akan dipandu oleh polisi lalu lintas ke tempat tujuan tersebut, karena sebelumnya mereka di hubungi oleh kepala Kepolisian wilayah selatan, dan sesuai dengan informasi yang diberikan Salim.
Sementara itu, personil kepolisian yang berada di wilayah selatan, terus menerus melakukan pemblokiran jalan serta mengerahkan segala cara untuk memberhentikan mobil van putih yang telah menculik Aqila.
Berbagai macam jebakan berupa duri yang semata-mata diarahkan pada ban mobil itu diletakkan pada jalur yang dilewatinya. Namun dengan cekatan, sopir itu terus melewatinya dan tidak ada satupun yang mengenai ban tersebut.
Secara tiba-tiba, dua mobil sport milik kepolisian dikerahkan untuk menghimpit mobil van itu, akan tetapi mereka juga kesulitan untuk mendekatinya, terlebih lagi rekan dari sopir itu memiliki senjata api serta di dalamnya ada seseorang anak kecil.
"Dasar brengsek! Bagaimana caranya kita lolos dari pengejaran mereka?" tanya rekan dari sopir tersebut dengan memikirkan sebuah cara.
__ADS_1
"Jangan banyak berpikir, terus saja menembak dan singkirkan terlebih dulu mobil polisi itu!" jawab sopir tersebut sambil berusaha untuk lolos dalam pengejaran nya.
"Ya, ya... Aku mengerti, daripada harus meladeni pengendara motor itu, lebih baik mengurusi mobil sport itu!" ucap rekannya sambil menembaki salah satu mobil sport polisi yang mendekat, dan sebisa mungkin diarahkan pada ban depannya.
"Dorr... Dorr... Dorr..."
Beberapa tembakan hanya mengenai body dari mobil sport polisi itu, dan pada tembakan terakhir mengenai ban depannya sampai pecah, sehingga salah satu mobil polisi itu tidak bisa dikendalikan lalu menabrak mobil rekannya.
"Braaaakkk"
Kedua mobil sport itu berbenturan dengan cukup keras, serta mengalami rusak parah. Untungnya tidak ada korban dalam kecelakaan tersebut, namun hal ini malah menutupi jalan yang ingin dilalui oleh Alex.
Seketika, kesabaran Alex sudah mencapai batasannya, dan kini dia dipenuhi dengan kemarahan yang meluap. Bukannya menyelamatkan polisi yang hendak keluar dari dalam mobil, tapi Alex malah meminjam pistol yang berada di pinggangnya.
"Aku pinjam ini sebentar, nanti akan ku kembalikan!" ucap Alex sambil membawa pistol milik salah satu polisi tersebut.
Tanpa membuang banyak waktu, Alex kembali menuju motornya, lalu dia kembali meminta Salim untuk segera mencari rute tercepat karena jalan yang hendak dilaluinya itu tertutup. Tak sampai menghabiskan waktu 1 menit, Salim berhasil menemukan rute tercepat agar mereka berdua saling bertemu.
"Mereka itu punya senjata, dan sekarang aku pun memilikinya. Jadi pandu aku sekarang juga!" pinta Alex dengan tegas serta dipenuhi emosi.
Mendengar perkataan hal itu, dengan segera Salim memandu Alex, dan disaat bersamaan dia mengambil sebuah kertas serta pulpen, lalu menulis sesuatu dan diberikan pada Aqila yang masih berada di dekatnya.
"Apa ini paman?" tanya Aqila tanpa memperhatikan tulisan yang berada dalam kertas tersebut.
Salim tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Aqila, karena dirinya ini sedang merasa ketakutan, terlebih lagi mengingatkan kembali pada kejadian di waktu lalu. Dia hanya bisa menggerakkan telunjuk jarinya pada sebuah tulisan sambil terus bergetar.
Tanpa banyak bertanya, Aqila kembali melihat kertas tersebut, lalu membaca tulisannya. Seketika dia sangat terkejut dengan situasi Alex yang pada saat ini sedang memegang sebuah senjata berupa pistol.
"I-ini, apakah ini benar paman?" tanya Aqila untuk memastikan kebenarannya. Salim hanya menganggukkan kepalanya, karena dia juga harus tetap fokus untuk memandu Alex.
"Ka-kalau seperti ini, besar kemungkinan kejadian diwaktu itu akan terulang kembali." gumam Aqila dalam hatinya, sambil mengingat kembali kejadian yang takkan pernah dilupakan olehnya dalam seumur hidupnya.
...Bersambung......
...{Pemberitahuan Update}...
...Untuk Update dilakukan pada waktu 19.00 WIB...
...Jika berkenan dan bersedia jangan lupa untuk dukung author dengan Like, Komen, Vote, Rate novel ini. Karena hal seperti inilah yang membuat para author sangat bahagia, terutama bagi saya....
__ADS_1
...Terimakasih 🙏...