Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik

Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik
Awal permainan 2


__ADS_3

"Bagaimana kalau kami juga tidak akan ikut permainan ibu?" Dengan angkuhnya mereka berani melawanku? hehe, kalian tidak tahu bagaimana cara ku untuk bermain dengan kalian?


Memangnya aku tidak tahu kalau kalian di sekolahkan di sekolah boborok ini karena kalian dibuang oleh orang tua kalian? jadi mau bagaimana pun kalian mengadu pada orang tua kalian. kalian tidak dipedulikan oleh orang tua kalian.


Okey, kalau begitu aku harus mencari ketua dari kekacauan kelas 2-2. Aku melihat sekeliling kelas ternyata mudah sekali menemukannya. "Zhi chen, bagaimana kalau kau mengajak temanmu untuk program permainanku."


"Bagaimana kalau aku tidak mau, Bu guru Ye?" Dengan angkuh dia menolak ajakan ku yang lembut ini. Kau akan melihat akibatnya.


"Baiklah, kalau kau tidak mau mengikuti kelasku. akan lebih baik kalian keluar sekarang." Memisahkan mereka untuk saat ini lebih baik dibandingkan membuat mereka terus-menerus mempengaruhi yang lainnya.


"Yok, ke atap! Bawa rokok gak lu!"


"Bawa-bawa, hehe makasih ya Bu jam kosongnya."


Dasar benar-benar anak-anak ini padahal umurku dengan mereka tidak begitu jauh tetapi kelakuannya benar-benar lebih mengerikan. Eh tunggu dulu umurku kan sudah ribuan tahun. tentu saja umurku dengan para bocah sialan ini berbeda, maka dari itu sifat zaman kami pun berbeda jauh.


Mereka semua sudah pergi. "Baik semuanya ibu akan bagikan kertas ujiannya. Ini soal fisika yang kalian baca."


Kelas menjadi sepi dari sekitar dua puluh orang berkurang tujuh orang sisa tinggal tiga belas orang. Peminat orang-orang bersekolah di SMK dari tahun ke tahun memang berkurang.


"B,Bu guru Ye... Kami mau ikut ujian"


Para berandalan yang baru saja ku keluarkan itu, tiba-tiba masuk kembali dengan keadaan babak belur seperti orang yang baru saja dihajar habis-habisan oleh seseorang. Ini sangat mencurigakan. Tapi baguslah kelas ini tidak terlalu kosong.


"Boleh~, Tapi kalian harus terima konsekuensinya"


"B,baik Bu guru Ye."


"Baik kalian harus kembali ke kursi kalian. Waktunya sepuluh menit lagi.." hehe, ini hanya pertanyaan anak sekolah dasar tentu saja mereka harusnya bisa menjawabnya jika hanya sepuluh menit saja.


"Apa? Itu Sangat Berlebihan!!"


"Waktu terus berjalan."


"Ibu mau main-"


Tiba-tiba mereka berhenti ketika melihat kearah jendela luar. Apakah ada seseorang yang membantuku untuk menghajar para murid berandalan ini?

__ADS_1


Apakah Xiaojun? Atau Meizuo? Tunggu dulu kenapa aku bisa kepikiran mereka berdua. Tidak mungkin mereka berdua membantuku, karena mereka sendiri juga membenciku. bahkan berani menjual ku pada seorang bos hidung belang.


"Baik waktunya sudah habis. Kumpulkan semua kertas jawabannya."


Semua murid nampaknya jadi sangat patuh mengumpulkan lebar jawaban. Antusias mereka patut di hargai. karena mereka lebih mudah di kendalikan dibandingkan kelas 2-4.


"Baik ibu akan mengumumkan hasilnya besok. Pelajaran hari ini dicukupkan hari ini."


Hari ini baru saja pagi hari sudah banyak masalah, benar-benar sekolah yang pantas dijuluki sekolah buangan.


Aku pergi meninggalkan kelas 2-2. Namun aku tidak tahu kenapa ingin mencek ruang kesehatan, untuk melihat keadaan Xiaojun. Apakah dia baik-baik saja.


Tidak terasa aku melangkah akhirnya benar-benar sampai di ruang kesehatan, entah apa yang aku pikirkan. Ini semua membuatku menjadi gila.


"Bu guru ye?" Suara ini...


"Bu Ling?"


"Ada apa? Apakah murid-murid itu mengganggu mu lagi?"


"Tidak, aku hanya ingin melihat apakah Xiaojun masih di rawat di dalam ruang kesehatan."


"Ibu Guru Ye memang guru yang sangat baik. Dari dulu kau sangat peduli pada murid-murid mu."


"hahaha ibu bisa saja, sudah seharusnya seorang guru mengajarkan hal yang baik pada murid-muridnya."


Tring...


Semuanya seketika terfokuskan oleh bunyi ponsel ibu Ling yang berbunyi.


"Ah maaf ya Bu guru Ye. saya harus pergi mengurus beberapa hal di ruang TU."


"Tidak apa apa, bu Ling."


"Baik aku tinggal ya."


"Baik bu."

__ADS_1


Bu Ling sudah pergi, saatnya aku mencari Xiaojun.


"Bu guru sepertinya terlalu mengagumi ketampanan ku, sehingga kau sampai mencari ku seperti ini. Bukankah diantara kita sudah tidak punya hutang apapun."


Suara angkuhnya benar-benar membuatku kesal, dasar bocah sialan. Padahal aku tidak pernah memperdulikan siapapun, kalau bukan karena keinginan pemilik tubuh ini mungkin aku sudah membantai kalian semua menggunakan pedang kesayanganku.


Aku harus mendekati Xiaojun, dia harus menjadi barang yang bisa di gunakan untuk menertibkan para murid berandalan ini yang ada di sekolah ini.


Aku membuka gorden yang menutupi ranjang pasien, berdasarkan asal suara Xiaojun. "Apakah kau baik-baik saja?"


"Seperti yang kukatakan jangan pedulikan aku."


Aku menyentuh kepalanya untuk melihat luka yang di sebabkan oleh para preman itu. "Pasti kau sakit bukan? Maafkan aku lengah kemarin, jika saja aku tidak lengah mungkin kau tidak akan terluka."


Ada apa ini kenapa wajahnya merona seperti itu? apakah dia malu karena aku memperlakukannya seperti anak kecil. Dasar para remaja ini selalu saja memiliki harga diri yang tinggi.


"Ibu! Sebaiknya ibu tidak melakukan hal seperti ini."


Ada apa mengapa ia mengajarkan hal seperti itu. Apa aku salah.


Ahkk... kenapa dia tiba-tiba menarik tanganku? Ia berani menjatuhkan ku dan menekan ku dari atas seperti ini. Tapi untuk anak seumuran dengannya kekuatannya memanglah luar biasa, jika ia hidup di zamanku mungkin kekuatannya setara dengan kaisar Hao.


"Bu guru, apakah pantas seorang guru terus menerus menggoda muridnya seperti ini."


Apa maksud perkataannya, apakah dia tidak sedang dalam keadaan mabuk? Aku harus mendorongnya. Ini benar-benar kelewatan, beraninya dia berlaku tidak sopan terhadapku.


"Oi, Beraninya seorang murid berkata demikian kepada seorang guru. Apakah kau merasa dirimu lebih lebat dariku?" Aku mendorongnya secara perlahan.


"Aku tidak akan menghukum mu untuk saat ini, maka dari itu baik-baik lah padaku kedepannya atau kau akan sangat kesulitan.". Aku merapihkan baju dan dan rambutku. Karena tindakannya yang gegabah aku benar-benar seperti dihinakan olehnya.


Tapi entah mengapa aku tidak marah karena itu, mungkin itu karena rasa bersalahku yang sangat besar kepadanya. Sehingga aku tidak bisa benar-benar menasehati bocah itu dengan benar.


Baiklah setelah menjadikan Meizuo sebagai tangan kananku. Aku sekarang sudah bisa mengontrol kurang lebih tiga puluh persen siswa kelas dua. Ternyata perjalanan ku masih sangat jauh. Belum lagi para siswa kelas tiga yang hampir lulus, semakin hari mereka semakin menjadi.


Aku harus melakukan sesuatu.


Tiba-tiba tanpa sengaja aku mendengar seseorang bergosip tentang Wei Liang.

__ADS_1


__ADS_2