Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik

Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik
Bos berandalan nomor 1


__ADS_3

"Memangnya ada apa?"


tentu saja aku harus bertanya mengapa, karena mereka tidak memberikan alasan yang jelas padaku.


"Pokoknya jangan Bu guru, kau kan sudah tahu anak-anak sering berkelahi disaat-saat jam segini. Bu guru pasti tidak akan selamat."


Begitu aku mendengar ucapan mereka yang seperti itu, tubuh mereka gemetaran sepertinya mereka juga takut akan jadi korban kekerasan dari para siswa. Tapi guru macam apa yang membiarkan muridnya melakukan kriminal.


"Tidak apa-apa, mereka sebenarnya murid yang sangat penurut kok."


Memang sulit mengajari mereka jika peraturan perundang-undangan melindungi mereka, namun mereka sendiri memanfaatkan itu untuk berbuat kriminalitas. Negara yang sangat memprihatikan.


Wei Liang : "Bu guru ye, biar aku yang temani."


Wei Liang? dia mau ikut campur urusanku lagi?


aku : "Tidak perlu pak guru, aku lebih suka sendiri."


Wei Liang : "Tidak apa-apa jangan sungkan padaku."


aku : "Tidak perlu, aku benar-benar ingin sendiri."


Cih dasar ngotot sudah di sebutkan aku ingin sendiri dasar guru keras kepala, apa jika aku membunuhnya masih lazim jika di dunia ini. Jika di zamanku aku memenggal beberapa kepala pun, aku selalu dipuji.


Aku segera pergi dari ruang guru setelah menyimpan buku-buku yang sebelumnya aku bawa di meja ku yang usang berada di pojok kanan ruang guru.


Aku pun berjalan diantara lorong kelas para siswa, para murid yang bercanda dan bermain-main di depan kelas mereka, tidak memperdulikan aku. itu sungguh hal yang sangat baik karena sepuluh menit lagi adalah waktunya untuk menuju jam selanjutnya.


Tidak perlu lama aku berjalan murid yang mengantri untuk makan ternyata sudah berkurang. Sebagian dari mereka sibuk makan dan yang lainnya tentu saja seperti yang dikatakan oleh guru lainnya. Mereka bertengkar dan menghajar satu sama lain, sambil tertawa.


Sebaiknya aku tidak memperdulikan mereka dulu, perutku benar-benar lapar. Aku butuh asupan yang banyak agar tidak kurus seperti ini.


"Pak koki, tolong dagingnya yang banyak ya!" Aku harus berpura-pura tersenyum agar tidak terlihat bahwa aku bukanlah Yinyue.

__ADS_1


Ternyata koki disini baik juga, apa mereka merasa tidak terganggu dengan anak-anak nakal ini.


"Ini dagingnya Bu guru." Koki itu memberikan dua potong daging tambahan. hmmm.. kelihatannya sangat menggugah selera.


Aku pun duduk di tepat yang kosong, dan jauh dari pertengkaran mereka. namun baru saja aku makan empat suap nasi sebuah sandal melayang begitu saja tepat di nampan makananku.


"Bu guru, Ye!" Murid itu mengenalku. itu artinya mereka salah satu dari murid ku. ini kebetulan sekali.


Meizuo : "Bu guru pendek!"


Benar saja si bocah sialan ini, tidak bisa berhenti untuk tidak berkelahi ya. Selain merundung gurunya sendiri dia juga berkelahi di kantin seperti ini.


aku : "Meizuo, bukankah ibu sudah menang taruhan dari mu? kalau begitu sekarang ibu akan mengungkapkan permintaan ibu, Sekarang."


"Apa? Meizuo kalah taruhan dengan Bu Ye? apa aku tidak salah dengar?"


Salah satu murid itu hendak mengompori Meizuo agar malu. Ini tidak bisa dibiarkan harga diri seorang remaja sangat tinggi jika seperti ini terus mereka akan terus berkelahi.


aku melihat Meizuo sepertinya sedikit kesal karena dia mengepalkan tangannya. Bahkan sampai terlihat uratnya kepalanya seperti itu.


Meizuo tertegun begitu aku mengucapkan apa yang aku minta darinya, sebaiknya pelajaran akhlak ini memang tidak bisa di sekaligus kan. Yang pertama kita harus menjadi orang yang sama lalu perlahan-lahan membimbingnya ke jalan yang benar.


Meizuo : "Apa aku tidak salah dengar? Ibu memperbolehkan aku menghajar LiShang? Bukankah ibu tidak suka kekerasan?"


aku : "ibu bukannya tidak suka kekerasan, ibu tidak suka kekerasan yang tidak menempati aturan saja. Kalau tidak mau ya sudah sebentar lagi ibu harus mengajar di kelas lain."


Sepertinya begini saja sudah cukup untuk hari pertama. Meizuo akan merasa dirinya memiliki kuasa lebih. namun sebenarnya kau adalah tahan ku, Meizuo.


Yah karena semua sudah selesai, sepertinya aku harus kembali. Tunggu sebentar, aku sekarang ada jadwal piket menyirami tanaman di belakang sekolah, gawat karena aku terlambat jadi melupakan semuanya.


Aku harus bergegas.


Aku berjalan cukup cepat diantara lorong kelas untungnya, taman belakang sekolah letaknya tidak jauh dari kantin. Aku bisa segera cepat kembali ke ruang guru untuk memeriksa hasil tes kelas 2-4.

__ADS_1


Buk..Buk..Buk..


Suara pukulan? Apa yang terjadi apakah ada sesuatu? Aku harus melihatnya. Di belakang sekolah memang sering terjadi perkelahian dan pembullyan para siswa nakal. Seharusnya aku melihat siapa yang melakukan itu.


Begitu aku melihat setumpuk siswa-siswa yang terkapar setelah berkelahi. Membentuk gunung dengan sekitar tujuh sampai sepuluh siswa.


"Oi, siapa yang melakukan ini!!!?"


Aku tentu saja terkejut dengan semua ini, sehingga tanpa sadar aku berteriak seperti itu.


"Aku.." Suara datar dan hampa terdengar dari belakangku.


aku : "Xiaojun?"


aku tidak menyangka anak ini benar-benar bos berandalan di sekolah ini. Walau tampannya seperti anak yang baik, tetapi ternyata dia adalah anak yang tidak jauh berbeda dari Meizuo.


aku : "Cepat jelaskan pada ibu, apa alasanmu melakukan ini?"


Xiaojun : "Bukankah ibu juga melakukan hal yang sama di kelas pada Meizuo?"


aku : "Ibu hanya memberi dia sedikit pelajaran agar dia tidak seenaknya kembali."


Xiaojun : "Aku juga melakukan hal yang sama dengan ibu, mereka menantang ku. Tentu saja aku harus melawan bukankah seperti itu bu Guru Ye! Ouh bukan Yinyue."


aku : "dasar murid tidak sopan! Kau harus mendapatkan pelajaran tambahan Xiaojun!"


Xiaojun : "Silahkan saja, lagian aku ini adalah siswa dengan peringkat satu di sekolah. Guru-guru mana ada yang berani mengusikku seperti kau!"


aku : "Baiklah Xiaojun, aku tidak akan segan-segan lagi. lihatlah kedepannya hukuman yang akan ibu berikan padamu."


Gawat tidak seperti yang ku bayangkan, ternyata Xiaojun adalah siswa terpintar sekolah ini. Akan lebih sulit menghukumnya karena guru dan inspektur sekolah pasti memberikannya sebuah kebebasan dan penghargaan.


Jika aku mengusiknya mungkin semua guru akan membenciku dan kepala sekolah pun akan memecat ku. Apakah tantangan menjadi seorang guru selalu seperti ini?

__ADS_1


Tidak pasti aku bisa melakukannya. Kalau dia anak terpintar nomor satu di sekolah ini salah satu untuk menghukumnya adalah menjadi asisten guru atau memasukannya kedalam OSIS. tunggu dulu aku kan bukan pembina OSIS, sepertinya aku harus membentuk ekstrakurikuler baru untuk mendamaikan sekolah ini.


Setidaknya kekacauan di sekolah ini menghilang.


__ADS_2