
***
"Hari ini Ibu akan mengajar tentang pelajaran Fisika tentang rangkaian listrik."
"Apaan ini, apakah ibu terlalu menikmati tidur dengan pria gendut itu, sikap ibu berubah tiga ratus empat puluh lima derajat."
"Mungkin si ibu lagi kesambet, haha"
"Kesambet apa tuh?"
"kesambet jin pelayan. haha"
"pelayan apa?
"pelayan ranjang"
Tawa pecah dari anak-anak murid menertawai ku membuatku benar-benar emosi, seumur hidupku aku belum pernah ditertawakan seperti ini oleh bocah-bocah bau kencur. Jadi kalian siap-siap saja bagaimana gurumu ini mengajarkan muridnya tentang akhlak.
"Oke pelajaran Physics akan segera dimulai. Tadi siapa ya murid yang memohon-mohon di depan gerbang untuk belajar bersungguh-sungguh?"
Hehe, lihat saja kau. Wahai murid yang baik. Apakah kalian masih bisa tidur dengan tenang di ranjang kalian.
"Siapa?"
"Mana mungkin ada yang berkata seperti itu"
"Iya benar"
"anak SMK mana ada yang seperti itu."
"Akyu Bu guyu (Aku Bu guru)"
"Hahahaha, heh codet ngapain si bilang pengen belajar, mending sekarang kita ke atap. Mulutku sudah asam nih."
"Hehe, tunggu dulu bagaimana kita main-main dulu sama Bu guyu diakan udah jadi cantik begini. masa ga di coba si."
"Parah si bos."
Dasar murid-murid yang sangat berbakti pada Gurunya, anak zaman sekarang memang ya.
Meizuo : "Heh pendek, kau mau menagih janji padaku?"
Beraninya dia mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku ingin menghajarnya dengan baik, tapi undang-undang perlindungan anak. Membuat anak-anak ini semakin kurang ajar.
"Tentu saja sialan, Bagaimana kalau kita bermain satu permainan. Sudah kubilang bukan sekarang adalah pelajaran Physics. bukankah terdengar seperti fisik di telinga bodoh kalian?"
__ADS_1
Meizuo : "Hahaha, ibu sekarang jadi mulai berani ya. Padahal tingginya saja tidak ada setengahnya dari tinggi ku."
"Ayolah, untuk saat ini anggap saja ibu adalah temanmu, kau boleh memanggil namaku."
Meizuo : "Yinyue, ayo dong kita main. Yang kalah harus mengikuti yang menang ya."
"Oke sepakat."
Meizuo : "Kita main apa dong sayang~ kita main di ranjang ya!"
"Kita adu panco. Sesuai kesepakan yang kalah harus mengikuti yang menang."
Meizuo : "Boleh dong sayang, disini siapa sih yang bisa melawan aku."
Dasar murid yang terlalu percaya diri, kau akan tahu begitu kita memulainya. Beraninya meremehkan aku sang Jenderal tak terkalahkan di zaman dinasti Qing.
Xiaojun : "Bu guru biar aku saja."
Meizuo : "Apa-apaan ini apa ibu ingin berbuat curang Bu?"
"Tidak usah Jun, biar ibu saja. Anak ini baru tahu jika ibu sendiri yang menghukumnya."
Hehe, baru kali ini ada murid yang membela pemilik tubuh ini, padahal berdasarkan ingatan yang aku terima tidak ada satupun orang yang membantunya, apa ini menurut pandangan pemilik tubuh saja ya.
Memang sih tubuh ini nampak seperti seorang guru yang introvert, pantas saja orang-orang bahkan muridnya sediri merasa pemilik tubuh ini mudah untuk dipermainkan.
"Asyiap Bu guru ye aku tidak sabar, Bu guru bakalan bermain di ranjang Meizuo."
"Jangan Mimpi, Permainan ini ibu adalah pemenangnya."
Walaupun tubuh ini lemah tapi kemampuanku masih belum hilang sepenuhnya. Lagian tubuh ini sangat menyebalkan bukan hanya pendek, bahkan sangat kurus. Sebenarnya pemilik tubuh sebelumnya tidak pernah makan makanan yang enak di dunia ini.
"Bu guru ye semuanya sudah siap."
Baiklah saatnya mengajarkan pelajaran akhlak pada murid-murid ku yang sialan ini. Akupun duduk di kursi yang menghadap kearah pintu masuk, sedangkan murid-murid ku yang sangat ramah ini menghadap ke arah jendela luar.
Semuanya bersiap menonton kemenangan ku. Murid-murid ku tersayang lihatlah bagimana guru mu ini mengajarkan akhlak kalian yang hilang.
Xiaojun : "Aku akan jadi wasitnya."
"Wah, keren Xiaojun si bos berandalan maju sebagai wasit."
Bos berandalan? Itu artinya anak yang mengecat rambutnya dengan warnah putih ini juga adalah anak-anak yang termasuk akhlakless ya. Okey kau ada di dalam targetku selanjutnya.
Xiao Jun : "Bu guru ye apa kau siap?"
__ADS_1
Aku : "Tentu saja!"
"Awh gila parah Bu guru badas sekali. hahaha"
Xiaojun : "Meizuo apa kau siap?"
Meizuo : "Oi, Cepatlah sialan!"
Xiaojun menatap Meizuo lekat-lekat, sepertinya kekuasaan Xiaojun lebih besar dari Meizuo, tentu saja itu karena Xiaojun adalah bosnya.
Xiaojun : "Oke siap-siap, 1... 2...3........!"
Meizuo melonggarkan pegangannya padaku, apakah dia meremehkan ku. Kalau kau begini kau mana mungkin bisa menang sialan.
Meizuo : "Hahaha, lihat bukan aku tidak menggunakan tenaga saja Yinyue tidak bisa berbuat apapun."
aku : "Jadi kau tidak sabar ya? Kalau begitu baiklah"
Lihatlah ini kekuatanku yang sebenarnya. Aku pun menekan tangannya dengan sangat kuat hingga murid ku itu terjatuh kelantai.
Semua orang yang melihatnya sangat tercengang terkejut melihat kekuatanku. Lihat apa kalian sialan, aku adalah jenderal terhebat sepanjang sejarah apa kau tidak percaya hahahaha.
aku : "Jadi bagaimana sialan! apakah kau sudah mengakui kekuatanku? Karena kau kalah kau harus mengikuti keinginanku, bukan?
tapi sebaiknya kau pergi ke ruang kesehatan dahulu, takutnya, ada cedera di persendian atau tulang mu."
Meizuo : "Yinyue kau curang, kau memanfaatkan aku yang sedang lengah. Tidak mau tahu setelah aku ke ruang kesehatan kita tanding ulang!"
Aku : "Oi, kalian itu adalah siswa tingkat dua sebentar lagi kalian akan naik ke tingkat akhir dan lulus. Apa kalian tidak berniat untuk masuk universitas?"
Meizuo : "Aku tidak butuh belajar, ayahku sangat kaya. Asalkan ada uang para penjilat itu pasti akan memasukkan ku ke universitas terbaik."
Aku pun melayangkan tinju tepat di wajahnya. Aku tidak tahu mengapa aku merasa bahwa tubuhku bergerak sendiri ketika mendengar seseorang meremehkan ilmu pengetahuan.
Semua murid nampaknya kaget begitu melihat si murid sialan itu benar-benar terkapar diatas lantai seperti itu setelah aku memukulnya. Baguslah ini adalah salah satu peringatan untuk murid-murid yang lain.
"Bu guru apa kau tidak takut, terkena pasal kekerasan pada siswa dan anak di bawah umur."
Aku : "Apa kalian juga ingin bernasib sama dengan Meizuo?"
Semuanya terlihat kengerian begitu melihat mataku yang penuh dengan aura intimidasi ini. Ha kalian belum tahu kalau para manusia-manusia sebelumnya selalu bersembah sujud padaku.
Bahkan ibu suri sialan itu berulang kali mencari cara untuk membunuhku, namun tidak kunjung berhasil. Andaikan saja aku tidak terlalu terpesona oleh ketampanan kaisar Hao pasti aku tidak akan mati di tangannya.
Xiaojun : "Bu Guru!"
__ADS_1
Aku :" ?"
Apa yang dipikirkan oleh murid nakal yang satu ini. Apakah dia juga akan menantang ku beradu panco?