Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik

Bereinkarnasi Menjadi Guru Killer yang Cantik
Guru Privat 3


__ADS_3

"Ti, tidak usah!"


"Tidak usah sungkan, bulan lalu ulang tahun bu guru yang ke 21 bukan?"


"Kau tahu ulang tahun ku?"


"Tentu saja, sayang sekali kita tidak bisa merayakannya karena ibu ulang tahun tepat dihari libur. Karena selang sehari bertepatan dengan hari raya."


"Hahaha, iya ya.." aku tidak menyangka ternyata ulang tahun pemilik tubuh ini sama dengan tahun kelahiran ku. Apakah sebenarnya kita saling terhubung satu sama lain.


Aku benar-benar ingin bertanya dihadapan dewa mengapa ia melakukan hal ini padaku. Apa alasan ia membuatku merasuki tubuh ini. Aku tidak sanggup lagi tubuh ini terlalu mungil dan lemah. Aku harus rajin berolah raga.


"Bu guru ye sepertinya bel masuk sudah berbunyi. Aku pamit terlebih dahulu."


"Baik bu guru."


Dasar, sok akrab sekali dia apakah dulu aku sedekat ini dengannya? Jam pertama sekolah aku tidak ada kelas mengajar sangat membosankan menunggu diruang guru untuk waktu yang lama. Apa sebaiknya aku pergi berkeliling saja ya.


Aku pun keluar dari ruangan guru, menelusuri satu persatu kelas di sekolah itu. Sekolah itu benar benar luas. Bahkan memiliki lahan kebun sendiri. Tapi sayangnya lahan dan kebunnya digunakan untuk anak anak yang membolos sekolah.


Kalau begitu sekalian saja aku melihat berapa banyak siswa yang membolos diwaktu seperti ini. Aku pun pergi ke lahan milik sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantin sekolah.


Saat begitu sampat di sana benar saja kalau banyak murid-murid yang sedang membolos sekolah. Mereka sedang merokok? Bagaimana bisa tidak ada satupun guru yang menasehati mereka?


Mereka masih anak-anak tetapi lagaknya mereka sudah seperti preman jalanan. Akhirnya mereka menyadari kehadiranku disana dan semua orang terpaku memandangi ku dengan tatapan yang menyeramkan.


"Bu guru Ye!?"


Mereka memanggil nama ku. Sepertinya aku tidak terlalu asing dengan mereka. Apakah mereka adalah salah satu murid yang aku ajari. Kira-kira kelas berapa ya mereka, aku tidak begitu ingat dengan jelas.

__ADS_1


"Kebetulan sekali ada bu guru Ye, bagaimana kalau kita bermain-main dengan Bu guru Ye sekarang hahaha."


Salah satu anak dengan tinggi sedang dan memakai topi itu membuat sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu. Namun cukup membuat yang lainnya tertawa menyetujuinya.


"Bukan hanya bermain saja, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu yang lebih menarik lagi. Hahaha"


" Hahahah setuju"


Mereka tertawa mengintimidasi ku. Sepertinya mereka benar-benar tidak memiliki sopan santun. Apakah aku harus memberi mereka pelajaran satu persatu. Tapi nampaknya dengan tubuh yang belum terlatih ini akan sedikit sulit untuk menangani mereka.


Disaat seperti ini aku membutuhkan Meizuo untuk membantuku. Tapi aku tidak bisa melawan anak anak bertubuh besar ini sekitar tujuh orang sekaligus.


"Ayo cepat! Kita jadikan santapan guru kecil kita ini."


"Hei, lepaskan!"


Tiba-tiba saja terdengar suara yang tidak asing di telingaku. "Apakah kalian sudah bosan hidup??" benar saja itu suara Xiaojun, entah sejak kapan dia berada di belakang para siswa berandalan ini.


Para siswa ini tampak ketakutan sampai-sampai tangan mereka gemetaran. Sekujur tubuhnya dipenuhi keringat.


"Xiaojun! Kau bolos pelajaran?" Aku menatapnya dengan tatapan tajam untuk memperingatinya. Namun tatapan kosong seperti biasanya itu membuatku bingung, sebenarnya apa yang sedang dipikirkannya.


"Aku hanya tiduran sebentar, karena aku datang kepagian, ternyata sudah waktunya jam masuk ya. Untungnya kalian berisik jadi aku terbangun."


Baju dan rambut yang sedikit berantakan, bagaimana aku harus menjelaskan bahwa aku tidak mempercayainya. Alasannya tidak masuk akal bagi ku.


"Ibu tampaknya tidak mempercayai ku bukan?" Jun berusaha menebak isi pikiranku, tapi kalau aku mengakuinya dia akan lebih sombong lagi.


"Bukan aku tidak percaya denganmu. tapi kalau kau terbangun karena suara berisik. Seharusnya kau sudah terbangun dari tadi karena murid murid yang harus disiplin kan ini membuat kebisingan sejak sebelum aku datang."

__ADS_1


Aku mencoba memutar otakku, untuk memberikan alasanku mengapa tidak percaya dengannya. Karena otaknya yang licik seperti yang dikatakan Meizuo selalu saja bisa menjebak siapapun.


"Hhahah, bu cebol benar.., apa aku terbangun karena suara ibu yang membuat telingaku sakit?"


Benar-benar tidak bisa ditebak, kemarin ia memintaku menjadi guru privatnya didepan Meizuo dia selalu seolah-olah membelaku. Sekarang didepan para berandalan ini dia bersikap seolah-olah aku adalah musuhnya.


Apa dia memiliki kepribadian ganda? tatapannya saat aku tolong dari para preman jalanan itu, berbeda sekali dengan tatapan kosongnya yang sekarang. Waktu itu aku melihat tatapannya seperti orang menyedihkan. Mungkin dia menyembunyikan hal itu dengan tatapan yang penuh kehampaan ini.


Senyum nakal yang meremehkan ku ini benar-benar ingin membuatku memenggal kepalanya. Bagaimana cara aku bisa meluapkan emosiku saat ini.


"Sudah jangan banyak alasan kalian mau masuk kelas kalian sekarang atau tidak?" Aku coba menggertak mereka namun tidak ada satupun dari mereka yang mendengarkan kata-kata dariku.


"Kalau aku bilang tidak mau?" Xiaojun benar-benar membuatku kesal. Sebelumnya aku memang sudah mengalahkan Meizuo dalam adu panco. Tapi aku tidak tau bagaimana kemampuan Xiaojun yang terkenal sebagai pentolan SMK 1 Teknik ini.


"Kalau tidak mau, ya sudah aku tidak peduli lagi siap siap menerima pengurangan poin dariku." Aku harus pergi, jika aku memaksanya mereka akan semakin melakukannya dengan sengaja.


"Baiklah aku akan kembali ke kelasku, tapi jangan lupa selepas pulang sekolah guru cebol harus menepati janji ya bu guru."


"Tentu saja, kalau bisa sekalian kau ajak anak anak berandalan ini masuk kelas juga."


Mereka pun pergi melewati ku kembali ke kelasnya. Namun di saat terakhir Xiaojun melewati ku sambil memegang pundak ku. Lalu menempelkan bibirnya di telingaku.


"Kalau menangani orang seperti ini saja tidak bisa bagaimana kedepannya kau bisa mendisiplinkan satu sekolah."


Ia pun pergi dengan senyuman yang sangat menjengkelkan dari kacamata sudut pandang ku. Benar-benar anak yang sulit ditebak. Bahkan di zaman dinasti Qing sekalipun orang sepertinya sangatlah langka.


Taktik peperangan di medan tempur dengan taktik psikologi di istana sangat jauh berbeda bahkan aku kalah taktik ketika didalam istana. Aku harus lebih mengasah Kemampuan psikologi ku. Agar semuanya mudah.


Aku harus kembali ke mejaku sebelum bel istirahat pertama berbunyi. seketika aku membalikkan badanku di belakangku, ternyata ada seorang pria yang cukup tinggi mendekati ku.

__ADS_1


"Bu guru sebaiknya ibu jangan terlalu ikut campur masalah anak-anak apalagi anak pak menteri pendidikan. Anak-anak yang bersekolah disini walau mereka anak buangan tapi mereka semua adalah anak-anak yang punya kekuasaan."


Seingat ku dia adalah wakil kepala sekolah yang sangat menyebalkan. Apakah harus mengabaikannya atau tidak.


__ADS_2