
Seperti biasa, sebelum masuk ke inti pelajaran yang berat-berat, Bakri membuka kelas dengan pertanyaan-pertanyaan mudah, bahkan remeh.
"Jadi anak-anak, matematika hanya terdiri dari empat operasi dasar. Apa saja itu?" Para siswa menjawab bersahutan sehingga kelas menjadi riuh.
"Yayaya! Apa saya bilang, yang mau bicara, angkat tangannya!."
Kelas perlahan hening, namun banyak tangan teracung. Bakri pusing mau memilih yang mana untuk pertama kali menjawab.
"Rudi!"
"Pertambahan, Pak! Seperti rinduku padanya selalu bertambah setiap hari!" "Wooooo! hahaha!" kelas menjadi gaduh.
"Yak, Rudi betul. Pertambahan. Apa lagi? Yak, Isma!"
"Pengurangan, Pak! Seperti jarak hatiku dan hatinya yang terus berkurang." kelas kembali gaduh.
Senyum melebar di wajah Bakri "Yak, Isma juga betul. Pengurangan. Dua lagi. Yak, Vian!"
"Perkalian! Seperti senyumannya yang damagenya ke hatiku berkali-kali lipat!" "Wahaha! buciiiiin!".
"Oke, betul Vian! Satu lagi terakhir... Oke, Intje! (dibaca Ince)". 'Kau kira aku tidak memperhatikan, ya?' batin Bakri.
"Apa, Pak?" Intje yang sebenarnya dari tadi sama sekali tidak memperhatikan jalannya pembelajaran tiba-tiba gelagapan oleh todongan Bakri.
"Coba sebutkan 4 proses dasar dalam perhitungan matematika."
"Oh, gampang, Pak. Pertambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian." Jawab Intje dengan lancar dan santainya.
"Yak, betul nak Intje. Kamu ini sebenarnya pintar tapi jarang memperhatikan pembelajaran."
"Mungkin bagusnya dibalik pak. Saya ini jarang memperhatikan pembelajaran, tapi tetap saja pintar." Senyum kemenangan tersungging lebar di wajah Intje. Menguji kesabaran Bakri.
Wajah Bakri seperti mau meledak.
"Huh, Jam berapa sekarang?" Tiba-tiba Bakri terbangun dari mimpi buruknya. Bakri memang seorang guru matematika di sebuah sekolah menengah tingkat atas alias SMA. Berbagai pengalamannya selama mengajar yang berbekas dalam benaknya memang seringkali terbawa ke mimpi.
Kadang pengalaman baik, tapi tak kurang juga pengalaman buruk.
Terutama jika melibatkan si Intje. Intje adalah anak kelas XI yang memang cuek minta ampun. Setiap Bakri akan masuk mengajar, dia berdoa Intje sedang sakit atau izin ke luar planet. Soalnya kalau Bakri sedang mengajar dan Intje berbuat ulah, rasanya seperti di Neraka!
Ngomong-ngomong soal neraka, Koq rasanya panas sekali ya? Bakri heran. Kosannya memang tidak ber-ac dan kipas anginnya sedang rusak, karena itu biasanya dia tidur tanpa selimut dan hanya bermodalkan kolor, namun hari ini lebih panas dari biasanya.
Dia membuka jendela kamarnya, dan betul saja, di luar sana memang tampak seperti neraka! Gedung-gedung runtuh, langit seperti retak. Dan samar terdengar banyak suara tangis di kejauhan.
__ADS_1
Bakri buru-buru berpakaian, cuci muka, sikat gigi, minum air putih, lalu berlari keluar.
Kondisi di luar sudah full chaos. Orang-orang berlarian kesana-kemari tanpa arah seperti semut kepanasan dikenai sinar matahari dengan kaca pembesar. Ah, salah satu eksperimen favoritku waktu sd. Bakri nyengir. Lalu kembali mengamati sekitar.
Hari masih pagi, namun langit telah hitam karena asap dari gedung-gedung yang membubung tinggi menghalangi sinar matahari. Bakri merasa seperti berada di tengah perang dunia ketiga.
Api berkobar di mana-mana, terdengar isak tangis di kejauhan. Kacau sekacau kacaunya.
Ditambah lagi, ada seekor naga di samping Bakri. "Ah, ada seekor naga di sampingku! Lari!" Bakri memasang kuda-kuda untuk mengambil langkah seribu. Namun ada yang menahannya.
"Hei, Pak Bakri! Mau ke mana kamu?!"
"Siapa! Siapa orang gila yang menahanku lari dari amukan Naga!"
"Aku, naga itu sendiri."
Bakri sontak terdiam dan berbalik. Lalu kembali berteriak panik "Kenapa ada naga yang mengenalku!?"
"Astaga Pak Bakri ini ribut sekali!"
"Kenapa ada naga yang bisa berbicara?" Bakri sedikit lebih tenang karena merasa Naga ini bersahabat. Naga itu tidak langsung menyemburnya dengan nafas api atau kau tahulah, membunuhnya dengan cara lain.
"Ceritanya panjang. Intinya Pak Bakri harus membantu saya mengevakuasi warga, sekarang!" Si Naga menjawab dengan wajah serius, meski Bakri tidak tahu bagaimana wajah naga yang sedang bercanda.
"Duh, Pak Bakri ini selain berisik ternyata budeg juga ya. Iya! Ayo! Banyak orang yang tidak seberuntung Bapak dan membutuhkan pertolongan!".
"Baiklah." Bakri akhirnya pasrah menerima nasibnya.
Entah telah berapa lama Bakri dan Si Naga bekerja mengevakuasi warga. Peluh membuat kerah baju Bakri yang berwarna putih menjadi kecoklatan. Seluruh badan dan bajunya kotor oleh reruntuhan juga lumpur.
Banyak pula relawan lain yang ikut membantu. Beberapa berseragam, lebih banyak lagi yang tidak.
Ada petugas palang merah, polisi, tentara, pemadam kebakaran, dan banyak lagi seragam lainnya. Sepertinya segala macam jenis lembaga ikut turun ke jalan, membantu.
'Wah, ini terlihat seperti bencana internasional!' semuanya sungguh terlihat seperti kondisi perang. Namun ada satu hal yang membuat semua ini aneh, naga itu. Dia sepertinya tak memiliki niat buruk, namun tetap saja aneh.
Akhirnya setelah ada sela waktu untuk beristirahat, Pak Bakri memberanikan diri untuk membuka percakapan dengan si naga yang sedang memakan roti. "Hei, Naga."
"Aku punya nama."
"Siapa?"
"Panggil saja mawar."
__ADS_1
"Kau betina?"
"Perempuan. Sebelum semua bencana ini, aku adalah seorang manusia perempuan. Aku dikutuk penyihir."
"Haha. Serius? Seperti di dongeng-dongeng saja."
"Bapak sudah bertemu dengan naga yang bisa berbicara, dan masih saja tidak percaya?"
"Iya juga, sih." Pak Bakri merenungkan kata-kata Mawar. "Tunggu dulu. Kau tadi bilang panggil saja Mawar. Itu bukan nama sebenarnya?"
"Ternyata Pak Bakri memang seorang guru yang cerdas. Iya, itu hanya nama samaranku. Bapak tak perlu tahu nama asliku."
"Baiklah." 'Sial padahal aku sungguh penasaran' pikir Bakri. 'Tunggu dulu, bagaimana Mawar bisa tahu dirinya adalah seorang guru?' batin Bakri kembali berteriak.
"Hei! Kalian berdua di sana! Sudah cukup istirahatnya! Ayo lanjut, masih banyak warga yang membutuhkan kita!" Andri, salah satu ketua regu relawan dari korps polisi memanggil Bakri dan Mawar.
"Baik! Tunggu!". 'Aduh, padahal rotiku belum habis.'. Bakri mengunyah dengan terburu-buru lalu bangkit menuju area evakuasi. Mawar mengikuti di belakangnya.
>>>
Di sela-sela proses evakuasi, di dalam tenda yang juga berfungsi seperti klinik darurat, Bakri sempat berbincang dengan Andri yang sedang mengobati salah satu warga.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku juga tidak tahu pasti, yang kudengar dari atasan kami, ada serangan dari makhluk asing. Tolong berikan padaku kotak P3K itu."
Bakri menyerahkan kotak P3K pada Andri yang langsung mengambil perban lalu membalut luka penyintas bencana di tenda darurat. "Seperti alien?"
"Bukan. Katanya ada sebuah ledakan di laboratorium pemerintah, lalu dari bekas ledakan itu muncul sebuah lubang yang terbuka di tengah kota. Dari sana makhluk-makhluk asing bermunculan dan mulai merusak seisi kota."
"Oh, seperti portal!"
"Ya. Mungkin aku kebanyakan nonton film, tapi dugaanku, portal itu mengarah ke dimensi lain. Dari dimensi itulah para makhluk asing berasal."
"Kalau naga itu?"
Andri mengangkat kepala sebentar dan memperhatikan seekor naga yang bergerak bebas di antara manusia. "Mawar, maksudmu? Entahlah. Jika memang dia berasal dari dimensi lain, kita bersyukur ada satu yang berpihak pada kita."
"Hmm..." 'Tapi makhluk dari dimensi lain itu mengenalku, bahkan mengetahui profesiku sebagai guru!'
Tiba-tiba terdengar suara auman yang mengerikan di kejauhan. Bakri dan Andri berlari keluar tenda.
***
__ADS_1