
Bakri dan Andri mendapati seekor monster sedang mengamuk tak jauh dari tempat mereka berdiri. Monster itu berkaki dua dan bertangan empat, lalu kepalanya seperti kepala singa.
Namun bukan bulu yang tumbuh menjadi surai di sekitar wajahnya, melainkan kaca setajam silet sekeras berlian yang terjalin erat hingga lehernya. Seluruh badannya dipenuhi sisik sekeras baja.
Mawar sedang menghadapinya satu lawan satu, namun pertarungan yang terjadi tidak berimbang. Mawar memang seekor naga, tapi ukuran monster singa itu dua kali lipat lebih besar.
Para personil kepolisian dan tentara tak tinggal diam ikut memberikan perlawanan dengan senjata api. Namun semua tampak sia-sia. Peluru sama sekali tak menggores kulit sang monster.
Mawar berkali-kali mengeluarkan semburan api, namun si monster juga gesit menghindar, agar wajahnya tak terkena. Satu-satunya daerah yang sepertinya merupakan titik lemahnya karena tak ditumbuhi sisik baja atau surai berlian.
Bakri menonton dengan takjub, tanpa menyadari Andri sudah tak ada di sisinya.
"Tahan tembakaaaan!" sekonyong-konyong terdengar lantang teriakan Andri yang berlari kencang dengan membawa sebuah pedang dalam genggamannya.
Dia tidak tidak sendiri, 11 personil satuan khusus lain ikut meluncur menuju area pertarungan. Masing-masing membawa senjata. Tombak, celurit, belati, dan senjata tarung jarak dekat lainnya teracung ganas bagai haus darah.
Mereka mulai bergantian menyerang sambil menghindar agar tak melukai Mawar yang menjadi tameng mereka. Ke dua belas personil satuan khusus tampak bagai pendekar yang menari dalam satu komando. Berlari, menikam, melompat, mundur, lalu maju lagi.
Andri melompat tinggi dan berhasil menyabet wajah sang monster singa. Sang Monster meraung dan mulai bergerak membabi-buta tanpa memperhatikan sekitarnya. Memberikan kesempatan pada personil lain untuk melancarkan serangan. Akhirnya salah satu pendekar yang menggunakan celurit berhasil menancapkan ujung senjatanya pada wajah si monster. Menghancurkan tengkoraknya. Sang Monster pun tumbang.
Menyisakan seonggok jasad tak bernyawa dan genangan darah hijau. 'Ini tampak seperti game!' batin Bakri yang mengamati dari kejauhan.
Para warga bersorak sementara 12 pendekar bubar kembali ke posko penjagaan masing-masing. Bakri mendekati Andri. "Pertarungan yang luar biasa, Kawan."
"Ya, tapi sangat melelahkan. Aku sungguh berharap ada ahli senjata lain di sini."
Bakri tampak berpikir keras, dan akhirnya dia berujar. "Mungkin aku bisa membantu." Andri bengong dengan ujaran Bakri, namun Bakri sudah berlalu.
>>>
Bakri bergegas ke kamar kosnya dan mengambil sebuah pedang di lemarinya lalu membuka sarungnya. Bilah pedang bersinar ditimpa sinar matahari yang menembus jendela.
Sebuah skimitar, pedang besar yang biasanya dipakai para prajurit di timur tengah sana. "Ayah, lindungi aku." Bakri berlari keluar bersama pedangnya, dan sungguh sial. Beberapa monster lain telah bermunculan. Kali ini, segerombolan goblin.
__ADS_1
Anehnya, monster-monster goblin ini seperti mengarah ke kos Bakri secara khusus, tanpa memperdulikan keberadaan warga yang lain. "Ada apa ini!" Bakri nampak kaget, namun dia telah siap.
Bakri mengeluarkan skimitar dari sarungnya, dan bersiaga. Ke 12 pendekar dan personil bersenjata api juga berlari menuju kos Bakri dan membentuk parameter lingkaran untuk membantu menghalau para monster.
Syukurlah para goblin yang bermunculan jauh lebih kecil dan tidak bersisik baja seperti si monster singa, sehingga tembakan peluru sanggup menembus dan menumbangkan mereka.
Pertarungan berlangsung seru saat desing senjata api meletup dan desau senjata tajam berayun. Mawar telah ikut bergabung dan menggosongkan serta merobek beberapa monster yang malang dengan cakarnya.
Sabetan pedang skimitar Bakri yang bagaikan parang panjang dan lebar, membuat Bakri tampak sama sekali berbeda.
Hilang sudah Bakri seorang guru Matematika yang ramah dan humoris, tergantikan prajurit perang yang tangkas dan beringas.
Pedang besar meliuk bagai tanpa beban di tangan Bakri yang cenderung ramping. Seolah bukan Bakri yang mengayunkan skimitar, tapi skimitar itu yang merasuki Bakri dan membuatnya menari-nari.
Sementara Andri dengan pedang panjangnya, membuatnya seperti ksatria beserta 11 kawanannya, juga turut menumbangkan goblin yang terus berdatangan.
Para goblin yang semula tak ada habisnya mulai kurang berdatangan. Goblin-goblin yang masih jauh dari kos Bakri terdiam. Seolah berpikir.
"Haaaaah!" Seluruh personil sontak menghembuskan nafas lega dan jatuh terduduk. Lemas. Bersyukur, karena amunisi pun telah jauh terkuras.
Di antara nafas yang tersengal, Andri bertanya,"Ada apa sebenarnya, Bakri? Kenapa mereka seolah datang hanya ingin menghabisimu?"
"Percayalah, tidak ada yang lebih kaget dan penasaran daripada aku sekarang."
"Baiklah. Lalu pedang itu?"
"Pedang ini adalah harta pusaka yang diberikan turun temurun kepada setiap keturunan pertama laki-laki di keluargaku."
"Dan kini sepertinya tiba waktu untuk pedang itu menjadi lebih dari sekedar pusaka atau hiasan dinding." Andri menatap pedang itu kagum.
"Ya. Kurasa kau benar." Bakri terlihat murung.
"Hei, ada apa, Kawan? Kau nampak hebat tadi. Ilmu pedangmu ternyata lumayan, meski kelihatannya harus sering diasah."
__ADS_1
"Haha. Aku memang jarang latihan." Bakri kembali terlihat serius "Hanya saja aku tidak menduga ilmu pedang keluargaku akan kupakai untuk menebas makhluk hidup lain."
"Yah begitulah, kawan. Tak ada yang menduga ini semua akan terjadi."
"Betul juga." Keduanya kembali terdiam, memandangi sekitar mereka yang dipenuhi para goblin sekarat.
Mereka memang musuh, namun tetap saja ini pemandangan yang menyedihkan.
"Atau mungkin ada benda yang mereka incar dalam kos ini?" Andri kembali membuka obrolan.
"Benda seperti apa?"
"Entahlah." Jawab Andri sambil mengedikkan bahu.
Mereka berdua sama-sama terdiam kembali. Lalu tiba-tiba mata Bakri terbelalak, seolah teringat sesuatu.
"Tunggu." Bakri bergegas bangkit lalu masuk ke kamarnya. Lagi-lagi meninggalkan Andri dengan tampang keheranan.
Di sudut dalam lemari Bakri, bagian bawah samping kanan, ada sebuah kotak kayu kecil yang lusuh dan tak menarik.
Jika skimitar tadi adalah pemberian ayahnya, maka kotak tua ini berasal dari ibunya. Bakri mengambil kotak itu dan menatapnya lekat "Apakah kamu penyebabnya?". Lalu bakri melangkah keluar. "Mungkin in..."
"SRRRAAAHHHH!!!" Belum sempat Bakri duduk untuk memperlihatkan kotak itu pada Andri, seekor goblin yang tadinya sekarat di dekat mereka tiba-tiba bangkit dan secara beringas berusaha menjangkau Bakri. Bakri dan Andri sontak melompat mundur. Untunglah ada personil yang siaga dan segera menembaki kepala goblin itu hingga tewas tak berdaya.
Monster-monster lain yang tadinya juga sekarat dan terbaring lemah menunjukkan gejala yang sama. Tangan mereka terjulur ke arah bakri dan berusaha bangkit. "sraaaaaahhhh!" Mereka mendesis lemah bersamaan. Seperti koor suara kematian yang mengerikan.
Tup! Sret! Syat! Letupan senjata api dan sabetan senjata tajam menghentikan pertunjukan yang membingungkan itu.
"Apa itu, Bakri?" Andri bertanya. Antara heran dan takut. Matanya mengarah ke tangan Bakri.
Bakri menatap penuh takjub pada kotak kayu di tangannya, yang kini ia rasakan menggerum pelan, seperti sebuah mesin yang baru dinyalakan. Ada sinar biru sangat redup yang keluar dari sela-sela kotak itu. Bakri tak pernah menyadari itu sebelumnya. "Entahlah?"
***
__ADS_1