Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 8. Menyelamatkan Diri ke Bukit


__ADS_3

"Ya? Ada apa?" Aneh. Firasat Bakri mulai tak enak. Dia merasa kehadirannya di penginapan ini dan pertemuannya dengan orang-orang tak diundang itu bukanlah sebuah kebetulan.


Telepon di hotel itu menggunakan jaringan non satelit sehingga masih berfungsi dengan baik, jadi bukan itu yang aneh.


Yang aneh adalah nada bicara sang resepsionis. Dia seperti kaget dan tak mengharapkan telepon akan berdering dari kamar Bakri, dan lebih kaget lagi karena ternyata yang menelepon adalah Bakri itu sendiri.


"Tidak, tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Saya hanya penasaran apakah hotel ini menyediakan fasilitas kolam renang di atap?"


"Oh, maaf pak. Untuk saat ini fasilitas kolam renang belum tersedia. Tapi kami bisa menawarkan fasilitas ruang olahraga andalah kami. Tenis Meja."


"Ah sayang sekali, saya tidak pandai memainkan tenis meja. Baiklah, saya akan kembali tidur."


"Oh, baiklah Pak. Kalau ada lagi yang anda butuh, Tuan bisa segera menelepon kembali. Resepsionis akan selalu tersedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu."


"Tapi saya kan cuma berencana untuk menginap semalam?"


"Iya, ya.. hahahaha."


"hahahaha."


Lalu telepon ditutup. Setiap pihak di ujung telepon telah menyadari keanehan masing-masing.


Setelah menutup telepon, Si resepsionis kembali mengangkat telepon lain. Kali ini, telepon yang menggunakan gelombang radio yang masih berfungsi untuk jarak jauh meski tak sejauh telepon biasanya karena tidak menggunakan satelit. Perbincangannya terdengar genting.


Begitu pula Bakri. Dia tak lagi peduli dengan orang-orang yang terbaring tak sadarkan diri itu. Yang dia sadari, dia kini dalam bahaya. Bakri segera merapikan kembali barangnya dan bersiap kabur lewat jendela.


>>>


Ternyata Bakri masih cukup lincah untuk turun tanpa keributan dari lantai 4 ini dengan skill parkournya yang lama tak diasah.


Begitu sampai di bawah, yang pertama terbersit adalah Mawar. Dia bingung harus melakukan apa. Di satu sisi Mawar adalah teman perjalanannya, di sisi lain, kini dia sadar dirinya adalah magnet bahaya.


'Bodo amatlah!' Bakri mengumpat dalam hati lalu berlari ke garasi. Dia bayangkan jika dia berada di posisi Mawar, pasti sangat tidak enak terbangun di garasi hotel orang dan menyadari teman perjalanannya ternyata sudah hilang entah ke mana.


Dia memutuskan menemui Mawar lebih dahulu, lalu menceritakan keadaannya. Tentang apakah Mawar masih mau menemani dia atau tidak setelah itu, dia serahkan sepenuhnya keputusan itu pada Mawar.


>>>


Tidur Mawar pun tak begitu nyenyak. Pengalamannya di dunia lain selama menjadi manusia, lalu naga, menajamkan instingnya pada bahaya.

__ADS_1


Dia telah menyadari bahwa di antara kerumunan di lobi hotel tadi, ada beberapa wajah yang memiliki niat buruk begitu mereka berdua tiba. Tapi dia tak yakin niat buruk itu tertuju padanya, atau Pak Bakri.


Dia merenungkan semua yang telah terjadi. Terbukanya portal itu kembali memang sebuah kesyukuran karena membuatnya bisa kembali ke dunia ini, dunia asalnya.


Namun yang dia sesali adalah dia kembali dalam bentuk terkutuk ini. Dia sama sekali tak menduga akan bertemu Pak Bakri lagi.


"Mawar!" Ada suara bisikan di pintu. Suara Bakri.


'Panjang umur', batin Mawar. Dia sudah sadar apa yang terjadi dari nada suara Bakri. Mereka harus kabur. Mawar mengambil kerelnya lalu membuka pintu garasi.


"Kemana?"


Bakri memicingkan mata. "Kau sudah tahu apa yang terjadi?" Bakri bertanya heran, dan sedikit kesal.


"Kurang lebih. Tapi aku tadi tak yakin siapa yang akan mereka serang. Tidak kuduga ternyata Pak Bakri incaran mereka." Sejujurnya Mawar tidak terlalu terkejut juga. Beberapa waktu ini telah menyadarkan Mawar bahwa Pak Bakri ternyata tidak sesederhana yang selama ini dia kenali.


"Hmph. Sudahlah, ayo kita kabur!" Bakri batal bertanya tentang keputusan Mawar mau ikut menemaninya atau tidak, karena ternyata Mawar telah lebih dulu paham dengan kondisinya.


Mereka berdua lalu berlari dalam senyap. Berusaha sebaik mungkin menyembunyikan diri kalau-kalau ada yang mencari mereka. Sesekali Pak Bakri juga menoleh ke belakang.


"Tenanglah, Pak Bakri. Ayo kita fokus kabur saja dulu. Aku yakin mereka juga tidak mau mengundang keributan. Manusia tidak diuntungkan di lapangan terbuka saat malam gelap begini. Jika mereka berani berulah dan mengundang perhatian makhluk ajaib lain, aku yakin mereka pun akan kerepotan."


"Makhluk ajaib? Itukah sebutan mo- mereka?" Bakri hampir keceplosan menyebutkan monster di hadapan Mawar yang berwujud naga.


"Baiklah. Tapi sekarang kita ke mana? Aku masih mau tidur." Jam di tangan Bakri menunjukkan pukul 1 dinihari.


"Hmm... Kulihat Pak Bakri membawa alat perkemahan yang cukup lengkap. Bagaimana kalau kita berkemah di bukit itu?" Mawar menunjuk sebuah bukit yang tak jauh dari mereka.


Bukit itu terlihat cukup jelas karena sinar purnama. Dari jauh Bakri bisa melihat kalau bukit itu memang cukup ideal untuk ditempati memasang tenda. Bahkan Bakri yakin sebelum semua kekacauan ini, bukit itu adalah salah satu spot piknik favorit. Namun ada satu masalah.


"Kau yakin di saat seperti ini, melewati hutan adalah pilihan bijak?" Memang ada satu hutan kecil yang kini mengantarai mereka dan bukit itu. Dia khawatir dengan kehadiran para makhluk ajaib yang buas.


Mawar tersenyum lebar "Bapak lupa ya kalau saya ini meski kecil, ya tetap naga. Monster yang berani menyerangku tanpa persiapan, bisa dihitung jari!" Ada kebanggaan terdengar dalam suara Mawar. Sepertinya dia memang telah melewati hidup yang berat untuk memiliki rasa percaya diri seperti itu.


"Lalu siang tadi?"


Suara Mawar kembali menciut "Itu beda, Pak. Manticore adalah makhluk langka bahkan di dunia gaib sekalipun. Dia sudah ada di level Mythical Beast! Kesempatan kita bertemu dengannya di hutan kecil seperti ini 1 banding seribu. Apalagi tadi siang kita berhasil membunuh satu, aku yakin mereka akan lebih waspada untuk berurusan dengan manusia setelah kejadian tadi. Mereka adalah makhluk yang lumayan cerdas."


'Oh, jadi namanya Manticore'. "Baiklah.. Ayo kita berkemah!" Langkah Bakri tiba-tiba menjadi bersemangat.

__ADS_1


"Jangan keras-keras, Pak! Ingat, masih ada manusia yang mencari-cari kita."


"Oh, iya. Maaf. Lupa." Mereka berdua lalu berjalan dengan cepat dalam hening. Melewati hutan, menuju bukit.


<<<


Pada dering ketiga, telepon itu diangkat. "Ya?"


"Bos. Sepertinya dia berhasil lolos."


Tiba-tiba orang yang dipanggil Bos itu merasa diserang sakit kepala hebat. Bencana demi bencana yang terjadi telah sangat melukai bisnisnya, sekarang tiba sebuah laporan yang kembali membuatnya pusing tujuh keliling. 'Apa, sih yang dilakukan gadis laba-laba itu dan pacarnya?'


"Bagaimana keadaan Si Macan Gila?"


"Aku sedang menyuruh salah satu staf hotel memeriksa, Bos."


Si Bos tiba-tiba mendidih "Jadi kau berani meneleponku tanpa memastikan keadaannya lebih dahulu? Sudah serendah itukah kualitas disiplin para manajer di organisasi kita?!" Nadanya meninggi.


Di seberang sana, si manajer yang memang berpura-pura menjadi resepsionis biasa untuk memastikan rencana malam ini berjalan lancar, diserang panik. Dia lupa si Bos memang sangat temperamen. "Maaf, Bos. Akan saya telepon lagi setelah mendapat informasi yang lebih lengkap." Lalu dia segera menutup telepon, agar tidak memperpanjang masalahnya.


KRINGGG!!!


Tiba-tiba ada telepon yang kembali berdering, dengan sigap si manajer mengangkatnya "Halo, dengan resepsionis, ada yang bisa saya bantu?"


"Heh! Aku Bos! Fokus!" Nada suara di sana masih tinggi.


Saking paniknya, manajer tidak memperhatikan bahwa telepon yang berdering dan diangkatnya adalah telepon yang baru saja dia tutup. "Maaf, Bos! Ada apa, Bos?"


"Kau berani tutup-tutup telepon saja tanpa saya suruh?!" Si Bos kembali mendamprat dengan tenaga penuh.


"Maaf, Bos! Tidak Sengaja!"


"Lain kali pamit dulu kek!" Si Bos sama sekali tidak mau mendengarkan alasan anak buahnya yang sejak tadi hanya memberikan kejengkelan dan kejengkelan.


"Baik, Bos! Lain kali akan saya ingat!


"TUTUP!" Perintah itu begitu tiba-tiba.


"Baik, Bos!". Si manajer kembali meletakkan gagang telepon dengan gugup. Lalu dia memandangi telepon itu. Satu, dua, tiga detik. Tidak ada dering telepon lagi. Manajer bernafas lega.

__ADS_1


Jauh di sana, Si Bos sendiri juga menghela nafas. Kembali mencari rencana demi rencana yang bisa membantunya melewati masa kiamat ini. Akhirnya dia memutuskan untuk menelepon seseorang lagi, telepon ini menggunakan satelit.


***


__ADS_2