
"Aku masih terbaring lemah saat ada laporan masuk" Rustam melanjutkan ceritanya.
Ternyata pada hari ketujuh beberapa warga telah sembuh dari sakit perut dan demam itu. Bahkan lebih dari itu, kini mereka merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Merasa tak percaya dengan laporan itu, Rustam mencoba bangkit dari pembaringannya. Wajahnya mengernyit, bersiap untuk rasa sakit yang akan langsung menghantam.
Namun di luar dugaannya, rasa sakit itu tak pernah datang. Dan meski merasa sangat lemah, dia sanggup berdiri, lalu berjalan.
Semakin dia bergerak, kekuatan baru seolah semakin dipompa masuk ke dalam otot-ototnya. Hingga ketika dia akhirnya berhasil keluar dari tendanya, dia merasa sanggup berlari!
Pemandangan di hadapannya sangat menakjubkan. Para warga yang nampak segar bugar telah berkeliaran dan saling bersalaman, bahkan berpelukan. Mereka merayakan kesembuhan mereka.
Banyak pula di antara warga yang baru keluar tenda seperti Rustam. Mereka merasakan hal yang sama. Di antara mereka ada Rinai.
"Aku lalu mendekati Rustam dan memberikan dia selamat. Sepertinya tanpa sengaja, dia telah memberikan solusi untuk masalah komunitas kita." Rinai menambahkan.
"Ya. Solusi yang sangat nekat, namun ternyata keberuntungan masih memihak pada kami."
Selanjutnya Rustam kembali bercerita tentang bagaimana khasiat daging makhluk ajaib telah sangat membantu mereka dalam membangun komunitas. Kekuatan yang mereka dapat juga sangat berguna dalam mempertahankan diri dari serangan-serangan yang datang.
Sementara sakit perut dan demam itu tak pernah lagi datang. Sepertinya itu adalah efek samping yang terjadi ketika tubuh mereka pertama kali menyesuaikan diri dengan daging makhluk ajaib.
"Tujuh hari ya..." Bakri tertegun, seolah merenungkan sesuatu. Ekspresi Mawar membatu, dia seperti sedang menahan diri untuk entah apa.
"Ya, hari yang sangat panjang dan menyiksa bagi kami." Rania mengenang hari-hari berat itu.
"Wahahahaha!" Akhirnya Mawar tak lagi sanggup menahan tawanya.
Tawanya yang menggelegar mengagetkan para warga, bahkan sempat menghentikan aktifitas mereka sejenak. Lalu saat mereka sadar itu adalah suara tawa sang naga, mereka kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
"Ada apa, Mawar? Bagian mana dari cerita kami yang lucu?" Rinai tampak agak tersinggung. Dia tak terima Mawar menertawakan penderitaan komunitasnya.
"Iya nih! Kamu koq sangat tidak peka?" Bakri tampak sangat terganggu. Bahkan kelihatannya dia lebih terganggu daripada Rustam dan Rinai.
"Haha. Maaf bu Rinai, Pak Rustam. Aku sungguh tak bermaksud. Hanya saja..." Matanya melirik Bakri yang mulai menutup muka "Bakri Si Pedang Besar ini uring-uringan bahkan sampai sebulan setelah memakan daging makhluk ajaib! Sebulan loh!! hahahaha!"
__ADS_1
Rustam dan Rinai akhirnya paham asal tawa Mawar dan tidak jadi tersinggung. Rinai hanya menyunggingkan senyum tipis, sedangkan Rustam ikut terkekeh bersama mawar. "Haha, Saudara Bakri ternyata manusia biasa juga ya."
"Huh! Itu pasti karena tipe makhuk ajaib yang kumakan pertama kali, tipenya lebih tinggi daripada yang Pak Rustam makan!" Bakri mencoba berkilah dan membela diri.
"Iya deh, Pak Bakri. Iya..."
Mendengar Mawar pura-pura mengiyakannya seperti itu, Bakri malah tampak semakin jengkel.
Rustam kembali terkekeh, sedangkan Rinai tak bisa lagi menahan diri dan ikut cekikikan. Mereka tak menyangka sosok pahlawan di hadapan mereka punya sisi kekanakan seperti itu.
Obrolan kembali berlanjut, dan setelah beberapa menit mulai melantur kemana-mana.
Jam akhirnya menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat.
Rinai duluan pamit karena meski tubuhnya sudah jauh lebih kuat setelah memakan makhluk ajaib sehari-hari, tetap saja umurnya tak lagi muda.
Disusul Mawar yang memang cepat mengantuk.
Akhirnya majelis dadakan itu bubar saat Bakri dan Rustam sepakat untuk melanjutkan obrolan mereka yang seolah tak ada habisnya di esok hari.
Namun sesuatu yang sejak tadi mengintai mereka dari jauh, justru semakin terang matanya.
<<<
Si Macan Gila masih tak terima dengan kekalahannya beberapa waktu lalu saat melawan Bakri.
Waktu terbangun dia mendapati SDBR dan Kenny Si Jeruk juga sedang terbaring tak berdaya di dekatnya.
Awalnya ini terdengar seperti misi sederhana. Dia hanya ditugaskan untuk mengambil, lebih tepatnya mencuri, sebuah kotak. Tidak ada ciri khusus yang disebutkan terkait kotak itu.
Si Macan hanya diberitahu bahwa pembawanya adalah seorang dengan kerel besar hitam dan pedang besar, yang ditemani seekor naga dengan kerel merah.
Bakri dan Mawar adalah dua orang yang paling sesuai dengan deskripsi itu.
Dia juga dipesankan untuk melakukannya dengan cepat, karena diketahui kelompok yang mengincar kotak itu bukan hanya satu. Terbukti dengan hadirnya SDBR dan Kenny Si Jeruk di TKP.
__ADS_1
Hal ini sudah dia antisipasi. Waktu di lobi *Hotel Terorganisir* bersama gadis laba-laba, dia sudah mengukur kemampuan orang-orang yang ada di sana, dan dia yakin dia bisa mengatasi mereka semua dengan kemampuannya.
Yang tak ia duga adalah Bakri. Si Macan tahu dari pedang besar yang dia bawa, Bakri punya kemampuan bertarung. Namun dia tak menyangka kemampuan Bakri begitu tinggi hingga sanggup menghajarnya sampai tak berdaya.
Setelah kekalahannya itu, Si Macan memilih vakum dari dunia hitam dan fokus melatih diri. Hanya ada sedikit tempat di dunia ini yang telah melampaui beberapa ujian zaman, dan tempat Si Macan berlatih adalah salah satunya.
Tempat yang juga merupakan asalnya menimba ilmu beladiri sampai namanya tersohor di dunia hitam: Padepokan Ragastara.
Padepokan Ragastara bisa dibilang tak tersentuh oleh bencana. Lokasinya yang terpencil membuat para makhluk ajaib tak menyadari keberadaannya.
Makhluk Ajaib yang sial menemukan lokasi ini akan segera tewas tanpa sempat membagikan temuan mereka pada rekannya karena padepokan ini berisi para manusia dengan kemampuan bertarung yang luar biasa.
Si Macan Gila yang diakui kemampuannya di dunia hitam, termasuk individu yang lemah jika dibandingkan mayoritas penghuni Padepokan Ragastara. Maka keputusan Si Macan gila untuk kembali dan meningkatkan kemampuan beladirinya, memang rencana yang masuk akal.
Sejak saat itu, tiga bulan telah berlalu. Si Macan kembali dihubungi oleh organisasinya untuk menuntaskan misi yang sama.
"Akhirnya! Aku bisa membalas!" Si Macan keluar dari sarangnya dan segera memburu Bakri.
-->>>
Dan kita kembali ke masa kini. Si Macan sedang mengintai komunitas tanpa nama dari kejauhan.
Awalnya dia berniat menyerang Bakri malam ini juga, dengan cara menyelinap ke dalam komunitas dan lalu mengambil kotak itu.
Jika ternyata Bakri lagi-lagi terbangun dan mengeluarkan jurus aneh mata merah itu, Si Macan Gila yakin kali ini kemampuannya sanggup mengatasinya.
Kalau dalam pertarungan itu Bakri terbunuh, maka itu adalah bonus baginya. Si Macan tersenyum licik. Dari awal misi utamanya memang menghabisi Bakri.
Kotak itu hanya sampingan utama. Sekedar alasan untuknya menggunakan sumber daya organisasi dalam mencari jejak Bakri dan Mawar.
Namun setelah memperhatikan pertarungan mereka dengan para skulot, Si Macan sungguh syok.
Dia tak menduga komunitas kecil tanpa nama ini mayoritas berisi para petarung handal. Hal ini membuatnya sedikit gentar sehingga dia memutuskan merubah rencananya. Bahkan kemampuan Bakri pun telah meningkat pesat.
Malam ini dia hanya akan berkemah darurat di sini, lalu besok pagi dia yakin Bakri dan Mawar akan segera meninggalkan komunitas ini lalu ketika ada kesempatan... Ya, saat itu dia akan menghabisi Bakri.
__ADS_1
***