
Matahari telah tergelincir dari puncaknya dan langit mulai redup saat Mawar selesai berkemas dan kini sedang berjalan menuju tenda utama.
Dia bisa mendengar ada suatu keributan kecil di dalam sana. Mawar masuk. Di sebuah meja besar di tengah tenda, tampak para tokoh lingkungan telah berkumpul, juga Andri dan Bakri.
Riuh rendah suara manusia mendadak senyap begitu Mawar memasuki tenda. "Ini dia, yang dibicarakan sudah muncul." Itu adalah suara Prapto, ketua lingkungan.
"Ada apa?" Mawar bertanya.
"Para tokoh lingkungan ini tak setuju dengan kepergian kita, Mawar!" Bakri menjawab dengan nada ketus. Sepertinya telah terjadi perdebatan yang cukup alot sebelum Mawar tiba.
"Bukan begitu. Kami sama sekali tak keberatan dengan kepergianmu, anak muda. Yang tak kami restui adalah kepergian Mawar Sang Naga. Kami rasa itu keputusan yang sangat egois. Menengok betapa kami sangat membutuhkannya di masa genting seperti sekarang." Prapto menimpali ujaran Bakri.
"Oh, jadi begitu ya!? Sekarang kalian telah merasa berhak untuk menakar nilai sesama makhluk lainnya! Aku yang kalian nilai lemah dan tak berguna, boleh saja meninggalkan lingkungan dan terjun bebas ke mara bahaya, di antah berantah, sendirian! Sementara Mawar Sang Naga yang perkasa harus tinggal disini untuk memberi kalian semua rasa aman!" Bakri naik pitam.
"Sudahlah, Pak Bakri. Orang-orang dalam masa panik memang selalu berusaha mencari solusi tercepat." Mawar berusaha menenangkan Bakri.
"Maafkan aku, Mawar. Kami berdua sudah berusaha menjelaskan semuanya tapi kau lihat sendiri beginilah kenyataannya." Andri tampak sangat kebingungan.
"Tidak apa-apa, Andri. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi." Mawar meletakkan ranselnya "dan aku sudah menyiapkan solusinya."
"Apa? Jadi kau batal ikut denganku. Itu bukan solusi, Mawar. Itu namanya menyerah."
"Haha, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan begitu, Pak Bakri. Tenang saja, aku sudah berkata akan ikut, dan akan kutepati kata-kataku."
"Mungkin ada sesuatu yang ingin kau berikan pada kami dari dalam ranselmu? Maaf saja, Mawar. Kami tidak akan semudah itu terbujuk." Prapto bersidekap sombong. Para tokoh lingkungan lain mengangguk setuju. Namun lirikan mata mereka berkata lain, mereka sangat penasaran.
"Hampir betul Para Tetua sekalian, memang ada yang ingin kuberikan pada kalian. Tapi bukan berasal dari ransel ini."
"Lalu kenapa kau menanggalkan ranselmu?" Andri bertanya penasaran.
"Karena yang ingin aku ambil, ada di daerah yang tadi tertutupi ransel." Mawar menggerakkan tangan kanan ke belakang badannya bagian bawah, seperti sedang menggaruk punggung, namun sebenarnya bukan itu yang ingin dia lakukan. Mawar menarik nafas dan memejamkan matanya, apa yang ingin ia lakukan akan terasa sangat menyakitkan.
Keempat jarinya mencengkram kuat-kuat, lalu mulai menarik, lebih tepatnya mencabut sesuatu. Seluruh wajah Mawar mengernyit menahan sakit, Lalu "crasss!".
Kini di tangan kanan Mawar, tergenggam sesuatu yang berlumuran darah hitam. Sebuah sisik naga.
Semua orang terkesiap melihat pemandangan itu. Andri menganga. Bakri melotot. Namun ternyata pertunjukan belum usai.
"Oke, satu lagi." Kali ini tangan kiri mawar menjangkau kakinya. Runtutan kejadian yang sama kembali terulang. Kali ini semua orang ikut menarik nafas panjang saat Mawar kembali mencabut sisiknya.
Kedua tangannya kini berisi sisik naga yang berlumuran darah. Namun sesaat setelah sensasi sakit yang luar biasa menghilang, wajah Mawar kembali terlihat datar-datar saja. Kedua sisik itu sekarang dia acungkan pada para hadirin yang masih kaget dan syok.
__ADS_1
Setelah yakin tidak ada pertunjukan lanjutan, Bakri adalah yang pertama ingat untuk kembali bernafas "Fyuuuh! Kurasa itu cukup trauma untuk sehari ini."
"Ya. Rasanya aku sudah cukup melihat darah dalam hidupku. Tapi tak kuduga akan ada yang seperti ini." Andri menimpali.
"Jelaskan maksudmu, Mawar. Harus ada penjelasan yang memuaskan untuk atraksi gila tadi." Prapto masih dalam keadaan terguncang.
"Haha, itu juga reaksi yang sudah kuduga." Mawar puas menikmati ekspresi para manusia yang pucat pasi. "Baiklah akan kujelaskan." Mawar memajukan tangan kanannya.
Darah telah banyak menetes ke tanah dan meninggalkan sisik itu sehingga mulai tampak jelas bentuk dan warnanya. Bentuknya tajam di ujungnya dan berwarna merah.
"Ini sisik yang berasal dari punggungku, sebuah pemantik ajaib."
"Pemantik ajaib?" Prapto bertanya penasaran.
"Ya, jika kalian menggesekkannya dengan keras dan cepat pada sebuah permukaan, pasti akan muncul percikan api. Syaratnya, permukaan itu harus padat dan kering." Mawar segera mempraktikkannya pada besi tiang tenda.
Benar saja, hanya dengan sekali gesek, keluar bunga api yang banyak, besi itu terlihat seperti digurinda "Tentu saja, jika kalian gesekkan pada permukaan yang memang mudah terbakar, seperti kayu, api akan langsung menyala."
"Baiklah, bagaimana dengan sisik yang satu lagi? Apakah sama?" Prapto kembali bertanya tak sabar.
"Tentu tidak." Sekarang Mawar memajukan tangan kirinya. Sisik itu memiliki bentuk yang sama dengan pemantik ajaib, namun warnanya hitam, dan ukurannya agak lebih kecil. "Jika kalian gesekkan pada permukaan kering dan padat, memang akan tetap keluar percikan api, namun tidak sebesar si pemantik ajaib tadi. Lagipula bukan itu khasiat utamanya."
"Lalu apa?" Prapto kembali memburu.
"Maaf. Hanya saja, hari mulai gelap." Prapto kembali berkilah.
"Namun jika terus dipotong seperti tadi, penjelasanku tentu akan lebih lama selesai." Mawar mencoba menjelaskan.
"Lagipula aku yakin Mawar tidak sengaja berlama-lama seperti ini. Kalian sudah dengar sendiri katanya tadi bahwa kami berdua akan meninggalkan lingkungan ini. Setidaknya saat malam tiba, kalian punya komunitas yang kalian temani bertahan. Kami?" Bakri menambahkan. Memberi pembelaan pada Mawar.
"Mereka betul, Pak Prapto. Mari kita simak penjelasan Mawar dulu dengan baik lalu berunding setelahnya." Seorang nenek dari tokoh lingkungan lainnya ikut menyela. Dia mulai terlihat sepuh, tapi ada aura kebijaksanaan menguar dari perawakannya yang mulai membungkuk. Para tokoh lain ikut mengangguk-angguk sepakat.
Bakri mengernyitkan dahi. Dia seperti mengenal nenek-nenek itu, tapi lupa di mana pernah bertemu.
"Baiklah." Pak Prapto tiba-tiba menyadari dia kalah jumlah dalam perdebatan ini dan memilih mengalah.
Mawar kembali mengacungkan sisik hitam di tangan kirinya "Guna utama sisik hitam ini, adalah untuk dicelup."
"Ap..." 'ssshhttt!' Prapto baru akan membuka mulut dan mengangkat tangan untuk menyanggah, namun puluhan kepala tiba-tiba tertuju padanya dan menahan. Prapto seketika mingkem.
"Oke, aku lanjut ya.." Mawar tak bisa menyembunyikan senyum kemenangan di ujung bibirnya. Lalu dia lanjut menjelaskan. "...kalian lihat sendiri tadi dengan jelas, sisik ini berasal dari kakiku, dekat dengan cakarku yang mampu merobek besi dengan sekali ayun." Dalam pertarungan tadi memang telah mereka saksikan, cakar Mawar mampu merobek daging monster tanpa usaha.
__ADS_1
"Nah dalam usaha bertahan hidup kalian yang akan datang, pasti kalian akan membutuhkan banyak senjata tajam. Setiap pedang, tombak, bahkan mata panah atau senjata apapun yang kalian buat dari logam, rendamlah dalam air yang telah kalian celupkan dengan sisik hitam ini. Niscaya senjata kalian akan memiliki ketahanan yang kurang lebih setara dengan setiap kuku dalam cakarku."
Mata Andri seketika berbinar. "Bagaimana dengan peluru!?"
"Ya, begitu pula dengan peluru."
"Mantap!"
"Bagaimana Para Tetua, apakah pemberianku ini cukup untuk merelakanku pergi?"
Terlihat Prapto dan tokoh lingkungan lain berunding secara singkat. Lalu Prapto membuka suara. "Baiklah, melihat dan menimbang keteguhan hati Mawar untuk pergi. Kami dengan berat hati merelakannya."
"Terima Kasih, Pak Ketua." Mawar kembali menyingsingkan ranselnya.
"Oke Andri, kami pergi dulu, ya." Bakri mulai mengucapkan salam perpisahannya
"Baiklah, hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa menemani kalian sampai perbatasan. Malam akan tiba dan kami harus segera melakukan rapat. Semoga pengembaraanmu selalu dilindungi Yang Maha Kuasa.." Andri menjawab salam Bakri.
"Amin. Baiklah, kami mengerti. Kau juga, Andri. Semoga lingkungan selalu aman di bawah komandomu." Bakri sungguh berharap lingkungan akan terus ada sampai dia kembali yang entah kapan.
"Dan kewarasanmu selalu terjaga di bawah pimpiman Pak Prapto." Mawar berceletuk.
"Hahaha." Ketiganya tergelak.
Mawar dan Bakri berbalik ingin meninggalkan tenda. Namun Bakri tampak masih sedang mempertimbangkan sesuatu. Akhirnya dia membuka ranselnya dan berbalik sekali lagi, mendapati Andri telah melangkah menuju meja bundar tempat perundingan tadi. "Andri!"
Langkah Andri terhenti, dia berbalik lalu menghampiri Bakri. "Ya, ada apa Bakri?"
"Ini." Bakri menyerahkan benda yang dia keluarkan dari kerelnya. Sebuah buku yang terlihat lusuh dimakan umur. "Aku tak tahu apakah ini dapat banyak membantu, tapi semoga ini ada artinya."
Andri memperhatikan sesaat buku yang ia terima, lalu matanya terbelalak "Waw! Buku Ilmu Pedang Skimitar. versi bahasa Indonesia!" Andri kegirangan seperti anak kecil mendapat mainan baru. "Tapi apakah tidak apa-apa kau memberikannya seperti ini? Bukankah buku ini bisa dibilang salah satu pusaka keluargamu juga?"
"Tidak apa-apa. Aku sepakat dengan kata-katamu. Sepertinya kini tiba saatnya benda-benda seperti ini menemukan arti yang lebih tinggi daripada sekedar pusaka keluarga dan pajangan lemari." Bakri tersenyum, "lagipula aku sudah menghafal buku itu bolak balik, dari awal hingga akhir." Alasan sebenarnya Bakri rela memberikan buku itu adalah karena dia tersentuh melihat aksi Mawar tadi, tapi dia tidak mengatakannya.
"Baiklah kalau begitu, Kawan. Aku akan menjaga kitab ini dengan baik." Andri memasukkan buku itu ke sling bag yang selalu ia pakai kemana-mana.
Di dalamnya ada minyak kayu putih, dompet juga sebuah smartphone. Meski untuk sekarang benda itu tidak terlalu berguna.
"Oke." Lalu dengan itu, Andri dan Mawar sungguh meninggalkan tenda.
Matahari pun kini telah usai bertugas, langit mulai gelap. Bakri menghirup nafas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Ada sedikit gentar menelusup dalam dadanya. Bakri memperhatikan Mawar, mencoba mencari sedikit rasa khawatir atau setidaknya gugup. Namun selain ekspresi kesakitannya tadi, ekspresi naga memang sulit dibaca.
__ADS_1
***