
"Tembak!" Begitu gerombolan skulot berjarak sisa kurang lebih 200 meter dari gerbang komunitas, Rustam meneriakkan perintah untuk menembak.
Seketika belasan anak panah melesat, tombak dan jarum beracun juga melayang di atas Bakri dan Mawar dalam kecepatan penuh, seperti teluh dukun menuju sasarannya.
Syut! Crat! Jleb!
Seketika para skulot terdepan bertumbangan. Beberapa skulot yang terkena pada bagian-bagian vital, tewas seketika. Ada pula yang hanya sekarat meski terbaring tak berdaya.
Namun para skulot terus merangsek maju. Kini mereka sisa kurang lebih 10 meter dari gerbang.
Rustam mengangkat tinjunya tinggi, pertanda untuk penghuni baris ketiga menghentikan tembakan. Lalu tangan Rustam turun dengan cepat, mengarah ke depan. "Seraaangg!"
Akhirnya tiba giliran Bakri dan Mawar beraksi, bersama para pengguna senjata jarak pendek lainnya.
'Sraak!'
Skulot terdepan segera bertemu dengan sabetan skimitar dan terbelah dua.
Cakar Mawar juga mempertemukan para skulot dengan ajal mereka. Tak ketinggalan nafas apinya menggosongkan skulot yang malang.
Para penghuni baris satu lainnya seolah tak mau kalah, ikut menghabisi para skulot terdekat.
Sementara Rustam ternyata telah mengambil senjatanya, sebuah kapak besar bermata dua. Rustam berlari ke baris terdepan, ikut menyerang. Dalam sekali tebas, Rustam bisa melukai 2-3 skulot dengan parah.
Lukanya tak mematikan, tapi membuat para skulot yang terkena tebasan kapak Rustam seolah tak lagi mengenal gravitasi bumi dengan baik. Oleng.
Para warga lain segera menuntaskan nafas para skulot yang telah kehilangan keseimbangan mereka itu. Korban dari pihak skulot terus menumpuk, namun para warga sama sekali belum kekurangan nafas.
Para skulot yang ada di baris paling belakang selalu adalah yang terbesar dan paling berpengalaman dalam bertarung. Tumbukan tongkat tulang mereka berhasil mengenai beberapa petarung. Bahkan mematahkan beberapa tombak dan tongkat.
Namun untunglah para petarung yang terkena tumbukan itu mengunakan pelindung sehingga tidak mengalami luka serius. Para petarung lain datang dan mengerubungi skulot yang kini sudah kekurangan jumlah.
Ditambah bantuan Bakri dan Mawar, akhirnya seluruh skulot tumbang. Hal ini salah satu yang dikagumi Bakri dan Mawar dari para skulot. Jika sudah menyerang, mereka sama sekali pantang mundur. Bahkan jika harus menghabisi seluruh gerombolannya.
'Yah, itu antara berani atau bodoh, sih' batin Bakri menyimpulkan.
>>>
"Hip hip, hoorah!" Rustam dan para warga meneriakkan sorak sorai kemenangan. Mereka tidak lagi dalam formasi. Senjata lalu disimpan dan pakaian tempur diletakkan.
Rustam sendiri sedang duduk di sebuah kursi plastik berwarna putih berlengan. Tidak terlihat ada kursi lain yang seperti itu sehingga Bakri menyimpulkan itulah kursi untuk ketua komunitas ini.
__ADS_1
Bakri dan Mawar sendiri duduk di kursi kayu yang biasanya ditemukan di sekolah. Sepertinya kursi-kursi ini memang berasal dari sekolah. Di sandarannya ada tertera sebuah tulisan yang tercetak tebal. Meski buram tapi masih bisa terbaca "Bantuan DOS". Dana Operasional Sekolah.
Rustam menoleh pada Bakri dan Mawar, "Terima kasih untuk bantuan kalian. Jika bukan karena kalian berdua, akan lebih banyak petarung kami yang terluka parah."
"Pak Rustam terlalu merendah. Saya lihat kemampuan para warga di sini tidak terlalu buruk. Bahkan ada yang sudah bisa disebut pendekar." Bakri masih terkagum-kagum dengan pertarungan barusan. Rasanya para skulot itu seperti dibantai.
Kejadian seperti ini hanya Bakri dan Mawar alami saat mereka bertempur bersama komunitas besar. Satu dua kali.
"Ah, kami hanya petarung biasa yang beruntung." Rustam tersenyum lebar, tampak sangat bangga dengan komunitasnya. "Komunitas kami memang kecil, tapi kami bertahan!"
Mawar mengedarkan pandangannya pada setiap sudut komunitas. Memperhatikan para warganya. Satu pertanyaan terbetik dalam benaknya.
"Saya ada pertanyaan, Pak Rustam. Tapi kalau memang dianggap sensitif, tidak perlu dijawab." Mawar akhirnya bertanya.
"Oke, silahkan. Saya akan mencoba seterbuka mungkin." Bakri menjawab dengan nada penasaran.
"Apakah kalian mengkonsumsi daging makhluk ajaib?" Mawar menanyakan pertanyaan itu.
"Maaf?" Rustam tidak yakin dengan apa yang dimaksud oleh pertanyaan Mawar.
"Maksudnya, monster." Bakri mencoba membantu.
"Ah! Yak! Tepat sekali!" diluar dugaan Mawar, Rustam malah menjawab dengan lantang dan senyum lebar. "Hmm... Makhluk ajaib memang sepertinya julukan yang lebih tepat."
"Bagaimana kalau makhluk ajaib?." Rustam memberi saran.
Mata Rinai terbelalak, seuntai senyum terbentuk di kedua ujung bibirnya. "Ah! Makhluk ajaib adalah sebutan yang jauh lebih baik!" ujar Rinai antusias. Sepakat dengan usulan Rustam.
"Perkenalkan, ini adalah Rinai. Dulu sebelum masa bencana, dia adalah kepala koki di salah satu restoran bintang lima. Namun sekarang dia adalah kepala dapur di komunitas kami yang sederhana." Rustam memperkenalkan secara singkat tentang identitas perempuan yang baru saja bergabung itu.
"Ah. Pak Rustam ini terlalu merendah. Menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mensuplai nutrisi para petarung adalah hal yang mulia." Rinai terlihat pura-pura tersipu malu.
"Haha. Bilang saja bu, kalau anda sangat menikmati memasak daging makhluk ajaib. Sebuah kesempatan langka untuk para koki bintang lima dalam hidupnya!" Rustam menimpali dengan bercanda. Rinai ikut tertawa.
"Wah, jadi kalian memang memakan daging makhluk ajaib?" Bakri tak tahan dengan basa-basi ini dan langsung memotong perbincangan mereka. Dia pun tertarik dengan topik ini.
Rustam dan Rinai nampak tak keberatan. Di mata mereka Bakri dan Mawar adalah tamu kehormatan. Ditambah menyaksikan aksi mereka di pertempuran tadi, kini mereka bahkan menempatkan Bakri dan Mawar di hati mereka sebagai pahlawan.
"Iya. Bahkan para makhluk ajaib tadi juga akan kami olah jadi bahan makanan." Rinai menimpali dengan antusias. Matanya tak lepas dari para warga yang sedang bolak-balik mengangkut jasad skulot.
Alis Rinai terangkat naik, nampak beberapa jasad yang tak lagi layak diolah jadi bahan makanan.
__ADS_1
"Bagaimana pengalaman kalian bisa memakan daging makhluk ajaib?" Mawar memberikan pertanyaan lanjutan. Dari sekian komunitas yang mereka lewati, kebanyakan memilih bercocok tanam untuk memenuhi asupan nutrisi para warganya.
"Semuanya bermula dari ketidaksengajaan, dan keterpaksaan..." raut wajah Rustam menjadi serius. Bakri dan Mawar memperhatikan dengan khusyuk, saat Rustam mulai menceritakan asal mula mereka menjadi pemakan makhluk ajaib.
<<<---
Seperti komunitas kecil lainnya, pada awal masa bencana, Rustam dan para warganya kesulitan untuk bertahan, dan tantangan terbesar mereka adalah persediaan makanan.
Bahkan Rinai yang sangat kreatif dalam mengolah bahan makanan, mulai kesulitan untuk melayani kebutuhan nutrisi para warga. Persediaan mereka terus menipis, sementara isi ulangnya begitu lambat.
Mereka telah mencoba bercocok tanam, namun tanah di sekitar mereka sangat tandus sehingga hasil panennya pun tak memadai.
Akhirnya mereka memutuskan untuk memenuhi asupan nutrisi dengan berburu. Namun persediaan hewan liar di sekitar mereka juga terus berkurang karena mereka bersaing dengan makhluk ajaib dalam memangsa para hewan.
Putus asa, tanpa banyak pilihan lagi, Rustam melakukan sesuatu yang di luar akal manusia. Dia mulai mencoba menyelundupkan daging makhluk ajaib yang berhasil mereka bunuh ke dapur.
Rinai awalnya menolak keras tindakan nekat Rustam. Ini tak pernah dilakukan, dan tampak seperti tindakan bunuh diri. Namun karena tak ada pilihan lain, akhirnya Rinai mencoba mengolah daging itu.
Dapur umum lalu menghidangkan masakan aneh itu. Para warga awalnya menyadari ada yang beda dengan daging yang kali ini akan mereka santap.
Namun kelaparan adalah teriakan yang sangat lantang sehingga membutakan mata dan lidah. Mereka makan dengan lahap. Begitu pula Rustam dan Rinai.
Keesokan harinya, semua warga tanpa terkecuali, jatuh sakit. Perut mereka seolah dicabik dari dalam, disertai demam tinggi yang membuat tubuh mereka serasa mendidih, bahkan mengeluarkan asap.
Setiap orang mulai menyadari, apapun yang mereka alami sekarang, penyebabnya adalah santapan mereka tadi malam. Satu persatu para warga memasukkan tangan ke mulutnya, berusaha mencapai kerongkangannya. Adapula yang mencoba meminum air banyak-banyak.
Namun tak ada yang muntah, kecuali air saja yang keluar. Apapun yang kini ada di perut mereka menolak keluar atau mungkin sudah terserap habis menjadi otot dan daging dalam tubuh mereka.
Rustam dan Rinai dipenuhi rasa bersalah, meski ikut terbaring tak berdaya karena mengalami gejala yang sama.
Dalam pembaringannya Rustam hanya bisa berdoa, semoga mereka diberi akhir yang mudah jika ajal memang ditakdirkan menjemput mereka. Dan semoga Tuhan mengampuni dosanya telah meracuni para warga.
Andai ada monster yang menyerang komunitas mereka hari itu, maka sudah dipastikan semua warga akan tewas tanpa sisa karena tak ada yang mampu menguasai tubuh mereka dengan baik. Apalagi mau mempertahankan diri dan melawan.
Namun sepertinya Tuhan masih berbaik hati pada komunitas kecil ini. Tak ada yang menyerang pada hari itu. Bahkan cuaca nampak sangat bersahabat.
Angin berhembus lembut, sinar matahari tak begitu terik meski terang menyinari lingkungan mereka. Malam yang tiba tak terlalu dingin, siang yang panjang tak begitu panas.
Seolah alam mengerti dengan penderitaan yang mereka alami, dan berusaha menghibur mereka.
Kejadian ini berlangsung selama satu minggu. Pada hari ketujuh, keajaiban yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
***