Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 10. Komunitas Tanpa Nama


__ADS_3

Setelah bertemu banyak komunitas dan bertanya ke sana-sini, akhirnya Bakri menemukan titik yang tepat pada peta usangnya, lalu menyesuaikannya dengan keadaan terkini. Setelah itu, semua jadi lebih simpel.


Bakri mencocokkan titik di peta dengan titik di aplikasi ji-mapnya. Ji-map adalah sebuah fitur peta digital yang tersambung dengan satelit.


Penampilan Ji-map yang sederhana dan simpel namun memiliki fitur yang cukup lengkap, membuatnya sangat populer sejak sebelum masa bencana. Kekurangannya hanya satu; seringkali Ji-map mengarahkan penggunanya pada rute yang tak masuk akal, atau bahkan jalan buntu.


Namun sejak masa bencana dimulai, Ji-map menjadi satu-satunya rujukan peta digital. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah sumberdaya raksasa di belakang perusahaan induknya: Joogle. Membuat Ji-map menjadi satu-satunya aplikasi peta digital yang sanggup bertahan setelah masa bencana.


Dengan mengikuti tuntunan Ji-map di smartphone Bakri, rute perjalanan mereka menjadi lebih jelas.


>>>


Bakri dan Mawar sebenarnya sudah hampir menggelar tenda karena hari mulai gelap, sementara tak ada penampakan komunitas yang bisa mereka tempati singgah.


Biasanya Komunitas ini ditandai dengan tembok-tembok kecil sebagai garis pertahanan, dan sebuah gerbang sebagai pintu masuknya.


Saat mereka sedang mencari titik yang cocok untuk meletakkan kaki-kaki tenda, Mawar yang memiliki penglihatan lebih tajam dari Bakri, melihat sebuah gerbang kecil. "Hei lihat, Pak Bakri! Lihat di sana! Sepertinya itu sebuah gerbang!" Mawar menunjuk ke sebuah arah.


Bakri agak memicingkan mata menuju arah yang Mawar maksud "Wah iya. Tapi kecil sekali ya?" Gerbang itu memang kecil, ditambah langit yang mulai redup, gerbang itu makin sulit ditemukan mata. Bakri dan Mawar pun mendekati gerbang itu.


Saat mereka semakin dekat, dapat mereka lihat bahwa gerbang ini hampir tak ditemani garis pertahanan sama sekali. Sebuah keajaiban gerbang itu masih berdiri di sana.


Awalnya mereka ragu dengan apa yang akan mereka temui. Jangan sampai lagi-lagi ini adalah komunitas hantu.


Komunitas hantu adalah sebuah lingkungan yang sekilas terlihat seperti komunitas biasa dari jauh, namun saat didekati ternyata isinya kosong tanpa penghuni.


Banyak dari komunitas hantu ini yang kelihatannya ditinggalkan secara tergesa oleh para penghuninya. Mungkin karena kedatangan makhluk ajaib atau pengganggu lain.


Namun tak sedikit yang dipenuhi bercak darah, bahkan mayat bergelimpangan. Pertanda ada perlawanan sebelum komunitas itu betul-betul menjadi komunitas hantu yang sebenarnya, lengkap dengan roh gentayangan yang mati penasaran.


Tidak sedikit komunitas hantu yang mereka lewati selama perjalanan mereka. Pengalaman mereka dengan komunitas hantu, tak bisa dikatakan baik.


Namun ternyata dugaan mereka meleset, komunitas ini ada penghuninya."Nama saya Rustam, selamat datang di komunitas kecil kami!" ketua komunitas menyambut Bakri dan Mawar dengan ramah.

__ADS_1


Rustam adalah laki-laki yang terlihat seperti berada pada awal umur empat puluh tahunan. Tampak sedikit uban di kepalanya yang masih lebat ditumbuhi rambut.


Namun tubuhnya yang tegap dan gagah membuat Bakri yakin Rustam sebenarnya lebih tua dari kelihatannya. 'Orang ini punya kemampuan bertarung yang cukup tinggi' batin Bakri.


"Terima Kasih Pak Rustam, sudah menyambut pengelana seperti kami dengan ramah." Sejak masa bencana dimulai, memang semakin banyak orang seperti Bakri dan Mawar, yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah menetap lama di satu titik. Mereka disebut pengelana.


Kadang para pengelana tidak diterima baik oleh para komunitas, bahkan tak sedikit yang ditolak mentah-mentah. Hal ini bukan tanpa alasan, karena memang tidak semua pengelana merupakan orang baik-baik.


Tidak sedikit para penjahat yang berpura-pura menjadi pengelana, lalu menghancurkan komunitas dari dalam, atau merampoknya untuk komplotan mereka.


"Tentu saja. Komunitas kecil tanpa nama seperti kami, merasa terhormat kedatangan pengelana tersohor seperti kalian."


"Hah, tersohor? Apa maksud bapak?" Mawar bertanya keheranan.


"Ah sepertinya kalian berdua terlalu sibuk beramal sehingga lupa memperhatikan berita tentang kalian sendiri." Rustam tersenyum lebar.


"Berita? Berita seperti apa?" Bakri meningkatkan kewaspadaannya. Tanpa sadar tangannya menjangkau pada kerelnya, tempat kotak itu berada.


"Hah? Duo Kiamat?! Kenapa bisa kami mendapatkan julukan seseram itu?" Bakri ikut bertanya heran.


"Jadi..." Belum sempat Rustam menjelaskan tiba-tiba terdengar sebuah raungan yang mengerikan. 'GRRRRRRAAAHHH!!' Terlihat di kejauhan gerombolan makhluk ajaib mendekat.


Bakri terkejut dan segera mengambil kuda-kuda. Namun dia lebih terkejut lagi dengan apa yang dilakukan Rustam selanjutnya.


"Kawan-kawan! Bersiaap!" Segenap warga yang tadinya sedang bersantai-santai segera pergi ke sebuah tenda yang agak besar.


Keluar dari sana, setiap orang telah memegang sebuah senjata. Ada pedang, celurit, tombak, bahkan busur dan panah, dan banyak lagi. Mereka segera memasang kuda-kuda dalam formasi bentuk sudut busur yang rapi.


Mereka yang menggunakan senjata jarak pendek seperti pedang dan celurit, juga menggunakan perisai atau baju pelindung. Mereka adalah baris satu yang berjejer di depan. Disusul tombak dan tongkat.


Di garis paling belakang adalah baris ketiga. Ternyata mereka telah selesai menyusun kursi dan meja sehingga membentuk sebuah podium kecil yang lumayan kokoh. Di atasnya para pengguna tombak lempar dan panah telah mengambil posisi.


Sementara di tanah, berdiri para pengguna sumpit, sebuah senjata jarak jauh yang mematika berbentuk pipa panjang dari kayu. Kau cukup mengisi pipa itu dengan sebuah jarum beracun yang telah dipasangi surai, lalu meniupnya sekuat tenaga.

__ADS_1


Maka jarum itu akan melesat dalam kecepatan yang menakjubkan, dan siapa saja yang terkena jarum itu, adalah makhluk yang malang.


Para pasukan pertahanan ini berisi dari campuran banyak warga, pria dan wanita. Usianya pun lumayan bervariasi. Ada yang remaja, dewasa, bahkan renta. Namun semuanya terlihat gagah dalam posisinya masing-masing.


'Waw!' Bakri berdecak kagum dalam hati.


"Pak Rustam! Bagaimana dengan kami?" Mawar bertanya setengah berteriak, karena Rustam juga telah berlari menuju pertahanan, bersiap memberi komando.


"Terserah kalian!" Rustam mengangkat tinggi jempolnya. Dari berbagi cerita yang tersebar, Rustam telah mengetahui kemampuan Bakri Si Pedang Besar, dan Mawar Sang Naga. Mereka adalah petarung handal.


Bakri telah menggenggam skimitarnya,"Kau dengar itu, Mawar." Dia tersenyum lebar dan meletakkan kerelnya di tempat yang dia rasa aman.


Dia memandang seorang warga lain di dekatnya yang tidak ikut dalam pasukan pertahanan, seorang perempuan. "Tolong jaga sebentar kerel ini untukku. Bisa?" Perempuan itu mengangguk.


"Ah. Sebenarnya aku lumayan lapar." Mawar juga meletakkan kerelnya.


Para makhluk ajaib telah mendekat, ternyata segerombolan makhluk bertopeng tengkorak dengan senjata sebuah tongkat di tangan. Seperti tongkat baseball tapi terbuat dari tulang.


Sekilas para makhluk ajaib ini terlihat seperti karakter pokemon 'cubone' tapi sedikit lebih ramping dan lebih galak. Ekornya dipenuhi duri. Tingginya bervariasi antara 100-170cm, memang makhluk ajaib yang lumayan kecil, tapi tetap saja monster.


"Ah! Lagi-lagi gerombolan skulot!" Bakri berdecak kesal, menganggap keluhan Mawar bagai angin lalu.


Mawar dan Bakri memang sering menemui berbagai jenis makhluk ajaib dalam perjalanannya. Di antara semua makhluk yang pernah mereka temui, skulot adalah salah satu yang paling merepotkan karena meski tidak terlalu kuat, mereka selalu menyerang dalam kelompok seperti ini.


Ada sekitar tiga puluh hingga lima puluh skulot yang datang menyerang. Jumlah yang akan mengkhawatirkan banyak komunitas kecil lain, namun tidak dengan komunitas ini.


"Baris tiga! Bidiik!!" Rustam meneriakkan aba-aba bagai komando perang. Baris tiga adalah pasukan yang berisi deretan para pengguna senjata jarak jauh.


Bakri dan Mawar memilih bersiaga di garis depan bersama para pengguna senjata jarak dekat lainnya. Bakri bersama skimitarnya, dan Mawar bersama cakar setajam besinya, juga nafas api sepanjang 31 cm.


Selama sebulan perjalanannya bersama, mereka berdua memang mengalami banyak peningkatan.


***

__ADS_1


__ADS_2