Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 3. Meninggalkan Kos-Kosan


__ADS_3

Mawar berderap mendekat. Dia seekor naga bersisik merah, dengan tinggi hanya serupa manusia dewasa, untuk sekarang. Panjang tangan dan kakinya proporsional seperti manusia, sehingga memungkinkannya untuk berdiri di atas dua kaki tanpa masalah. Kedua tangannya memiliki empat jari di masing-masing tangan. Sayapnya yang kecil lebih sering ditekuk. Kini dia telah tiba di antara Andri dan Bakri. "Apa yang terjadi?"


"Kami rasa, monster-monster itu mengincar kotak ini." Bakri memperlihatkan kotak yang ada di tangannya.


"Ya. Monster-monster itu tiba-tiba menjadi beringas saat melihat Bakri membawa kotak itu keluar dari kosnya." Andri menambahkan.


Mawar memperhatikan kotak di tangan Bakri. Jika dilihat sekilas, tak ada yang menarik dari kotak itu. Hanya sebuah kotak kayu yang tua dan lusuh. Namun mawar merasakan ada sesuatu yang menariknya menuju kotak itu. Sepertinya kotak itu bermuatan magic. "Kotak itu sepertinya bukan kotak biasa. Apa isi kotak itu, Pak Bakri?"


Bakri sudah hampir membuka mulutnya untuk menjawab, namun Andri memotongnya, "Itu tidak penting. Yang jelas sekarang, kotak itu akan jadi sumber masalah untuk kita! Maaf, Bakri."


"Tidak apa-apa, Andri. Kau benar. Jika kotak ini terus di sini, monster akan terus berdatangan."


"Dan seperti yang kau saksikan tadi, kami sangat kekurangan tenaga dan jumlah untuk menghalau serangan monster selanjutnya."


"Jadi, apa yang akan Pak Bakri lakukan?" Mawar bertanya.


Bakri tertegun sesaat, "Kurasa sudah jelas. Aku tidak bisa menyerahkan kotak ini pada para monster. Mungkin saja kotak ini berisi sesuatu yang berbahaya jika dimanfaatkan oleh mereka. Lalu aku juga tidak bisa begitu saja memusnahkan kotak ini, karena kotak ini adalah warisan yang sangat berharga bagiku."


"Jadi, maksudmu?" Andri bertanya meski sudah tahu jawabannya. Kesimpulan yang jelas.


"Ya, Tidak ada pilihan lain. Aku harus pergi sejauh mungkin dari sini, dan segera meninggalkan kos-kosan ini..." semuanya terdiam. Aroma sedih dan lesu perlahan menguar di udara, namun Bakri kembali berbicara, "..meski masih menunggak satu bulan. Haha". semua yang mendengar langsung tertawa.


Andri seolah menemukan sosok teman akrab yang lama hilang dalam diri Bakri, apalagi baru dia ketahui mereka berdua sama-sama ahli pedang. Sempat terlintas dalam benaknya, bagaimana mereka berdua akan menjadi partner sparring yang hebat.


Bahkan jika perlu, membuka tempat pelatihan atau sasana agar para warga juga dapat mempertahankan diri di era baru yang seperti neraka ini. "Keputusan yang bijak, Kawan. Keamanan warga adalah nomor satu di atas segalanya. Maafkan aku."


Bakri menepuk bahu Andri si komandan pendekar yang kini nampak layu bagai sayur lupa disiram. Dia pun tak menyangka kebersamaan mereka yang sungguh singkat dapat menumbuhkan rasa persahabatan dan penghormatan yang begitu besar.


Sepertinya benar kata orang tua dulu, sahabat yang kau temukan di medan perang, adalah sahabat seumur hidup. "Haha, lagi-lagi kau minta maaf padahal tidak melakukan kesalahan apapun." Bakri yakin Andri akan menjaga warga di lingkungan ini seaman mungkin, kepergiannya tidak akan meninggalkan lubang terlalu besar dalam pertahanan mereka. 'Baguslah' batin Bakri, 'aku tak pernah senang meninggalkan hutang.'

__ADS_1


"Baiklah, aku masuk packing dulu."


"Ya."


Tak cukup lama Andri dan Mawar menunggu di pintu kos, Bakri telah keluar menjinjing sebuah tas hitam besar di punggung. Skimitarnya tersampir di pinggang, tersarungkan. Bakri terlihat gagah. Ada pesona anak gunung dan pendekar pedang bercampur jadi satu dalam tampilan Bakri yang sekarang. "Waw, cepat sekali! Sengebet itukah kau ingin meninggalkan kami semua?" Andri berujar takjub.


"Haha, tidak begitu. Hanya saja pengalamanku sebagai anak gunung selama ini memang membuatku tak pernah kesulitan jika ingin bepergian jauh dalam waktu singkat." Bakri menunjuk tas di punggungnya "Kerel ini sudah berisi segala macam kebutuhanku untuk beberapa hari. Bahkan beberapa minggu, kalau terpaksa."


"Oh begitu."


"Ya. Tidak ada masalah dalam berkemas. Hanya saja..."


"Ada apa?"


"Aku tak menyangka akan bepergian entah ke mana, entah sampai kapan. Sendirian."


"Maaf kawan. Seandainya bukan karena tanggung jawabku di sini, sudah pasti aku akan ikut menemani pengembaraanmu." Bakri kembali menepuk bahu Andri, memafhumi.


"Apa? Tapi kami sangat membutuhkanmu di sini, Mawar!" Andri terbelalak. Heran dengan keputusan Mawar yang tiba-tiba.


"Aku sadar akan hal itu. Tapi aku juga punya misi tersendiri dalam menemani Pak Bakri. Aku ingin menghilangkan kutukanku dan menjadi manusia lagi. Lagipula aku yakin, Andri. Di bawah komandomu, pertahanan lingkungan ini tak akan semudah itu goyah hanya karena kehilangan satu naga tanggung." Seringai tersungging di wajah Mawar sang naga.


"Naga tanggung?" Bakri heran mendengar istilah itu.


"Itu julukan yang Mawar pakai setiap kali ingin merendah. Alasannya karena dia hanya setinggi manusia biasa padahal katanya ada naga yang mencapai 25 meter


tingginya, bahkan lebih. Lalu alasan kedua, karena dia hanya mampu menyemburkan api dengan jarak 30 cm."


Pantas saja tadi dia kesulitan menghadapi si monster singa, batin Bakri. "Haha. Kalau begitu naga tanggung memang julukan yang cocok untuknya." Bakri terkekeh. Andri hanya tersenyum. Sepertinya lawakan Mawar yang receh, cocok dengan selera humor Bakri yang tak kalah recehnya. Mereka memang klop sebagai teman seperjalanan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu alasanmu, Mawar. Kemana kau pergi adalah hakmu, dan aku tak punya wewenang untuk menahannya. Kita hanya harus meyakinkan para tokoh lingkungan untuk melepas kepergianmu. Aku yakin setelah mendengar alasanmu, mereka akan mengerti. Tidak ada masalah. Sekarang kembali padamu, Bakri."


"Kalau aku sih, oke-oke saja. Memiliki teman seperjalanan dalam tujuan yang tak pasti ini, sungguh bukan ide yang buruk." Bakri menjawab cepat.


"Terima kasih, Pak Bakri. Dan satu lagi."


"Apa?"


"Aku juga punya barang bawaan. Pak Bakri ada kerel lebih?"


"Ada, tunggu." Bakri berbalik masuk. Lalu keluar lagi tak lama kemudian, menjinjing satu kerel besar warna merah menyala. "Nih."


"Wah, merah! Cocok sekali dengan Mawar." Andri berseru.


"Iya. Terima kasih, Pak Bakri." Mawar tersenyum, memamerkan deretan taring setajam silet, yang hanya terlihat bagai seringai menyeramkan di wajah naganya. "..aku pergi berkemas dulu." Mawar pergi meninggalkan Andri dan Bakri. Personil lain telah bubar selama mereka berbincang tadi.


"Kami tunggu kau di tenda utama ya!!" Bakri meneriaki Mawar yang sudah agak jauh.


"Iya!" Mawar berteriak membalas dengan sedikit menoleh.


Mereka berdua sesaat memandang kepergian Mawar dengan khusyuk. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka berdua.


"Tak pernah kusangka akan tiba hari dimana aku menyaksikan seekor naga memakai kerel." Ujar Andri geli.


"Sama, Bung." Senyum besar terlukis di wajah Bakri.


Sayap kecil Mawar di punggung kiri dan kanannya, seolah hiasan yang tumbuh dari dalam kerel pemberian Bakri.


Dari jauh, mawar terlihat seperti anak sekolah bersama ransel dengan hiasan sayap.

__ADS_1


***


__ADS_2