
Tak seperti biasanya, kali ini Bakri dapat terbangun dengan keadaan segar bugar. Hal yang semakin jarang terjadi pada masa bencana ini.
Dia melirik smartphonenya yang tidak pernah lagi mati kecuali dia yang meng turn-offnya. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi waktu setempat.
Kabut tipis menyelimuti sekitar karena komunitas ini memang berada di dataran tinggi yang dingin. Lalu perlahan siluet matahari menembus kabut dan membentuk pedang-pedang kuning yang terlihat agung.
"Ah. Awal hari yang baik!" Bakri bersyukur karena di masa bencana, masih ada moment-moment indah seperti ini.
Tak jauh darinya, dia dapati Mawar masih bergelung tidur seperti donat. Sirip di punggungnya membuatnya tidak bisa berbaring terlentang meskipun sangat menginginkannya. Salah satu hal yang sangat dirindukannya saat masih menjadi manusia.
Di tengah donat itu, ada sebuah kerel besar warna merah. Bakri sempat penasaran dengan isi kerelnya. Apa sih, yang di bawa-bawa seekor naga?
Tak sekalipun dalam perjalanan mereka, Mawar membuka kerelnya. Sampai tadi malam, ketika Bakri dapati Mawar berbincang seru dengan si kepala dapur, Rinai. Akhirnya rasa penasaran Bakri terpuaskan.
Ternyata yang Mawar bawa bukan kebutuhan seekor naga, tapi kebutuhan seorang Mawar. Isi kerel merah itu, yang selalu Mawar jaga sepenuh jiwa dan raganya, yang kelihatannya sangat berat, adalah alat masak.
Mawar memiliki hobi memasak yang akut. Ini bukan rahasia bagi penghuni posko tempat mereka berasal.
Namun Bakri yang baru terbangun setelah hari kiamat berlangsung beberapa hari, tidak sempat menyaksikan kelihaian Mawar dengan tangan cakar naganya yang menyeramkan, mengolah bumbu dan berbagai bahan masakan, menjadi makanan lezat bergizi.
>>>
Tak berapa lama kemudian, waktu untuk menyiapkan sarapan telah tiba. Mawar yang sudah terbangun segera menuju ke dapur dan ikut memasak bersama tim juru masak yang dipimpin Rinai.
"Oke, pagi ini kita akan mengolah daging skulot yang tadi malam kita panen." Rinai tersenyum bangga. Lalu dia melirik pada Mawar. "Dan pagi ini kita mendapatkan kehormatan untuk ditemani bintang tamu, Mawar!"
Mawar terlihat sedikit risih dengan perlakuan istimewa seperti itu, tapi dia tetap tersenyum pada setiap mata yang memandang padanya. "Terima kasih, terima kasih. Mohon bimbingannya, mohon bimbingannya." hanya itu yang dia katakan berulang-ulang.
Dia sangat bersemangat untuk memasak lagi. Peralatan masak yang dipakai Mawar agak istimewa karena dilapisi pengaman untuk melindungi alat masak itu dari cakar Mawar.
"Baiklah, ayo memasak!"
>>>
Beberapa saat kemudian, berbagai sajian telah terhidang di meja panjang. Ada yang tampak seperti kari, rawon, bahkan rendang.
Meja panjang adalah sebuah mahakarya yang sangat dibanggakan Rustam. Berasal dari susunan meja-meja sekolah yang dirangkai jadi satu. Setelah ditebarkan kain lebar dan panjang di atasnya, meja itu seketika menjelma menyerupai meja makan para raja yang biasa dilihat di film-film kolosal.
Para warga mengambil tempat di sekeliling meja itu dan mulai menyantap makanan dengan hikmat.
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru "Waw!! mamma mia lezatos!", semua kepala menoleh. Ternyata Bakri. Sontak semua warga tertawa.
Bagi para warga yang telah sering menikmati masakan serupa, ini adalah cita-rasa yang sudah biasa mereka rasakan. Melihat reaksi Bakri, mereka kembali tersadar betapa beruntungnya mereka.
__ADS_1
Namun merekapun sebenarnya merasakan sesuatu yang agak berbeda. Daging kali ini terasa lebih bersih dan segar. Bau khas daging makhluk ajaib yang biasanya menusuk, kini sangat samar, bahkan bisa dibilang hilang sama sekali.
Rinai bisa melihat reaksi para warga yang sedikit lebih bernafsu makan daripada biasanya. Dia tersenyum lalu mengangkat jempolnya pada Mawar yang duduk di sudut berbeda.
Mawar paham bahwa itu adalah tanda terima kasih Rinai karena dia telah mengajarkan cara mengolah daging makhluk agar tidak berbau tajam. Mawar membalas balik dengan jempolnya.
Rinai juga tersenyum senang karena reaksi Bakri. "Makan yang banyak, Pak Bakri! Stok daging skulot kami masih banyak!" Seru Rinai dari jauh.
"Siap Bu Rinai! Tapi kenapa anda memanggil saya Pak?" Bakri bingung karena baru tadi malam, Rinai masih memanggil Bakri dengan hanya namanya. Hal yang wajar, mengingat Rinai jauh lebih tua darinya.
"Hehe. Ketularan Mawar!" Jawab Rinai.
Raut wajah Bakri jadi jelek karenanya, yakin dirinya telah menjadi korban gosip. Matanya melirik tajam ke sudut meja tempat Mawar duduk, menghardiknya. "Tolong jangan percaya apapun yang dia ceritakan tentang saya, Bu Rinai!"
Sontak semua warga yang mendengar rajukan Bakri tertawa.
Wajah Bakri semakin kusut.
>>>
Setelah makan, Bakri dan Mawar segera bersiap untuk kembali berangkat. Hal ini sudah mereka bicarakan pada Rustam dan Rinai semalam, yang sepertinya selain menjabat kepala dapur, juga merangkap wakil ketua tanpa mandat. Jam menunjukkan pukul 11.00.
"Kalian sungguh akan pergi?" Rinai bertanya. Ada sedikit nada sedih pada suaranya.
"Semoga selamat sampai tujuan. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup." Rustam berpesan.
"Baik, Pak." Jawab Bakri.
"Jaga dirimu, ya! Semoga kutukanmu cepat terangkat." Rinai tiba-tiba memeluk Mawar.
Mawar terlihat agak kikuk karena tindakan tiba-tiba itu. Tapi Mawar balas memeluk. Sudah lama dia tidak merasakan sensasi haru seperti ini. Rinai sudah terasa seperti ibunya sendiri, setidaknya tante. Tipe tante yang baik dan selalu memasakkan makanan enak juga suka memberi uang jajan. Bukan tipe tante yang suka nyinyir dan mengurus rumah tangga orang lebih baik daripada mengurus rumahnya sendiri. "Baik, Bu."
Lalu Mawar dan Bakri melangkah melalui gerbang, meninggalkan komunitas.
Rustam, Rinai dan para warga melambai mengiringi kepergian Mawar dan Bakri. Mawar dan Bakri masih melambai balik untuk beberapa saat, lalu kembali memantapkan langkah ke depan. Sinar matahari semakin terik.
Para warga pun mulai bubar dan kembali pada kegiatan masing-masing. Mereka sibuk. Kedatangan Bakri dan Mawar membawa cerita tentang komunitas lain dan pertahanannya, juga fasilitasnya. Banyak yang harus mereka lakukan. Komunitas ini dipenuhi gairah.
"Sepertinya aku sudah tahu nama yang tepat untuk komunitas kita." Rustam masih berdiri di samping Rinai, memandangi kepergian Bakri dan Mawar.
"Apa itu?" Rinai bertanya, sedikit penasaran. Dia pun sudah lama ingin membahas ini dengan para warga dan Bakri di rapat rutin, tapi urung karena belum menemukan nama yang tepat.
"Kebo Iwa." Bakri menjawab mantap.
__ADS_1
"Oh! Panglima perang dari Bali itu?"
"Betul. Namun ada satu legenda lagi dari Kebo Iwa yang membuatku memutuskan memilih nama ini. Bakri yang menceritakannya padaku."
"Legenda yang mana?"
"Legenda Danau Gunung Batur. Kebo Iwa yang ini sangat suka makan! Sampai-sampai dia menjadi sosok menakutkan seperti monster. Lalu dia bisa ditumbangkan karena kerja sama warga."
"Hmmm..Aku bisa melihat kemiripan Kebo Iwa yang ini dengan komunitas kita. Haha."
"Betul. Meskipun Kebo Iwa dalam legenda ini berakhir tragis, semoga kita bisa menjadi Kebo Iwa yang lebih baik."
"Para Kebo Iwa yang menumbangkan para monster." Rinai tersenyum lebar. Dia semakin menyukai nama Kebo Iwa ini.
"...Lalu memakan para monster itu." Rustam menyambung ujaran Rinai. Membuat mereka berdua seketika terbahak.
>>>
Karena berangkat dari selatan, tujuan Duo Kematian kini berada di utara. Semakin ke utara, pemandangan di kiri kanan mereka semakin gersang, dan kerusakan yang disebabkan masa bencana semakin parah.
Komunitas yang mereka temukan pun semakin jarang, dan mereka semakin sering bertemu dengan makhluk ajaib yang menghalangi jalan mereka. Beberapa pertarungan kecil terjadi.
Bagi pengelana lain mungkin ini hal yang merepotkan, menyusahkan, bahkan mematikan. Namun bagi Bakri dan Mawar ini adalah anugrah tersembunyi, untuk dua hal.
Pertama, mereka bisa memakan dagingnya. Kedua, mereka bisa memakai permata yang tersembunyi di jantung para makhluk ajaib untuk mengasah senjata mereka. Seperti yang sekarang sedang mereka lakukan.
Bakri mengasah pedangnya, Mawar mengasah cakarnya.
'Dhuaaarr!' Tiba tiba terdengar sebuah ledakan yang memekakkan telinga.
Ledakan itu berasal tak jauh dari mereka, di tanah yang tiba-tiba merekah seperti gunung meletus. Tanah yang kering seketika menjadi abu beterbangan. Di dalam kabut abu itu, ada bayang sebuah sosok.
Bakri dan Mawar segera memasang kuda-kuda. Siaga.
"Apa itu!"
Tiba-tiba sebuah suara tak dikenal membuat mereka berdua menoleh.
***
Update nya perminggu ya, dimulai dari episode ini. Mohon maaf atas ketidaknyamannya.
_iqmail.
__ADS_1