Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 5. Awal Petualangan


__ADS_3

"Anak muda!" Ketika sudah hampir sampai perbatasan, tiba-tiba Bakri dan Mawar dihentikan sebuah panggilan. Mereka berhenti dan menoleh. Ternyata nenek tokoh lingkungan yang tadi. Kedua tangannya terjalin di belakangnya.


"Iya, Nek. Ada apa?" Bakri bertanya.


"Tadi siang dari kejauhan, aku menyaksikan pertempuran kalian dengan para goblin. Pertarungan yang mengesankan."


"Iya, Nek. Juga melelahkan." Bakri masih berusaha mengingat-ingat, di mana dia pernah bertemu dengan si nenek ini.


"Ya. Wajar saja. Ditambah pedang besar itu. Sebuah skimitar. Betul?"


Bakri agak terkejut "Wah. Barusan ada yang mengetahui nama pedangku dengan sekali pandang!"


"Tentu saja. Di masa mudaku, aku sering melihat puluhan pedang seperti itu terayun lincah di padepokan ayahku." Si Nenek tertegun. Seolah menerawang ke masa lalu.


Kecurigaan Bakri semakin besar, Nenek ini mungkin seseorang yang bisa menuntunnya untuk perjalanan tanpa tujuan ini. "Nenek ini sebenarnya siapa? Maaf jika aku lancang, tapi aku merasa pernah bertemu nenek sebelumnya. Hanya saja lupa di mana."


"Informasi itu bisa menunggu. Cukup kau ingat aku sebagai teman dari kedua orang-tuamu, Yasri Thalib dan Yasmin Qasim"


Bakri kembali terkejut, dia tak menduga akan bertemu dengan seseorang yang mengenal kedua orangtuanya di tanah rantau ini. Si nenek tersenyum lalu kembali berbicara,


"Sekarang, yang paling penting adalah kotak itu. Kau membawanya bersamamu?"


"Ya. Nenek mau lihat?" Bakri menyampirkan kerelnya, hendak merogoh ke dalam. Bakri sebenarnya juga ingin menanyakan, kotak apa ini.


"Tidak perlu. Aku sudah hafal betul bentuk dan rupa kotak itu seperti mengenal telapak tanganku sendiri." Kini giliran Nenek yang mengeluarkan sesuatu dari tangannya. "Pesanku, Jaga kotak itu selalu dekat denganmu. Dan ambilllah ini." Si nenek mengulurkan gulungan tua.


"Apa itu, nek?" Mawar yang dari tadi hanya diam memperhatikan, terpicu rasa penasarannya dan bertanya.


"Sebuah peta." Lalu raut wajah nenek berubah serius. "Kau adalah seorang Thalib, dan darah khurasan mengalir kencang." Rangkaian kalimat itu diucapkan seperti sebuah mantra.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, nenek itu berbalik dan kembali pergi. Menghilang secepat datangnya. Meninggalkan Bakri dan Mawar yang terbengong-bengong.


Bakri dan Mawar kembali melanjutkan perjalanan.


>>>


Setelah agak jauh meninggalkan perbatasan di belakang mereka, Mawar tak bisa lagi bersabar dengan rasa penasarannya, "Apa itu tadi, Pak Bakri?"


"Kau akan terus memanggilku Pak Bakri, ya?"


"Iya. Karena kau adalah seorang guru, harus dihormati."

__ADS_1


"Terserah kaulah."


"Anda belum menjawab pertanyaanku, Pak Bakri."


"Percayalah, aku pun sama bingungnya denganmu. Satu-satunya yang aku tahu sekarang, kita harus mencari penginapan." Hari memang telah gelap, malam telah sepenuhnya tiba. Mereka berdua baru sadar, mereka berdua sangat lelah.


"Baiklah."


Entah berapa lama mereka berjalan, namun sepanjang jalan pemandangan yang mereka saksikan sangat mengiris hati. Bakri merasa lingkungan mereka termasuk sangat beruntung. Bahkan kosnya masih berdiri. Hal itu saja masih menjadi teka-teki setelah melihat semua ini. Kerusakan yang dihadirkan oleh bencana ini sungguh dahsyat.


Meski berjalan hanya ditemani obor, mereka bisa melihat sekitar mereka dengan cukup baik. Tak ada lampu jalan, listrik telah mati tak berapa lama setelah masa bencana dimulai. Orang-orang hanya mengandalkan genset sebagai sumber listrik, yang entah sampai kapan akan bertahan. Mungkin hingga stok suplai bahan bakar hanis.


Tak adanya lampu listrik, membuat bulan purnama dan bintang-bintang bagai bersinar lebih terang dari biasanya. Sebuah suasana yang indah jika saja tak diselingi isak tangis dan rintihan kesakitan di sana-sini. Belum lagi asap hitam yang entah apa penyebabnya, muncul di beberapa titik.


Dari asap itu, menguar bau tak sedap yang menyengat. "Bau apa itu?" Bakri yang sudah memasang masker masih tak tahan dan mengernyitkan hidung. Punggung tangan kirinya ikut menutup mulut.


"Daging terpanggang. Jangan tanya daging apa, atau darimana asal apinya."


Bakri paham. Para nagalah yang menyebabkan semua api hitam itu. "Cukup banyak naga yang keluar dari portal itu ya?"


"Terlalu banyak." Jawab Mawar.


Sekarang Bakri pun paham mengapa di sepanjang perjalanan ini, tidak ada yang menyerang mereka. Dia berjalan dengan seekor makhluk yang sangat ditakuti, bahkan oleh para monster sekalipun.


Dari dekat terlihat nama penginapan itu *Hotel Terorganisir*. 'Nama yang aneh' batin Bakri. Namun tak mengurungkan niatnya untuk masuk.


"Selamat malam..." Bakri berusaha menyapa dengan seramah mungkin saat masuk. Dia merasa tamu yang menyusul di belakangnya akan memerlukannya.


"Selamat mal....Aaargghh!" si pemuda penerima tamu berteriak takut melihat seekor naga memasuki penginapannya.


Teriakan si pemuda sontak menarik perhatian para pengunjung lainnya yang langsung ikut panik. Mereka semua seketika lompat menjauhi pintu masuk.


"Tenang! Tenang semua. Dia bukan musuh."


"Iya betul. Perkenalkan, namaku tidak penting, tapi kalian bisa memanggilku Mawar. Aku kawan." Mawar berbicara dengan Bahasa Indonesia yang fasih.


Perkenalan itu tidak membuat keadaan segera menjadi lebih baik. Semuanya terkaget-kaget mendengar ada naga bisa bicara dengan Bahasa Indonesia yang fasih.


"Or do you people prefer english?" (atau apakah kalian lebih suka bahasa inggris?) Mawar menambahkan dengan Bahasa Inggris. Sebagian pengunjung betul-betul melotot sekarang. Ada yang ingin tertawa, tapi terlalu takut.


"Bahasa Indonesia saja, Tuan Naga." Akhirnya si pemuda penerima tamu memberanikan diri untuk bicara.

__ADS_1


"Haha, Tuan Naga katanya." Bakri tertawa sambil mendekati meja resepsionis. Tawa bakri yang menular membuat pengunjung lain merasa lebih santai. Mereka kembali ke posisi masing-masing meski masih tak ada yang berani mendekat.


"Sudah kubilang, panggil saja aku Mawar." Mawar ikut di belakang Bakri.


"Kami mau pesan dua kamar. Satu untukku, dan satu untuknya."


"Maaf, kebijakan hotel kami, binatang tidak bisa menempati kamar."


"Hey! Dia bukan binatang! Dia itu..." Bakri sudah hampir menjelaskan latar belakang Mawar, namun Mawar menahannya.


"Tidak apa-apa, Pak Bakri. Tidak usahlah sedikit-sedikit emosi begitu. Sebenarnya di antara kita berdua yang naga siapa sih? Hehe." Sebenarnya hati Mawar sakit karena dikategorikan sama dengan binatang, namun dia berusaha mencairkan suasana. Saat memutuskan menemani perjalanan Bakri, dia sudah tahu hal-hal seperti ini akan terjadi.


Mawar jadi teringat pada Eragon, sebuah game ps yang pernah dia mainkan waktu masih berwujud manusia dulu. Game itu juga berisi seekor naga yang menemani tuannya pergi ke mana-mana, namun begitu sampai di sebuah penginapan, mereka akan berpisah sejenak. Tuannya akan tidur di kamar yang berkasur empuk, lalu dia... "Aku bisa tidur di kandang kuda saja, atau sapi."


"Jika saja kami punya. Sebagai gantinya, Tuan Naga..."


"Mawar."


"Nyonya Mawar."


"Aku belum menikah."


"Bu Mawar."


"Umurku baru 21 tahun."


"Kak Mawar."


"oke."


"Baik, sebagai gantinya, Kak Mawar bisa menempati garasi mobil kami. Ini kuncinya. dan ini kunci kamar anda, Tuan...."


"Bakri."


"Tuan Bakri. Silahkan."


"Baiklah, sampai jumpa besok, Pak Bakri."


"Ya, Mawar. Sampai jumpa besok."


Mawar berbalik, keluar dari penginapan. Menuju garasi mobil.

__ADS_1


Bakri memperhatikan Mawar dari belakang. Ada begitu banyak perasaan berkecamuk dalam dadanya melihat pemandangan itu. Rasa tak enak. Seolah dia telah melakukan kesalahan yang besar pada Mawar. Namun Bakri memilih tak terlalu memikirkannya untuk sekarang. Ini hari yang sangat lelah, Bakri ingin segera beristirahat. Dia menjinjing kerelnya dan melangkah ke kamarnya. No. 402.


***


__ADS_2