Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 7. Mode Tarung: On


__ADS_3

Kotak itu yang selama ini berpendar kebiruan, kali ini menyala merah.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Bakri bangkit dari tidurnya. Namun tidak terbangun. Matanya sama menyala kemerahan, skimitar telah teracung di tangannya. Dia seperti kesurupan.


Bakri berdiri di atas ranjangnya dengan pose mengancam. Seperti Christiano Ronaldo saat akan melakukan tendangan jarak jauh di depan gawang.


Para pemburu pusaka tentu sadar dengan ini dan menghentikan pertikaian antar sesama mereka, lalu langsung memasang kuda-kuda dengan senjata masing-masing. Bersiaga dengan tindakan Bakri.


Tanpa ba-bi-bu, Bakri si mata merah melompat dari ranjangnya. Si Macan Gila mempererat genggaman pada goloknya, merasa yakin Bakri akan memberikan serangan yang tak main main.


Begitu pula SDBR memasukkan tangannya ke kantongnya yang lain, bersiap mengeluarkan senjata rahasia. Kenny yang masih berdiri di pintu sehingga agak jauh dari arena pertarungan masih bingung menentukan sikapnya. Pistol kembali dia keluarkan, tatapan matanya mengarah pada Bakri, waspada.


Tanpa mengatakan apapun, Bakri menyerang. Si macan gila memainkan goloknya dengan lincah, melayani setiap hempasan pedang skimitar. Namun Bakri tidak hanya menghadapi Si Macan gila.


SDBR sama berusaha menangkis setiap serangan Bakri dengan belatinya. Kenny sesekali meloloskan peluru dari pistolnya yang telah berperedam, berusaha menyerang Bakri yang bak binatang buas.


Pertarungan berlangsung dengan seru. Para pemburu pusaka membuktikan bahwa mereka bukan orang sembarangan. Si Macan gila terkenal di dunia hitam sebagai petarung jarak dekat yang tak bisa diremehkan.


Kehadirannya di setiap pertarungan antar geng akan sangat meningkatkan moral geng yang dia bela, dan sebaliknya sangat mengintimidasi pihak lawan. Namun seolah Bakri tak pernah gentar sedikitpun.


Beberapa sabetan golok Si Macan Gila hampir memutuskan setiap anggota badan Bakri, namun Bakri tak kalah lihai menghindar. Setiap kali ujung golok Si Macan hampir melukai tubuhnya, skimitar hadir dan membelokkan serangan itu bagaikan cermin memantulkan pancaran sinat matahari.


Berkali-kali Si Macan telah yakin akan membuat Bakri cacat seumur hidup, namun Bakri masih berdiri dan bertahan, bahkan sesekali menyerang balik. Si Macan Gila merasa bagaikan ia sedang diajak menari oleh Bakri dengan irama yang tak dia pahami.


Setiap kali Si Macan Gila terdepak mundur, SDBR maju dengan belatinya. Setiap sabetannya seolah berasal dari ruang kosong, begitu sulit ditebak. Datang dari sudut-sudut yang tak bisa diperkirakan. Namun Bakri dan skimitarnya melayani semua itu dengan tak kalah lincahnya.


Bakri meliuk bak ular yang tak bertulang. Menghindar, menangkis, lalu menyerang balik. Setelah beberapa kali bertukar serangan, SDBR berhasil menyelinap ke sisi belakang Bakri. SDBR yakin dirinya telah tiba pada titik buta Bakri.


Namun begitu SDBR bersiap mengayunkan belatinya dengan kekuatan penuh, tak diduga Bakri mundur dengan kelincahan yang tak masuk akal.

__ADS_1


Buk!


Punggung Bakri menubruk SDBR hingga dia terhempas ke lantai. Namun itu tak membuat Bakri puas.


Bakri terus menyerang seperti kesetanan. Lambat laun, Si Macan Gila dan SDBR merasa stamina mereka terkuras. Mereka kelelahan. Dan setelah sekian kali didepak mundur oleh Bakri, akhirnya mereka tak lagi sanggup berdiri.


Darah telah tumpah, dan tubuh mereka babak belur. Karena Bakri tak hanya mengandalkan ujung tajam dari bilah pedang besarnya yang garang, namun juga menggunakan bagian belakang pedangnya untuk menumbuk anggota tubuh lawannya yang lengah.


Si Macan Gila dan SDBR akhirnya jatuh terkapar. Keduanya masih bernafas, namun telah kehilangan kesadaran dan tak sanggup lagi melawan.


Sisa Kenny si Jeruk yang terpana menyaksikan semua itu. Bakri memalingkan wajahnya, dan Kenny mulai terdesak. Sebagai petarung dengan senjata utama pistol, dia memang tidak terkenal karena pertarungan jarak dekatnya. Namun sebenarnya dia punya kartu as rahasia.


Tak pernah dia menduga akan menggunakan ini saat melawan orang tanpa nama dalam dunia hitam. Namun dia merasa tetap harus menggunakan senjata rahasianya untuk mencapai tujuannya kali ini; Kata-gun.


Kata-gun atau gun fu adalah sebuah tehnik yang menggabungkan seni beladiri dan pistol. Pertama kali konsep ini dikenalkan secara luas lewat film movie Equilibrium.


Dua hal yang sangat bertolak belakang. Mengingat seni bela diri berasal dari dunia lebih tradisional, sedangkan pistol berasal dari dunia modern.


Kenny mengeluarkan satu lagi pistolnya sehingga kini kedua tangannya memegang pistol yang sama. Hitam. Kontras dengan jas, sarung tangan, dan topi fedoranya yang berwarna putih. Lalu dia memasang kuda-kuda.


Bakri sama sekali tak tampak lelah setelah menumbangkan dua penyerangnya. Mata merahnya seolah menyala dalam kegelapan malam, dan sepasang mata itu menatap Kenny dengan dingin. Skimitar si pedang besar kembali terayun.


Klang! Klang! Klang!


Pistol Kenny menahan benturan skimitar walau sedetik lalu mengalihkannya secepat kilat. Menjauhkan Kenny dari maut. Hal ini memang mungkin karena pistol Kenny adalah pistol pesanan spesial yang dibuat dari bahan titanuim kualitas tinggi.


Menjadikannya ringan namun sangat kuat. Ditambah tehnik kata-gun yang digunakan Kenny, maka pertarungan jarak dekat seperti ini, bukanlah masalah.


Setiap ayunan pedang dibalas dengan satu tarikan pelatuk. Namun keduanya tak pernah berhasil mengenai langsung targetnya sehingga pertarungan masih berlangsung.

__ADS_1


Kenny menekan sebuah tombol pada bagian atas pistolnya dengan jempolnya. Tiba tiba di moncong pistolnya muncul mata pisau yang tajam. Dengan bantuan senjata tajam itu, setiap serangan Kenny nampak makin mematikan. Namun Bakri terus melayaninya dengan kecepatan dan ketepatan yang setara, bahkan semakin cepat.


Kali ini kaki Bakri terayun ke depan, menendang. Kenny mundur untuk menghindari tendangan Bakri, namun dia terlambat menyadari cara menendang Bakri yang aneh. Seolah tendangan itu bukan untuk menyerang, tapi untuk membentuk sebuah kuda-kuda.


Kaki Bakri yang tadi melayang segera menjejak dengan mantap, dan di belakangnya skimitar ikut tertarik oleh posisi tubuh Bakri yang kini condong ke depan. Pedang itu terangkat naik. 'Gawat!' Kenny berteriak dalam hati.


Pedang itu turun bagaikan guntur.


Boom!


Kenny hanya sempat menyilangkan kedua pistolnya di depan mukanya. Skimitar Bakri menghantamnya dengan kekuatan penuh.


TRANG!!


Ayunan Bakri yang cepat dan kuat, pedang besar yang berat, dibantu dengan gravitasi, membuat hantaman itu sanggup memecahkan pistol spesial yang selalu dibanggakan Kenny dalam karirnya sebagai pembunuh bayaran.


Setelah kedua pistolnya hancur, Kenny kehilangan nafsu untuk melanjutkan pertarungan. Dia tiba-tiba merasa begitu lelah dan segera terkapar begitu saja.


Saat ketiga penyerangnya tak bisa lagi bertarung, kotak pusaka itu kembali berwarna biru. Perlahan, mata merah Bakri berlangsung pudar, dan kesadarannya pun berangsur pulih.


Mata Bakri langsung terbelalak begitu kesadaran telah kembali sepenuhnya. Dia juga menyadari sedang menggenggam skimitarnya padahal tak ingat pernah menarik pedang itu keluar dari sarungnya.


'Sial! Apa yang telah terjadi selama aku tidur? Dan kenapa seluruh tubuhku begitu nyeri?' Dia menyadari seluruh tubuhnya kesakitan sekarang. Seolah habis dipukul segerombolan preman.


Melihat tiga tubuh yang terkapar di hadapannya, Bakri berkesimpulan telah terjadi pertarungan yang entah bagaimana juga melibatkan dirinya. 'Entah apa yang terjadi, tapi aku harus segera melaporkan kejadian ini pada seseorang'.


Bakri mendatangi telepon yang ada di kamarnya, di samping telelpon ada tertempel daftar beberapa nomor yang bisa dihubungi dalam keadaan darurat. Namun dari pengalamannya sejauh ini saat mengevakuasi warga dan bertukar info dengan Andri, dia tahu beberapa nomor yang tertera di situ tak lagi bisa dihubungi. Salah satu dari daftar itu adalah nomor resepsionis.


'Oke, kita mulai dari sini.' Bakri mulai menekan nomor resepsionis.

__ADS_1


***


__ADS_2