
Sebenarnya di antara pengunjung penginapan, tak semuanya kaget dengan kedatangan Bakri dan Mawar. Ada beberapa orang yang hanya berpura-pura kaget agar dapat membaur dengan keramaian dan tak dicurigai, padahal mereka memang telah menanti kedatangan mereka berdua.
Kabar panas telah tersebar dengan cepatnya tentang dua pendekar pedang besar dan seekor naga perkasa.
Mereka agak kecewa begitu menyaksikan ternyata naga yang dimaksud hanya sebesar manusia dewasa, tapi tak salah lagi itu memang seekor naga. Apalagi naga itu bisa berbicara.
Jika saja mereka bisa menangkap naga itu hidup-hidup, tentu harganya akan tinggi di pasar gelap. Namun bukan itu tujuan utama mereka sebenarnya. Sasaran utama mereka justru adalah Bakri. Atau lebih tepatnya, apa yang ada pada Bakri.
"Kau tak salah dengar, kan? Dia orangnya." Seorang pria dengan bandana hitam berbisik pada wanita di sampingnya.
"Ya. Seorang pendekar dengan senjata sebuah pedang besar, yang ditemani naga dengan ransel merah. Di mana lagi ada samanya?" Di leher wanita itu, samar terlihat tato kaki laba-laba.
"Baiklah, kau juga sudah mendapatkan nomor kamarnya, kan?"
"Beres. Aku bahkan punya kunci duplikatnya." Si wanita mengeluarkan sebuah kunci, nomor 402., lalu dia melemparkan kedipan nakal pada si resepsionis yang membalasnya dengan tundukan gugup.
Si pria terlihat tak senang, "Apa-apaan ini. Aku hanya memintamu menggali informasi. Kau paling tahu aku tidak menyukai drama tambahan dalam pekerjaanku."
Si Wanita memutar matanya "Oh, kau dan kode etikmu." Lalu dia kembali tersenyum licik "Aku janji ini tak akan mengganggumu. Bocah itu betul-betul takluk pada genggamanku sekarang. Lagipula, jika terjadi sesuatu, aku yang akan bertanggungjawab."
"Maksudmu, bosmu yang akan bertanggungjawab untukmu."
"Hehehe." si wanita cengengesan "Jadi, apa rencanamu?"
"Tentu saja aku akan menunggu orang itu tidur, dan menggeledah semua barangnya dengan senyap. Setelah menemukan yang kita cari, aku cabut secepat kilat dan kita pergi sejauh mungkin dari sini."
"Dan jika semua tak berjalan semulus itu?"
"Maka ini pun bisa kucabut secepat kilat." Si pria mengangkat sedikit bajunya, memamerkan sebuah golok berkepala macan.
"Bagaimana dengan mereka?" Wanita bertato kaki laba-laba melemparkan pandangan ke meja di seberang sana.
__ADS_1
"Oh, aku bisa memperkenalkan mereka juga pada si macan. Dengan senang hati." Senyum tipis pembunuh tersungging di bibir Sang pria. Dia mengangkat dagunya, memberi salut pada para penghuni meja seberang.
Para penghuni meja seberang malah merapatkan topi fedora mereka dan menghindari tatapan si golok macan. "Aduh, apa yang si Macan Gila itu lakukan di sini?"
"Tenang bos, kita menang jumlah."
"Kita tidak pernah tahu. Dengan kehadiran si wanita kaki laba-laba itu, kita tidak bisa lagi membedakan mana warga biasa di sini, dan mana yang merupakan bagian dari operasi mereka."
"Jadi, bos? Kita mundur?"
"Lalu membuang harga diriku di keramaian? Kau ini bodoh, ya?"
"wowowo.. Maaf bos, santai-santai. Saya kan cuma nanya."
"Dan jika saya bertanya di rumah keluargamu yang mana mau saya letakkan kepalamu pagi ini jika misi kita gagal malam ini, apakah kau juga bisa santai?"
"Maaf bos. Aku berjanji akan melaksanakan tugasku dengan baik." Si anak buah terpekur tunduk, lalu dengan gugup mengambil gelas di depannya dan meminum secangkir jus jeruk besar dengan sekali teguk. Sebuah pemandangan yang cukup menarik.
Perempuan yang sedang menghisap lolipop di depannya berbalik, memperhatikan arah mata si pria "Oh. Orang itu adalah Kenny The Orange. Kenny Si Jeruk."
"Nama julukan yang aneh. Mungkin hanya cecunguk kelas teri, ya."
"Jangan biarkan nama lucu itu mengecohmu. Orang dengan julukan aneh itu bisa dibilang penembak terbaik di utara."
"Cih. Boleh juga. Tapi kita sekarang sedang ada di selatan, Nona. Dan kau tahu siapa penembak senapan terbaik di selatan."
Perempuan itu terlihat risih, tapi dia tersenyum. Di matanya menyala api. "Siapa?"
"Kamu." Lalu si pria meminum teh hangat di depannya, perlahan. Menikmati momen.
Iringan lagu di latar ruang tunggu merangkap kafe ini, melantun dengan santai. Membawa orang-orang untuk sejenak melupakan neraka di luar sana.
__ADS_1
Begitu pula Bakri, yang kini pulas tertidur di kamarnya. Dia sangat kelelahan sehingga dia bahkan tak sempat membuka sepatunya, dan tertidur dengan pakaian lengkap. Hanya skimitarnya yang sempat dia lepas dari pinggangnya, dan dia simpan di bawah bantal.
Seorang sosok misterius datang mendekati pintu kamar Bakri. Bayangan mencurigakan lain merayap naik di dinding, menuju jendela kamar Bakri. Dan ternyata Bakri yang lengah juga tak sempat menyadari, sudah ada suatu sosok asing di kolong ranjangnya.
Setelah yakin Bakri terlelap pulas dengan dengkurnya yang syahdu memekakkan telinga, sosok di bawah ranjang beringsut keluar. Baru saja ia melihat tas Bakri dan ingin mendekatinya, pintu dibuka oleh si sosok misterius.
Baru saja si sosok misterius ingin masuk, jendela dibuka oleh bayang mencurigakan.
Mereka bertiga mengagetkan satu sama lain.
"Kenny si Jeruk!" ujar sosok dari bawah ranjang. Berbisik namun dengan nada tinggi. Dia merujuk pada sosok misterius yang membuka pintu.
"Si Macan Gila!" Kenny tak kalah bisiknya menghardik sosok di jendela.
"Dan kau siapa?" Si Macan Gila menghardik sosok dari bawah ranjang (Selanjutnya kita sebut; SDBR) Juga dengan bisikan.
"Tidak penting aku siapa. Yang penting sekarang, kita tahu kita memiliki tujuan yang sama." Sosok dari bawah ranjang merogoh ke saku di pinggangnya bagian belakang, "dan untuk itu kita harus bertarung!" Sebuah kunai melesat begitu cepat ke arah jendela.
Si Macan Gila dengan gesit mengambil bantal guling yang kebetulan tidak dipakai Bakri, menahan laju kunai dengan efektif dan efisien tanpa suara. Untunglah bantal di penginapan ini memang terkenal sekeras batu, sehingga efektif digunakan menahan senjata tajam sekalipun.
Konon katanya bantal itu dibuat oleh seorang legenda pembuat senjata di dunia persilatan bernama Kalasi. Sayang sekali karirnya dalam dunia persilatan tidak panjang karena dia dianggap tidak becus dalam membuat bantal untuk istirahat, dan hanya sanggup membuat bantal untuk latihan tarung.
"Sialan kau!" Si Macan Gila melompat menerjang dengan lompat macannya yang senyap tanpa suara. Mulai menyerang SDBR dengan goloknya.
SDBR sigap mengeluarkan sebuah belati dari sarungnya yang terpasang di sabuk pinggangnya. Mereka mulai saling serang dengan beringas.
Kenny si Jeruk yang awalnya telah bersiaga dengan pistolnya yang sudah dia pasangi peredam, kembali memasukkan senjatanya ke dalam jas putihnya. Dia melihat kesempatan, dan mulai berjingkat mendekati tas Bakri. Ya, mereka bertiga memang sedang memburu pusaka. Apalagi kalau bukan kotak itu.
Namun tanpa Kenny, Si Macan Gila dan SDBR sadari, sebenarnya kotak itu menyadari keberadaan mereka semua. Dan bereaksi.
***
__ADS_1