
Bakri bisa merasakan tatapan Arya yang bagaikan haus darah, namun dia tersenyum lebar lalu bergumam, sambil melempar-lemparkan berlian itu di udara. "Well, temanku Arya. Berlian ini memang berkilau dan menggiurkan, ya?" Tiba-tiba Bakri menangkap berlian itu dan tak memain-mainkannya lagi. Pandangannya tiba-tiba beralih pada skimitarnya.
"Namun bukan ini hadiah utamanya!" Dengan gerakan yang cepat dan pasti, Bakri menumbukkan berlian itu pada skimitarnya. Tiba-tiba dari tumbukan itu muncul sebuah ledakan kecil yang menyilaukan mata Arya, dan dia mengernyit sejenak. Setiba-tiba ledakan itu datang, seketika pula ledakan itu hilang. Berlian itu juga ikut raib, namun kini tampak jelas sesuatu telah terjadi pada skimitar Bakri.
Jika dipandang dengan mata biasa, Skimitar Bakri hanya terlihat lebih berkilau sedikit. Namun seperti dugaan Bakri, sebagai orang yang lama malang melintang dalam dunia pertarungan dan sering terlibat dengan senjata, Arya langsung memahami apa yang baru saja terjadi.
"Senjatamu! Bagaimana bisa senjata itu naik level sebanyak itu dalam sekejap!?" Arya dapat merasakan aura dari skimitar Bakri telah sama sekali berubah. Meski penampilannya tak banyak menunjukkan perbedaan, Arya sadar skimitar Bakri kini menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Inilah fungsi utama dari Berlian Ghaib bagi kita para petarung, Saudaraku Arya!"
Mawar menggelengkan kepala,'Pak Bakri sama sekali tak berubah. Arya tadi hanya orang asing, beberapa detik lalu dia terangkat jadi teman, dan sekarang saudara. Mungkin tak lama lagi Arya akan masuk dalam daftar ahli warisnya'.
Bakri memandang skimitarnya bangga. Dia berlari secepat kilat menuju cangkang Galdabarus terdekat, lalu mengayunkan skimitarnya sekuat tenaga."Hyat!"
PRANGG!!!
Kini ayunan Bakri berhasil membelah dua cangkang itu. Padahal tadi paling parah, Bakri hanya sanggup menggoresnya.
"Haha!" Bakri tergelak senang. Arya takjub. Harus diakui, Bakri terlihat sedikit keren.
"Cih, Beraninya sama bangkai." Namun sepertinya Mawar sama sekali tak terkesan.
"Apakah setiap monster yang kita temui akan memiliki berlian ghaib dalam tubuhnya?" Arya bertanya penasaran.
"Tidak juga. Hanya monster setua ini yang biasanya memiliki inti berlian ghaib seperti tadi sebagai jantungnya." Mawar ikut bersuara, dia memutuskan mengikuti contoh Pak Bakri untuk memercayai Arya. Sedikit.
"Oh, jadi itu jantungnya?" Bakri berceletuk enteng.
"Astaga! Jadi Bapak hanya memanen jantung para monster ini tanpa memperhatikan penjelasanku yang sudah ratusan kali kuulang?" Mawar terdengar kesal.
"Entahlah, Mawar. Nilaiku di biologi memang tidak pernah bagus." Bakri hanya nyengir.
"Apa hubungannya dengan biologi?" Arya heran.
__ADS_1
"Berlian, jantung monster. Bukankah itu artinya kita sedang bicara tentang ilmu yang terkait makhluk hidup?" Bakri mencoba menjelaskan.
"Oh! Seperti itu!" Arya mengangguk paham.
"Kalian berdua akan menjadi teman baik." Mawar menggeleng tak mengerti. Kedua tangannya terangkat. Menyerah pada ketololan Arya dan Bakri.
"Ah, tentang itu. Jadi?" Bakri menoleh pada Arya. Mawar ikut menoleh.
"Apa? Apa yang kalian inginkan?" Arya tiba-tiba waspada. Dilihat secara serius seperti itu membuatnya gugup.
"Apa yang sekarang mau kau lakukan, Arya. Apakah kau ingin ikut bersama kami? Atau ingin meneruskan pengembaraanmu sendiri?" Mawar yang bertanya. Ada ketegasan dalam suaranya. Jujur saja, sebenarnya dia belum bisa memercayai Arya 100 persen. Mawar berharap Arya akan memilih jawaban kedua. Melangsungkan perjalanan bersama musuh dalam selimut pasti akan merepotkan.
"Memangnya kalian mau ke mana?" Arya mencoba menggali informasi lebih jauh. Kecil kemungkinan dia akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, namun tetap saja dia harus mencoba. Setidaknya dia ingin membawa pulang sesuatu untuk dia laporkan pada bosnya. Dia sama sekali tak mempertimbangkan bertarung sebagai pilihan pertamanya. Telah dia saksikan tadi, kehebatan ayunan pedang Bakri. Mawar sang Naga di dekatnya, ternyata juga bukan petarung yang buruk.
"Itu tergantung." Giliran Bakri yang mengambil sikap tegas. Sebenarnya Bakri mulai menyukai Arya. Menambah kawan seperjalanan bukan ide buruk untuknya. Harus diakui, Mawar adalah perempuan, terlepas dari segala hal luar biasa tentangnya. Namun dia menghormati Mawar dan sikap waspadanya. Sikap itulah yang bisa membuat mereka berdua bertahan hidup dengan baik sejauh ini.
"Tergantung apa?" Arya semakin waspada. Kemungkinan terburuk, dia harus bertarung untuk mencari celah agar bisa kabur.
"Apa yang kau lakukan tadi selama mengintai kami?" Bakri meneruskan interogasi.
"Itu tidak penting. Lebih baik kau menjawab pertanyaan kami." Sebenarnya Bakri telah menyadari pengintaian Arya sejak awal. Mawar menyadarinya tak berapa lama kemudian. Namun Bakri tidak ingin mengecilkan hati Arya. Sebenarnya Arya bukan pengintai yang buruk. Namun insting bertahan hidup Bakri yang sempat tumpul selama menjadi guru, kini telah terasah kembali selama perjalanannya bersama Mawar.
"Jadi kau sama sekali tak mengingatnya, Ya?" Setelah menimbang situasinya, Arya memutuskan menjawab jujur.
"Apa?"
"Malam hari, Hotel Terorganisir"
"Ah! Sudah kuduga. Kau salah satu dari tiga penyerang itu, kan?"
"Ya. Hari itu kau telah mempermalukanku. Sejak itu aku telah berlatih keras, dan kini aku ingin menuntut balas!"
"Ini sesuatu yang sangat menarik. Tapi sayangnya nyawaku hari ini bukan hanya milikku saja. Aku berutang banyak nyawa pada nona di samping kita ini."
__ADS_1
"Apa maksud Pak Bakri ha? Jangan bicara yang bukan-bukan dan membuat pembaca salah paham!" Mawar tersipu malu dan menceracau tak jelas.
"Ayolah, Mawar. Supaya seperti di film-film!" Bakri tak bisa menahan tawa melihat ekspresi Mawar yang sesuai dugaan.
"Apakah menurut kalian aku sedang bercanda? Sang Macan Gila mungkin akan mati hari ini, tapi dia tidak akan mati sendiri!" Sikap Bakri yang seolah meremehkanya telah membuat dia naik pitam. Sekarang, Arya tak lagi peduli akan keselamatannya. Dia hanya ingin secepat mungkin meletakkan ujung goloknya di leher Bakri.
"Haha. Maafkan aku, anak muda. Tolong jangan tersinggung. Beberapa orang memang telah berkali-kali bilang, ada kabel di otakku yang sudah putus. Entah berapa. Entah yang mana."
"Aku tak peduli." Jujur saja, Arya sebenarnya sedikit ingin tertawa. Sedikit.
"Bagaimana Mawar? Bolehkah aku meladeni Nak Arya?"
"Terserah Bapak, lah..." Mawar mengeluarkan gestur mengibas tangan seperti mengusir lalat. Lalu dia kembali menggeleng. 'Sudah kuduga, Arya sekarang ada daftar panjang ahli waris Pak Bakri'.
Bakri tersenyum pada Mawar, lalu menoleh pada Arya. "Aku tak akan sungkan.". Skimitarnya telah keluar dari sarungnya.
'Ah Sial!' Dalam hatinya Arya bergidik ngeri, agak menyesali keputusannya yang gegabah.
Bakri menyadari pergolakan hati Arya,"Ah Maaf. Tapi aku belum punya senjata lain yang bisa kupakai bertarung denganmu. Namun bertarung dengan tangan kosong denganmu yang memakai senjata, sepertinya itu terlalu jauh menghinamu, bukan?"
Mata arya menjadi gelap, hilang sudah segala ragu dalam hatinya, berganti amarah yang membuncah. "Keparaaaaattt!" Arya melunucur maju dengan segala tenaga yang ia miliki. Dia bertarung bagai singa yang terluka.
Bakri lincah melayani setiap sabetan golok Arya. Di tangan Bakri, Skimitar yang lebar itu seolah terlihat seringan bulu. Golok Arya yang pendek pun ternyata berkali-kali mengincar sudut-sudut yang jauh dari setiap senti tubuh Bakri. Arya adalah petarung yang berpengalaman.
Namun lambat laun, perbedaan kemampuan dalam bertarung mulai kelihatan. Arya yang lebih terbiasa menghadapi lawannya dengan serangan-serangan kejutan, terbukti merupakan lawan yang tak cocok menghadapi Bakri yang berada dalam posisi siap, dan di tengah hari terang pula. Bakri pun jauh lebih menguasai medan pertarungan di tempat terbuka seperti ini. Pedang besarnya tak pernah kehabisan ruang untuk bermanuver, dan liukan Bakri selalu mengikuti pedangnya kemanapun ia mau.
Arya menyadari hal yang sama, dan mulai mengerahkan teknik-teknik yang beresiko. Satu saja langkah yang salah, akan menjadi akhir yang berdarah.
"Hyah!" Arya berusaha menjangkau pinggang luar Bakri dari bawah.
"Hup!" Bakri dengan sigap menghindar. 'Buk!" Ujung belakang pedang Bakri mengetok bagian belakang leher Arya dengan kencang.
Dan untuk Arya, semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
__ADS_1
...