Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 14. Partner yang Tak Diduga


__ADS_3

Ternyata ada seseorang di atas pohon tak jauh dari mereka. Orang itu memakai baju kamuflase bermotif daun sehingga sulit dilihat. Namun dari jauh terlihat jelas di pinggangnya, ada sebuah senjata golok berkepala macan.


"Siapa kau!" Bakri meneriaki sosok asing itu. Namun anehnya, Bakri seperti pernah melihat sosok ini sebelumnya.


Si Macan mengutuk dalam hati. Menyesali mulutnya yang tak bisa menahan diri. Pengintaiannya selama berhari-hari kini sia-sia. Persembunyiannya pasti telah terbongkar sepenuhnya. "Itu tak penting! Lihat monster itu! Aku yakin monster itu lebih berbahaya daripada aku sekarang!"


Bakri kembali menoleh pada kabut yang makin menipis. Bayang-bayang di balik kabut abu semakin nampak jelas. Jika memang itu bayangan satu makhluk ajaib, berarti apapun itu memiliki tinggi setidaknya 20 meter.


'Graaaaah!' Monster itu mengeluarkan raungan yang memekakkan telinga.


"Bulbasaur!" Bakri refleks berteriak ketika akhirnya monster itu nampak jelas.


"Bukan Pak Bakri! Lagi-lagi anda dengan pengetahuan pokemon anda! Itu namanya galdabarus. Spesies kura-kura raksasa yang mengandalkan keenam kakinya untuk menyerang." Mawar lagi-lagi mengkoreksi Bakri yang asal ngomong dan menamai setiap makhluk ajaib yang ditemuinya sesuka hati.


"Oh iya ya. Kalau bulbasaur kan ada meriam yang muncul dari batok di punggungnya."


"Terserah anda lah, Pak Bakri."


"Boleh aku mendekat!? Ayo kita bekerja sama dulu menghadapi monster ini!" Si Macan gila penasaran dengan apa yang mereka berdua bicarakan. Dan entah kenapa mereka berdua bisa tenang-tenang saja melihat kemunculan monster sebesar ini.


"Bagaimana, Mawar? Apakah kita izinkan dia bergabung?"


"Hmm... Bolehlah. Galdabarus memang lawan yang merepotkan kalau hanya kita berdua yang menghadapinya."


Setelah Bakri memberikan tanda panggilan, Si Macan Gila segera datang mendekat.


"Perkenalkan namaku Arya Bima, tapi aku lebih dikenal sebagai Si Macan Gila."


"Kalau begitu aku akan memanggilmu Arya saja. Perkenalkan aku Bakri, dan dia..."


"Mawar. Ya, aku pun telah mendengar tentang duo kiamat yang terkenal." Arya berkelit. Dia tak ingin mereka tahu bahwa niat dia sebenarnya adalah memburu mereka.


"Oke, perkenalan cukup segitu saja. Ayo kita fokus ke galdabarus di depan kita ini." Bakri menoleh ke galdabarus di depannya.


"Galdabarus ya. Jadi bagaimana kita bisa melewatinya?" Arya bertanya.


"Dari ukurannya, kuduga kura-kura ini masih muda. Namun cangkangnya sudah sangat sulit ditembus." Mawar berujar.

__ADS_1


"Masih muda?" Bakri bertanya heran.


"Ya, galdabarus dewasa bisa mencapai 50 meter tingginya. Bahkan lebih." Mawar kembali menjawab.


"Kita bisa mencoba menyerang titik-titik tubuhnya yang tidak terlindung cangkang." Bakri memberi usul.


"Bagaiman dengan racun?" Arya bertanya.


"Hmmm... Bisa dicoba. Sepertinya cangkang yang keras ini menandakan pertahanan organ dalammya tak begitu kuat untuk melawan racun." Mawar sepakat.


"Oke. Kita serang dari tiga sisi, dua gelombang. Gelombang pertama, aku dan Mawar maju. Aku lewat kiri, Mawar lewat kanan. Ketika perhatian galdabarus teralih, gelombang kedua, kau maju dengan golok beracunmu, Arya."


"Titik mana yang kuincar?" Arya mengeluarkan goloknya, mulai melumurinya dengan racun.


"Daerah jakunnya. Kelihatannya daerah itu tidak terlindungi cangkang. Dengan begitu racunmu bisa langsung menembus salur pernafasan dan kerongkongannya." Mawar memberi usul.


"Oke!". Arya menghunuskan goloknya.


Tanpa aba-aba, Mawar dan Bakri meluncur ke depan. Galdabarus yang berkaki enam menghentakkan kedua kaki depannya.


Boom! Boom! Serangan sederhana dari raksasa itu dapat meremukkan tulang Bakri dan Mawar seandainya terkena. Namun Bakri dan Mawar telah mengantisipasinya.


Bakri segera berlari menghindar ke arah kiri dalam jarak aman dari kaki raksasa. Begitu pula Mawar yang kini telah mengepakkan sayapnya untuk membantunya bergerak lebih cepat.


Nampaknya taktik ini berhasil membuat galdabarus lengah sehingga Arya mendapatkan celah.


"Hiyaaaat!" Arya berlari kencang sambil menyampirkan goloknya.


Galdabarus tak sempat menoleh saat Arya akhirnya mencapai kerongkangannya, dan 'crasss!' golok Arya menembus leher galdabarus.


Arya segera berlari menjauh setelah berhasil menancapkan golok beracunnya karena ternyata darah yang muncrat dari leher galdabarus mengeluarkan asap. Mendidih.


Bakri dan Mawar terus mengecoh galdabarus sambil sesekali memberikan serangan. Namun setiap serangan mereka seolah tiada artinya untuk kulit tebal galdabarus yang keras bagai batu. Setiap sabetan skimitar Bakri dan cakaran Mawar hanya menyisakan goresan tipis.


Di sisi lain Arya pun tercengang. Bekas sabetannya di leher galdabarus barus mulai menutup dengan kecepatan yang menakjubkan.


Arya kembali berusaha menyerang titik yang sama, namun ternyata galdabarus telah mempelajari kesalahannya. Galdabarus segera menunduk sehingga Arya tak bisa menyerang leher galdabarus yang kini terlindungi.

__ADS_1


Kini pertarungan untuk melumpuhkan galdabarus berlangsung di tiga sisi. Mawar di kanan, Bakri di kiri, dan Arya di depan.


Mereka bertiga mulai kewalahan mengecoh dan terus menghindari serangan galdabarus, karena ternyata tak diduga dari badannya yang besar, galdabarus amat lincah dan gesit.


Namun sepertinya racun Arya mulai bekerja.


Gerakan galdabarus mulai seperti tak terarah. Dia seringkali seperti hanya menyerang tanah kosong, bahkan gagal menghindari serangan mereka. Meskipun tak memperlambat, sepertinya racun Arya membuat galdabarus berhalusinasi. Matanya yang tadi menyala merah, kini mulai memutih.


"Sekali lagi!" Bakri berteriak.


Arya kembali mundur dari pertarungan untuk melumuri goloknya dengan racun, sementara Bakri dan Mawar melayani serangan galdabarus yang semakin tak terarah namun tentu saja tetap berbahaya.


"Siap!" Arya berteriak menandakan goloknya telah penuh dengan racun mematikan.


Bakri dan Mawar kembali meluncur ke kiri dan kanan. Galdabarus kembali terpancing karena kini dia tak dapat lagi terlalu mengandalkan matanya untuk menyerang.


Arya tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Crass! Darah segar galdabarus kembali tumpah.


"Graaaaaaauuuu!!!!!!" kali ini terdengar raungan kesakitan yang panjang dari galdabarus. Disusul kepalanya yang mulai terkulai lemah.


'Boom!' keenam kaki galdabarus jatuh bagai pohon yang tumbang. Galdabarus mulai menghembuskan nafas-nafas terakhirnya.


"Wuhuuu!" Bakri berteriak girang menyadari Galdabarus akhirnya tumbang. Lalu dia mendatangi Mawar dan men-tos tangannya.


Secara refleks karena sangat senang, dia juga datang pada Arya yang meresponnya dengan dingin. "Ayolah! Jangan biarkan tanganku mengambang begini, dong." Bakri membujuk Arya untuk menyambut tosnya.


"Apa sih, yang kalian lakukan?" Arya tidak merespon ajakan tos Bakri. Dia hanya melap goloknya yang bersimbah darah di sebuah kain yang selalu dia bawa, lalu memasukkan goloknya itu ke sarungnya.


"Ah! Kamu gak tahu, sih! Lihat ini ya..." Bakri tak terlalu ambil pusing dengan sikap dingin Arya dan segera berlari menuju jasad galdabarus sambil membawa skimitarnya.


Bakri merobek dada galdabarus yang tak berperisai, hal yang tak begitu sulit karena kini galdabarus tak lagi bisa melawan. "Betul di sini, Mawar?" Bakri bertanya dengan berteriak pada Mawar yang memperhatikan dari jauh.


Mawar hanya mengangkar jempolnya.


"Yes!" Lalu Bakri memasukkan tangannya ke bekas robekan itu, mulai merogoh seperti meraih ke dalam ransel. Arya agak mual melihat adegan ini, tapi dia berusaha mempertahankan ekspresi datar. "Nah, ini dia!" Akhirnya dia berseru dan mengeluarkan tangannya dari bekas robekan dada galdabarus.


"Taraaa!" Bakri mengangkat tangannya tinggi, mengacungkannya ke arah Arya yang kini terbelalak matanya.

__ADS_1


Di tangan Bakri kini, ada sebuah permata yang besar. Sangat besar dan sangat berkilau.


.


__ADS_2