Bertahan Di Hari Kiamat

Bertahan Di Hari Kiamat
Eps. 9. Pertarungan Ilmu


__ADS_3

Satelit yang menampung dan meneruskan panggilan Si Bos adalah SF 70-K.


SF 70-K adalah salah satu dari tiga satelit yang masih berfungsi saat bencana dimulai. Namun hanya sampai situ kabar baiknya. Sisanya adalah kabar buruk.


SF adalah singkatan dari Soleim Farmfart. Nama tokoh sekaligus perusahaan swasta yang memiliki otoritas penuh pada satelit beruntung itu.


Saat bencana terjadi, bukan hanya para makhluk ajaib yang muncul dari beberapa titik. Ada kejadian lain yang tak kasat mata, namun juga berdampak sangat serius.


Sebuah gelombang elektromagnetik misterius secara masif terpancar dari beberapa titik di muka bumi. Gelombang ini yang turut berperan dalam melumpuhkan sebagian besar sumber listrik dan jaringan internet di muka bumi juga di dalam laut, tapi efek terparahnya ada di luar angkasa.


Para satelit sial yang menghalangi jalannya gelombang ini, seketika mengalami malfungsi total. Praktis membuatnya jadi sebuah rongsokan mahal yang kini melayang tanpa guna di orbit satelit bumi.


Dua satelit lain yang tersisa adalah ANGEL-013 dan FABRIC. Keduanya juga adalah satelit milik perusahaan swasta yang tentu lebih mementingkan dirinya sendiri daripada kepentingan orang banyak.


Kini, ketiga satelit itu menjadi satu-satunya tumpuan para manusia di bumi untuk menjalin komunikasi jarak jauh dan bertukar informasi.


Secara kebetulan juga, atau karena jalinan takdir yang rumit, posisi ketiga satelit ini membentuk segitiga sama sisi. Setiap satelit ada pada masing-masing sudut segitiga raksasa itu. Bumi ada di tengahnya. Seperti logo piramida dengan sebuah bola mata di tengahnya.


Namun tidak seperti organisasi yang sering diisukan terkait erat dengan logo itu, (seperti Illuminati dan Freemasonry), pemilik tiap satelit sama sekali tak menjalin kerja sama politik. Ketiganya memiliki tujuan dan prinsipnya masing-masing sebelum bencana ini terjadi, dan bencana ini tidak mengubah apapun. Bisa dibilang malah mempertajamnya.


Dengan ketiga perusahaan yang saling bersaing ini, Era Pertarungan Ilmu Pengetahuan dimulai. Mereka yang kelak masih bertahan untuk menceritakan kembali sejarah ini akan menyebutnya "The Knowledge War".


>>>

__ADS_1


Sejak kejadian di Hotel Terorganisir, Bakri tak lagi percaya pada hotel. Selama perjalanan, Bakri dan Mawar lebih memilih menginap di wisma atau pondok-pondok yang menyediakan kamar, lebih sering mereka berkemah di alam bebas, dan ini juga bukan pemandangan yang aneh.


Bakri tidak mau mengakui dirinya sebagai agen penolong apalagi pahlawan, namun tetap saja dia merasa jauh lebih siap menghadapi kondisi bencana ini jika dibandingkan dengan kebanyakan warga yang dia temui.


Banyak warga yang dulunya hanya pegawai kantoran, atau pengusaha, dan pekerjaan lainnya yang tak melibatkan fisik terlalu berat, diguncang oleh bencana ini yang menuntut kemampuan fisik tangguh. Namun kualitas utama manusia memang bukan fisiknya semata.


Bakri dan Mawar menyaksikan sendiri, bagaimana perjuangan para warga untuk bertahan hidup pada situasi yang tak masuk akal. Tenda-tenda ini adalah buktinya.


Mereka yang tempat tinggalnya hancur, tak ada harapan untuk membangunnya kembali. Pemerintah efektif lumpuh sehingga segala macam bantuan menjadi sangat terbatas. Akhirnya mereka terpaksa membangun kemah semi permanen. Kemah-kemah ini lalu menjamur dan akhirnya menjadi sebuah lingkungan.


Saat sebuah lingkungan menjadi cukup besar, secara otomatis terbangun sebuah rasa solidaritas antar warga dan terbentuklah sebuah komunitas. Fasilitas demi fasilitas mulai hadir. Wc Umum, Dapur Umum, Klinik. Namun yang terpenting adalah gardu keamanan.


Bakri dan Mawar seringkali terlibat dengan komunitas-komunitas ini dalam perjalanan mereka. Mereka ikut membantu membangun fasilitas, memberi masukan tentang cara menjalankan organisasi, dan bantuan-bantuan lainnya.


Bakri sempat mengajarkan beberapa ilmu dasar matematika pada anak-anak di komunitas. Anak-anak begitu antusias setelah sekian lama tak mengikuti proses belajar mengajar dalam bentuk apapun. Menurut Bakri, mereka adalah korban sebenarnya dari bencana ini.


Mawar juga turut membantu dengan memberi masukan tentang cara bertahan dari para makhluk ajaib. Pengalamannya selama terjebak di dunia gaib membuatnya banyak mengenal jenis makhluk ajaib ini, bahkan mengetahui kelemahan dan kelebihan beberapa darinya.


Namun mereka tak pernah tinggal terlalu lama di sebuah tempat. Mungkin sehari, kadang dua, maksimal tiga hari. Ada tempat yang mereka tuju. Peta itu.


"Pak Bakri sungguh tahu membaca peta, atau tidak, sih?"


"Ya tahu lah! Hanya saja peta ini menggunakan petunjuk-petunjuk yang sudah usang! Lihat ini! *Pondok Asri Mewangi* yang seharusnya kita lewati dua hari lalu. Pondok itu sudah tutup sejak sepuluh tahun lalu!..menurut Joogle." Joogle adalah aplikasi pencari internet yang terjanggih pada masanya. Apapun bisa kau cari di Joogle.

__ADS_1


"Aku masih heran, Pak Bakri koq bisa ya mengakses internet? Kukira smartphone sudah tidak ada gunanya lagi pada masa kiamat ini."


"Iya, kau betul, Mawar. Jujur saja. Aku juga bertanya-tanya. Memang, sih. Ini hal yang bagus dan sangat kusyukuri. Namun sayang saja kalau ini tidak bisa kita bagi ke orang lain."


"Haha. Aku tidak semulia anda, Pak Bakri. Aku hanya murni penasaran." Mawar meletakkan tangannya di dagu, seperti berpikir. "Mungkin ini ada kaitannya dengan kunjungan kita kemarin ke Komunitas Teknokom ya?"


"Ya, mungkin saja."


Hal yang ditemui Bakri dan Mawar dalam perjalanan mereka adalah, beberapa komunitas besar akhirnya memiliki nama. Contohnya adalah Teknokom, komunitas yang mereka lewati dan singgahi beberapa hari lalu.


Teknokom tepat seperti namanya, merupakan singkatan dari Teknologi Komunitas. Komunitas ini berisi para penyintas yang memiliki pengetahuan dan fasilitas lumayan mumpuni terkait teknologi. Mereka memiliki jaringan internet dan juga persediaan gadget yang lebih dari cukup untuk setiap anggota komunitasnya.


Saat berkunjung ke komunitas ini, smartphone Bakri yang selama ini hanya menjadi memento bagi Bakri, ternyata bisa dicas dan berfungsi seperti sedia kala. Teknokom juga berhasil membuat solar panel berfungsi, sehingga bisa mengubah sinar matahari menjadi listrik. Teknologi yang lalu mereka aplikasikan ke banyak alat mereka. Termasuk smartphone.


Awalnya smartphone Bakri tidak memiliki fungsi solar panel itu, dan para warga di teknokom berjanji akan menginstalkan teknologi itu pada keesokan harinya. Namun saat esok harinya tiba, secara ajaib smartphone Bakri telah memiliki fungsi solar panel itu. Membuat para warga sangat heran.


Akhirnya saat Bakri dan Mawar akan meninggalkan komunitas mereka, warga teknokom memberikan sebuah paket data pada Bakri. "Paket data ini akan habis dalam seminggu. Semoga sebelum hari itu, anda sudah bisa menemukan komunitas lain yang bisa mengisinya untuk anda." Begitu kata Mahmud, Ketua Komunitas Teknokom saat menyerahkan kartu sim yang berisi kuota.


Ini sudah hari ke sepuluh, dan Bakri masih tersambung ke dunia maya.


"Mungkin yang Pak Ketua maksud sebulan, bukan seminggu." Celetuk Mawar.


"Entlahlah. Tapi semoga kita sudah sampai ke tempat tujuan sebelum hape ini terputus dengan internet." Tak ada dari mereka berdua yang menyadari, kotak itu yang biasanya berpendar biru, kini juga sering berpendar hijau setiap kali Bakri menyambungkan smartphonenya dengan internet. Dan pada malam ketika hape Bakri secara ajaib memiliki fungsi solar panel.

__ADS_1


***


__ADS_2