
Namaku adalah Thaha Assegaf. Aku seorang mahasiswa semester akhir di pondok pesantren mahasiswa ittiba’ di kotaku, Kota Surakarta. Aku juga putra tunggal dari pemilik pondok pesantren tersebut. Meskipun nama belakangku Assegaf, aku dan dari keluargaku sendiri bukanlah dari bani Assegaf. Ayahku memberikan nama belakangku dengan Assegaf karena beliau sangat takjub dengan silsilah marga arab tersebut. Juga, ada doa dan harapan yang sangat besar di dalamnya.
Hari ini, hari pertama di semester baru pun kembali dimulai. Seperti biasa, aku mulai berjalan memasuki area pondok dan mendapati banyak mahasiswa santri yang kurang kompeten. Terlihat tidak bersungguh-sungguh dalam mendalami ilmu agama dan sering terlihat “menggampangkan”.
“Memalukan”
“Tidak pantas untuk ditiru”
Aku terus berjalan melewati mereka dan memberikan banyak hujatan di dalam hati, “astaghfirullaah”, batinku untuk mulai menyadarkan hati kembali.
Banyak mahasiswa yang lebih suka mengobrol dan bercanda dari pada belajar dan membaca buku, seolah mereka sudah pandai akan hal itu sehingga mereka tidak mengulangi kembali apa yang telah mereka pelajari atau setidaknya membaca Al Qur’an untuk menambah pahala.
Aku mengakui, aku sendiri adalah seorang putra kiai yang sangat serius dengan ilmu pendidikan dan ilmu agama. Aku mengesampingkan apa itu yang dinamakan bersenang-senang dan bergaul dengan orang lain. Keseharianku hanyalah terus belajar dan belajar.
Tapi, suatu hari kehidupanku tiba-tiba perlahan-lahan mulai berubah.
******
Ayahku, memanggilku ke kediamannya di pondok.
“Thaha, keinginanmu untuk menjadi seorang pendakwah apakah masih teguh bersemayam di dalam hatimu?”, tanya Kiai yang tidak lain adalah KH. Ahmad Husain. Ayah sekaligus pemilik pondok.
Aku sedikit kaget dan menjawab, “Maksudnya?”
“Mulai sekarang, keinginanmu untuk menjadi seorang pendakwah akan bisa kamu jalankan”
Sejenak, aku berfikir. Ayah kembali tenang di tempat duduknya dengan didampingi ibuku. Memang benar, sejak awal aku ingin menjadi seorang pendakwah. Tapi, entah kenapa tiba-tiba aku terjebak di dalam jurusan tahfidz selama empat tahun berjalan ini. Aku selalu frustasi karena memikirkannya. Tapi, aku juga telah bersungguh-sungguh belajar dengan giat di jurusan tahfidzku ini.
“Bukankah ini sudah terlambat, ayah. Mana bisa saya berganti jurusan dakwah?”, jawabku singkat.
“Benar, tapi kamu tidak perlu berganti jurusan. Jika kamu bisa memanfaatkan satu tahun terakhir ini untuk belajar berdakwah tentu ayah sendiri tidak merasa khawatir. Karena, kamu sendiri adalah mahasiswa yang teladan dan sangat cerdas di jurusan tahfidzmu itu. Ayah sangat bangga kepadamu”
Aku hanya bisa menatap ke arah ibu. Ibu pun mengangguk satu kali dengan yakin.
“Sebenarnya, apa yang ingin ayah rencanakan?”, tanyaku mulai menyelidik.
“Ahaha..”, beliau pun tertawa singkat. Akhirnya, ayah menjelaskan dengan sangat rinci.
__ADS_1
Kiai Abdul Ghani seorang dosen senior yang mengajar ilmu tafsir Al Qur’an sedang sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu. Kiai Ahmad Husain bermaksud memintaku untuk menggantikannya sekaligus memberikan kesempatan kepadaku untuk belajar berdakwah.
Meskipun, dalam hati aku sangat senang. Tapi, di lain sisi aku belum memiliki pengalaman sama sekali tentang berdakwah, yaitu menyampaikan ilmu agama di depan umum. Kepercayaan diriku memang sangat tinggi dan aku selalu bisa membantu rekan-rekan mahasiswaku dalam menyelesaikan masalah di tugas mereka. Bahkan, bisa memberikan jawaban atas ketidaktahuan mereka. Tapi, jika harus di depan umum apakah aku bisa? Ini adalah sebuah amanah dan tanggung jawab yang sangat besar.
“Jadi, bagaimana?”, tanya ayah.
“Ayah, tidakkah ini benar-benar sangat mendadak? Saya tidak akan bisa dan sanggup menjalankannya. Berdakwah itu tanggung jawab yang sangat besar”
“Jangan memikirkannya terlalu serius. Mungkin, kata berdakwah terdengar menakutkan tapi ayah akan menggantinya dengan kata mengajar. Mungkin, itu bisa lebih memudahkanmu?”
Aku sedikit memicingkan bibir, “Iya sih memang benar”, batinku.
“Kamu bisa memulainya dengan mengajar para mahasiswa santri dan santriwati semester dua. Dengan tahapan mengajar maka insyaallah, Allah akan tambahkan ilmu dan memberkahi segala usaha muliamu itu sehingga jika Allah menghendaki pula kamu akan bisa menjadi seorang pendakwah”
“Mungkin, dengan sebutan mengajar aku bisa sedikit menerima amanah itu. Lagipula, itu aku lakukan untuk mahasiswa semester dua yang tidak lain usianya lebih muda dari diriku sendiri”, batinku.
“Ini adalah materi dan jadwal kamu mulai mengajar di kelas”
Kiai Ahmad Husain memberiku beberapa buku dan berkas jadwal mengajar kiai Abdul Ghani. Aku mulai membuka lembar jadwal tersebut. Dalam satu minggu jadwalnya penuh karena harus mengajar di semua jurusan tapi dalam satu hari tidak terlalu menguras waktu, hanya 2-3 jam saja.
*****
“Gus Thaha, mau Bude ambilkan makan?”, tanya Bude Samiah.
“Njih, mangga Bude”, jawabku.
Sementara itu, Pakde Roso menemaniku dan penasaran dengan apa yang aku bawa. Sedangkan, Bude Samiah kembali ke dapur untuk mengambilkan makanan untukku.
“Lihat-lihat. Itu kan Gus Thaha, putranya Pak Kiai. Duh ganteng banget sih dia”
Tiga santriwati sedang berada di dalam dapur dan mengintip dari balik hijab atau tirai dapur yang terjuntai panjang sebagai pembatas. Pondok tersebut hanya memiliki satu dapur pusat dengan sisi kiri untuk tempat makan mahasiswa santri dan sisi kanan untuk tempat makan mahasiswi santriwati. Tentu saja ruang tersebut diberi pembatas dengan dinding kaca yang tertutup dengan gordyn.
“Owalah Gus-gus, idolamu semakin bertambah saja”, sindir Pakde tertawa geli.
“Saya tidak tertarik dengan semacam itu pakde”, jawabku sinis.
“Emang ya. Wong ganteng kui mesti sombong”, balas Pakde mengganggu.
__ADS_1
“Pakde, jangan ganggu deh. Saya lagi serius dengan tugas saya sekarang”
“Owalah, emang Gus Thaha lagi dapat tugas apa?”
“Ini Pakde, tugas ngajar”
“Walah, kok bisa? Gus Thaha kan masih mahasiswa kok bisa ngajar?”
“Ini amanah Pakde. Jadi, saya harus bisa menjalankannya”
“Amanah? Amanah dari siapa?”
“Dari Kiai Ahmad Husain”
“Walah? Tumben Romo Kiai meminta Gus Thaha ngajar? Bukannya Gus Thaha dari jurusan tahfidz?”
“Ceritanya panjang Pakde”
“Panjang panjang kayak kacang panjang aja”
Bude Samiah datang membawakan nampan berisi makanan dan minuman untukku dan ikut menyela, “Gus Thaha ngajar kayak dosen-dosen yang ngajar di kelas gitu?”, tanyanya.
“Masyaallah, hebat sekali gus kita ini buk”, balas Pakde Roso.
“Siapa dulu, Gus Thaha putra kiai gitu. Pasti ya harus berani”, lanjut Bude.
Jari jemariku mulai kesal dan aku sudah merasa terganggu. Aku paling tidak suka berada di antara orang-orang yang suka sekali bicara dan mengobrol satu sama lain tidak ada habisnya.
Apalagi, di balik dinding kaca mulai banyak santriwati kemayu yang melihatku dari sana. Melihat banyak pasang mata mulai memperhatikanku, aku langsung beranjak berdiri.
“Greek!”, suara kursi yang kudorong ke belakang dengan sengaja. Membuat bude dan pakde kaget.
“Dasar perempuan-perempuan yang tidak bisa menjaga pandangan. Aku jadi tidak berselera makan”, gerutuku acuh dan beranjak pergi meninggalkan tempat tanpa pamit.
Aku berjalan dan terus berjalan untuk menenangkan pikiran kembali. Satu hal dari sifat burukku adalah mudah kesal dan muncul emosi di dalam hati. Aku tahu itu buruk, tapi itulah yang masih menjadi kelemahanku.
Dalam perjalananku, sayup-sayup aku mendengar seseorang mengaji. Lebih tepatnya, melafalkan ayat al qur’an seperti seorang hafidz. Terdengar sangat merdu. Tapi,
__ADS_1
“Suaranya? Seperti seorang gadis?"