Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
SEPERTI PENGANTIN 12


__ADS_3

"Alhamdulillaah, Neng Nuha sudah bangun?", tanya Bude Samiah melihat Nuha sudah membuka mata.


"Al Qur'an Nuha mana Bude?"


"Al Qur'an?"


"Iya", Nuha menatap dengan wajah setengah hidupnya.


"Umm.. Gimana ini? Gus Thaha juga belum ngembaliin Al Qur'an itu. Saya harus ngomong apa?", batin Bude.


"Bude?"


"Sebaiknya, Neng mandi dulu gih. Tenang saja, Al Qur'annya kan biasa Bude simpan, nanti Bude ambilkan di tempatnya", balas Bude beralasan.


"Baiklah"


Sementara Nuha mandi, Samiah menyiapkan pakaian gamis putih dengan jilbab bertali berwarna putih juga.


"Gimana ini Pak e, Al Qur'an Neng Nuha kok juga belum dikembalikan ya?", tanya Samiah mulai cemas.


"Yo wis Buk e, bapak tak cari Gus Thaha dulu kalo gitu"


Samiah menghampiri Nuha dan mendapati Nuha juga sudah selesai mandi. Beliau membantu dia untuk merapikan diri mengenakan gamis yang sudah beliau siapkan.


Pakde Roso menuju pintu keluar dapur dan tidak dia sangka aku pun juga datang ke dapur. Kedatanganku langsung disambut senang oleh beliau.


"Ini dia Gus gantengku", ucapnya.


"Ada apa Pakde?"


"Ayo sini cepet!"


Pakde menarikku cepat untuk masuk ke dalam dapur. Aku tidak mengerti apa maksudnya tapi tiba-tiba aku dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa bagiku.


Nuha, keluar dari kamar dengan mengenakan gamis putih bersih dengan jilbab terusan yang lebih lebar dari biasanya.


Seperti kata Ibu, Nuha bagai bidadari yang turun dari langit. Eh? Bukan, dia hanya bidadari yang keluar dari sebuah ruangan kecil namun penuh kehangatan di sana. Meski begitu, sejenak aku terpana melihatnya.


"Nah, kalo gini kan terlihat cantiknya", puji Bude.


"Maasyaa Allaah, gendukku ini jempolan!", tambah Pakde. Membuat Nuha semakin senang mendapat pujian itu.


"Ehhem!!", aku langsung berdehem untuk menghentikan semua omong kosong ini.


"Uwa! Ustadz!!", sambut Nuha dengan senangnya.


Perasaanku langsung tidak enak. Ingin sekali aku langsung beranjak, tapi Pakde malah menghentikanku.


"Jangan pergi dulu Gus!", perintah Pakde.


"Ustadz! Bukankah, itu.. Al Qur'an Nuha?", tanya Nuha seraya menghampiriku. Aku sedikit melompat ke belakang satu langkah.


"Bude, Pakde! Itu Al Qur'an Nuha kan?"


Bude dan Pakde hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk pasti.


Aku pun langsung menyerahkan Al Qur'an itu kepada pemiliknya, Nuha.


"Alhamdulillaah, sukran Ustadz!"


"Semangat banget gadis ini", cibirku dalam hati.

__ADS_1


"Wa- waiyyaki", balasku singkat.


Nuha duduk di kursi dapur dan meletakkan Al Qur'an itu di atas meja. Sedangkan, aku masih saja belum bisa beranjak. Entah apa yang menahanku disini.


"Pak e", bisik Samiah.


"Iya Buk e?"


"Coba deh dilihat-lihat bentar. Neng Nuha dan Gus Thaha itu terlihat cocok yah!", ucap Samiah terkikik.


"Kayak sepasang pengantin", bisik Roso.


"Pas banget momentnya. Neng Nuha memakai gamis putih dan Gus Thaha pake koko putih. Serasi maksimal"


"Bude Pakde! Jangan ngaco deh!", elakku.


"Sebenernya, Neng Nuha itukan sudah besar ya Pak e? Udah cocok kalo jadi pengantin. Tapi, kalo melihat kembali penampilan ndesonya itu, dia jadi kayak anak kecil"


"Iya iya ya Buk e"


Pakde Roso dan Bude Samiah malah terus terbuai dengan lamunannya. Jika aku tidak segera menyadarkannya, mereka akan terjebak ke dalam pikiran bawah sadarnya yang aneh itu.


"Bude! Pakde!!", bentakku.


"Gih Gus, maafin kami", balas Bude Pakde bersamaan.


"Saya lihat, Al Qur'an itu ada gemboknya. Memang seperti itu?", tanyaku heran.


"Iya Ustadz", Balas Nuha merendah.


"Kalo digembok gitu gimana cara bacanya?"


"Gus ini pie to? Yo dibuka pake kunci to Gus Gus", sela Pakde Roso, membuatku kesal saja.


"Eeeeee", perasaanku semakin tidak enak.


"Ini unjukannya Gus Thaha", ucap Bude sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja depanku.


"Gus Thaha?", Nuha semakin bertanya-tanya.


"Neng Nuha juga minum ya, nih", ucap Bude lagi sambil meletakkan secangkir teh hangat di mejanya.


"Bude, Pakde!", panggil Nuha.


"Iya Neng?"


"Bude, Pakde. Gus.. Gus.. Gus itukan putra kiai kan Pakde? Ustadz Thaha seorang Gus? Putranya siapa?", tanya Nuha.


"Pie to koe nduk, yo jelas putrane Romo Kiai Ahmad Husain to nduk nduk", balas Roso.


"Apa?! Ro- Romo Kiai adalah ayahnya Ustadz Thaha? Nuha.. Nuha.. Nuha baru tau itu Pakde!!!"


"Mulai lagi. Obrolan yang tidak penting ini aku sudah tidak tertarik lagi. Aku ingin segera pergi dari sini!!", teriak hatiku.


"Neng Nuha baru tahu, Gus Thaha seorang putra Kiai? Ooohh.. Bude ingat.. Ini toh. Dia toh yang Neng Nuha bicarakan tentang ustadz yang membuat Neng kesemsem sendiri waktu itu?", balas Bude.


"Apaan lagi ini?", batinku.


"Iya Bude, Ustadz Thaha namanya. Tapi, Nuha baru tau kalo Ustadz adalah putra Romo Kiai", ucap Nuha merendah sambil melirik ke atasku.


"Sudahlah, Pakde. Saya mau pamit", pungkasku.

__ADS_1


"Ustadz! Tolong ajarin Nuha ngaji!", pinta Nuha tiba-tiba.


"Apa?"


"Ustadz! Tolong ajarin Nuha ngaji!"


"Kamu ini sering bolos kelas saya lalu tiba-tiba minta diajarin ngaji, mana bisa saya terima gitu aja", balasku.


"Tapi, Ustadz!!"


"Cari Ustadz atau ustadzah lain aja"


"Ustadz!!"


"Astaghfirullaah! Dia terlihat sangat serius. Tapi, aku tidak boleh terbawa suasana dan menjadi lemah olehnya", elakku dalam hati.


"Al Qur'an ini, Nuha masih belum bisa membukanya"


"Kenapa?"


"Al Qur'an ini, sudah 5 tahun belum bisa Nuha buka, ustadz!!", ucapnya semakin mengeraskan suaranya.


"Kan kata Pakde tinggal dibuka pake kunci. Buka aja pake kunci, ribet amat", sinisku.


"Kuncinya tidak ada. Kuncinya tidak ada, Ustadz!!"


"Berhentilah berteriak!"


"Makanya.. Makanya, ajarin Nuha ngaji!"


"Tidak bisa"


"Ustadz.."


"Maaf Bude, Saya mau pamit segera", pungkasku.


"Injih Gus, injih Gus kalo gitu. Maafin sikap Neng Nuha njih Gus", Balas Samiah merasa sungkan.


Aku pergi meninggalkan mereka semua. Kejadian itu semakin membuatku kerepotan. Jika aku terlibat lagi dengan gadis itu, aku bakalan semakin kerepotan.


"Lebih baik, aku sudahi perjumpaan ini. Aku, tidak akan mengingat ini dan mengulanginya lagi!", ucapku dalam hati membuat keputusan.


Aku berjalan menuju pondok Kiai Ahmad Husain untuk berehat di sana. Saat aku mulai masuk, terlihat seorang pria yang samar-samar tidak terlihat jelas wajahnya.


"Siapa dia?"


"Terlihat keren namun tidak asing di memoriku"


"Assalamu'alaikum Gus!", sapanya yang membuatku tidak sadar bahwa aku sudah melangkahkan kaki masuk ke "rumah".


"Wa- wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatuh", balasku masih terpana.


"Gus! Masih ingat saya?"


"Siapa?"


"Sebentar", aku masih mengingat-ingatnya.


"Masyaa Allaah! Athar?!"


"Alhamdulillaah, sudah ingat ternyata"

__ADS_1


"Athar, sahabatku?"


"Na'am. Saya bersyukur kita masih jadi sahabat, Thaha", balasnya dengan senyum keramahan.


__ADS_2