Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
LANGSUNG HAFAL 05


__ADS_3

"Alhamdulillaah, selesai juga mengajar kelas"


Aku berjalan hendak kembali ke pendopo Kiai Ahmad Husain. Seseorang menghentikan langkahku dari belakang. Dia adalah Nuha.


"Tunggu, Ustadz!", serunya.


"Iya, ada apa?"


"Afwan Ustadz, apa Ustadz yang kemarin tidur di bawah pohon?", tanyanya.


Aku sedikit kepergok tapi tetap aku jawab dengan jujur, "iya".


"Alhamdulillaah, ini"


Dia menyerahkan sesuatu.


"Ini sepertinya berkas milik Ustadz, karena kemarin tertinggal di sana sedangkan Ustadz malah lari gitu aja"


"Baiklah, sukran", balasku singkat dan ingin segera pamit.


"Ustadz, tunggu!"


"Apa lagi?"


"Aku suka Ustadz!"


"Hah?", responku bingung.


"Murottal Ustadz sangat indah. Merdu sekali. Aku, umm.. Saya! Saya, hampir menangis mendengarnya, benar-benar menyentuh hati", balasnya dengan tersenyum-senyum sendiri.


"Gadis ini, kenapa?", batinku menyelidik.


"Di lain kesempatan, sayq akan mengikuti kelas Ustadz dengan baik dan gak akan tidur lagi"


"Baguslah kalo begitu", balasku.


"Sukran Ustadz dan sampai jumpa"


"Sampai jumpa?"


"Assalamu'alaikum", pungkasnya tersenyum sumringah.


"Wa- wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barokatuh", jawabku lengkap dan kembali berjalan.


*****


Di pondok Kiai Ahmad Husain.


"Bagaimana mengajar kelasnya, Gus?", tanya Ibu.


"Alhamdulillaah", balasku bersyukur tapi masih sedikit mengeluh. Aku menghela nafas.


"Alhamdulillaah tapi kok ngganjel?"


"Karna tadi ngajar di kelas santriwati, mereka bisa menerima ajaran saya tapi ya begitu lah, pada kemayu. Sedangkan kemarin saya ngajar di kelas santriwan, malah sering debat dengan mereka"


"Sabar ya anakku. Kita ini sedang hidup di jaman modern yang katanya hidup di generasi milineal. Mereka sangat kritis dan punya kehendak sendiri. Beda dengan jaman dulu, yang setiap para kiai memberi pengajaran, para santri sangat patuh dan menghormati"


"Iya, ibu", balasku sambil terpejam sejenak.

__ADS_1


"Thaha, nanti malam keluarga Alisha mengajak kita untuk makan malam di kediaman rumahnya"


"Untuk apa Ibu?"


"Kok untuk apa sih. Seperti biasa, keluarga kita dan keluarga Alisha kan sudah sangat dekat jadi kita harus selalu menyambung silaturahmi"


"Insyaa Allaah"


"Alhamdulillaah, ibu akan sampaikan ke Romo kalo gitu"


Aku kembali terpejam dan tidur sejenak di kursi.


*****


Di dapur pondok.


"Bude, menu makan siangnya apa nanti?", tanya Nuha.


"Itu lodeh nangka dengan lauk tempe dan ikan asin", jawab Bude Samiah santai sambil mengecek laporan belanja.


"Masyaa Allaah, enak tuh Bude", balas Nuha sambil membantu membereskan yang lain.


"Udah Neng Nuha, Neng Nuha kan tugasnya belajar. Sana gih kembali ke kelas. Urusan dapur kan urusan Bude dan para rewang, Neng Nuha gak perlu bantu setiap hari"


Meskipun itu sudah menjadi hal yang biasa, Bude Samiah tetap masih menyimpan rasa ewuh setiap kali Nuha datang membantu di saat jam belajar masih berlangsung.


"Gak mau Bude, Nuha suka bantu di dapur"


"Hff, astaghfirullaah Neng Nuha.. Kapan kamu bisa pinter kalo sering bolos kelas gitu"


"Nuha gak perlu pinter, Bude", jawab Nuha enteng.


"Halah halah, yo wis lah. Terserah kamu aja"


Para rewang sudah pada sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Pakde Roso membersihkan ruang makan santri. Bude Samiah dan Nuha mulai bergabung dengan para rewang.


"Bude, Bude. Tadi di kelas Nuha ada Ustadz baru"


"Walah? Tumben kamu tanggap Neng?"


"Hehe, bukan tanggap sih tapi gak sengaja"


"Gak sengaja katamu, untung gak bikin kamu kabur lagi ya? Hm.. Sepertinya ada yang menarik nih di kelas", selidik Bude dengan manja.


"Iya Bude. Ustadznya ternyata pandai sekali mengaji, murottalnya sangat merdu dan indah. Suaranya masih terngiang-ngiang di telingaku"


"Seperti itu? Tapi suara ngajinya Neng Nuha bagi Bude itu yang paling indah. Masa sih masih ada yang menyaingi suara emas Neng Nuha?"


"Sedikit membuatku sedih juga karena merasa ada yang menyaingi, hikshiks tapi Nuha sangat terpana dengan suaranya", balas Nuha berbinar-binar.


"Kalo gitu, coba deh Neng Nuha ngaji buat kita", pinta Bude Samiah. Lirikannya disambut baik oleh para rewang. Mereka juga ingin mendengarkannya.


"Gitu yah Bude. Baiklah"


Nuha tersenyum dengan sejenak mengambil nafas untuk menyegarkan kembali memorinya. Lantunan ayat suci Al Qur'an dari Ustadz Thaha sudah tersimpan aman di ingatannya. Kini, dia akan melafalkannya.


Dengan diawali ta'awudz dan basmalah, Nuha mulai melantunkan ayat pertama dari Surah Nuh tersebut.


"innā arsalnā nụhan ilā qaumihī an anżir qaumaka ming qabli ay ya`tiyahum 'ażābun alīm"

__ADS_1


"Subhanallaah", sahut para rewang memuji Allah.


"qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn"


Nuha melanjutkan ayat kedua. Suaranya begitu merdu, Nada dan intonasinya hampir sama menyamai milik Thaha. Tapi, pengaturan nafas milik Nuha masih jauh dari sempurna.


Bude Samiah dan para rewang sangat tersentuh dengan lantunan ayat suci tersebut. Udara sejuk pun mulai hadir diantara mereka. Ketenangan dan kebahagiaan menyelimuti perasaan mereka.


"Suara Neng Nuha memang seperti sihir. Tidak hanya suaranya yang merdu tapi dia juga mampu menghadirkan suasana yang benar-benar menggetarkan jiwa. Allah memberikan kelebihan yang luar biasa kepadanya", ucap Bude Samiah.


Selesai mengaji, Nuha bersyukur dengan mengucap alhamdulillaah. Dia tersenyum dan terus tersenyum. Perasaannya pun ikut tenang dan senang.


"Ustadznya namanya siapa Neng Nuha?", tanya Bude.


"Namanya? Eeehh.. Siapa ya Bude. Nuha gak tau namanya", cengir Nuha.


"Yah! Gimana sih?"


"Tapi Ustadz itu Bude, ganteng banget pokoknya", balas Nuha langsung menyela.


"Halah ganteng. Trus kalo ganteng gitu kamu jadi suka padanya? Hm?"


"Iya Bude! Nuha suukaa banget sama dia"


"Cinta pada pandangan pertama nih yee"


"Ehehehe.."


"Halah, saya gak percaya Neng Nuha beneran jatuh cinta. Mana mungkin gadis selugu Neng Nuha bisa ngerasain cinta. Dia kan masih kekanak-kanakan", sindir salah satu rewang.


Beberapa tawa usil pun terdengar.


"Hehe, bude-bude bisa aja deh", balas Nuha ikut usil.


"Ahaha, Neng Nuha Neng Nuha. Sini bantuin Bude ke sebelah sini genti", pinta rewang yang lain.


"Baik bude!", sahut Nuha senang.


Pakde Roso datang mencari Nuha. Dan benar, Nuha sedang berada di antara para rewang. Nuha pun dipanggil olehnya.


"Nuha, kemarilah", pinta Pakde.


"Iya Pakde, ada apa?"


"His!", Pakde Roso memukul pelan kepala Nuha dengan kemoceng.


"Selalu saja kabur saat kelas berlangsung. Tuh, dicariin Ustadz cambuk. Eh, Ustadz Azam"


"Adududuh", respon Nuha.


"Udah sana, gak usah alasan", pinta Pakde Roso seraya menarik tangan Nuha dan akan menyerahkan kepada ustadz Azam.


"Maaf njih Ustadz kalo Nuha masih saja ngeyel. Nih, silahkan ANDA-APAKAN-APA-SAJA-PADANYA!", ucap Roso pasrah dan tegas.


Nuha mulai menundukkan kepala di hadapan ustadz Azam. Beliau mulai menyampaikan nasihatnya lagi. Lumayan panjang lebar dan membuat Nuha abai.


"Masih mau kabur lagi?", tanya Azam sambil mengibaskan cambuknya ke samping.


"Afwan Ustadz", balas Nuha sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Kamu ini harus belajar dengan baik Nuha. Sudah semester dua tapi masih belum ada peningkatan. Jika seperti ini, kamu bisa dipanggil Romo Kiai"


"Ro-Romo kiai?!!!"


__ADS_2