Bidadari Bersuara Emas

Bidadari Bersuara Emas
JATUH CINTA 15


__ADS_3

Keesokan harinya, Nuha mencari keberadaan Ustadz Azzam. Dia masih belum mau mengikuti kelas. Jadi, kegiatan sehari-harinya hanya keluyuran dan membantu Bude Samiah di dapur.


Dia menemui Ustadz Azzam di kelas mahasantri semester 2 jurusan Pendidikan Agama Islam. Dengan sikap berani, Nuha langsung mengucapkan salam di depan pintu.


"Assalamu'alaikum, Ustadz Azzam!"


"Wa-," belum selesai menjawab, dia langsung terkejut dengan kedatangan Nuha yang tiba-tiba. Setelah berdehem, dia baru menjawab salam tersebut dengan lengkap.


"Hihhii..," cengir Nuha.


"Ada apa kamu mencari saya, Nuha?", tanya Ustadz Azzam menghampirinya tidak peduli para mahasantri melihatnya.


"Ustadz, Nuha mau setor hafalan!"


"Selalu saja semangat. Yang 20 persen itu?"


"Na'am Ustadz!"


"Baiklah, tunggu saja setengah jam lagi"


"Siap, Ustadz! Nuha akan tunggu diluar"


"Saya suka semangatmu tentang ini," balas Ustadz Azzam kemudian kembali mengajar kelas.


Setengah jam menunggu, Ustadz Azzam keluar kelas. Dia duduk bersama Nuha dengan menjaga jarak sejauh 1 meter.


"Silahkan sampaikan hafalanmu, Nuha"


Sejenak mengambil nafas panjang namun santai, Nuha mulai mengawali dengan membaca ta'awudz kemudian basmallah. Kemudian, surah An Nisa ayat 1 pun dia ucapkan.


Ustadz Azzam mendengarkan dengan baik sambil meneliti hafalannya. Saat ayat-ayat suci Al Qur'an itu terus Nuha lantunkan, Ustadz Azzam kagum mendengarkan bacaan fasih tersebut.


"Ini, tidak seperti hafalan waktu lalu. Hafalannya, terdenger sangat sempurna. Bukankah dia menghafal bersama Sonia?" batinnya.


"Shadakallaahul 'adzim"


"Allaahummarhamna bil Qur'an"


"Bagus, Nuha. Bacaanmu sangat sempurna. Siapa yang mengajarimu?" tanya Ustadz Azzam.


"Ustadzah Sonia kan, Ustadz!"


"Iya saya tau dia. Tapi, biasanya jika kamu hafalan bersamanya pasti ada beberapa kesalahan. Entang di kata, waqaf dan yang lainnya. Siapa yang membantumu memperbaiki bacaanmu itu?"


"Ooh.. Ustadz Thaha, Ustadz"


"Sudah kuduga," balas Azzam menyipitkan matanya.


"Kalo begitu, Nuha pamit ya Ustadz!"


"Lanjutkan juz 5 mu itu ya! Ustadz tunggu 3 bulan lagi," ucap Ustadz Azzam dengan mudah.


"Eeehh..," Nuha melenguh panjang. Tapi, dia kemudian menggeram semangat. Karna, tahfidz lah yang paling dia sukai.

__ADS_1


"Tunggu, Nuha!", panggil Ustadz Azzam menghentikan langkah Nuha. "Nih!", ucapnya setelah itu. Dia memberikan sebuah rekaman dari Qur'an Juz 5 dari Sonia.


"Apa ini, Ustadz?"


"Itu dari Ustadzah Sonia. Dengarkan dan hafalkanlah"


"Maa syaa Allaah. Sukran Ustadz!"


"Ya ya!" pungkas Ustadz Azzam dan memperbolehkan Nuha pergi meninggalkannya.


...****************...


Malam hari di asrama Santri. Athar tinggal bersamaku di asrama. Dia rebahan di kasurku sedangkan aku duduk termenung di meja belajarku.


Aku mengingat kembali tentang Nuha. Gadis bersuara emas itu. Hampir setiap hari, aku tidak sengaja sering bertemu dengannya. Ada apa dengan pertemuanku ini?


Dan saat aku bertemu dengannya, bukannya aku menghindarinya aku malah ingin ada bersamanya.


"Perasaan apa ini?"


"Gadis itu, telah banyak membuatku berfikir"


Aku ingin membantunya menjadi seorang Hafidzah jika mengingat betapa semangatnya dalam menghafal. Tapi, itu tidak mungkin. Dia bisa melalui prosesnya bersama ustadz dan ustadzah yang lain selama dia ada di sini.


Tapi, bukan itu saja yang aku mau. Aku, memiliki keinginan tersendiri yang membuatku hampir tidak masuk akal lagi. Aku, ingin mendengarkan lantunan ayat suci Al Qur'an darinya. Rindu?


Hanya untuk diriku sendiri, aku masih merindukan suara indah itu. Betapa indahnya nada itu sehingga selalu membuat perasaanku menjadi tenang.


Hanya untuk diriku sendiri, aku melihatnya disaat dia sakit. Aku melihat betapa semangatnya dia. Aku melihatnya disaat dia menangis. Aku melihatnya disaat dia menikmati kesehariannya. Bahkan, aku melihatnya sendiri betapa cantiknya dia menggunakan gamis putih itu.


"Gadis itu, benar-benar tidak bisa membuatku mengerti?"


"Thaha," panggil Athar dari tempatnya. Aku pun menoleh dan menyadarkan lamunanku.


"Gimana kabar kedekatanmu dengan Alisha? Apakah kalian akan segera menikah?"


"Menikah?", tanyaku balik dalam hati. Bahkan, aku sudah tidak memikirkan perjodohanku dengan Alisha.


"Perjodohan itu, apakah tetap akan kamu lakukan, Thaha? Mengingat apa yang aku lihat sendiri, kalian berdua itu masih saja sibuk di dunia masing-masing. Bahkan, malah sedikit merenggang"


"Maksudnya?"


"Thaha, bolehkah aku bertanya? Jika kamu suatu saat menemukan tambatan hati lain, atau bahkan Alisha juga memiliki tambatan hati lain. Apakah kalian akan tetap menikah?"


"Itu.."


"Jujurlah dengan perasaanmu sendiri, Thaha"


"Aku dan Alisha, kami dijodohkan untuk menjaga silaturahmi antara ayahku dengan ayahnya. Hubungan ini harus terus dijaga supaya selalu membawa keuntungan bagi pondok ini"


"Meskipun, dirimu sendiri ingin menolak ikatan itu?"


"Menolak ikatan?"

__ADS_1


"Katakan dengan jujur lagi, apa kamu mencintai Alisha?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Athar? Cinta, cinta itu bisa dipupuk dan ditumbuhkan seiring berjalannya waktu"


"Jadi, kamu tidak cinta kepada Alisha?"


"Aku.."


"Katakan dengan jujur, Thaha?!"


"Apa?"


"Kenapa dia bersikukuh ingin tahu? Lebih baik, aku keluar sejenak mencari angin", batinku. Aku mulai berjalan keluar kamar.


"Thaha, kamu mau kemana?"


"Maaf Athar, aku mau cari angin dulu"


...****************...


Aku berjalan menuju rumah. Langit tampak sepi tapi udara terasa sejuk, angin sedang memanjakan makhluk Allaah yang hidup di bumi ini.


Dedauan bergerak-gerak seolah menari-nari. Burung yang bertengger di dahannya pun terpejam menikmati suasana. Hewan-hewan tidur dengan nyenyaknya.


Aku melihat ayah sedang menikmati malam di teras depan rumah sambil menyeruput kopi, menghisap rokok dan beberapa buku tertumpuk di atas meja.


"Assalamu'alaikum, ayah"


"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaahi wa barakatuh"


"Ayah sedang bersantai?"


"Tidak sedang bersantai, anakku. Duduklah!"


"Ibu mana Ayah?"


"Dia sedang di dalam rumah. Ada yang ingin kamu sampaikan?", tanya beliau sehingga seketika langsung memecahkan segara rasa penasaranku ini di dalam hati.


"Benar, Ayah. Aku ingin bicara"


"Hm," balas beliau sambil menghembuskan asap rokoknya dengan perasaan lega.


"Bagaimana kabar Kiai Abdul Ghani, ayah?"


"Um, dia masih harus dirawat di rumah sakit"


"Jika aku menanyakan tentang Nuha, apakah ayah berkenan memberiku jawabannya?"


Beliau tersenyum kemudian membuka satu kitab yang ada di atas meja, "Katakanlah, Thaha," lanjutnya.


"Kiai Abdul Ghani itu, saat melihat Nuha tidur di kelasnya dan bahkan menolak ajarannya, apa yang selalu beliau lakukan untuk membujuk anak itu supaya bisa kembali lagi ke kelas, ayah?"


"Dia membiarkannya. Kata beliau, disaat Nuha tidur di kelas, disitu dia sedang terjaga dan mendengarkan. Kamu akan takjub saat kamu mencoba memberikannya pertanyaan lalu dia bisa menjawabnya dengan sangat mudah. Namun, jika dia kabur kamu memang seharusnya bisa terus membujukkan untuk bisa kembali lagi ke kelas. Itulah yang dilakukan Kiai Abdul Ghani terhadapnya"

__ADS_1


"Ayah, aku ingin, menikahi Nuha."


__ADS_2